Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 38


__ADS_3

Areta mendekat ke arah Bu Lastri yang baru saja memanggil namanya.


"Ada apa, Bu?" tanya Areta dengan lembut.


"Laki-laki yang tadi itu pacar baru kamu ya?" selidik bu Lastri ingin tahu.


Areta tersenyum, kembali mengajak wanita paruh baya itu untuk duduk di sofa.


"Maksud Ibu? Areta kan baru saja bercerai dengan Andrias, Bu. Mana ada pikiran untuk menjalin hubungan dengan pria lain secepat ini? Bagi Areta yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Bian."


"Maafkan Ibu, Areta. Ibu hanya ingin meluruskan perkataan Andrias dan Zevanya yang bilang kalau kamu sudah punya lelaki pengganti Andrias," ucap bu Lastri menggenggam tangan menantunya dengan wajah bersalah.


"Tidak apa-apa, Bu. Memang Areta pernah bertemu Andrias dan Zevanya saat Areta sedang bersama mas Rivan. Tapi hubungan kami hanya sebatas teman," jelas Areta yang tak merasa tersinggung dengan ucapan mantan mertuanya itu.


"Terima kasih Areta, sekarang Ibu pamit pulang dulu ya."


"Sebentar, Bu. Biar Areta pesankan taksi online untuk Ibu. Udah malem, nggak baik kalau Ibu naik ojek," titah Areta pada bu Lastri.


Wanita paruh baya itu menurut, sembari menunggu taksi online datang Areta mengemas beberapa lauk untuk bu Lastri. Makanan pemberian Rivan juga ia berikan pada bu Lastri karena Areta sudah cukup kenyang untuk memakannya.


Terdengar bunyi klakson taksi online yang berhenti di depan rumah Areta, bu Lastri berjalan menuju arah pintu dengan digandeng oleh Areta.


"Ibu, hati-hati ya. Sering-sering nengokin cucu Ibu ke sini, pintu rumah Areta akan selalu terbuka untuk Ibu," ucap Areta sebelum bu Lastri masuk ke dalam taksi.


"Pasti Areta." Bu Lastri memeluk Areta kemudian masuk ke dalam taksi.


Tepat pukul delapan malam, bu Lastri tiba di depan rumah kontrakannya. Dengan malas wanita paruh baya itu membuka pintu yang tak terkunci. Zevanya dan Andrias sedang menikmati mi instan saat ibunya masuk ke dalam rumah.


"Vanya, tumben kamu udah di rumah jam segini?" tanya bu Lastri mengerutkan dahi karena tadi sore Zevanya pamit untuk pergi bersama Devan.


"Nanti kalau aku pulangnya kemaleman Ibu ngomel lagi, sekarang pulang cepat juga Ibu masing ngomel," ketus Zevanya menjawab pertanyaan sang ibu.


"Ibu kok bawa makanan banyak banget, habis dari mall atau habis arisan?" tanya Andrias mengintip bungkusan kantong kresek yang dibawa oleh ibunya.

__ADS_1


"Mana ada uang Ibu untuk ke mall apalagi arisan. Tadi Ibu habis nengokin cucu Ibu, dan Areta baik sekali sama Ibu. Dia masakin Ibu dan bawain makanan ini, Bian sekarang sudah besar dan sudah ngerti kalau Ibu ini neneknya. Nggak nangis lagi waktu ibu gendong, Ibu bahagia sekali," cerita bu Lastri dengan binar kebahagiaan yang nampak jelas di wajahnya yang kini polos tanpa make up tebal seperti dulu.


"Apa? Ngapain sih Ibu ke sana, mbak Areta itu udah punya pacar baru, Bu," ketus Zevanya setelah mendengar cerita ibunya.


Bu Lastri menghembuskan napas kasarnya, "Kalian berdua itu salah paham, hubungan Areta dan Rivan itu hanya sebatas teman. Bahkan Areta sendiri yang bilang kalau dia belum kepikiran untuk mencari pengganti Andrias."


"Halah, paling juga bohong tu si mbak Areta. Bisa-bisanya dia aja, lagian ini ngapain kasih makanan segala buat kita. Dia pikir kita fakir miskin." Zevanya mendorong bungkusan kresek pemberian Areta.


"Cukup Zevanya, kalau kalian nggak mau makan yaudah. Biar Ibu taruh kulkas, kalian berdua makan mi instan aja!" Bentakan bu Lastri membuat Zevanya sedikit kaget.


"Jangan donk, Andrias lapar." Dengan buru-buru Andrias mengambil nasi dan beberapa lauk dari Areta sedangkan Zevanya memilih berlalu ke dalam kamarnya.


