
Suara ketukan di pintu membuat Rivan segera melepaskan cekalan tangannya pada Areta.
"Masuk,'' ucap Rivan setelah berhasil menetralkan ekspresinya.
Raisya masuk ke dalam ruangan itu dengan menenteng sebuah berkas.
"Maaf ya Pak saya ganggu kalian, ini daftar pekerjaan yang harus dilakukan Areta sebagai sekretaris Bapak.'' Raisya mengulurkan map itu kepada Rivan.
"Makasih ya Raisya.''
"Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu."
Raisya segera keluar dari ruangan itu setelah mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Areta.
"Areta ini daftar tugas-tugas yang harus kamu lakukan setiap harinya lengkap dengan takaran kopi yang saya mau setiap hari.'' Rivan mengulurkan berkas itu pada sekretaris barunya.
"Awas jangan racun saya lagi pakai kopi pahit!''
Areta mengambil alih berkas itu dari tangan Rivan.
"Ya kalau soal kopi itu tergantung Bapak."
"Hah? Tergantung saya? Tergantung saya gimana maksud kamu?"
"Kalau bapak masih suka mengucapkan gombalan-gombalan manis sama saya, ya pasti kopi Bapak akan pahit seperti tadi," jawab Areta tersenyum mengejek.
"Kenapa kamu jadi nyebelin banget sih Areta? Untung ya kamu cantik, kalau enggak cantik kalau saya pecat kamu!'' geram Rivan pada wanita di hadapannya.
"Ya silakan aja kalau bapak mau pecat saya, emang bapak tega biarin saya jadi janda pengangguran lagi?
"Sudahlah Areta, saya capek debat sama kamu. Sekarang gini aja deh, kamu siap-siap habis ini kamu temenin saya meeting di restoran Mawar, tapi nanti di sana kamu jangan baper ya," goda Rivan mbiat Areta menautkan kedua alisnya.
"Baper? Baper kenapa emangnya?
"karena pasti di sana ada mantan suami kamu, karena kita meetingnya sama perusahaan Andrias dan perwakilan mereka adalah manajer keuangan."
"Oh iya saya Hampir lupa kalau Andreas itu sudah naik jabatan jadi manajer keuangan."
"Memangnya kamu baru tahu kalau Andrias jadi manajer keuangan sekarang?'' tanya Rivan kembali mendekat ke arah Arera.
"Ya Iya Pak kan dulu sama saya nikah sama dia, enggak pernah bilang kalau dia udah naik jabatan jadi manajer keuangan. Dia bilangnya cuma karyawan biasa gaji cuma tiga juta saya dikasih sejuta buat sebulan," oceh Areta tanpa beban.
"Ya ampun Areta, kamu bener-bener wanita bodoh ya ternyata,'' ucap Rivan drngan.nada mengejek.
"Eits jangan salah, saya bukan wanita bodoh. Saya juga lakuin hal yang sama dong ke dia. Saya bilang kalau gaji saya dulu di perusahaan bapak itu cuman dua juta, padahal kan kenyataanya gaji saya empat juta,'' balas Areta tak mau kalah.
''Terus-terus? Dia nggak pernah kepoin gitu ya?'' Rivan semakin.penasaran.dengan.kisah hidup Areta bersama Andrias.
"Nggak, Pak. Kan dia tahunya gaji saya itu habis buat nambokin keperluan dapur selama sebulan." Areta kembali teringat kisahnya dulu.
"Ya ampun Areta hidup kamu Ternyata seperti itu. Kamu mau-maunya aja ya sama Andrias dulu." Lagi-lagi Rivan mengejek Areta.
"Ya itu kamu cuman masa lalu, Pak. Sekarang Saya memutuskan lepas dari dia dan hidup bahagia sama Bia."
__ADS_1
''Kamu sudah ambil keputusan yang bagus, oke sekarang kita ke restoran mawar biar nggak telat," ucap Rivan melangkah keluar dari ruang kerjanya diiringi Areta yang mengekor di belakangnya.
Setibanya di restoran itu ternyata Andrias telah menunggu di sebuah meja yang sudah mereka pesan sebelumnya. Rivan dengan sengaja menggandeng tangan Areta untuk menghampiri Andrias.
"Selamat siang Pak Andrias, sudah lama ya menunggu saya? Mohon maaf kalau saya sedikit terlambat."
