Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 41


__ADS_3

Hening, tak ada percakapan antara Devan dan Zevanya selama berada di dalam mobil, Devan fokus pada jalanan di depannya sedangkan Zevanya sibuk mengoleskan blush on tebal ke permukaan pipinya.


Devan mengernyit saat ekor matanya melirik ke arah Zevanya, "Kamu ngapain pake blush on setebal itu, jijik ah lihatnya."


"Udah kamu diem aja, pokoknya nanti kamu harus iyain semua perkataan aku. Biar dilabrak sekalian tuh nenek lampir yang udah bikin muka aku jadi begini," ucap Zevanya sembari menatap cermin untuk memastikan penampilannya sempurnya untuk berdrama di hadapan ibu dan kakaknya.


Devan hanya diam sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zevanya. Mobil Devan sampai di depan rumah kontrakan Andrias bersamaan dengan Andrias yang baru saja pulang bekerja. Gadis SMA itu segera mengeluarkan air mata buaya sebelum turun dari mobil.


"Mas Andrias." Zevanya segera berlari memeluk tubuh Andrias yang baru saja turun dari sepeda motor miliknya.


"Lhoh, Vanya kamu kenapa nangis? Devan, ada apa ini?" Andrias bingung melihat adiknya yang pulang dalam keadaan menangis.


Perlahan Zevanya mulai mendongak menatap wajah kakaknya, mata Andrias melotot seketika melihat kedua pipi adiknya yang merah.


"Ini kenapa pipi kamu merah begini? Kayak habis ditampar sama orang sekampung aja?" tanya Andrias pada adiknya.


"Itu Zevanya memang habis ditampar, Mas," sahut Devan membuat mata Andrias semakin melotot.


"Siapa yang udah berani nampar kamu sampai kaya gini Zevanya?"


"Ada apa sih ribut-ribut di luar? Ayo masuk dan bicara di dalam, malu kalau di dengar sama tetangga," perintah bu Lastri yang baru saja membuka pintu rumah itu karena mendengar suara keributan dari luar.


Andrias menuntun adiknya untuk masuk ke dalam rumah dengan Devan yang mengekor di belakang mereka.


"Ya ampun, pipi kamu kenapa bisa sampai seperti itu Zevanya?" kaget bu Lastri saat melihat kondisi wajah putrinya.


"Zevanya katanya habis ditampar, Bu," jawab Andrias.


"Hah? Kenapa bisa sampai ditampar? Terus siapa yang udah nampar kamu Zevanya?" cecar bu Lastri pada Zevanya.


Gadis itu kembali meneteskan air mata buaya dan kembali merangsek masuk ke dalam pelukan kakaknya.


"Zevanya ditampar sama Mbak Areta." Ucapan Devan membuat bu Lastri dan Andrias saling melempar pandangan.


"Kok bisa ditampar sama Areta? Kenapa bisa? Memangnya kamu ke rumah Areta?" tanya Andrias menahan gejolak amarah di dadanya.


"Tadi aku ketemu mbak Areta di mall pakai mobil baru, Mas. Dia bilang itu pemberian dari si Rivan itu, terus aku tanya apa mbak Areta udah pacaran sama laki-laki itu. Eh malah marah dan aku ditampar, kanan kiri pula," bohong Zevanya dengan ekspresi yang dibuat-buat.


"Apa itu benar, Devan?" tanya bu Lastri yang tak begitu percaya pada ucapan putrinya, Devan hanya mengangguk menjawab pertanyaan ibu dari kekasihnya.


"Aku harus bicara sama Areta, dia nggak bisa seenaknya main tangan sama Zevanya seperti itu," ujar Andrias dengan dada yang naik turun karena menahan emosi.


"Ibu ikut, Andrias," bu Lastri mencekal tangan putranya.

__ADS_1


"Pakai mobil aku aja, Mas. Kasihan kalau Ibu diajak naik motor," ujar Devan mengulurkan kunci mobilnya pada Andrias.


