Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 43.


__ADS_3

Zevanya kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya setelah ia melihat kondisi dirinya yang polos tanpa memakai sehelai benang pun, serta terdapat beberapa tanda merah di sekitar dada dan lehernya. Ekor matanya melirik ke sebelah sisi ranjang di mana terdapat seorang laki-laki paruh baya yang masih terlelap dalam mimpinya. Dia adalah Aris, lelaki yang baru saja ia kenal beberapa jam lalu di sebuah klub malam. Ternyata Aris membawa Zevanya ke sebuah hotel bintang lima dan entah apa yang telah ia lakukan pada gadis itu hingga kondisi Zevanya seperti sekarang ini. Perlahan Zevanya mulai menggeser posisi tubuhnya untuk mendekat ke arah Aris kemudian menggoyangkan bahu pria paruh baya itu secara perlahan.


"Om, Om bangun Om," ucap Zevanya yang masih terus menggoyangkan bahu pria itu.


Tubuh Aris mulai menggeliat karena tidurnya telah terusik, lelaki itu mengerjabkan matanya kemudian menoleh ke arah Zevanya yang sedang duduk sembari menatap tajam ke arah dirinya.


"Loh Sayang Kamu udah bangun? Kenapa? Mau minta lagi ya?" goda Aris pada Gadis Remaja itu.


"Apa yang udah Om lakuin sama aku? Apa kita barusan?"


"Iya kita melakukannya, kenapa kamu harus kaget? Bukankah kamu sudah biasa melakukan itu? Buktinya kamu udah bolong, kamu mau minta uang berapa? Aku ada penawaran yang menarik buat kamu kalau kamu mau," ucap Aris kemudian mengerlingkan matanya nakal.


"Ta ... Tawaran apa Om?" Zevanya mulai penasaran.


"Saya mau kamu jadi simpanan saya, dan saya akan kasih jatah kamu setiap bulannya lima belas juta. Saya juga akan tanggung semua biaya sekolah kamu. Asal kamu bisa jaga rahasia ini dan kamu selalu ada kapanpun saya mau." Zevanya terdiam sejenak, mencerna semua kata-kata yang terlontar dari mulut pria paruh baya itu.


"Gimana? Kamu setuju? Kalau kamu setuju, aku akan transfer uangnya sekarang buat jatah kamu bulan ini," desak Aris agar Zevanya segera memberikan jawaban.


"Oke, aku mau tapi aku ada satu syarat lagi buat Om," jawab Zevanya tersenyum miring.


"Syarat? Syarat apalagi? Ayo katakan, pasti Om akan penuhin itu selama kamu bisa puasin Om."


"Aku nggak mau Om bayarin biaya sekolah aku, karena aku udah diusir dari rumah dan aku nggak mau ngelanjutin sekolah lagi. Aku mau menikmati hidupku aja, jadi aku mau Om beliin aku rumah biar aku nggak perlu ngekos lagi. Dan Om bisa bebas temuin aku kapanpun Om mau," jelas Zevanya tersenyum penuh arti.


"Jadi kamu mau saya beliin kamu rumah ya? Oke saya akan belikan kamu rumah tapi nanti setelah kamu membuktikan kalau kamu bisa lakuin apa yang saya mau, untuk sekarang ini saya akan carikan kamu rumah kontrakan dulu," balas Aris sembari membelai setiap inchi tubuh Zevanya yang berada di balik selimut.


"Kok rumah kontrakan sih Om? Kan aku maunya dibeliin rumah," rengek Zevanya mengerucutkan bibirnya.


"Iya, tapi itu nanti setelah kamu bisa membuktikan kalau kamu bisa puasin saya."


"Oke aku akan buktikan tapi Om juga nggak boleh ingkar janji, Om harus secepatnya beliin aku rumah," balas Zevanya tak mau kalah.


"Oke deal, karena kamu udah bangunin saya. Sekarang kamu harus tanggung jawab!" Aris segera memeluk tubuh Zevanya dan kembali melakukan aktivitas panas mereka sampai pagi.


...****************...


