Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 24.


__ADS_3

"Apa maksut Mbak bicara seperti tadi?" Tanya Zevanya dengan suara setengah berbisik karena takut di dengar oleh bu Lastri.


"Tenang Vanya, aku nggak ada maksut apa-apa kok. Hanya sekedar mengingatkan, kamu itu masih muda. Masa depanmu masih panjang, jaga apa yang seharusnya kamu jaga. Jangan rusak masa depanmu hanya demi uang atau kesenangan sesaat." Balas Areta dengan nada ditekan kemudian meninggalkan Zevanya yang masih terpaku di tempatnya.


"Apa mbak Areta tau sesuatu? Ah tapi nggak mungkin, palingan dia cuma mau ceramahin aku aja karena terlalu sering keluar malam." Gunam Zevanya segera melajukan sepeda motornya ke sebuah rumah mewah dimana lelaki seumuran Andrias telah menunggu untuk dipuaskan hasratnya.


"Gofood!" Terdengar suara teriakan driver ojek online yang membuat Areta kembali ke arah pintu.


"Pesanan atas nama mbak Areta." Ucap driver ojol tersebut saat Areta membuka pintu.


"Betul, Mas. Berapa semuanya?" Tanya Areta dengan ramah.


"Semuanya jadi lima puluh ribu rupiah, Mbak." Jawab driver ojol tersebut menyerahkan sebuah kantong kresek berisi pesanan Areta.


"Ini, makasih ya." Ujar Areta menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Wanita itu segera menutup pintu rumahnya setelah driver tersebut pamit, kemudian berjalan menghampiri bu Lastri yang masih sibuk mengaduk-aduk nasinya.


"Bu." Panggil Areta pada wanita yang berstatus mertuanya itu.


"Hmmm." Balas bu Lastri tanpa menatap mertuanya.


"Ini Areta ada beli kwetiau goreng, Ibu mau?" Bu Lastri langsung mendongak setelah mendengar perkataan menantunya.


"Beneran? Mau, mau." Ujar bu Lastri dengan antusias.


"Ini, satu buat Ibu." Areta menyerahkan satu kotak makanan yang langsung diterima oleh mertuanya tanpa ucapan terima kasih. Mereka menikmati makanan masing-masing tanpa ada yang bersuara. Areta segera masuk ke kamar setelah menghabiskan makanannya.


Bian tampak sedang terlelap dalam box bayi miliknya, Areta membelai pipi bayi itu dengan lembut.


Tesss...


Air mata Areta meleleh dengan sendirinya membayangkan nasib Bian jika ia sampai berpisah dengan Andrias.


"Bunda akan coba bertahan buat kamu selama ayah nggak mendua, Nak. Tapi bunda juga harus kasih ayahmu itu pelajaran agar nggak seenaknya sendiri." Monolog Areta dengan pandangan lurus ke depan.


Jam di dinding kamar Areta telah menunjukan pukul sebelas malam, namun belum ada tanda-tanda kepulangan Andrias. Wanita itu masih terjaga menunggu sang suami pulang agar bisa menjalankan rencana yang telah ia susun bersama dengan Raisya.


Malam kian larut, wanita itu mulai lelah menunggu. Rasa kantukpun mulai menyerang hingga terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumahnya.


"Hah, bukan suara sepeda motor mas Andrias. Pasti Zevanya itu yang pulang." Kesal Areta mulai merebahkan diri dan memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Mbak Reta!!!" Terdengar suara teriakan Zevanya dari arah pintu depan. Dengan terburu-buru Areta keluar dari kamarnya.


Bugh!!


"Aduh, Areta kamu liat-liat donk! Bisa patah ini pinggang Ibu." Omel bu Lastri yang ditabrak Areta hingga terjatuh.


"Maaf, Bu. Reta nggak sengaja, soalnya kaget dengar Zevanya teriak manggil Reta." Kilah Areta membantu ibu mertuanya berdiri. Keduanya melangkah bersama menuju pintu yang masih terkunci dari dalam


Cekleekk.....


Nampak Zevanya sedang kewalahan menopang tubuh Andrias yang hampir ambruk karena kehilangan kesadaran. Sepertinya lagi-lagi lelaki itu minum terlalu banyak.


"Zevanya, kok kamu bisa pulang sama mas Andrias?"


"Kamu ketemu masmu dimana? Kok bisa sampai kayak gitu?"


"Terus motor mas Andrias mana?" Areta dan bu Lastri bergantian mencecar Zevanya dengan berbagai pertanyaan


"Bisa nggak sih nanti aja sesi tanya jawabnya, bantuin bawa mas Andrias ke kamar dulu krnapa sih. Berat ini!" Kesal Zevanya yang diberondong dengan banyak pertanyaan.


Areta segera membantu gadis itu untuk membawa suaminya ke kamar. Setelah merebahkan tubuh Andrias di kasur, keduanya kembali keluar untuk menemui bu Lastri yang tengah menunggu di ruang tamu.


"Jadi gimana ceritanya kamu bisa pulang bareng masmu?" Tanya bu Lasti setelah anak dan menantunya menghenyak di sofa.


"Makanya Areta, kamu itu jadi istri jangan ngomel terus kerjanya. Jadi suka mabok kan itu suamimu. Harusnya kamu bisa donk rubah dia jadi yang lebih baik. Jangan cuma marah-marah aja bisanya, bikin suami jadi tambah pusing terus nyari kesenangan di luar." Omelan bu Lastri tak ditanggapi oleh Areta, ia lebih memilih untuk segera masuk ke kamar meninggalkan ibu mertua dan adik iparnya.


"Dasar nggak sopan, dibilangin malah pergi."


Brak!! Areta menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras.


"Bu, ini buat ibu." Zevanya memberikan amplop coklat yang cukup tebal kepada ibunya.


