Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 25.


__ADS_3

Areta masih tak bergeming, pandangannya dingin menembus manik mata milik Andrias.


"Ayo bicara, Areta! Apa maksut kata-kata kamu barusan?" Tanya Andrias menggoyangkan kedua bahu istrinya.


"Aku lelah, Mas. Aku lelah selalu ngomel setiap kamu pulang dalam keadaan mabuk, mulai hari ini aku akan diam. Aku tidak akan ikut canpur urusanmu lagi, terserah kamu mau apa dan bersama siapa." Ucapan Areta membuat Andrias semakin bingung.


"Maksut kamu apa, Areta? Aku nggak ngerti, tolong jelaskan maksut kamu yang sebenarnya!" Desak Andrias pada istrinya.


"Seperti yang aku bilang tadi, mulai hari ini kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka tanpa khawatir aku akan marah. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jika aku sudah lelah biarkan aku pergi dari hidupmu." Jelas Areta kemudian berlalu menuju ke meja makan.


Areta menghenyak di kursinya, diikuti oleh Andrias yang ikut duduk di sampingnya. Wanita itu mengambil makanan untuk dirinya sendiri tanpa melayani sang suami seperti biasa. Zevanya dan bu Lastri saling pandang melihat apa yang terjadi di hadapan mereka. Suasana sarapan pagi itu berubah canggung karena sikap Areta dan Andrias yang tak seperti biasanya.


Tinn... Tiin....


Suara klakson sepeda motor yang dibunyikan oleh samsul terdengar hingga ke dalam rumah.


"Aku berangkat kerja dulu ya." Pamit lelaki itu mengecup kening istrinya, Areta hanya mengangguk samar sambil terus mengunyah makanannya tanpa berniat mencium tangan sang suami. Hal yang biasanya ia lakukan sebelum Andrias berangkat ke kantor.


Andrias menghampiri Samsul yang sudah nenunggu di depan rumahnya dan langsung naik ke boncengan.


"Sam, semalem elu nganterin gue pulang? Yang bukain pintu bini gue bukan?" Tanya Andrias pada Samsul setelah kendaraan mulai melaju.


"Iya gue yang nganterin elu tp gue nggak tahu siapa yang bukain pintunya, semalem kebetulan gue sampe pas adek elu juga baru pulang. Jadi gue minta tolong adek elu buat bawa elu masuk dan gue juga langsung oergi sebelum ada yang bukain pintu, soalnya gue takut diomelin bini elu lagi kayak waktu itu." Cerecos Samsul setengah berteriak menjawab pertanyaan Andrias karena suara berisik kendaraan bermotor di jalanan menelan suara mereka.


Andrias tak lagi bertanya hingga keduanya sampai di kantor tempat mereka bekerja. Lelaki itu segera menuju ke ruangannya, meninggalkan Samsul yang sedang memarkirkan sepeda motornya. Andrias berjalan ke ruangannya dengan terburu-buru.


Bruugh....


"Aw." Jerit seorang perempuan yang baru saja ditabrak oleh Andrias.


"Maaf-maaf saya nggak sengaja." Ujar Andrias mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri.


"Eh, iya nggakpapa, Pak. Saya buru-buru tadi jadi nggak lihat ada bapak." Balas gadis itu sembari membenarkan tatanan rambutnya. Gadis cantik dengan rambut sebahu, kulit sawo matang namun nampak manis, bibir tipis dan hidung mancung menyempurnakan kecantikannya.


"Kamu karyawan baru? Kok saya nggak pernah lihat kamu?" Tanya Andrias memperhatikan penampilan gadis itu dari atas ke bawah.


"Iya, Pak. Saya karyawan baru di sini, dan ini hari pertama saya kerja di kantor ini." Jawab gadis itu ramah.


"Kenalkan, saya Andrias. Manager keuangan di kantor ini." ujar Andrias memperkenalkan dirinya.