"Ya sudah, aku sama Ibu berangkat dulu. Kamu tolong bantuin Zevanya obati lukanya ya," titah Andrias yang diangguki oleh Devan.


Andrias segera melajukan mobil itu menuju ka rumah Areta.


"Andrias, nanti kamu tanya baik-baik sama Areta. Jangan langsung marah-marah sama dia, karena Ibu merasa ada yang disembunyikan oleh Zevanya," pesan bu Lastri saat mobil itu memasuki pekarangam rumah mantan menantunya.


Andrias tak menjawab, pria itu bergegas turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah Areta tanpa henti. Pandangannya fokus pada sebuah mobil yamg terparkir di depan rumah Areta, dari apa yang dilihatnya Andrias berpikir jika apa yang dikatakan Zevanya memang benar.


Beberapa saat kemudian, Areta membukakan pintu untuk mereka kemudian mencium punggung tangan bu Lastri.


"Ada ya, Bu? Ibu mau ketemu sama Bian lagi?" tanya Areta pada mantan mertuanya.


"Kenapa kamu berani menampar adiku Areta?" tanya Andrias dengan tatapan tajam.


Areta memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan dari mantan suaminya, "Memangnya adikmu tidak cerita?"


Andrias semakin kesal mendengar jawaban yang keluar dari mulut Areta, "Jangan bikin aku naik darah, cepat katakan kenapa kamu berani menampar adiku. Bagaimanapun juga dia mantan adik iparmu Areta, kenapa kamu bisa sekasar ini bahkan sampai main tangan!"


Areta ikut emosi mendengar suara Andrias yang mulai meninggi, namun wanita itu berusaha untuk tetap bersikap santai.


"Mari silahkan masuk dulu," ujar Areta yang sedikit menyingkir dari pintu agar kedua tamunya bisa masuk.


"Silahkan diminum dulu."


"Bian kemana, Nak?" tanya bu Lastri yang tak menemukan keberadaan cucunya sedari tadi.


"Bian baru aja tidur, Bu. Kalau ibu mau lihat langsung ke kamar aja nggak apa-apa, pasti dia seneng kalau bangun terus lihat ada neneknya," ucap Areta lembut.


Andrias sedikit heran melihat hubungan ibu dan mantan istrinya yang tak seperti biasanya.


"Ya sudah, kalian bicara dulu. Ibu mau nemenin cucu ibu," ujar bu Lastri melenggang ke kamar Areta setelah menenggak minumannya.


Areta hanya diam sembari memainkan gawainya tanpa mau menyapa Andrias terlebih dahulu.


"Areta, sekarang katakan kenapa kamu sampai berani main tangan sama adikku. Atau aku akan laporkan kamu ke polisi atas tuduhan penganiayaan," ancam Andrias pada mantan istrinya.


"Silahlan aja kalau kamu berani, aku juga akan laporkan adikmu itu dengan tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Kamu orang yang paling kenal aku sebelumnya. Pasti kamu juga tahu kalau aku tidak akan marah apalagi sampai main tangan jika mulut adikmu itu tak kelewatan," oceh Areta panjang lebar.


Andrias menghirup napasnya panjang dan menghembuskannya secara kasar, "Baiklah, aku ralat pertanyaanku. Apa yang membuatmu sampai marah sama Zevanya?"


"Asal kamu tahu, aku tidak pernah peduli jika kamu atau adikmu itu menghinaku. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika anakku yang dihina oleh adikmu!"

__ADS_1


"Apa? Maksudmu Zevanya sudah menghina Bian?" tanya Andrias mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mantan istrinya itu.


"Ya awalnya dia hanya mengatai aku wanita murahan dan aku hanya diam. Tapi adikmu malah makin menjadi dengan mengatai anakku adalah anak hasil zina. Dia berani menuduh aku telah selingkuh darimu sampai hamil," ucap Areta kemudian tersenyum kecut.


Andrias tertegun mendengar ucapan Areta tanpa bisa membalas, laki-laki itu baru saja menyadari mengapa Areta bisa melakukan hal sekasar itu. Ternyata apa yang sudah dilakukan oleh Zevanya benar-benar keterlaluan.


