
"Itu? Itu apa..." Kata-kata Areta terhenti saat melihat di halaman rumahnya ada sebuah becak mesin beserta pengemudinya dan di teras nampak Bu Lastri serta Zevanya yang sedang duduk di sana dengan beberapa koper besar.
"Itu ibu sama Zevanya kenapa bawa banyak koper gitu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Areta.
"Aku juga nggak tahu, Areta. Tapi entah kenapa perasaan aku jadi nggak enak banget." Ujar Andrias yang sedikit menoleh untuk menatap wajah sang istri.
"Ayo buruan kesana, Mas. Aku jadi penasaran." Ucap Areta menepuk bahu kanan Andrias, lelaki itu kembali melajukan sepeda motornya untuk memasuki halaman.
"Ibu, Zevanya!" Sapa Andrias pada ibu dan adiknya.
"Huhuhu.... Andrias, akhirnya kamu datang juga. Ibu sama Zevanya nungguin kamu dari tadi." Tangis Bu Lastri pecah saat melihat kedatangan putranya.
"Ada apa ini, Bu? Ayo kita masuk dulu." Ajak Areta pada mertuanya, wanita paruh baya itu mengangguk kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah Andrias membuka pintu.
"Eh tunggu dulu, Bu. Kan kalian belum bayar ongkos becak saya." Sorak sopir becak itu menghentikan langkah bu Lastri.
"Andrias, tolong bayarin ongkos becak Ibu ya! Ibu udah nggak ada uang sama sekali." Pinta bu Lastri dengan air mata yang masih berderai kemudian melanjutkan langkahnya.
"Berapa Bang?" Tanya Andrias pada sopir becak itu.
"Tiga puluh lima ribu, Den." Jawab sopir becak itu.
"Ini, Bang. Ambil aja kembaliannya." Ujar Andrias sembari mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan. Sopir becak itu mengucapkan terima kasih kemudian berlalu pergi.
Andrias menarik napasnya panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Ada apa ini sebenarnya, Bu? Kenapa Ibu sama Vanya bawa koper banyak banget?" Tanya Andrias pada ibunya yang masih menangis tersedu di pelukan Areta.
"Se sebenarnya, Ibu lagi ada masalah besar." Jawab bu Lastri terbata.
"Ya masalahnya itu apa, Bu? Ibu bicara yang jelas donk biar Andrias nggak bingung." Cecar Andrias yang mulai tersulut emosi.
"Jadi gini, beberapa bulan ini kan kamu potong uang bulanan Ibu. Jadi nggak cukup buat arisan dan biaya hidup kami sehari-hari." Bu Lastri menjeda kalimatnya sejenak.
__ADS_1
"Terus?" Tatapan Andrias mendelik tajam ke arah sang ibu.
"Te terus Ibu pinjam uang di pinjol. Awalnya sih cuma sepuluh juta, ternyata bunganya gede jadi dua kali lipat. Ibu nggak sanggup bayar dan harus bayar arisan juga jadi terpaksa pinjam lagi lima puluh juta." Bu Lastri menunduk tak meneruskan kalimatnya.
"Cerita sampai selesai, Bu. Jangan berbelit-belit, kalau nggak mau silahkan Ibu dan Zevanya pergi dari sini." Ancam Andrias membuat bu Lastri mengangkat wajahnya yang sempat menunduk.
"Uang lima puluh juta itu bunganya makin banyak, Ibu nggak sanggup bayar dan ditagih terus. Akhirnya rumah sama motor Zevanya ibu jual buat bayar hutang itu." Jujur Bu Lastri membuat mata Andrias dan Areta membola seketika.
"Ibu jangan main-main!! Ini Ibu lagi bercanda kan?" Bentak Andrias yang telah dikuasai amarah.
"Ibu nggak bohong, sekarang Ibu nggak punya apa-apa dan nggak punya tempat tinggal. Makanya Ibu dan Zevanya datang ke sini buat numpang tinggal sama kalian. Boleh ya?" Ujar bu Lastri dengan tatapan memohon.
"Andrias nggak bisa jawab, Bu. Rumah ini punya Areta, jadi silahkan Ibu minta izin sama Areta kalau mau tinggal di sini." Balas Andrias yang masih menatap tajam ke arah bu Lastri.
"Areta, izinin Ibu sama Zevanya tinggal disini ya, Nak. Ibu nggak punya tempat tinggal lagi." Mohon bu Lastri pada menantunya yang sedari tadi tak bersuara.
