
Andrias semakin panik saat sang istri pingsan di pelukannya, beruntung beberapa menit kemudian ambulance segera datang. Lelaki itu segera menggendong tubuh Areta untuk masuk ke dalam mobil ambulance. Sesampainya di rumah sakit, Areta langsung dibawa masuk ke ruangan UGD sedangkan Andrias menunggu di depan pintu dengan perasaan yang campur aduk.
"Ya Allah, hamba mohon selamatkan anak dan istri hamba." Do'a dipanjatkan oleh Andrias yang terus mondar-mandir di depan ruangan UGD.
Ceklek....
Pintu terbuka dan munculah dokter Miranda yang kebetulan sedang bertugas hari itu.
"Dokter, gimana keadaan istri saya dan kandungannya? Baik-baik aja kan, Dok?" Berondong Andrias pada dokter itu dengan berbagai pertanyaan.
"Alhamdulillah, istri Bapak dan kandungannya baik-baik saja. Tapi bu Areta harus istirahat total dan tidak boleh banyak pikiran." Jelas dokter Miranda membuat Andrias tersenyum tipis.
"Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkan istri dan calon anak saya." Ujar Andrias berterima kasih pada dokter Miranda.
"Sama-sama, Pak. Setelah ini bu Areta akan dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi dulu karena harus menangani pasien yang lain." Balas dokter Miranda mengangguk sopan kemudian berlalu dari hadapan Andrias. Bersamaan dengan itu, Pintu UGD kembali terbuka. Nampak Areta yang masih terbaring lemah di dorong menuju ruang perawatan.
Andrias terus menemani Areta sembari menggenggam jemari wanita tercintanya itu. Perlahan Areta mulai membuka matanya dan mengerjap-ngerjap karena cahaya terang yang menembus ke dalam kornea matanya.
"Mass!" Lirih Areta memanggil sang suami yang tanpa sengaja tertidur di kursi samping ranjang.
"Eh, sayang. Kamu udah sadar? Gimana? Masih ada yang sakit nggak?" Cecar Andrias menangkup kedua pipi istrinya.
"Mas, bayi kita baik-baik aja kan?" Tanya Areta meraba perutnya sendiri.
"Anak kita baik-baik aja, tapi dokter bilang kamu harus istirahat total dan nggak boleh banyak pikiran." Jawab Andrias membelai puncak kepala sang istri.
"Alhamdulillah ya Allah. Mas, tolong kirim pesan ke Raisya ya. Bilangin buat izinin aku ke pak Rivan kalau beberapa hari ini aku nggak bisa masuk kantor." Titah Areta yang segera dilakukan oleh sang suami.
"Kata Raisya besok pulang kantor dia akan mampir ke sini." Ucap Andrias membacakan balasan pesan dari Raisya.
"Sekarang kamu istirahat ya. Aku temenin kamu di sini." Ucap Andrias yang diangguki oleh Areta.
...****************...
__ADS_1
Gelap gulita malam telah berganti dengan terangnya sinar mentari yang menembus celah gorden ruang rawat Areta. Andrias dengan setia membantu sang istri membersihkan diri. Tepat saat Areta selesai dengan ritual membersihkan diri, seorang perawat datang mengantarkan sarapan untuk Areta. Dengan sigap Andrias menyuapi sang istri hingga makanan itu tandas kemudian membantu Areta untuk meminum obatnya.
"Mas, kamu nggak mau nyari sarapan dulu?" Tanya Areta pada sang suami.
"Kalau aku nyari makan terus kamu di sini sama siapa?" Balas Andrias membelai lembut rambut sang istri.
"Aku nggakpapa sendiri di sini. Aku juga ngantuk banget habis minum obat." Ujar Areta yang mulai menguap.
"Yaudah, kalau gitu kamu istirahat ya. Aku mau nyari makan dulu sekalian pulang sebentar ke rumah buat ambil baju ganti." Izin Andrias yang disetujui istrinya. Lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri sebelum keluar dari ruang rawat.
Andrias yang baru saja tiba di rumah dikagetkan dengan kehadiran Zevanya.
"Vanya, ngapain kamu di sini? Nggak sekolah?" Selidik Andrias menatap tajam adiknya.