"Satu hal yang aku harus tegaskan sama kamu, bukan salah Bian jika dia merasa tak ada kontak batin denganmu. Dari awal dia lahir kamu memang tak pernah mengurusnya selayaknya seorang ayah. Jadi jangan pernah coba-coba menyalahkan anakku," tambah Areta dengan nada yang ditekan.


"Aku minta maaf, Areta. Aku benar-benar tidak tahu."


Areta tersenyum miring kemudian menatap tajam wajah mantan suaminya, "Lain kali kamu harus pastikan kebenarannya sebelum kamu marah-marah tak jelas dan malah mempermalukan dirimu sendiri."


Kali ini Andrias benar-benar ditampar oleh setiap kata yang terlontar dari bibir Areta. Sesaat kemudian bu Lastri keluar dari kamar Areta sembari menggendong Bian yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Lho anak Bunda udah bangun, kok Bunda nggak dengar suara tangisannya ya," ucap Areta pada Bian yang tersenyum dalam gendongan neneknya.


"Dia pinter sekali lho, tadi udah mau nangis. Tapi pas lihat ada Ibu langsung diem terus tangannya naik-naik minta digendong." Andrias kembali dibuat heran dengan keakraban Bian dan bu Lastri.


"Kamu lihat kan, Ibu saja bisa dekat dengan Bian," ucap Areta dengan nada mengejek.


"Aku akan berusaha untuk mendekati anakku, aku akan jadi ayah yang baik buat dia meskipun nggak selalu ada di samping dia."


Areta hanya diam tanpa mau menanggapi ucapan mantan suaminya. Setelah bu Lastri puas bermain bersama cucunya, bu Lastri segara mengajak Andrias untuk pulang. Areta mengantarkan mereka sampai ke depan pintu dan segera masuk ke dalam rumah setelah keduanya masuk ke mobil.


Andrias mulai melajukan kembali mobilnya ke jalan pulang, ia begitu penasaran bagaimana bisa sekarang ibunya begitu dekat dengan Areta dan Bian.


"Kok Ibu bisa akrab sama Arera sekarang?" tanya Andrias tanpa menatap wajah ibunya.


Bu Lastri tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan dari putranya.


"Ibu hanya minta maaf sama Areta atas kesalahan Ibu selama ini, kalau soal Bian ya karena ibu menyayanginya dan mungkin Bian bisa merasakan itu."


"Andrias iri melihat Ibu bisa akrab sama Bian. Sedangkan sama aku Bian selalu nangis setiap kali aku sentuh dia, aku nyesel kenapa dulu nggak mau ngurusin anak itu," sesal Andrias mengingat kenangan masa lalu bersama Areta dan Bian.


"Semuanya sudah terjadi, sekarang kamu harus berubah dan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anakmu. Terlepas kamu bisa kembali atau tidak pada Arseta," ujar bu Lastri sedikit menasehati putranya itu.


"Andrias akan coba, Bu. Oh ya, udah sore. Ibu nggak usah masak, kita mampir beli lauk aja ya." Bu Lastri mengangguk menanggapi usulan putranya.


Laki-laki itu melajukan mobilnya menuju ke sebuah rumah makan kemudian kembali ke arah pulang setelah membeli beberapa macam lauk untuk makan malam mereka.


Hari telah menjelang maghribh saat mobil yang dikemudikan Andrias sampai di kontrakan mereka. Ibu dan anak itu saling pandang saat keluar dari mobil mendapati kondisi rumah yang sepi dan lampu yang belum dinyalakan.


"Kok sepi sih, lampu juga belum nyala," gumam bu Lastri setelah menutup kembali pintu mobil.

__ADS_1


Dahi Andrias kembali mengernyit karena pintu rumah yang tak terkunci, bu Lastri meletakkan jarinya di bibir sebagai kode agar Andrias tak bersuara. Keduanya melangkah perlahan menuju ke kamar Zevanya.


__ADS_2