"Oh hallo Pak Andrias, saya Wulan. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit gadis itu menyunggingkan senyum manis.


Andrias mengangguk kemudian membalas senyuman manis gadis itu, Wulan segera berlalu dari hadapan Andrias yang masih terpaku menatap punggung wanita yang mulau menjauh dari pandangan matanya.

__ADS_1


Plak!


"Woy, ngelamun aja elu." Ujar Samsul menepuk pundak Andrias cukup keras.


"Sialan, gangguin aja. Gue habis ketemu bidadari." Celetuk Andrias membuat tawa Samsul pecah.


"Hahaha, bidadari? Nggak salah denger gue, bukannya bidadari elu cuma Areta." Cemooh Samsul pada sahabatnya.


"Berisik elu." Kesal Andrias yang kembali melangkah ke ruangannya.


Saat masuk ke dalam ruangan, lelaki itu telah disuguhi dengan setumpuk dokumen yang menanti di atas mejanya. Andrias mulai duduk dan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, hingga ia teringat sesuatu. Lelaki itu merogoh gawai yang ada di saku celananya.


"Udah lama nggak ngecek saldo, mana tiap karaoke yang bayar si Samsul gara-gara teler." Gunam Andrias mulai mengotak-ngatik handphonenya.


Seketika mata Andrias membola melihat apa yang tertera di layar hndphonenya.


"I ini gimana bisa saldo cuma sisa lima belas juta,masa iya baru beberapa kali jalan ke tempat karaoke bisa sebanyak ini kurangnya. Perasaan terakhir ngecek masih ada enam puluh jutaan." monolog Andrias mulai kebingungan, akhirnya ia memutuskan untuk memanggil Samsul ke ruangannya.


Ceklek!


Samsul masuk ke ruangan Andrias tanpa memgetuk pintunya terlebih dahulu, kemudian duduk di kursi seberang meja sahabatnya.


"Ada apa ya Pak Andrias memanggil saya kesini?" Basa-basi Samsul pada Andrias.


"Ya terus apa, Bro? Soal bidadari tadi? Atau ntar malam elu mau ngajakin pesta lagi?" Cecar Samsul penasaran.


"Kan elu yang bayarin tiap malem pake kartu ATM gue, emang habisnya sebanyak itu, Sam? Kok saldo gue banyak banget berkurangnya?" Tanya Andrias meminta penjelasan dari Samsul tanpa menyebutkan nominal yang tersisa di kartu ATMnya.


"Iya, orang kita pesan minumnya banyak banget. Udah gitu yang bermerk lagi, nah satu lagi yang paling penting. Buat bayarin Viola sama temannya yang seksi aduhai bohay itu." Jelas Samsul sambil tersenyum membayangkan sosok wanita malam yang akhir-akhir ini sering menemani mereka.


"Ah yaudahlah, malam ini nggak keluar dulu gue. Lagi bokek ini." Keluh Andrias pada pria di hadapannya.


"Iya, iya. Gue balik ke ruangan dulu, kerjaan masih banyak ini." Pamit Samsul, Andrias kembali melanjutkan pekerjaannya setelah lelaki itu keluar dari dalam ruangannya.


...****************...


Kriiing.... Kriiing.....


Areta baru saja menidurkan babby Bian saat handphonya berbunyi, diambilnya gawai yang berada di atas nakas itu. Bibir Areta menyungingkan senyum saat melihat siapa yang telah menelepon.


"Hallo Raisya sayangku." Sapa Areta setelah menggeser icon hijau di layar handphonenya.


"Hallo Areta, barang pesananmu udah datang nih. Mau aku anterin sekarang?" Tanya Raisya di ujung telepon.

__ADS_1


"Emang kamu nggak sibuk? Kalau sibuk amterinnya kapan-kapan aja nggak apa-apa kok." Balas Areta mulai merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Tenang aja, aku hari ini izin nggak masuk kerja soalnya habis ada acara di sekolah anakku." Ujar Raisya di seberang sana.