Andrias mengangkat kepalanya menatap ke arah sumber suara itu. Betapa terkejutnya Andrias melihat Areta berdiri di samping Rivan.
"Loh kok pak Rivan bisa sama Areta, ini kan urusan pekerjaan?" tanya Andrias menatap Rivan dan Areta secara bergantian.
"Oh ini, iya saya tahu ini urusan pekerjaan. Tapi Areta kan sekarang sekretaris pribadi saya, jadi dia yang akan menemani saya kalau saya meeting di luar termasuk bertemu Bapak."
Andrias hanya menggangguk menanggapi semua jawaban Rivan. Areta tersenyum tipis ke arah Andrias sebagai formalitas, selama meeting berlangsung mata Andrias terus terfokus pada Areta.
''Kamu cantik sekali dengan pakaian formal seperti itu. Aku benar-benar bodoh sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dan secantik kamu,'' batin Andreas dalam hatinya.
''Oke jadi gimana Pak Andrias? Apakah Anda setuju dengan kerjasama yang saya tawarkan?'' Suara Rivan berhasil menyadarkan Andias dari lamunannya.
"Eh itu, iya saya setuju Pak. Tawaran Anda sangat menarik untuk perusahaan saya dan saya harap kerjasama ini berjalan dengan lancar," ucap Andrias terbata kemudian mengulurkan tangannya yang segera disalami oleh Rivan
"Oke karena meeting hari ini sudah selesai saya pamit dulu untuk kembali ke kantor," pamit Rivan pada rekan kerjanya itu.
"Baik, saya juga akan kembali ke kantor."
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ke parkiran dan berpisah untuk masuk ke dalam mobil masing-masing. Rivan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Areta.
"Areta, gimana perasaan kamu?"
"'Perasaan saya? Emangnya kenapa dengan perasaan saya, Pak?'' Rivan menghembuskan napas kasar mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Areta.
"Maksud saya, gimana perasaan kamu setelah ketemu mantan suami?"
Wanita itu memutar bola matanya malas setelah mendengar pertanyaan absurd dari Rivan, "Ya nggak gimana-gimana, meskipun udah mantan suami kan kita masih sering ketemu.Bapak kan tahu sendiri kalau dia masih sering datang ke rumah saya untuk marah-marah.''
"Haha, iya juga sih. Kasihan ya kamu udah jadi mantan juga masih di teror." Areta mencebikan bibirnya mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Rivan.
Tak ada lagi percakapan di antara keduanya sampai tiba di kantor. Setibanya di kantor Areta segera menuju ke meja kerjanya, begitu juga dengan Rivan. Keduanya menenggelamkan diri dalam pekerjaan masing-masing. Setumpuk dokumen telah menunggu di meja mereka.
Namun sebenarnya hanya Areta sendirian yang tenggelam dalam pekerjaannya karena Rivann sama sekali tak bisa konsentrasi untuk menatap layar komputer di hadapannya. Ekor matanya terus melirik ke arah Areta, entah mengapa berada di dekat wanita itu membuatnya tak bisa tenang.
"Ah rasanya ingin ku lamar dia sekarang juga,'' batin Rivan dalam hatinya.
Areta akhirnya menyadari jika mata Rivan terus ketujuh padanya.
"Bapak ngapain lihatin saya kayak gitu? Jatuh cinta sama saya?'' goda Areta menatap lelaki itu penuh selidik.
"Kamu masih nanyain itu? Kok kamu jadi wanita nggak peka banget sih, kan saya sudah bilang sama kamu. Saya mau jadi'in kamu sugar babby saya."
Areta memutar bola matanya jengah karena ucapan Rivan.
"Bapak kayaknya harus periksa ke dokter deh, kalalu bicara suka ngawur sih. Mana ada sugar babby janda, emak-emak anak satu macam saya. Di mana-mana yang namanya sugar baby itu yang muda cantik seksi ahoy kayak Zevanya tuh mantannya Bapak."
Rivan terdiam mendengar ucapannya yang dilontarkan oleh Areta, laki-laki itu menunduk dan segera mengarahkan fokusnya kembali ke layar komputer. Areta hanya menggedikan kedua bahunya melihat sikap Rivan. Tak ada lagi obrolan diantara mereka hingga jam pulang telah tiba.
