Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 42.


__ADS_3

Semakin mendekat ke arah kamar Zevanya, telinga Andrias dan bu Lastri mendengar sayup-sayup suara rintihan yang keluar dari bibir Zevanya dan Devan. Keduanya mengendap-ngendap untuk membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci oleh pemiliknya. Perlahan-lahan Andrias mendorong pintu itu tanpa menimbulkan suara. Betapa terkejutnya Bu Lastri dan Andrias saat melihat dua anak manusia yang sedang asik bergulat di atas ranjang kecilnya tanpa mengenakan sehelai benang pun.


"Zevanya, Devan Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Ibu nggak nyangka kalian bisa melakukan hal sebejat ini!" pekik bu Lastri mengagetkan keduanya.


Zevanya dan Devan segera berebut selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Segera kenakan pakaian kalian! Saya tunggu di ruang tamu sekarang,"


Zevanya dan Devan buru-buru mengenakan pakaian mereka kemudian keluar dari kamar itu dengan bergandengan tangan. Andrias dan bu Lastri duduk di lantai dengan wajah yang memerah karena menahan amarah atas kelakuan Zevanya dan Devan. Dengan takut-takut Zevanya mulai mendekat ke arah ibu dan kakaknya. Tanpa basa-basi tangan Andreas melayang ke arah pipi Zevanya. Gadis itu menangis memegangi pipinya yang terasa panas dan memerah.


Bu Lastri tak tinggal diam, wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Devan dan menampar kekasih dari anak gadisnya dengan keras. Mata Devan melotot karena tak terima dengan perlakuan yang ia dapatkan.


"Cukup Bu, ini bukan salah saya," teriak Devan menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat tamparan bu Lastri.


"Kalau bukan salah kamu lalu salah siapa? Saya nggak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas semua yang kamu lakukan sama adik saya. Apalagi kalau sampai Zevanya hamil anak kamu!" bentak Andrias pada remaja laki-laki itu.


Dengan berani Devan membalas tatapan tajam Andreas.


"Adik kamu ini memang sudah rusak dari sananya, saya juga bukan orang pertama yang telah menidurinya. Asal kalian tahu saja ya, Zevanya ini sudah terbiasa menjual tubuhnya kepada om-om. Dan saya menikmati tubuhnya juga dengan imbalan uang yang tidak sedikit," oceh Devan yang semakin membuat Andrias dan bu Lastri semakin murka.


"Jaga bicara kamu Devan, tidak mungkin Zevanya melakukan hal serendah itu!" balas Andrias yang tak terima mendengar ucapan dari Devan.


Zevanya hanya bisa menangis, gadis itu berusaha memeluk tubuh ibunya. Namun bu Lastri segera mendorong tubuh anak gadisnya itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.


"Jawab pertanyaan Ibu Zevanya! Apa benar yang telah dikatakan oleh Devan tadi?"


Zevanya tak bisa berkata, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan ibunya.


"Jawab, jawab Zevanya! Ibu ingin dengar semuanya dari mulut kamu! Jawab dengan sejujur-jujurnya!" perintah Bu lastri dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.


Zevanya terus menunduk, tak berani menatap wajah kakak dan juga ibunya.


"Maafkan Vanya, Bu. Dulu Vanya terpaksa melakukan itu karena mas Andreas mengurangi jatah belanja kita dan ibu selalu mengomel soal uang dan uang," sejenak Zevanya menjeda kalimatnya untuk menyeka air mata yang mengalir dari netranya.


"Tapi sekarang Zevanya justru melakukan itu karena Zevanya butuh uang untuk memenuhi keperluan Zevanya. Baju, uang jajan, makanan enak. Mas Andrias nggak bisa lagi penuhin semua itu," lanjut Zevanya dengan air mata yang mengalir semakin deras.


