
Brugh!!!
Andrias jatuh tertelungkup di lantai, Samsul dan Viola bergegas untuk segera menolongnya.
"Yaelah Bro, kenapa pake koprol segala? Baru minum segitu doank udah mabok beneran?" Gerutu Samsul yang memapah Andrias menuju ke sofa dengan dibantu Viola.
"Kepala gue pusing banget, Sam. Anterin gue balik sekarang." Perintah Andrias pada Samsul.
"Mas, biar aku aja yang anterin Mas Andrias ya." Bisik Viola di telinga Samsul.
"Aduh, nggak bisa donk Viola. Nanti Andrias bisa perang dunia sama istrinya di rumah. Biar aku aja yang anterin, kamu tunggu di sini sama yang lain." Tolak Samsul membuat Viola menghentakan kakinya kesal.
"Emank elo nggak takut dimarahin bininya Andrias, Sam?" Tanya salah seorang teman Samsul.
"Tenang aja, gue udah kenal sama bininya Andrias. Orangnya cantik kayak bidadari, lemah lembut lagi." Jawab Samsul membayangkan sosok Areta kemudian segera memapah Andrias untuk mengantarnya pulang ke rumah Areta.
...****************...
Areta baru saja terbangun dari tidurnya karena merasakan tenggorokannya kering, wanita itu meraih segelas air minum yang berada di atas nakas kemudian menenggaknya hingga tandas. Tangannya meraba sisi ranjang yang kosong, matanya mengarah pada jam dinding yang menunjukan pukul satu malam.
"Udah jam satu kok Mas Andrias belum pulang, masa lembur sampai jam segini." Monolog Areta yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Tok tok tok....
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang diketuk.
"Jangan-jangan itu Mas Andrias yang pulang." Gunam Areta kemudian melangkah untuk membuka pintu namun sebelumnya wanita itu mengintip dari celah gorden untuk memastikan siapa yang mengetuk pintunya tengah malam seperti ini. Alis Areta bertaut melihat pemandangan Andrias yang sedang dipapah oleh Samsul, wanita itu mendengus kesal kemudian membuka pintu dengan malas.
"Malam Mbak Areta, belom tidur jam segini?" Sapa Samsul berbasa-basi.
"Udah, kebangun gara-gara Mas ketokin pintu rumah saya." Jawab Areta datar.
"Eh, maaf Mbak. Saya cuma mau nganterin Andrias, mau direbahin dimana ini?" Tanya Samsul dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"Emang Mas Andrias kenapa dipapah gitu? Mabok lagi?" Selidik Areta memincingkan matanya membuat Samsul salah tingkah.
"Eh, ini anu Mbak. Kebanyakan minum tadi." Jelas Samsul sedikit terbata.
"Yaudah, terserah Mas mau taroh mana. Yang jelas saya lagi males ngurusin orang mabok, saya mau tidur." Kesal Areta menatap tajam pria di hadapannya.
"Lha terus ini Mas Andrias gimana Mbak?" Tanya Samsul mulai kebingungan.
"Ya mana saya tahu, maboknya kan sama Mas. Ya Mas aja yang urusin." Bentak Areta menatap nyalang ke arah Samsul.
"Tapi..."
Braakkkk!!!
Pintu ditutup Areta dengan keras sebelum Samsul menyelesaikan kalimatnya.
"Sial, si Andrias ngrepotin juga. Bininya yang kalem dan baik ternyata kalau marah malah seremnya ngalah-ngalahin kuntilanak." Gerutu Samsul, pandangan matanya menangkap sebuah kursi panjang di teras Areta.
"Bodo amat, gue tidurin di situ aja deh." Gunam Samsul merebahkan tubuh Andrias di kursi panjang itu kemudian meninggalkan rumah Areta.
"Sampai kapan kamu kayak gini, Mas? Mana yang katanya kamu akan berubah setelah kita menikah, kayak gini kamu nyuruh aku berhenti kerja. Bisa makin dihina aku sama ibumu." Monolog Areta, tanpa terasa bulir bening menetes membasahi pipi mulusnya. Wanita itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya, pikirannya tertuju pada gawai yang terletak di atas nakas. Dicarinya kontak Raisya kemudian mengirimkan sebuah pesan pada sahabatnya.
'Raisya, besok tolong jemput aku ya. aku nebeng ke kantor sekalian minta tolong anterin aku periksa ke dokter kandungan.' Tulis Areta kemudian meletakkan kembali gawainya setelah terlihat dua centang abu-abu pada pesannya.
