
"Iya, Bu." Jawab Areta singkat tanpa beranjak dari posisinya hingga membuat bu Lastri mendekat ke arah wanita itu.
"Kamu nggak masak? Kenapa sama sekaali nggak ada makanan?" Tanya bu Lastri pada menantunya.
"Nggak." Hanya jawaban itu yang terlontar dari bibir Areta.
"Memangnya kamu nggak makan?"
Kruuukkk kruuuukkk!!!
Terdengar bunyi perut bu Lastri yang menandakan jika wanita paruh baya itu sedang menahan lapar.
"Hahaha, Ibu lapar ya? Areta nggak masak, tadi udah makan dikirimin nasi padang sama Raisya." Tawa Areta tak bisa ditahan saat mendengar bunyi nyaring yang berasal dari perut bu Lastri.
"Terus saya makan apa? Saya juga belum makan ini, mana panas banget gara-gara pulang naik ojek siang bolong begini. Make up jadi luntur semua." Keluh bu Lastri membuat Areta merasa sedikit iba.
"Di dapur masih ada mi instan sama telur kok, Ibu bisa masak itu buat makan siang." Balas Areta memandangi penampilan mertuanya yang nampak berantakan dengan tas dan pakaian branded kualitas Kw.
"Bukannya tadi Ibu habis dari acara arisan sama teman sosialita Ibu, apa nggak makan di sana?" Tanya Areta sedikit penasaran.
"Tadi katanya mau di traktir makan, malah yang mau nraktir nggak jadi dateng. Ibu pesen minum doank itu juga mahal banget, bisa habis duit Ibu kalau makan di sana." Keluh bu Lastri ikut menghenyak di sofa.
"Makanya, Bu. Sesuaikan gaya dan pergaulan sama budget, kalau budget pas-pasan ya nggak usah ikut arisan sosialita segala lah, mending duitnya buat belanja terus masak dan makan enak di rumah." Ujar Areta mencoba memberi pengertian pada mertuanya.
"Halah, malah ceramahin saya lagi. Buruan kamu bikinin mi instan, udah lapar banget ini perut." Perintah bu Lastri seenaknya.
"Oooeeekkk..... Oeekkk...." Tangisan Bian yang terdengar dari kamar membuat Areta urung melangkah ke dapur.
"Ibu denger kan? Itu artinya Ibu harus masak mi instan sendiri karena Areta harus sgera menyusui Bian dulu." Ucap Areta yang segera berlari menuju ke kamarnya sambil cengengesan menggoda sang ibu mertua.
"Hah, dasar mantu kurang ajar. Nggak bisa diandalkan sama sekali." Gunam bu Lastri menatap pintu kamar Areta yang terbuka, dengan langkah gontai wanita paruh baya itu menuju ke dapur untuk memasak mi instan sebagai menu makan siangnya.
"Nggak lagi-lagi deh ikut arisan di caffe mahal begitu, bisa bangkrut dan keseret pinjol lagi ntar lama-lama." Oceh bu Lastri pada dirinya sendiri sembari melahap mie instan yang baru saja selesai dimasak.
__ADS_1
...****************...
Sore hari telah menjelang, Bian baru saja selesai dimandikan oleh Areta kemudian digendong untuk duduk di teras menikmati udara sejuk seperti biasa.
"Areta!" Suara bu Lastri yang terdengar dari arah dapur berhasil menghentikan langkah wanita itu.
"Ada apa, Bu?" Tanya Areta tanpa berniat mendekat ke arah mertuanya.
"Eh, ini lho bahan di kulkas udah pada habis. Tolong kamu mintain duit tambahan ke Andrias ya. Duit yang ada di Ibu juga udah nipis ini." Mohon bu Lastri dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat.
"Nggak mau, Ibu minta sendiri aja. Lagian biasanya Areta duit segitu bisa makan sampai akhir bulan kok." Balas Areta malas kemudian meneruskan langkah kakinya menuju ke teras.
Areta duduk di teras sembari memandangi wajah mungil putranya. Mengajak bayi itu mengobrol mampu membuat hidupnya terasa lebih berwarna meskipun tak ada balasan dari Bian atas setiap kata-kata yang dilontarkan oleh bundanya.
Tiiinnn tiiinnnn!
Suara klakson sepeda motor Andrias yang mamasuki halaman rumahnya.
