Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 17.


__ADS_3

Pagi itu Areta baru saja selesai memasak untuk sarapan, kemudian berjalan pelan menuju ke kamarnya. Kondisi kandungan yang semakin besar membuat ruang geraknya semakin terbatas. Saat masuk ke kamar ternyata Andrias sudah bangun dan tengah bersiap menuju ke kantor. Areta merasakan ada cairan yang mengalir di bagian bawahnya.


"Mas, kog aku kayak pipis tapi nggak kerasa dan nggak bisa ditahan ya." Bingung Areta.


"Mungkin karena kamu terlalu capek, habis ini kamu istirahat aja ya!" Titah Andrias mengelus puncak kepala sang istri, namun wanita itu merasakan semakin banyak cairan yang keluar dan ternyata adalah darah.


"Mas, aku berdarah!!!" Pekik Areta panik.


"Ya ampun, kayaknya kamu mau lahiran sayang. Aku telepon ambulance dulu ya, tas bayinya mana." Tanya Andrias mulai mengotak-ngatik handphonenya kemudian memgambil tas bayi yang diletakkan istrinya di sudut kamar.


Andrias segera menggendong tubuh istrinya menuju ambulance yang menunggu di depan rumahnya. Nampak bu Lastri dan Zevanya yang sedang menikmati sarapan mereka.


"Lhoh, Andrias kenapa istri kamu pake digendong segala?" Tanya bu Lastri setengah berteriak.


"Areta mau melahirkan, Bu. Ibu mau ikut ke rumah sakit sekalian?" Tawar Andrias pada ibunya.


"Nggak, nanti ibu nyusul aja sama Zevanya." Balas bu Lastri yang masih sibuk mengunyah. Andrias melanjutkan kembali langkahnya tanpa membalas perkataan sang ibu.


Sesampainya di rumah sakit ternyata Areta sudah pembukaan empat. beberapa perawat segera membawa wanita itu ke ruang bersalin untuk menunggu pembukaan lengkap. Andrias terus mendampingi Areta hingga saat seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki telah lahir ke dunia.


"Ooeeekkk..... Oeeekkk....." Terdengar tangis kencang dari bayi itu, Areta dan Andrias menitikkan air mata karena rasa haru telah menjadi orang tua.


"Terima kasih sayang, terima kasih telah berjuang demi lahirnya buah hati kita ke dunia." Ucap Andrias menyeka keringat yang menetes di dahi sang istri dan mengecupnya.


"Silahkan Pak, bayinya bisa diadzani dulu." Titah seorang perawat pada Andrias yang langsung menggendong bayi itu dan mengumandangkan suara adzan di dekat telinganya.


Usai diadzani, bayi itu diletakkan di atas dada Areta agar menyusu untuk pertama kalinya.


"Tampan sekali dia, Mas." Celetuk Areta saat melihat bayinya yang sedang menyusu.


"Kan ayahnya juga ganteng." Balas Andrias menepuk dada sebelah kirinya.


"Iya, semoga kita bisa jadi orang tua yang baik untuk dia ya." Ujar Areta membelai lembut pipi bayi mungil itu.


"Amiinn, mau dikasih nama siapa ini anak kita?" Tanya Andrias pada sang istri.

__ADS_1


"Gimana kalau kita kasih nama Febriyan Wiratama?" Ujar Areta meminta persetujuan sang suami.


"Boleh, nama yang bagus. Panggilannya Bian aja ya?" Balas Andrias dengan sebuah senyum tersungging.


"Permisi, Bapak, Ibu! Bayinya kami bersihkan dulu ya, setelah ini ibu Areta akan dipindahkan ke ruang perawatan dan bayinya akan kami antarkan ke sana." Ujar seorang perawat pada pasangan itu.


...****************...


Areta dan bayinya telah dipindahkan ke ruang perawatan sedangkan babby Bian tengah tertidur lelap di dalam box bayi yang diletakkan di samping ranjang pasien. Wanita itu meminta Andrias memotret baby Bian kemudian mengirimkannya pada Raisya.


Tiing....


Sebuah notifikasi pesan dari aplikasi hijau masuk ke ponsel Areta.


"Ada balasan dari Raisya." Ujar Andrias setelah membuka pesan yang masuk.


"Dia bilang apa, Mas?" Tanya Areta penasaran.


"Dia ngucapin selamat, tapi dia lagi ada di luar kota. Nanti kalau udah pulang mau langsung jengukin kamu." Jawab Andrias menjelaskan isi pesan dari sahabat istrinya itu. Areta hanya mengangguk dan tersenyum, saat bersamaan pintu dibuka dari luar oleh seorang perawat.