"Vanya lagi nggak enak badan, Mas. Boleh ya Vanya numpang istirahat disini." Bohong Zevanya yang sebenarnya sengaja membolos.
"Nggak bisa, Mbakmu lagi di rumah sakit. Mas cuma mau ambil baju ganti, mending sekarang kamu pulang aja sana." Usir Andrias membuat Zevanya meninggalkan rumah itu dengan rasa dongkol di hatinya.
Andrias segera mengambil pakaian ganti kemudian kembali ke rumah sakit setelah menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu.
...****************...
"Mas, kamu udah balik." Celetuk Areta sembari mengucek matanya.
"Iya sayang, aku nggak tega ninggalin kamu lama-lama." Balas Andrias menghenyak di kursi samping rangjang.
Ceklek.....
Tiba-tiba pintu ruang rawat Areta terbuka, bu Lastri dan Zevanya melangkah lebar mendekati ranjang Areta.
"Bener-bener ya, ngabisin uang anak saya aja kerjaan kamu. Pasti kamu cuma pura-pura sakit kan, semoga aja kamu sakit beneran biar sekalian kehilangan anak yang ada di dalam kandungan kamu." Bentak bu Lastri secara tiba-tiba membuat air mata Areta meleleh. Untuk pertama kali, wanita itu menunjukan sisi lemah di depan mertuanya. Andrias segera bangkit dari duduknya kemudian menarik paksa tangan bu Lastri untuk keluar.
"Jangan datang kemari kalau hanya ingin menyakiti hati istriku, Bu!" Bentak Andrias kemudian kembali masuk ke ruangan istrinya. Lelaki itu memeluk wanitanya untuk memberi ketenangan.
__ADS_1
"Jangan pikirin ucapan ibuku, kamu dan anak kita akan baik-baik saja." Bisik Andrias di telinga sang istri.
Tok... Took..... Tookkk....
Suara ketukan pintu membuat Andrias mengurai pelukannya.
"Biar aku liat dulu siapa yang datang ya." Ujar Andrias melangkah ke arah pintu.
Ceklek....
Ternyata Raisya dan Rivan yang berdiri di depan pintu.
"Eh Raisya ayo masuk!" Sapa Andrias pada sahabat istrinya itu. Mereka bertiga segera masuk, Raisya menghampiri dan memeluk sahabatnya itu.
"Lhoh, Pak Rivan!" Kaget Areta saat melihat bosnya berdiri di belakang Raisya.
"Iya, tadi aku izinin kamu terus pak Rivan jadi mau ikut jengukin kamu." Terang Raisya membuat Areta mengerti.
"Mas, kenalin. Ini bosku di kantor." Areta mengenalkan Rivan pada suaminya. Andrias mengulurkan tangan yang segera dijabat oleh Rivan.
"Areta, sakitnya jangan lama-lama ya. Cepat sembuh, sepi banget di kantor nggak ada kamu." Oceh Raisya yang dusuk di sisi ranjang sahabatnya.
"Iya Raisya, kamu doain aku ya biar cepat sembuh dan bisa masuk kantor seperti biasanya." Balas Areta yang segera diacungi jempol oleh Raisya.
"Pak Andrias, jagain istrinya jangan sampai sakit lagi. Kalau di kantor saya bisa bantu buat jagain dia loh." Ucap Rivan membuat Andrias mengerutkan dahinya sedangkan Areta dan Raisya saling bersitatap mendengar ucapan bos mereka.
"Bapak nggak perlu khawatir, saya selalu jagain istri saya dengan baik. Dan setelah ini Bapak juga nggak perlu repot-repot jagain istri saya di kantor." Balas Andrias dengan tatapan tajam.
Setelah mengobrol cukup lama, Raisya dan Rivan pamit. Andrias mengantarkan mereka berdua sampai ke depan pintu kemudian kembali mendekat ke arah sang istri. Lelaki itu menatap dalam wajah istrinya.
"Areta!" Dengan lembut Andrias menyebut nama istrinya.
"Iya, Mas. Ada apa?" Tanya Areta membalas tatapan sang suami.
__ADS_1
"Aku mau minta."