Kicau burung saling bersahutan mengiringi datangnya sinar mentari. Seorang wanita telah siap dengan pakaian formalnya, Areta memasukkan beberapa peralatan Bian ke dalam sebuah tas khusus kemudian meletakanya ke dalam mobil. Sejurus kemudian wanita itu kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil Bian yang masih berada di dalam box bayi.


Setelah mendudukan Bian di atas baby seat, Areta mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Raisya. Sepanjang perjalanan Areta terus mengajak Bian mengobrol meskipun hanya dibalas dengan ocehan khas bayi. Tanpa terasa mobil Areta telah memasuki pekarangan rumah Raisya, sang pemilik rumah segera keluar untuk menyambut kedatangan Areta.

__ADS_1


"Wah ... akhirnya kamu datang juga Areta, Tante udah nungguin kamu dari tadi," ucap Icha, ibunda dari Raisya.


"Oh iya, Tante soalnya tadi itu Bian bangunnya agak kesiangan. Aku juga jadi nggak sempat masak di rumah," balas Areta yang baru saja mengankat tubuh Bian dari babby seatnya.


"Wah kebetulan banget, Tante tadi masak nasi goreng seafood. Ayo kita sarapan bareng aja, terus baru kamu berangkat kerja sama Raisya, ajak Icha yangemang sudah menganggap Areta sepwrti anaknya sendiri.


"Wah enak banget tuh Tante, bolehlah aku numpang sarapan di sini."


Ketiganya beriringan berjalan menuju ke meja makan, di sana sudah ada anak dari Raisya yang sedang menyantap nasi goreng kesukaannya. Usai sarapan, Areta dan Raisya berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil milik Areta. Wanita itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menembus jalanan pagi ini.


"Aduh Raisa kok aku deg-degan ya? Apa karena udah lama nggak masuk kantor Terus tiba-tiba masuk kantor jadi gini," celetuk Areta yang masih fokus mengemudikan mobilnya.


"Kayaknya kamu itu bukan deg-degan karena udah lama nggak masuk kantor deh, Areta. Tapi kamu deg-degan gitu kan karena sekarang posisi kamu jadi sekretaris Pak Rivan," balas Raisya kemudian tertawa.


Areta mencebikkan bibir mendengar ucapan sahabatnya, "Ih apaan sih nggak jelas banget.


"Nggak jelas gimana, kelihatan banget loh kalau Pak Rivan itu suka sama kamu. Awas aja nih pasti lama-lama bakal jadi cinlok." Raisya terus saja menggoda sahabatnya itu.


"Ye, enak aja emangnya kamu pikir ini lagi syuting sinetron, bisa cinlok segala?"


Tanpa terasa mobil Areta telah memasuki area perkantoran, wanita itu segera memarkirkan mobilnya di parkiran khusus karyawan. Keduanya berjalan beriringan menuju ke ruangan Rivan. Areta mengetuk pintu ruangan itu secara perlahan.


Areta dan Raisya segera masuk ke dalam ruangan itu, senyum Rivan mengembang melihat siapa yang muncul dari balik pintu itu.


"Selamat pagi, Pak," ucap Areta dan Raisya serempak.


"Pagi, ayo silakan duduk. Saya mau bicara sama kalian."


Areta dan Raisya menghenyakan tubuh mereka di kursi yang berada di seberang meja milik Rivan. Areta sedikit menautkan alisnya karena melihat ada satu meja kerja lagi yang berada di dalam ruangan itu.


"Oke sekarang kita mulai ya, Raisya setelah ini tolong kamu susun apa saja daftar pekerjaan yang harus dilakukan Areta sebagai sekretaris saya. Dan Areta, itu adalah meja kerja kamu."


Rivan menunjuk sebuah meja lain yang baru saja menjadi fokus Areta, mata wanita itu membelalak seketika mendengar ucapan bosnya.


"Meja kerja saya, Pak? Bukannya meja kerja sekretaris biasanya ada di sebelah pintu ruangan bapak?" tanya Areta bingung.