"Habis ini aku otw ke rumahmu ya, sekalian aku bawa makanan. Bye!" Tambah Raisya memutus panggilan telepon tanpa menunggu jawaban dari Areta.


Areta kembali merebahkan dirinya sembari menunggu kedatangan Raisya, entah mengapa tiba-tiba wanita itu ingin membuka profil instagram suaminya. Areta tersenyum kecut saat melihat foto-foto sang suami penuh dengan tanda love dari sebuah akun bernama Viola Andini.


"Jadi ini yang namanya Viola." Gunam Areta kemudian mengklik profil Viola yang ternyata tak diprivat.


Areta terus mengamati satu persatu foto Viola yang keseluruhannya menggunakan pakaian kurang bahan itu. Ia terus terlarut dalam kegiatannya sembari membayangkan apa yang telah Andrias lakukan bersama Viola di luar sana.


Braakkk!!


"Oeeekkk.... Oeeekkk....." Tiba-tiba pintu kamar Areta dibuka dengan kencang hingga Bian menangis karena kaget. Areta menoleh ke arah pintu dimana Raisya tengah berdiri sambil nyengir, menunjukan deretan giginya yang rapi.


"Raisyaaa! Bian jadi kebangun kan, belom juga istirahat." Geram Areta sembari melangkah ke arah box bayi, menimang-nimang tubuh Bian dalam gendongannya agar kembali tertidur kemudian meletakkan kembali bayi itu ke dalam boxnya.


"Lhoh, ada raisya." Kaget bu Lastri yang tanpa sengaja melihat ke kamar Areta saat berjalan ke arah dapur.


"Eh, hallo Tante. Ini Raisya bawain makanan buat Tante." Balas Raisya ramah sembari mengulurkan satu kotak makanan untuk bu Lastri.


"Wah, kamu baik banget sih. Yaudah kalau gitu Tante makan dulu ya." Ujar bu Lastri yang dibalas Raisya dengan sebuah anggukan.


"Kamu bawa apa, Sya? Laper nih, masa mertuaku doank yang dikasih." Celetuk Areta usai menidurkan Bian kembali.


Raisya mengeluarkan dua kotak makanan di hadapan sahabatnya. "Nih, bawa rujak cingur super enak plus lontong. Yuk makan!" Ajaknya kemudian.


Keduanya segera melahap makanan itu lalu Areta menuju ke dapur untuk membuang sampah bekas makananya sekaligus membuat dua minuman dingin untuk Raisya dan dirinya.


"Nih, minum dulu biar seger." Ujar Areta menyerahkan segelas es sirup melon pada Raisya yang segera menenggaknya hingga sisa separuh.


"Ahh... Mantap. Makasih ya Areta. Nih barang kamu." Ucap Raisya mengeluarkan sebuah kotak. Areta mengambil kotak itu dan melihat isinya.


"Wahh... Beneran bagus banget ini kalungnya. Nggak sia-sia ngambil tiga puluh lima juta dari ATM mas Andrias buat beli ini." Mata Areta berbinar melihat isi kotak itu.


"Aku nggak nyangka kalau kamu ada pikiran buat beli perhiasan lewat toko orange. Aku kira kamu bakalan transfer dalam bentuk duit lhoh, Reta." Balas Raisya yang tak menyangka dengan apa yang telah dilakukan sahabatnya.


"Ya tadinya aku kepikiran ngikutin saran kamu buat transfer aja uang itu. Tapi ku pikir-pikir sayanglah. Kan jarang-jarang aku bisa foya-foya pakai duit suami." Jelas Areta membuat sahabatnya manggut-manggut.


Ceklek!


Areta dan Raisya terkaget karena pintu yang tiba-tiba dibuka dari luar. Apalagi bu Lastri adalah sosok yang muncul dari balik pintu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2