Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 16.


__ADS_3

Langkah Zevanya terhenti karena lampu yang menyala secara tiba-tiba. Di depannya berdiri bu Lastri yang tengah berkacak pinggang menatap ke arahnya namun malah membuat Zevanya menghembuskan napas lega.


"Huh, Ibu ngagetin aja sih. Vanya kira mas Andrias atau mbak Areta yang nyalain lampunya." Kesal Zevanya pada ibunya.


Ceklek...


Tiba-tiba pintu kamar Areta terbuka dari dalam. Wanita itu berniat mengambil air minum tapi malah melihat adik iparnya yang baru saja pulang menjelang tengah malam begini.


"Vanya? Kamu baru pulang? Ini kan udah malam banget, nggak baik anak gadis pulang larut malam begini." Cecar Areta menatap ke arah Zevanya dengan mata menyipit penuh selidik.


"Iya, Mbak tenang aja. Bensin motor Mbak udah aku isi full tank." Ujar Zevanya segera menarik tangan bu Lastri menuju ke kamarnya. Areta segera mengambil segelas air minum dan menenggaknya kemudian kembali ke kamar.


"Vanya, kamu ngapain sih narik-narik tangan ibu begini? Sakit tau!" Sewot bu Lastri yang merasakan nyeri di pergelangan tangannya.


"Emank Ibu mau kalau mbak Reta keterusan ngomel terus mas Andrias kebangun dan marahin kita lagi. Udah tau sekarang mas Andrias belain mbak Reta mulu." Balas Vanya tak kalah sewot.


"Iya juga ya, eh gimana? Kamu dapat uang nggak tadi?" Tanya bu Lastri pada putrinya.


"Ya dapatlah, nih sejuta. Ibu lima ratus, aku lima ratus." Jawab Vanya memberikan lima lembar uang merah pada ibunya.


"Duh, anak ibu emang paling cantik dan paling baik. Sekarang kamu tidur ya. Ibu juga mau tidur lagi." Titah bu Lastri yang segera keluar setelah mendapatkan uang dari Zevanya.


Gadis remaja itu segera mengunci pintu kamarnya kemudian duduk di depan cermin dan memperhatikan dirinya sendiri dengan tatapan jijik.


"Ini semua gara-gara mbak Reta yang udah nyuci otak mas Andrias sampai dia nggak sayang lagi sama ibu dan adiknya." Monolog Zevanya, sejurus kemudian gadis itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang untuk beristirahat.


...****************...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Areta telah terjaga dari tidurnya, setelah melakukan kewajiban dua rokaatnya. Wanita itu bergegas ke dapur untuk memasak sup iga sapi pesanan sang mertua. Tak lupa membuat perkedel kentang serta menggoreng kerupuk udang sebagai pelengkap.


Makanan yang telah masak segera ia tata rapi di meja makan kemudian kembali ke kamar, membersihkan diri dan memoles wajahnya dengan make up tipis.


"Walaupun udah nggak kerja, aku harus tetap tampil cantik dan menarik di depan suamiku." Gunam Areta menatap pantulan wajah ayunya di cermin. Sekilas terlihat Andrias yang menggeliat pertanda baru saja terbangun dari tidurnya. Buru-buru Areta menghampiri sang suami di ranjang.


"Ayo bangun, aku udah masak lho." Ucap Areta kemudian mengecup pipi sang suami.


"Hemb.... Kamu wangi banget sayang. Udah mandi ya." Balas Andrias memeluk tubuh istrinya.


"Udah donk, sana mandi. Aku tunggu di meja makan." Titahnya pada sang suami.


Areta segera menuju meja makan setelah membangunkan Andrias dan ternyata sudah ada bu Lastri beserta Zevanya di sana.


"Mau kemana kamu? Pagi-pagi udah dandan begitu?" Ketus bu Lastri melihat penampilan Areta yang tetap cantik dengan perut buncitnya.


"Kalau di rumah nggak usah dandan, boros make up. Kan kamu udah nggak kerja lagi sekarang. Jadi harus sadar diri, mana make up yang kamu pakai bermerk semua. Habisin duit." Sindir bu Lastri dengan suara lantang sampai terdengar di telinga Andrias.


"Ada apa ini? Kok pagi-pagi udah ribut sih?" Tanya Andrias yang baru saja menghenyak di kursinya.