"Halloo anak ayah, udah harum aja nih." Sapa Andrias yang baru saja turun dari sepeda motornya, hendak menyentuh Bian namun tak bisa karena Areta segera menjauhkan bayinya dari jangkauan sang suami.
"Aku itu cuma mau pegang anak sendiri, gitu aja nggak boleh. Aku itu udah capek, bukannya disambut malah kamu bikin kesal." Balas Andrias kemudian masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.
"Bodo amat!" Lirih Areta setelah Andrias masuk ke dalam rumah.
Bian telah terlelap di pangkuan bundanya, Areta memutuskan untuk membawa bayi itu masuk ke dalam kamarnya. Dengan perlahan Areta membaringkan malaikat mungilnya itu di dalam box bayi.
Ceklekk!
Pintu kamar mandi terbuka, Andrias muncul dengan aroma shampo yang menguar di seluruh ruangan.
"Tumben kamu wangi banget, Mas?" Heran Areta melihat sang suami yang tengah merapikan rambutnya di depan cermin.
"Iya, habis ini aku ada urusan sama si Samsul." Jawab Andrias yang masih fokus menatap ke arah cermin.
__ADS_1
"Urusan apa malam-malam begini?" Ketus Areta yang sudah bisa menebak kemana Andrias dan Samsul akan pergi.
"Kamu nggak perlu tau, yang jelas urusan kerjaan. Udah ayo makan dulu, habis ini aku langsung jalan." Ajak Andrias yang mendahului istrinya untuk keluar dari kamar.
Wanita itu berdecak kesal kemudian menyusul sang suami menuju ke meja makan. Dahi Areta berkerut melihat apa yang tersaji di meja makan, sayur bayam dan tahu goreng tanpa sambal. Wanita itu duduk di samping sang suami yang nampaknya sedang makan dengan malas karena yang Areta tahu selama ini, Andrias paling tidak suka dengan yang namanya sayur bayam.
"Kok hari ini makanannya cuma gini doank sih, Bu?" Celetuk Zevanya yang telah mendorong piringnya menjauh padahal nasinya masih tersisa setengah.
"Iya, tumben ini Ibu masak ginian. Padahal Ibu tahu kalau aku nggak suka sayur bayam." Tambah Andrias ikut mendorong piringnya. Sedangkan Areta memilih diam tanpa menyentuh makanan di depannya.
"Eh anu, itu sebenarnya Ibu belum ngisi stok bahan makanan di kulkas. Dan... emb, uangnya udah menipis. Sekarang apa-apa serba mahal." Bohong bu Lastri dengan tergagap karena gugup.
"Kog bisa sih, Bu? Selama ini Areta uang segitu cukup buat kebutuhan rumah sampai waktu Andrias gajian bulan berikutnya kok." Balas Andrias dengan dahi yang berkerut.
"Tadi siang ibu ikut arisan sosialita, Mas." Zevanya segera membekap mulutnya sendiri setelahmenyadari apa yang baru saja terlontar dari bibirnya.
"Apa??" Sentak Andrias dengan mata melotot.
"Emb... Ma maaf, ibu cuma ngelunasin tunggakan arisan kok. Ini yang terakhir, ibu janji." Ujar bu Lastri tertunduk lesu.
"Sekarang uang ibu sisa berapa?" Tanya Andrias datar.
"Sisa ti tiga ratus ribu." Jawab bu Lastri takut-takut.
"Andrias nggak mau tahu, pokokya uang itu harus cukup sampai waktunya gajian nanti." Tegas Andrias kemudian mengambil helmnya dan segera keluar rumah tanpa pamit.
Areta memilih duduk di ruang tamu kemudian memesan makanan melalui ojek online. Sedangkan Zevanya masuk ke kamar meninggalkan bu Lastri sendirian menikmati nasi dengan sayur bayam dan tahu goreng.
"Bu, Vanya keluar bentar." Zevanya berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari sang ibu.
"Mau kemana malam-malam begini?" Tanya Areta saat adik iparnya hendak mengeluarkan sepeda motor miliknya.
"Biasa anak muda." Balas Zevanya cuek membuat Areta mendekat ke arah gadis remaja dengan tank top dan rok mini yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu senang jadi peliharaan om-om." Bisik Areta di telinga Zevanya membuat gadis itu menatap ke arahmya dengan pandangan mata yang melotot.
"Mbak Reta!" Lirih Zevanya terpaku di tempatnya, menatap Areta yang kini tengah tersenyum miring.