Andrias menikmati makan malamnya dengan lahap ditemani oleh bu Lastri.


"Apa benar yang tadi Ibu bilang?" tanya Andrias setelah menghabiskan isi piringnya.


"Yang ibu bilang mana maksud kamu?" tanya Bu Lastri pura-pura tak mengerti.


"Itu lho, yang Ibu bilang Areta nggak punya niat nyari pengganti aku?"


"Berarti Andrias masih punya kesempatan donk, Bu? Lebih baik Andrias kejar Areta lagi aja daripada cari wanita lain yang belum tentu sebaik dan sesabar Reta, Ibu setuju kan?" Andrias meminta pendapat ibunya.


"Ya, Ibu setuju asalkan kamu bisa menghilangkan kebiasaan burukmu seperti keluar malam, mabuk dan keluyuran yang nggak jelas. Karena Areta tidak akan mau menerimamu kalau kamu masih terus seperti itu," balas bu Lastri menatap putranya dengan pandangan serius.


"Lagi pula Ibu juga nggak rela kalau Bian punya ayah pemabuk macam kau," tambah bu Lastri tegas.


"Andrias akan coba jadi lelaki yang baik, Bu. Andrias masih cinta sama Areta," ujar Andrias jujur.


"Kalau gitu buktikan omonganmu, agar Bian bisa bersama ayah dan bundanya," ujar bu Lastri kemudian menyusul Zevanya untuk beristirahat.


...****************...


Areta baru saja selesai menyantap sarapannya saat terdengar handphonenya berbunyi. Areta dengan semangat menggeser icon berwarna hijau setelah melihat nama kontak si penelepon yang tertera di layar handphonenya.

__ADS_1


"Hallo Raisya sayang, kamu kemana aja nggak pernah ke sini. Nggak kangen sama keponakanmu yang udah tambah lucu ini?" cerocos Areta setelah menggeser icon hijau di handphone miliknya.


"Aku kemaren lagi sibuk ngurusin anakku yang lagi manja. Nanti pulang kerja aku mau ke rumah kamu," ucap Raisya di ujung telepon.


"Bener ya, nanti aku masakin ikan gurame bakar kesukaan kamu," balas Areta antusias.


"Oke, sampai ketemu nanti sore ya. Bye Areta." Raisya mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Areta terlebih dahulu.


Areta begitu bahagia karena akan bertemu dengan sahabat yang begitu ia rindukan. Wanita itu memutuskan membawa Bian jalan-jalan sekalian ke supermarket untuk membeli beberapa bahan yang akan ia masak nanti malam. Sedangkan untuk makan siang ia memilih membeli gado-gado.


Sstelah kembali ke rumah, Areta segera mengganti baju dan diapers Bian kemudian menidurkannya agar bisa ditinggal memasak. Beruntung Bian tak rewel hari ini sehingga Areta bisa segera bergegas ke dapur menyiapkan hidangan untuk sahabatnya nanti.


Areta selesai berkutat di dapur tepat saat adzan ashar berkumandang, wanita itu segera memandikan Bian kemudian membersihkan dirinya sendiri.


Pintu rumah Areta dibuka begitu saja dari luar tanpa ada yang mengetuk pintu. Tentu saja itu adalah Raisya yang sudah tahu jika pintu rumah sahabatnya tidak terkunci.


"Hallo sayangnya Onty Raisya sekarang udah gede ya, udah bisa duduk sambil main," cicit Raisya yang segera menghampiri sahabatnya.


"Cuci tangan dulu sebelum pegang Bian, tu tangan banyak bawa kuman dari kantor," cegah Areta sebelum Raisya memegang pipi anaknya.


"Hahaha, iya maaph Bu." Raisya segera berlari ke arah dapur untuk mencuci tangannya.


"Udah bersih, sekarang udah boleh main sama Bian sayang." Raisya membawa Bian ke pangkuannya dan mengelus puncak kepalanya dengan gemas.


"Cuma Bian aja nih yang dikangenin, emaknya nggak gitu?" protes Areta pura-pura cemberut.


"Aku datang ke sini justru buat marahin emaknya Bian," balas Raisya terdengar sedikit ketus.


"Marahin aku memangnya ada apa?"


"Areta, kamu itu sebenarnya bodoh atau memang pura-pura bodoh? Atau kamu tidak bisa menghargai bantuan aku selama ini, hah?" Nada bicara Raisya mulai meninggi.


Areta menautkan kedua alisnya karena bingung tiba-tiba Raisya memarahinya tak jelas.

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih Raisya, aku benar-benar nggak ngerti?"


__ADS_2