
"Areta!!" Teriakan Andrias tak digubris oleh wanita itu, Areta tetap melangkah keluar dari kamarnya.
Bu Lastri dan Zevanya menatap Areta dengan pandangan tajam.
"Mau keluyuran lagi? Atau jangan-jangan mbak Areta mau pacaran sama laki-laki yang kemaren ya?" Cemooh Zevanya kemudian tersenyum miring.
"Kamu ya, udah nggak kerja malah pake selingkuh segala. Dasar wanita nggak tau diri! Wanita murahan!" Maki bu Lastri menatap sengit menantunya.
"Kalau kalian nggak suka dengan apa yang saya lakukan, silahkan kemasi barang-barang kalian dan pergi dari rumah saya!" Balas Areta penuh penekanan kemudian berlalu meninggalkan rumah itu.
Zevanya dan bu Lastri saling pandang setelah kepergian Areta, keduanya tak menyangka jika Areta bisa melontarkan kalimat itu.
Tap tap tap.
Terdengar suara langkah kaki Andrias yang melangkah lebar dengan membawa helemnya.
"Andrias, kamu mau kemana?" Tanya bu Lastri pada putranya.
Andrias menghentikan langkahnya untuk menjawab pertanyaan sang ibu, "mau keluar sebentar, Bu. Biar otak bisa dingin."
"Bu, gimana kalau mbak Reta beneran ngusir kita dari rumah ini?" Celetuk Zevanya membuat bu Lastri membuang napasnya kasar.
"Entahlah Vanya, pusing ibu."
...****************...
Andrias melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah rumah kontrakan di dekat gedung perkantorannya. Nampak seorang gadis dengan setelan celana jeans dan blouse warna soft blue telah menunggu di teras. Dengan senyum merekah, gadis itu menghampiri Andrias yang baru saja menghentikan sepeda motornya.
"Hallo cantik." Sapa Andrias menatap gadis di depannya dengan pandangan memuja.
__ADS_1
"Hallo Mas, mau kemana sih kita?" Tanya Wulan yang sebelumnya telah menerima ajakan Andrias tanpa tahu akan diajak kemana.
Andrias kembali tersenyum pada gadis berkulit hitam manis itu, "kita ke mall aja ya, jalan-jalan sekalian cari makan." Wulan mengangguk kemudian naik ke boncengan motor Andrias setelah memakai helemnya.
Andrias melajukan sepeda motornya, tangan Wulan tak pernah lepas melingkar di pinggang Andrias. Sesekali Andrias menatap wajah wulan melalui kaca spion, hingga di sebuah lampu merah tanpa disadari oleh mereka berdua jika ada dua pasang mata yang menatap mereka dengan kilatan amarah. Andrias kembali melajukan sepeda motornya menuju sebuah mall tanpa sadar jika ada sebuah mobil yang terus membuntuti mereka hingga sampai di tempat tujuan. Lelaki itu berjalan, menggandeng mesra tangan wulan yang juga tak menolak diperlakukan seperti itu.
"Gimana, Reta? Mau langsung labrak atau kita ikuti mereka lagi?" Tanya Raisya pada sahabatnya yang tengah menyeka bulir bening di pipinya.
"Kita turun dan ikuti mereka dulu nggakpapa kan, Ra?" Areta meminta persetujuan sahabatnya.
Raisya menggenggam erat tangan sahabatnya kemudian mengangguk, "nggakpapa, aku temenin. Untung anakku nggak jadi ikut tadi."
Keduanya turun dengan mendorong stroler Bian, mengamati tingkah laku Andrias dari jarak aman agar tak ketahuan.
"Areta, kamu kenal sama wanita yang bareng suamimu itu?" Tanya Raisya pada sahabatnya.
Areta menggelengkan kepalanya pelan, "nggak, Ra. Dia juga bukan pemandu karaoke yang biasa sama mas Andrias."
"Harus diapain mereka?" Areta melirik sahabatnya untuk meminta pendapat.
"Biarin dulu aja Reta, kita lihat dulu mereka mau kemana habis ini." Ujar Raisya, mereka kembali melanjutkan langkah untuk mengikuti kemana Andrias pergi hingga mereka berhenti di sebuah restoran yang cukup ramai.
"Raisya, kita makan dulu aja ya. Biar aku kuat ngadepi kenyataan setelah ini." Ajak Areta menggandeng tangan sahabatnya menuju sebuah meja yang tak terlihat dari pandangan Andrias.