Areta mencoba untuk memejamkan matanya namun tak berhasil hingga menjelang pagi, wanita itu memutuskan untuk meluapkan rasa kesalnya pada sang suami. Dilangkahkan kakinya menuju kamar mandi kemudian kembali keluar dengan segayung air di tangannya. Areta membuka pintu rumahnya kemudian memandangi wajah lelaki yang telah menjadi suaminya. Rasa perih kembali menelusup di sanubarinya, namun segera ia tepis jau-jauh karena ia harus menjadi wanita kuat demi bayi yang sedang ada di kandungannya.
Byuuurrrrr!!!
Areta menyiram tubuh Andrias, berharap sang suami akan sadar dari mabuknya. Namun nihil, Andrias masih terlelap dengan mulut menganga dan air liur yang menetes.
"Ck, masih tetep nggak bangun. Bodoh amatlah." Kesal Areta yang kembali masuk ke dalam rumah.
...****************...
__ADS_1
Pagi telah kembali datang, menyapa setiap insan dengan kehangatan sinar mentari. Seorang anak manusia mengerjapkan matanya karena silau akibat cahaya mentari yang menembus kornea matanya.
"Pusing banget ini kepala, tapi kog gue bisa tidur di luar gini." Gunam Andrias mencoba mengingat kejadian semalam tapi tak bisa.
"Ah jangan-jangan semalem gue mabok terus tidur disini, Areta tau nggak ya. Kayaknya nggak deh, buktinya nggak ada yang bangunin gue. Tapi kenapa baju gue basah kuyup gini sih." Tanya Andrias pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Areta yang sudah siap dengan setelan kerjanya sedang mengintip dari balik jendela. Wanita itu sengaja tak membuka pintu rumahnya sebelum Raisya tiba karena tak ingin mendengar permintaan maaf basi yang terlontar dari bibir Andrias. Terdengar suara sepeda motor Raisya yang berhenti di dekat teras rumahnya. Wanita itu mengerutkan dahinya melihat Andrias duduk di kursi teras dengan penampilan kacau.
"Andrias, elo habis kecemplung got? Masih pagi udah basah kuyup gitu!" Ledek Raisya memindai penampilan Andrias dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Enak aja, gue lembur kerja sampai pagi. Eh pas pulang malah kehujanan jadi basah gini." Bohong Andrias pada sahabat istrinya itu.
"Heleehhh.... Mana ada kerja kantoran yang lembur sampai pagi. Ngarang aja nih." Balas Raisya tak percaya.
"Nggak percaya yaudah, lagian elo ngapain sih pagi-pagi datang kesini?" Tanya Andrias pada Raisya yang masih duduk di atas sepeda motor miliknya.
"Gue ya mau jemput Areta donk, mau nganterin dia periksa kandungan. Lagian elo suami macam apa sih? Nganterin istri sendiri periksa ke dokter kandungan aja nggak mau." Cecar Raisya meluapkan kekesalannya pada Andrias.
"Gue kan sibuk kerja Raisya, ini elo liat sendiri ini gue baru aja pulang lembur." Balas Andrias santai.
"Awas ya kalau sampai elo bohongin Areta, bilang lembur tapi ternyata kelayapan. Gue suruh Areta ceraiin elo." Ancam Raisya menatap tajam manik mata Andrias.
"Nggak mungkin Areta ceraiin gue, dia itu cinta mati sama gue." Ujar Andrias menepuk dada sebelah kirinya dengan bangga.
Cekleekkk......
Pintu terbuka dari dalam membuat mulut Andrias dan Raisya mengatup seketika.
"Sayang, kamu mau berangkat sekarang? Kata Raisya, kamu belum periksa kandungan ya kemarin? Maaf ya, aku lembur sampai pagi. Ini aku baru aja pulang malah kehujanan jadi basah kuyup gini." Corocos Andrias saat melihat sang istri keluar dari balik pintu.
"Lembur dimana sampai pulang mabok dan di anter sama Samsul? Asal kamu tahu aja ya Mas, aku yang nyuruh Samsul tidurin kamu di luar. Dan satu lagi, kamu bukan kehujanan! Tapi aku sengaja siram kamu biar kamu sadar dari mabok, ternyata nggak ngaruh juga. Jadi stop membual buat nutupin kesalahan kamu, Aku bukan wanita bodoh yang bisa terus-terusan kamu bohongi!!!" Bentak Areta menatap nyalang lelaki yang berstatus suaminya itu.
"Tapi Are."
__ADS_1
"Aku harus kerja sekarang, jangan ajakin aku debat. Sebelum kamu kerja bersihin dulu bekas muntahan kamu semalam." Potong Areta yang segera naik ke boncengan motor Raisya. Keduanya berlalu dari hadapan Andrias tanpa pamit.
"Areta!" Lirih Andrias menatap sang istri yang mulai menghilang dari pandangannya.