__ADS_1
"Sudah waktunya pulang, nanti kamu jangan kaget kalau di rumah kamu ada orang ya," ucap Rivan tiba-tiba.
"What? Orang siapa Pak?" tanya Areta kebingungan.
"Ya saya nggak tahu juga orangnya udah nyampe apa belum.''
''Iya tapi siapa Pak?'' desak Areta penasaran.
''Itu loh baby sitter yang saya cariin buat kamu, namanya Bu Esti dia udah seumuran ibunya Raisya tapi masih cekatan buat ngurus bayi. Orangnya juga baik dan yang pasti dia udah banyak pengalaman, dia juga bisa bantuin kamu buat ngasih makanan yang bergizi buat Bian setelah dia MPASI nanti," jelas Rivan panjang lebar.
"Seriusan Pak?'' Mata Areta berbinar mendengar penjelasan Rivan.
"Iya karena Bu Esti itu dulu basic-nya seorang perawat terus dia ada kerja di day care gitu. Jadi ya pengalaman dia udah banyak lah.''
''Wah kalau gitu saya pulang dulu ya pak, makasih.''
''Sama-sama.''
Areta segera keluar dari ruangan itu, ternyata Raisya telah menunggu di luar dan memasang senyum untuk menyambut sahabatnya.
''Areta mau langsung pulang atau mau jalan dulu?'' tanya Raisya pada sahabatnya.
"Kita langsung pulang aja ya Raisya, soalnya kata Pak Rifan ada baby sitter-nya Bian yang mau datang hari ini. Takutnya nanti dia udah datang terus aku belum ada di rumah lagi. Kan kasihan kalau nunggu lama,'' jawab Areta dengan diiringi sebuah senyuman.
"Jadi Pak Rivan serius nih nyariin baby sitter buat Bian?''
Areta mengangguk untuk menjawab pertanyaan sahabatnya, keduanya segera berjalan ke parkiran dan masuk ke mobil Areta. Wanita itu segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Raisya, menjemput Bian terlebih dahulu kemudian melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Tak lupa untuk mampir ke sebuah restoran membeli beberapa lauk, saat Areta tiba di rumahnya ternyata benar seorang wanita paruh baya tengah duduk di kursi teras milik Areta. Buru-buru Areta keluar dengan menggendong Bian.
''Bu Esti ya?'' sapa Areta ramah.
Wanita paruh baya itu tersenyum teduh menatap Bian dan Areta secara bergantian
''Iya betul, Mbak Areta sama dedek Bian ya ini pasti?'' ujar wanita itu memastikan.
''Iya Bu. Mari masuk masuk, maaf ya Ibu jadi nunggu lama.''
''Oh enggak kok mbak Reta, saya juga baru datang. Marii biar saya gendong Bianya."
Ibu Esti segera mengambil alih Bian dari gendongan Areta dan ajaibnya bayi itu sama sekali tak menangis meskipun baru pertama bertemu dengan bu Esti.
''Wah Biannya nggak nangis, kayaknya dia udah cocok nih sama bu Esti.''
''Ya alhamdulillah kalau cocok semoga Bian bisa jadi anak yang baik ya Bu. Semoga saya juga bisa sabar ngurusin Bian,'' ucap bu Esti tulus.
"Amin. Ya udah yuk kita masuk dulu, saya mau mandi terus kita makan malam ya,'' ajak Areta lada bu Esti.
Wanita paruh baya itu mengangguk mengiyakan ajakan Areta. Wanita itu masuk ke dalam kamarnya kemudian meminta tolong wanita paruh baya itu untuk memandikan Bian. Sementara Areta sendiri segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Tiga puluh menit kemudian mereka telah duduk di meja makan untuk menikmati makan malam mereka. Seperti biasa, tak ada percakapan saat mereka makan hingga ritual makan malam itu selesai. Bu Esti segera menggendong Bian dan memberikannya susu formula hingga Bian tertidur.
''Bu Esti kayaknya pengalaman banget yang ngasuh bayinya?'' tanya Areta membuka obrolan.
''Iya Mbak, saya dulu yang ngasuh Mas Rivan dari kecil dan sekarang saya juga ngasuh calon anaknya mas Rivan ini.''
''Hah?''
__ADS_1