Keduanya memesan beberapa makanan dan minuman kemudian melahapnya sambil menikmati pemandangan Andrias yang menyuapkan makanan untuk Wulan.
"Areta, setelah hari ini. Apa kamu masih akan bertahan dengan suamimu?" Tanya Raisya dengan pandangan serius.
Areta menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, wanita itu meletakkan sendok dan garpunya karena mendadak kehilangan selera makan.
__ADS_1
"Tidak Raisya, sudah cukup aku hidup dengan mertua dan adik ipar toxic. Apalagi jelas-jelas suamiku sudah menghinati janji suci yang telah ia ucapkan. Jadi apalagi yang membuatku bertahan?" Areta beranjak setelah menyelesaikan kalimatnya.
Wanita itu menghampiri meja dimana sang suami masih asik menyuapkan makanan untuk wanita lain. Areta berjalan kemudian bertepuk tangan dengan ritme perlahan saat langkah kakinya telah sampai di dekat meja sang suami, membuat semua pandangan mata tertuju padanya. Bola mata Andrias membelalak seolah ingin lepas dari tempatnya.
"A... Areta, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Andrias terbata karena tak menyangka akan kehadiran wanita yang berstatus istrinya.
Areta tersenyum kemudian duduk di samping Andrias, "udah jelas donk, aku ke sini jalan-jalan. Yang harusnya bertanya itu aku, ngapain kamu ke sini dan siapa wanita murahan ini?" Semua pengunjung restoran itu saling berbisik mendengar suara lantang Areta, mata Wulan ikut membelalak mendengar sebutan Areta yang terlontar dari bibir Areta untuk dirinya.
"Mbak, kalau ngomong jangan asal ya. Saya bukan wanita murahan seperti yang Mbak bilang." Areta tertawa sumbang mendengar pembelaan yang terucap dari bibir gadis itu
"Apa kamu bilang? Bukan wanita murahan? Lalu dimana ada wanita baik-baik yang bergandengan tangan bahkan suap-suapan dengan suami orang?" Kali ini ucapan Areta sukses membuat mulut Wulan menganga karena terkejut.
"Su... Suami orang? Siapa yang Anda maksud suami orang? Mas Andrias bilang dia belum menikah dan nggak punya pacar juga. Iya kan, Mas?" Wulan menuntut penjelasan pada Andrias yang diam membisu semenjak kehadiran Areta dan Raisya di meja mereka.
"Ayo bicara, Mas! Jangan diem aja, siapa mereka dan apa maksud ucapan dia." Desak Wulan menggoyangkan bahu lelaki di sebelahnya.
Areta tersenyum mencemooh kemudian menyentuh lengan gadis itu, "karena sepertinya lelaki ini terlalu pengecut untuk menjelaskan, maka saya yang akan jelaskan semuanya sama kamu." Sejenak Areta menjeda kalimatnya.
"Saya Areta, istri sah dari lelaki yang bernama Andrias Wiratama. Dan bayi mungil ini adalah putra kami." Ucap Areta penuh penekanan lalu beranjak dari tempatnya. Dengan sigap Wulan mencekal tangan wanita itu.
"Tunggu, Mbak!" Areta menoleh menatap wulan dengan tatapan tajam.
"Saya minta maaf, saya sama sekali nggak tahu kalau mas Andrias sudah punya anak dan istri. Karena dari awal dia mengaku masih single." Tutur Wulan menjelaskan yang sebenarnya.
"Kamu tidak salah, hanya lelaki itu yang tidak pernah bersyukur memiliki kami. Saya permisi." Areta melepaskan tangan Wulan, berlalu meninggalkan suaminya bersama perempuan lain.
"Areta!" Suara panggilan Andrias tak dihiraukan oleh wanita itu, Areta enggan menoleh karena kini air matanya telah menganak sungai dan ia tak mau jika Andrias sampai melihatnya.
Lelaki itu itu masih terpaku menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Mulai hari ini, anggap kita tidak pernah saling kenal satu sama lain!" Suara lantang Wulan menyadarkan Andrias dari lamunannya, gadis itu berlari meninggalkan Andrias yang tak berniat untuk mengejarnya.
"Maafkan aku." Lirih Andrias bergegas menyusul sang istri ke rumahnya.