"Areta izinkan Ibu dan Zevanya tinggal di sini tapi ada syaratnya." Ucap Areta menatap bu Lastri dan Zevanya secara bergantian.
"Zevanya harus bantu bersih-bersih rumah ini dan nggak boleh malas. Itu aja syarat dari Areta, yang lain silahkan Ibu tanya sama mas Andrias." Tutur Areta membuat mata Zevanya melotot sempurna.
"Apa? Zevanya bukan babu, Mbak!!" Bentak Zevanya yang tak terima dengan syarat dari kakak iparnya.
"Vanya!!!" Bentak Andrias membuat nyali gadis remaja itu menciut.
"Kalau kamu mau tinggal di sini, turuti kata mbakmu. Satu lagi, Ibu dan Vanya boleh tinggal di sini asal bisa meninggalkan gaya sosialita kalian. Hidup seadanya karena mulai hari ini, Areta sudah tidak lagi bekerja." Tegas Andrias pada ibu dan adiknya.
"Iya Andrias, Ibu janji akan hidup sederhana. Nggak akan neko-neko lagi. Beneran udah kapok Ibu." Janji bu Lastri dengan wajah yang sengaja disedih-sedihkan.
"Bagus, sekarang Ibu sama Vanya silahkan istirahat di dua kamar itu. Kalian bisa tata baju-baju kalian disana." Titah Andrias pada ibu dan adiknya.
"Kamar Vanya ada kamar madinya nggak, Mas?" Tanya Zevanya membuat kakaknya mendengus kesal.
"Ya nggak ada, Vanya. Kamu kalau mandi ya di kamar mandi belakang dekat dapur sana." Jawab Andrias dengan malas.
__ADS_1
"Yah, nggak enak donk, Mas. Kalau tengah malam aku kebelet pipis gimana?" Rengek Zevanya bergelayut manja di lengan kakaknya.
"Kalau kamu nggak mau yaudah, cari kontrakan aja sana. Itu juga kalau Ibu masih punya uang." Ketus Andrias menghempaskan tangan adiknya kemudian membawa Areta masuk ke kamar.
"Mas, kamu keras banget sama ibu dan Zevanya." Cetus Areta setelah tiba di kamar.
"Biarin aja, aku udah capek sama tingkah polah mereka. Apalagi ini sampai rumah juga harus disita karena gaya hidup ibu yang glamour. Padahal rumah itu satu-satunya peninggalan ayah." Curhat Andrias pada istrinya.
"Sabar, Mas. Ibu belum makan siang pasti, kita pesen makanan di gofood aja ya." Ujar Areta menatap sang suami dengan pandangan teduh yang menenangkan. Andrias mengangguk menanggapi ucapan Areta. Wanita itu memesan ayam bakar dan urap-urap sebagai pelengkap. Untuk nasi, tadi pagi ia sudah masak di rice cooker.
...****************...
"Gofood!!!"
Terdengar suara teriakan dari luar rumah Areta.
"Biar aku aja yang ambil." Ujar Andrias kemudian melangkah ke depan sedangkan Areta menuju ke meja makan.
"Ini makanannya." Andrias mengulurkan sebuah kantong kresek. Dengan segera, Areta menata semua hidangan di meja makan.
"Mas, tolong panggil ibu dan Zevanya buat makan bareng ya." Titah Areta, Andrias segera menuju kamar ibu dan adiknya.
"Wah, ada ayam bakar sama urap-urap kesukaan aku nih." Celetuk Zevanya saat tiba di meja makan.
"Iya, ayuk kita makan sama-sama." Ajak Areta kemudian mereka menikmati makan siang tanpa ada suara selain dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring.
"Zevanya, tolong bantuin Mbak beresin meja makan sama cuci piringnya ya." Titah Areta dengan lembut pada adik iparnya.
"Dih ogah!! Mbak aja sana yang beresin sama cuci piringnya sekalian." Ucap Zevanya dengan gaya tengilnya. Areta hanya membuang napas kasar tanpa berniat membalas perkataan adik iparnya.
"Iya Areta, adik kamu itu nggak pernah hidup susah. Jadi kamu jangan suruh dia kerjain pekerjaan rumah donk." Bela bu Lastri tak tahu diri.
Braakkkkk!!!!
__ADS_1