
Raisya memutar bola matanya jengah karena menurutnya Areta hanya berpura-pura tak mengerti.
"Kata Rivan kemaren mantan mertuamu ke sini? Apa kamu mau balikan lagi sama mantan suamimu? Atau malah udah rujuk?" tanya Raisya to the point.
Areta bedecak kesal, "Raisya soal itu sepertinya Rivan salah paham, kemaren Ibu emang di sini. Tapi dia hanya minta maaf dan ingin ketemu cucunya, nggak ada hubungannya sama Abdrias. Apalagi sampai aku mau balikan sama dia. Nggak mungkin!"
"Apa? Bu Lastri minta maaf sama kamu? Apa itu nggak salah?" tanya Raisya yang tak percaya dengan ucapan Areta.
Areta mengangguk meyakinkan sahabatnya, "Tapi itu kenyataannya Raisya, semua orang bisa berubah. Begitu juga bu Lastri, bahkan Bian sekarang bisa tersenyum di gendongan neneknya. Memangnya apa sih yang Rivan bilang ke kamu?"
"Andai kamu tahu Areta, dia kelihatan emosi banget datang ke rumah aku. Dia bilang kenapa ada manusia sebodoh Areta yamg mau kembali ke Andrias padahal jelas-jelas sudah disakiti berulang kali," cicit Raisya menirukan ucapan Rivan.
"Aku tidak sebodoh itu, lagi pula kenapa sih dia suka banget ngurusin hidupku. Sodara bukan, jadi teman juga baru sebentar."
Raisya menyentil jidat Areta setelah sahabatnya itu selesai mengoceh, "Kamu nggak sadar atau pura-pura nggak tahu sih? Jelas-jelas Rivan itu suka sama kamu, Areta."
"Jangan bercanda Raisya, dia itu sukanya sama cabe-cabean macam Zevanya. Mana mungkin dia suka sama emak-emak anak satu macam aku." Areta mencebik tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
Raisya menghela napasnya dalam-dalam, namun saat akan kembali bicara pintu rumah sahabatnya malah diketuk oleh seseorang. Keduanya beriringan menuju ke arah pintu untuk melihat siapa tamu Areta malam ini. Betapa terkejutnya kedua wanita itu melihat Andrias tengah berdiri dengan sebuah senyuman di depan pintu.
"Hallo Areta, Raisya. Maaf yah, aku ganggu malam-malam begini. Ini buat kamu." Andrias mengulurkan sebuah bucket bunga pada Areta, namun wanita itu tak kunjung meraihnya.
"Ini cuma ucapan terima kasih karena kebaikan kamu sama ibu kemaren kok, bukan apa-apa. Dan ini aku beliin baju sama mainan buat anak kita," tambah Andrias kembali mengulurkan bucket bunga itu bersama sebuah paper bag.
"Terima kasih," jawab singkat Areta tanpa mempersilahkan Andrias masuk.
"Emb, boleh aku ketemu sama Bian?"
"Eh, anu iya boleh. Kebetulan Bian lagi main di ruang tengah." Areta sedikit menyingkir dari pintu agar Andrias bisa masuk.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Andrias langsung berjalan ke ruang tengah untuk menghampiri putranya.
"Hallo anak ayah yang ganteng," ujar Andrias kemudian mengangkat tubuh Bian, seperti biasa bayi itu langsung menangis ketika disentuh oleh Andrias.
Areta dan Raisya berlari ke ruang tengah karena mendengar suara tangisan Bian.
"Andrias, kok Bian sampai nangis gitu kenapa sih?" tanya Raisya setelah Areta mengambil alih Bian dari gendongan ayahnya.
"Aku juga nggak tahu Raisya, tadi aku cuma mau gendong Bian tapi dia malah nangis kenceng. Biannya aja yang nggak pinter, masa nggak kenal sama Ayah sendiri," ucap Andrias tanpa rasa bersalah.
"Bian sepertinya nggak ada ikatan batin sama kamu, sama ibu kemaren dia nggak nangis kok. Malah senyum-senyum digendong sama neneknya," kesal Areta setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Andrias.
