
"Sebenarnya mau ngomong apa sih, Pak. Lama banget, udah penasaran ini kita?" desak Raisya pada Rivan yang masih menjeda kalimatnya.
"Sebenarnya saya mau nawarin Areta untuk kerja lagi di perusahaan saya, kamu tahu kan Raisya kalau sekretaris saya baru aja resign karena harus ikut suaminya pindah ke luar kota." Kalimat itu akhirnya yang terucap dari bibir Rivan.
"Wah iya, bener banget tuh. Lagian nggak mungkinkan kamu jadi janda pengangguran terus, Areta. Bian perlu biaya hidup dan juga biaya pendidikan di masa depan." Raisya mendukung usul dari Rivan.
"Aku sih mau aja, tapi Bian gimana? Siapa yang urusin dia kalau aku kerja?" ujar Areta bingung.
Mereka bertiga terdiam sejenak memikirkan solusi terbaik untuk Areta hingga akhirnya Raisya menemukan sebuah ide.
"Gimana kalau saat kerja kamu titipin aja Bian di rumah ibuku. Bukannya waktu itu Bian juga nggak rewel ditinggal sama Ibuku, nanti sekalian kamu cari babby sitter," ujar Raisya dengan sebuah senyum mengembang.
"Nah bener tuh, nanti biar aku carikan babby sitter buat kamu. Dan aku akan kasih kamu mobil dinas seperti Raisya biar kamu nggak susah buat bawa Bian ke rumah Raisya nanti," sahut Rivan membuat Areta tersenyum.
"Aku setuju sama kalian berdua, tapi apa tante Icha nggak keberatan kalau aku titipin Bian?" tanya Areta pada sahabatnya.
Raisya tersenyum kemudian menggenggam jemari Areta.
"Mamaku pasti malah seneng banget, dia juga udah anggap kamu seperti anaknya sendiri kan. Dan kita kenal udah sepuluh tahun, bukan cuma sebulan dua bulan." Areta mengangguk kemudian memeluk tubuh sahabatnya.
"Cuma Raisya doank nih yang dipeluk? Saya nggak ada yang meluk?" celetuk Rivan membuat kedua wanita itu tergelak.
"Mas Rivan pake rok dulu kalau mau dipeluk juga," canda Areta kemudian terkekeh geli.
"Yaudah mana, saya pinjam rok punya kamu biar bisa dipeluk sama kalian berdua."
__ADS_1
"Enak aja," balas Raisya kemudian kembali tertawa.
Mereka terus memgobrol diselingi canda tawa, hingga hari semakin larut barulah Rivan dan Raisya memutuskan untuk pulang.
"Lusa kamu mulai kerja ya, besok saya akan kirimkan mobil buat kamu, ujar Rivan sebelum masuk ke mobilnya.
Areta mengangguk kemudian tersenyum samar, wanita itu baru masuk kembali ke dalam rumahnya setelah mobil Rivan dan Raisya menghilang dari pandangan. Areta merebahkan tubuhnya, membayangkan dirinya yang akan kembali ke dunianya dulu. Dalam hati Areta berjanji tak akan membuat Bian kekurangan kasih sayang meskipun dirinya telah kembali bekerja.
...****************...
Areta tengah duduk di teras sambil memangku Bian kala sebuah mobil yang sama dengan milik Raisya memasuki pekarangan rumahnya. Seorang pria paruh baya berseragam khas sopir pribadi turun dari dalam mobil itu.
"Selamat pagi, apa benar ini rumah Ibu Areta Yuliana," tanya pria itu dengan sopan.
"Iya betul, Pak. Saya Areta, ada apa ya?"
"Terima kasih ya, Pak," ucap Arera sopan, lelaki itu mengangguk dan segera pamit dari kediaman Areta.
"Sayang, kita ganti baju terus jalan-jalan yuk. Temenin mama beli baju buat ke kantor besok ya," oceh Areta kemudian membawa Bian ke dalam untuk bersiap-siap pergi berbelanja.