"Selamat siang Ibu, Bapak. Ini makan siang untuk Ibu Areta ya, dihabiskan ya, Bu. Terutama proteinnya agar jahitan cepat kering." Pesan perawat itu pada Andrias kemudian pamit untuk keluar.


Keduanya dikagetkan dengan kehadiran bu Lastri yang datang tiba-tiba kemudian menutup pintu dengan keras sampai baby Bian menangis karena kaget.


"Oeeekkk oeekkk." Suara tangis bayi itu begitu kencang memekakan telinga, dengan sigap Andrias mengambilnya dari box bayi kemudian meletakan babby Bian di pangkuan Areta untuk mendapatkan ASI.


"Ibu pelan-pelan donk. Kasihan babbynya jadi kaget." Andreas memperingatkan bu Lastri yang baru saja masuk bersama Zevanya.


"Iya-iya maaf, lagian bayi laki-laki masa gitu aja nangis. Cengeng banget." Ucapan pedas bu Lastri berhasil membuat hati Areta memanas.


Setelah selesai menyusui bayinya, Areta melanjutkan makan siangnya dengan disuapi oleh Andrias.


"Eh eh, kamu makan apa itu, Areta?" Tanya bu Lastri melihat ke arah piring yang dipegang oleh Andrias.


"Ini ada sayur daun katuk sama ayam goreng dan buah melon, Bu." Jawab Andrias yang masih menyuapi sang istri.

__ADS_1


"Habis lahiran itu nggak boleh makan sembarangan, jangan makan sayur berkuah. Nanti jahitan kamu lama keringnya, ayam juga nggak boleh. Bikin jahitan kamu gatal nanti baru tahu rasa." Cerocos bu Lastri dengan suara kerasnya, beruntung babby Bian tidak kembali terbangun karena mendengar suara neneknya yang membuat panas telinga.


"Tapi perawat bilang harus makan yang bergizi biar cepat pulih, Bu!" Bantah Areta yang menatap sengit ke arah mertuanya.


"Ya itu karena di sini masih ada obatnya, coba kalau di rumah nanti. Kamu makan ayam sama telor pasti cekit-cekit itu jahitanmu. Ibu aja dulu habis lahiran Andrias sama Zevanya kalau makan sayurnya cuma ditumis pake sedikit minyak, lauknya cuma tahu sama tempe." Balas bu Lastri tak mau kalah.


"Tapi."


"Areta!" Potong Andrias setengah membentak membuat mata istrinya membola.


"Sebaiknya kamu nurut sama ibu yang udah berpengalaman dua kali melahirkan. Selama di sini nggakpapa kamu makan apa yang dikasih dari rumah sakit. Tapi nanti di rumah kamu harus ikuti nasihat dari Ibu." Tambah Andrias dengan nada yang ditekan.


"Terserahlah!" Tukas Areta segera mendorong piring di tangan Andrias menjauh.


"Makannya udah?" Tanya Andrias tanpa rasa bersalah.


"Aku udah kenyang." Jawab Areta singkat kemudian berbalik memunggungi mereka bertiga.


"Mas, aku sama ibu lapar nih. Belum makan." Celetuk Zevanya memegangi perutnya.


"Mas juga dari pagi belum makan, kamu tolong beli'in sekalian ya. Mau makan apa?" Balas Andrias yang juga merasakan cacing di perutnya mulai berdemo.


"Mau nasi padang donk, Mas. Sambel hijaunya yang banyak pasti enak." Ucap Zevanya menaik turunkan kedua alisnya.


"Boleh lah, Mas mau lauk rendang ya. Kamu sama ibu terserah. Nih uangnya." Andrias memberikan selembar uang merah pada adiknya.


"Ibu juga sama, rendang daging aja." Sahut bu Lastri yang asyik memainkan gawainya.


"Areta, kamu mau nasi padang juga?" Tawar Andrias pada istrinya.


"Eh nggak boleh, lagi nyusuin bayi nggak boleh makan pedes. Nanti bayinya mencret!" Cegah bu Lastri sebelum Areta memberi jawaban.


Zevanya segera keluar dari ruangan itu, tiga puluh menit kemudian gadis remaja itu kembali dengan membawa dua kantong kresek. Satu kantong kresek yang berisi nasi padang dan air mineral ia serahkan pada ibunya. Sedang satu kresek masih ia bawa di tangannya.


"Mbak Reta!" Aku bawa cemilan buat Mbak nih!" Ucap Zevanya membuat Areta menoleh

__ADS_1


"Nih buat, Mbak!" Tambah Zevanya meyerahkan sebuah kantong kresek pada kakak iparnya.


Mata Areta melotot melihat apa yang ada di dalam kantong kresek kemudian melemparkannya ke lantai hingga seluruh isinya tumpah berceceran.


__ADS_2