"Vanya, Vanya Kenapa sih gaya hidupmu itu harus serba mewah seperti sosialita. Harusnya kamu sadar dengan kondisi kita ini bagaimana," ujar Andrias dengan nada suara yang direndahkan.

__ADS_1


"Ibu nggak mau tahu, pokoknya kamu dan Devan harus segera menikah. Kalian sudah bikin ibu malu, kalian sudah mencoreng Muka ibu," pekik Bu Lastri dengan air mata yang terus mengalir dari pipinya.


"Nggak, Bu saya nggak mau menikahi Zevanya. Saya nggak mau menikahi wanita murahan dan matre seperti dia, toh saya sama Zevanya sudah sama-sama impas. Saya menikmati tubuh Zevanya dan Zevanya juga mendapatkan uang yang tidak sedikit dari saya. Lagi pula orang tua saya juga tidak akan menerima wanita seperti Zevanya untuk menjadi menantu mereka!"


Andrias yang begitu gerah mendengar ocehan dari mulut Devan segera melayangkan bogem mentahnya ke wajah Devan.


"Kurang ajar kamu, laki-laki pengecut!"


Dengan berani Devan mendorong tubuh Andrias hingga tersungkur ke lantai.


"Stop Mas, hentikan! saya bisa laporkan Mas ke polisi dengan tuduhan penganiayaan. Kalau kalian masih menuntut saya untuk bertanggung jawab menikahi Zevanya, maka jangan salahkan saya kalau saya melakukan hal yang bisa membahayakan nyawa kalian!" ancam Devan kemudian keluar dari rumah itu.


Zevanya hanya bisa menangis sesenggukan menatap nanar tubuh Devan yang telah menghilang di balik pintu.


"Zevanya sudah bikin malu Ibu, maafin Vanya Bu," mohon Zevanya sembari memegangi kaki ibunya.


Bu Lastri menarik kakinya dengan kasar hingga gadis itu kembali tersungkur ke lantai.


"Ibu memang salah dalam mendidik kamu, tapi Ibu nggak pernah mengajarkan kamu untuk jual diri. Ibu malu pumya anak sepertimu!" teriak bu Lastri dengan jari telunjuk mengarah ke muka putrinya.


"Silahkan kamu pergi dari sini, mulai hari ini kamu bukan anakku lagi," ucap bu Lastri membuat tangisan Zevanya semakin histeris dan terdengar menyayat hati.


Andrias segera mendekat dan memegang kedua bahu ibunya.


"Bu, jangan usir Vanya. Bagaimanapun juga, Vanya adalah adik Andrias dan anak ibu." Andrias mencoba meredakan emosi ibunya.


Pandangan wanita paruh baya itu beralih menatap tajam ke dalam manik mata putranya.


"Kalau kamu nggak mau Zevanya pergi, biar Ibu yang pergi dari sini," ucap bu Lastri pelan namun penuh penekanan.


Zevanya segera bangkit dan menyeka air matanya, "Jangan, Bu. Zevanya akan pergi dari sini sekarang, maafkan Zevanya udah buat kalian kecewa."


Gadis itu segera masuk ke kamar dan mengemasi barang-barang miliknya, tak lupa mengambil sejumlah uang simpanan hasil pemberian Rivan dan Devan selama ini. Zevanya keluar dari kamar dengan menggeret sebuah koper. Bu Lastri segera masuk ke kamar Andrias karena tak mau terus-terusan melihat wajah Zevanya.


"Mas, Vanya pergi dulu ya. Tolong jagain ibu," pamit Zevanya pada kakaknya.


Andrias meneteskan air mata melihat nasib adik kesayangannya, laki-laki itu mendekat dan memeluk erat tubuh Zevanya.

__ADS_1


"Maafkan Mas yang nggak bisa jagain kamu, Mas terlalu sibuk sama kesenangan Mas sendiri. Baru saja Mas kehilangan Areta dan Bian, sekarang Mas juga harus kehilangan kamu," bisik Andrias di telinga gadis itu.