Areta mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ternyata Rivan juga telah menyiapkan babby seat di dalam mobil itu sehingga Areta tak perlu kesulitan saat mengajak Bian pergi kana-mana. Wanita itu berhenti di sebuah pusat perbelanjaan dan segera mengeluarkan stroler, langkah kakinya berjalan menuju sebuah toko peralatan bayi. Membeli beberapa baju dan mainan untuk putranya lalu menuju ke sebuah toko yang menjual pakaian formal. Membeli beberapa stel pakaian kerja.
Ternyata berbelanja juga membuat perut Areta lapar, wanita itu memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran. Hari yang sempurna untuk membahagiakan dirinya sendiri dan juga Bian. Usai makan, Areta tak lupa untuk memberikan susu untuk Bian karena wanita itu membawa beberapa perlengkapan penting milik Bian. Tak butuh waktu lama untuk Bian menghabiskan susunya.
Areta kembali mendorong stroler Bian dengan beberapa paper bag yang menggantung di pergelangan tangannya. Namun siapa sangka, saat tiba di parkiran wanita itu malah bertemu Zevanya yang baru saja turun dari mobil milik Devan. Seperti hari-gari sebelumnya dimana Zevanya selau mencari keributan dengan Areta. Gadis berseragam SMA itu segera mendekat ke arah Areta.
__ADS_1
"Wah, baru juga beberapa minggu deket sama Mas Rivan udah dapat mobil aja nih. Mana belanjaan banyak, enak ya jadi pacar orang kaya," ejek Zevanya namun tak ditanggapi oleh Areta yang fokus memasukan belanjaan ke dalam bagasi mobilnya.
"Mbak Areta budek ya? Oh atau jangan-jangan Bian ini bukan anak mas Andrias ya, makanya nggak bisa dekat sama mas Andrias. Pasti Mbak Areta udah selingkuh dulu sampai hamil."
Kali ini ucapan Zevanya berhasil membuat hati Areta memanas, wanita itu mendekati Zevanya dan mendaratkan telapak tangannya di pipi mulus mantan adik iparnya dengan keras.
"Kamu boleh menghinaku, tapi jangan sekali-kali kamu hina anakku dengan mulut kotormu. Dan satu hal yang harus kamu ingat adalah, aku bukan wanita murahan sepertimu. Apa aku harus bilang ke ibu dan kakakmu kalau kamu nggak lebih dari seorang pel*cur kecil," bentak Areta mengundang perhatian semua orang yang berada di sana.
Zevanya melotot memegangi pipinya yang kini memiliki cap lima jari milik Areta, "Berani kamu tampar aku, Mbak? Aku akan katakan semua ini sama mas Andrias dan aku juga akan bilang kalau Bian ini anak hasil zinahmu sama laki-laki lain."
Plaakk!!!
Sekali lagi telapak tangan Areta mendarat di pipi Zevanya.
"Sudah ku bilang, jangan hina anakku," tegas Areta kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya untuk pulang ke rumah.
Zevanya menghentakan kakinya kemudian menyusul Devan yang sejak tadi telah kembali masuk ke dalam mobilnya karena malu menjadi pusat perhatian karena pertengkaran Zevanya dan Areta.
"Kok kamu malah masuk ke mobil sih, Yang? Bukaya bantuin aku, lihat nih pipi aku jadi begini karena ditampar sama mak lampir," rengek Zevanya memegangi kedua pipinya yang masih terasa panas.
"Ya aku malu lah, diliatin banyak orang gitu. Jadi sekarang gimana? Jadi shopping apa nggak?" tanya Devan pada kekasihnya.
"Kita pulang aja, aku mau aduin perbuatan mak lampir itu sama Mas Andrias. Aku nggak terima dipermalukan di depan umum gini. Tapi aku minta duit ya, dompetku udah tipis nih."
Devan segera mengeluarkan dompetnya dan memberikan sepuluh lembar uang merah pada Zevanya.
__ADS_1
"Makasih banget sayang." Zevanya segera memeluk tubuh Devan setelah memasukan uang itu ke dalam tas miliknya.