"Udah, mending lu pulang aja sekarang. Gue sama Areta mau makan," usir Raisya menarik tangan Andrias keluar dari rumah sahabatnya.
Andrias mengibaskan tangan Raisya dengan kasar, "Nggak usah narik-narik tangan gue. Gue bisa jalan sendiri."
"Bener-bener ya si Andrias. Pantas aja Bian nggak mau sama dia, kalau Bian mau digendong neneknya mungkin karena anak seusia dia tahu mana yang tulus dan mana yang nggak," oceh Raisya karena kesal dengan mantan suami sahabatnya itu.
"Udah lah, biarin aja. Aku juga nggak mungkin ngelarang Andrias nemuin Bian karena gimanapun juga dia tetap ayahnya Bian," balas Areta seraya menghembuskan napas kasar.
Bian kembali rewel karena mengantuk, Areta pamit untuk menidurkan Bian terlebih dahulu sedangkan Raisya memilih menunggu di ruang tengah sembari menonton drama ikan terbang.
Saat Areta hendak keluar kamar terdengar suara Raisya yang tengah mengobrol dengan seseorang dan ternyata adalah Rivan. Seperti biasa laki-laki itu mengantarkan makanan untuk Areta.
"Lhoh, Mas Rivan nganterin makanan lagi?"
"Nggak," jawaban singkat Rivan membuat Areta mengernyit karena ia melihat beberapa kotak makanan di meja.
"Lha terus ini semua?"
__ADS_1
"Ya itu buat kamu, tapi kali ini saya juga bawain susu buat Bian." Rivan tersenyum kemudian memyerahkan kantong kresek berisi beberapa kotak susu formula pada Areta.
Wanita itu tersenyum kikuk menerima pemberian dari Rivan, "Mas Rivan, nggak perlu repot-repot begini. Saya kan bukan istri yang harus dinafkahi setiap hari apalagi dikirimin makanan tiga kali sehari."
"Lha kamu kan sugar babby saya, pengganti Zevanya."
Ucapan Rivan berhasil membuat tawa Raisya pecah, "Mana ada sugar babby emak-emak anak satu, ini sih calon istri. Emang Pak Rivan nggak mau punya istri, ntar keburu tumbuh uban lho."
"Raisya, udah. Berhubung ini banyak makanan dan tadi aku juga udah masak. Sekarang kita makan bareng-bareng aja dulu," ajak Areta pada kedua tamunya.
"Areta masakan kamu enak juga ya," puji Rivan setelah menghabiskan isi piringnya.
"Areta mah jangan ditanya lagi, Pak. Istri sempurna pokoknya, cuma sayang aja dapetnya laki-laki macam Andrias," sahut Raisya kemudian terkekeh geli karena Areta yang tengah melotot menatap dirinya.
"Ya itu sebagai pelajaran buat kamu Areta, biar nggak salah pilih pendamping ke depannya. Cukup sekali kamu disakiti sama lelaki sampah macam Andrias," ujar Rivan menyetujui pendapat Raisya.
Areta menatap Rivan dengan pandangan serius, "Kamu benar Mas, karena itu saya nggak mau sama pria yang dari awal sudah ketahuan suka main perempuan."
Rivan merasa tertampar dengan ucapan Areta, "Saya nggak seperti yang kamu pikirkan, bukankah lebih baik puasin bermain saat masih bujang dibanding selingkuh saat sudah punya istri."
"Ehm!" Raisya bersuara sebagai tanda jika dirinya masih di sana dan sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku ada di sini, apa aku pulang aja ya biar kalian bisa ngobrol," tambah Raisya.
"Eh, maaf Raisya. Saya keceplosan karena Areta yang mancing duluan. Sampai nggak sadar kalau masih ada kamu, padahal saya ke sini mau ngomongin hal penting sama Areta ldan butuh pendapat kamu juga," ucap Rivan nyengir.
"Memangnya ada hal penting apa yang mau Mas bicarakan?" tanya Areta yang jadi penasaran karena kini muka Rivan telah berubah serius.
"Sebenarnya Saya ....
__ADS_1