Rivan tersenyum penuh arti kemudian kembali menatap wajah Areta," Iya itu untuk sekretaris saya yang lama, kamu kan sekretaris baru saya dan saya maunya kamu ada di dalam ruangan ini bersama saya."


Areta hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan Revan. Setelah obrolan itu selesai, Raisya segera kembali ke ruangannya dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh atasannya. Sedangkan Areta berjalan gontai menuju meja kerjanya. Rivan tersenyum miring melihat ekspresi wajah Areta yang kini duduk satu ruangan dengannya

__ADS_1


"Areta," panggil Rivan dengan lembut."


Areta mengangkat wajahnya menatap Rivan ysng tengah menyunggingkan semyum, "Iya Pak?"


"Tolong bikinin saya kopi ya, biasanya sekretaris saya dulu itu setiap pagi selalu bikinin saya kopi. Gulanya cukup setengah sendok teh aja, jangan terlalu manis karena saya nggak suka manis. Lihat kamu yang udah manis terus ditambahin minum kopi manis, bisa bikin saya diabetes lama-lama," perintah Rivan sembari menggoda Areta.


"Halah, nggak usah sok gombalin saya. Saya nggak mempan, Pak sama gombalan buaya kayak Bapak. Saya udah kenyang sama janji-janji manis dan gombalan dari Andrias dulu. Saya juga bukan wanita bodoh yang bisa meleleh cuman gara-gara gombalan aja. Ya udah saya permisi dulu mau bikinin Bapak kopi," oceh Areta yang segera berlalu dari hadapan Rivan.


Wanita itu menuju ke pantri untuk membuatkan kopi pesanan bosnya, sepuluh menit kemudian Areta kembali masuk ke dalam ruangan Rivan dengan membawa sebuah nampan.


"Silahkan, Pak kopinya. Areta meletakkan secangkir kopi di hadapan lelaki itu, Rivan segera mengambil cangkir kopi itu kemudian menyesap isinya sedikit namun kembali disemburkan keluar oleh laki-laki itu.


"Ya ampun Areta, kopi apa ini? Kenapa pait banget, udah kayak obat tahu nggak," kesal Rivan setelah menenggak segelas air putih di mejanya untuk menghilangkan rasa pahit.


"Loh kan Bapak sendiri yang bilang kalau bapak nggak suka manis," bantah Areta tanpa rasa bersalah.


"Memang kamu taruh gulanya berapa sendok?"


"Setengah sendok teh sesuai dengan request Bapak tadi," jawab Areta masih dengan mode santai.


"Terus kopinya kamu taruh berapa sendok?"


"Kopinya saya taruh tiga sendok Pak."


Rivan menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban dari Areta, "Ya ampun Areta, kamu bener gulanya setengah sendok teh. Tapi kenapa kopinya kamu kasih tiga sendok? Kamu sengaja mau ngeracunin saya? Kopinya itu cukup satu setengah sendok aja." Rivan menghembuskan napasnya kasar


"Areta, ini kopi rasanya pahit banget. Bahkan lebih pahit dari obat sakit kepala yang biasa saya minum."


"Ya udah kalau gitu Bapak minumnya sambil lihatin saya aja, kan tadi Bapak bilang kalau saya manis," celetuk Areta kemudian tersenyum tengil.


"Bener-bener ya kamu!"


Areta tersenyum melihat ekspresi Rivan yang sedang kesal terhadapnya.


"Makanya Pak, jangan suka ngomong yang manis-manis. Sekalinya dapat yang pahit sakit kan, wanita itu lebih suka bukti tindakan dibanding sekedar kata-kata gombal."


Areta hendak melangkah kembali ke mejanya namun terlebih dahulu tangannya dicekal oleh Rivan hingga reflek membalikan tubuhnya. Tanpa sengaja tatapan mereka saling bertemu, namun buru-buru Areta memalingkan wajahnya.


"Kamu mau bukti kan? Saya akan segera buktikan sama kamu, saya laki-laki bukan cuma bisa obral janji!" tegas Revan menatap tajam pada Areta.

__ADS_1


__ADS_2