Zevanya mengurai pelukan itu dan tersenyum dalam tangisnya, "Mas nggak salah, Zevanya pergi dulu ya. Jaga Ibu dan juga diri Mas baik-baik, maafin Zevanya udah buat kalian kecewa."


"Tapi kamu mau pergi kemana, Vanya?"


"Nggak tahu, Mas. Mungkin Zevanya mau cari kost aja, terus besok mau cari kerjaan," jawab Zevanya dengan tatapan sendu.


"Ini buat kamu, maaf Mas nggak bisa kasih banyak." Andrias mengulurkan lima lembar uang merah pada adiknya.


Zevanya tersenyum kemudian mendorong pelan tangan kakaknya, "Itu Mas kasih buat ibu aja ya, Vanya pamit."


Gadis itu segera berlalu dari hadapan kakaknya dan melangkah lebar sembari menggeret kopernya. Zevanya masih terus berjalan, tak ada niat untuk naik taksi ataupun ojek. Saat langkah kakinya mulai lelah, gadis itu memilih untuk beristirahat sejenak di trotoar.


"Devan sialan, ini semua gara-gara kamu," lirih Zevanya, air mata kembali menetes dari netranya.


Akhirnya gadis itu memutuskan untuk memesan taksi online menuju daerah pinggiran kota. Sebuah rumah kost sederhana menjadi tujuannya. Sampai di sana Zevanya segera membayar uang kost untuk tiga bulan ke depan.


Dan sekarang, di sinilah Zevanya berada. Merebahkan dirinya di sebuah ranjang yang hanya cukup untuk satu orang, isi kopernya telah ia pindahkan ke dalam lemari. Dengan sengaja gadis itu tak membawa serta baju seragam sekolahnya. Pikiran gadis itu melayang memikirkan kehidupannya esok.


"Aku sudah hancur, biarkan saja aku nikmati kehancuranku ini," gumam gadis itu kemudian bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rok mini warna hitam dan atasan crop top tanpa lengan menjadi pilihannya.


Gadis itu kembali memesan taksi online, sabuah club malam menjadi tujuannya sekarang. Sesampainya di sana, Zevanya memesan sebotol minuman beralkohol dan menyalakan rokok di tangannya. Menikmati dentuman musik yang memekakan telinga, menghirup rokoknya dalam-dalam dan meneguk minuman beralkohol yang tersaji di hadapannya.


Kesadaran Zevanya mulai berkurang, gadis itu beranjak dari duduknya dan menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik. Seorang pria paruh baya namun masih terlihat gagah mulai mendekati gadis itu.


"Hai sayang, boleh aku temani kamu?" tanya lelaki asing itu menempelkan tubuhnya pada Zevanya.


Zevanya membalikan tubuhnya dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu, "Boleh donk Om, namaku Vanya."


"Nama yang cantik, secantik orangnya. Nama saya Aris, kamu bisa panggil saya om Aris," pria itu ikut menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik sembari memeluk pinggang Zevanya yang tak menolak diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang baru saja dikenalnya.


"Duduk yuk, temani om minum," bisik lelaki itu di telinga Zevanya. Gadis itu mengangguk mengiyakan permintaan Aris.


Beberapa botol minuman telah dihabiskan oleh Zevanya dan Aris hingga gadis itu benar-benar kehilangan kesadaran. Lelaki itu menyeringai dan memapah tubuh Zevanya masuk ke dalam mobil mewahnya.


Jam di dinding menunjukan pukul dua pagi, Zevanya menggeliat dari tidurnya. Gadis itu terduduk di sebuah ranjang mewah sebuah hotel bintang lima, memegangi kepalanya yang masih berdenyut karena efek minuman yang ia tenggak tadi. Tiba-Tiba gadis itu menyadari sesuatu, di singkapnya selimut yang menutupi tubuhnya. Gadis membulatkan mata melihat kondisi dirinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2