"Wah.... Banyak banget ini uangnya, Vanya. Bisa kaya mendadak kita kalau kayak gini." Ujar bu Lastri setelah mengintip isi amplop tersebut.


"Tapi itu yang terakhir, dia udah nggak mau berhubungan sama Vanya lagi." Alis bu Lastri bertaut mendengar ucapan putrinya.


"Memangnya kenapa? Rugi donk kalau kayak gini, kamu nggak bisa dapetin uang yang banyak dari dari Devan." Balas bu Lastri yang sepengetahuannya, selama ini Vanya berpacaran dan mendapatkan uang dari Devan.


"Nggakpapa, Bu. Udah bosen kali, udah ah. Vanya mau tidur." Pamit Zevanya yang sedang malas menjawab pertanyaan bu Lastri.

__ADS_1


Gadis itu merebahkan dirinya di atas ranjang dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar, teringat kata-kata Rivan yang ingin mengakhiri hubungan mereka dan meminta Zevanya merahasiakannya. Bahkan Rivan berjanji akan mentransfer uang untuk Zevanya setiap bulannya asalkan gadis remaja itu tutup mulut.


"Hah... Sepertinya ini yang terbaik, aku nggak perlu lakuin hal kotor itu lagi. Cukup sekolah, tiap bulan dapat transferan." Gunam Zevanya kemudian memejamkan matanya.


...****************...


Sementara itu di dalam kamar Areta, wanita itu tengah memandangi wajah Andrias yang tampak kusut dengan kedua mata terpejam dan dengkuran halus yang keluar dari bibirnya. Bau alkohol begitu tajam menusuk indra penciuman Areta. Wanita itu mulai menggerak-gerakan telapak tangannya di depan wajah Andrias untuk memastikan jika sang suami benar-benar telah terlelap, lalu tersenyum miring.


Perlahan Areta mengambil ponsel Andrias dari saku jaket yang masih menempel di tubuhnya.


"Ah sial, kenapa pake di pasword segala sih ini hape." Umpat Areta yang tak tahu kata sandi handphone suaminya. Namun tak kehabisan akal, Areta meletakan handphone itu tepat di depan wajah sang suami dan berhasil. Kunci layar handphone Andrias telah terbuka.


Areta menyeringai tajam kemudian mulai mengutak-atik handphone suaminya. Ia segera mendownload aplikasi toko orange di sana.


Tinggg....


Notifikasi pesan whatsapp milik Andrias membuyarkan konsentrasinya, tertera nama Viola yang membuat Areta tertarik untuk mengetahui isi pesan tersebut.


'Makasih ya, Mas tipsnya tadi. Sayangnya Mas nggak mau nginep di kontrakanku sih.' Isi pesan yang ditulis Viola berhasil membuat rahang Areta mengeras, dengan segera dihapusnya pesan itu lalu kembali ke tujuan utamanya.


Areta memesan beberapa barang melalui aplikasi orange dengan pembayaran via rekening Andrias, namun barang-barang tersebut ia kirimkan ke rumah Raisya agar tak ketahuan oleh siapapun terutama Andrias. Setelah selesai dengan pesanannya, Areta kembali menghapus aplikasi toko orange dan memasukan kembali handphone Andrias ke dalam saku jaketnya.


"Rasain kamu, Mas. Istri sendiri nggak dijajanin, dibikin kayak gembel. Pemandu karaoke malah dikasih duit." Gunam Areta tersenyum puas kemudian merebahkan dirinya di samping Andrias untuk beristirahat.


Kicau burung membangunkan Areta dari lelap tidurnya, wanita itu segera bangkit untuk melihat Bian yang ternyata telah bangun dari tidurnya namun sama sekali tak menangis.


"Hallo sayang, pinter banget anak bunda. Udah bangun tapi nggak nangis." Cicit Areta mengangkat bayi itu dari dalam box bayi kemudian memandikannya.


Setelah memandikan putranya, Areta kembali meletakkan Bian ke dalam box bayi dan bergegas ke dapur untuk membuat susu formula. Ketika kembali, Andrias sudah tak ada lagi di ranjang. Terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi, pertanda jika Andrias sedang mandi. Areta segera memberikan susu formula itu untuk Bian yang langsung menghisap kuat ujung dot miliknya.


Cekleekk....


Andrias keluar dari dalam kamar mandi dan telah rapi dengan setelan kemeja kerjannya, kemudian menghenyak di samping ranjang sembari memainkan gawainya. Wanita itu tak mau mengeluarkan suaranya untuk menyapa sang suami karena suasana hatinya yang sedang kesal. Setelah Bian menghabiskan susunya, dengan segera Areta beranjak keluar bersama bayi itu.


"Areta." Panggilan Andrias membuat wanita itu menghentikan langkahnya. Hatinya berdetak tak karuan karena takut jika sang suami menyadari apa yang telah ia lakukan pada handphone suaminya semalam. Namun dengan segera ia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.


"Ada apa, Mas?" Tanya Areta datar tanpa menoleh ke arah sang suami.


"kamu marah sama aku? Sampai bangunin aku aja nggak mau." Ujar Andrias membuat Areta diam-diam menghembuskan napas lega.

__ADS_1


"Nggak, mulai hari ini kamu bebas. Mau pergi kemanapun, sama siapapun dan ngelakuin apapun. Mau mabok sampai pingsan juga kamu bebas, Mas! Aku nggak akan ngurusin kamu lagi!" Jawab Areta dingin namun penuh penekanan tanpa menatap wajah suaminya.


"Bebas? Apa maksut kamu bebas?" Tanya Andrias mendekati Areta dan membalikan tubuh wanita itu agar menghadap ke arahnya.


__ADS_2