"Ini lho, Andrias. Ibu cuma nasehatin istri kamu, sekarang kan udah nggak kerja. Jadi kalau di rumah mbok ya nggak usah dandan. Boros, kasian kan kamu kerja keras nanti habis cuma buat beli'in make up istrimu." Jawab bu Lastri penuh sandiwara membuat alis putranya bertaut.


"Emb... Kayaknya yang dibilang ibu ada benarnya juga. Kalau di rumah, kamu nggak make up nggak apa-apa kok. Kamu tetap cantik. Kita hemat ya, bentar lagi kan kamu mau lahiran juga." Celetuk Andrias yang nampak sepemikiran dengan ibunya.


"Ya, yaudah ayo makan. Udah lapar ini." Kesal Areta sembari mengambilkan nasi untuk Andrias.


"Zevanya, kamu mau berangkat sekolah bareng Mas atau naik becak aja?" Tanya Andrias pada adiknya setelah selesai sarapan.

__ADS_1


"Emb.... Gimana kalau Zevanya berangkat naik motornya Mbak Areta aja? Kan sekarang Mbak Areta udah nggak kerja?" Ujar Zevanya tersenyum miring mencemooh kakak iparnya.


"Yaudah, kamu pake aja sepeda motornya buat sekolah. Kan mbakmu udah nggak kerja sekarang. Nih uang jajan kamu." Balas Andrias menyerahkan selembar dua puluh ribuan pada Zevanya.


"Tapi, Mas." Areta hendak melarang Zevanya tapi urung karena melihat bu Lastri yang melotot ke arahnya.


"Nggakpapa ya, biar motornya dipake Zevanya. Kasian kalau harus naik kendaraan umum. Kamu kan udah nggak kerja sekarang." Ucap Andrias menggenggam jemari istrinya. Areta hanya menanggapi perkataan suaminya dengan sebuah anggukan kecil.


Wanita itu mengantar sang suami sampai ke depan pintu kemudian kembali masuk untuk membereskan bekas makan mereka. Nampak bu Lastri yang baru saja selesai menghabiskan sup iga kesukaannya.


"Areta, beresin nih. Ibu udah selesai makannya. Jangan lupa nanti cuciin baju Ibu dan Zevanya! Bajunya udah ibu taruh di keranjang baju kotor." Perintah bu Lastri, Areta hanya bisa mengangguk pelan. Kemudian mulai membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Sedang bu Lastri asik duduk bersantai sembari memainkan gawainya, layaknya majikan yang mengawasi pembantunya bekerja.


Areta yang sudah lelah dengan pekerjaan rumahnya memilih memesan makanan online untuk makan siang. Nasi padang menjadi pilihannya karena hanya ada ia dan bu Lastri di rumah itu.


"Gofood!!" Teriak seorang driver ojek online dari luar pintu.


"Areta!!! Ada gofood tuh!" Teriak bu Lastri dari ruang tamu membuat Areta tergopoh berjalan ke arah pintu. Wanita itu kembali masuk dengan menenteng sebuah kantong kresek.


"Apa itu Reta?" Tanya bu Lastri melirik ke tangan Areta yang menenteng sebuah kantong kresek.


"Ini nasi padang, Bu. Ibu mau makan sekarang?" Tawar Areta pada mertuanya.


"Boleh, kamu ambilin Ibu piring sama sendok sana!" Perintah bu Lastri, Areta berjalan ke arah dapur kemudian kembali untuk menyerahkan piring dan sendok pada bu Lastri.


"Boros banget kamu, sukanya beli makanan dari luar." Oceh bu Lastri dengan mulut penuh.


Usai makan, Areta segera masuk ke kamar karena malas untuk meladeni ocehan bu Lastri yang selalu menyalahkan dirinya. Wanita itu meraih ponsel yang berada di atas nakas, mencari kontak Raisya kemudian memandangi sejenak nomor sahabatnya.

__ADS_1


"Telepon nggak ya, pengen curhat tapi takut Raisya khawatir dan ganggu pekerjaan dia." Akhirnya wanita itu memilih mengurungkan saja niatnya. Biarlah ia menjalani semua ini sampai sisa sabarnya habis untuk menghadapi ibu dan adik iparnya.


__ADS_2