
Areta mengerem sepeda motornya secara mendadak karena ada mobil yang melaju kencang dari arah lain, beruntung wanita itu masih bisa menguasai laju sepeda motornya sehingga tak sampai terjatuh..
"Alhamdulillah ya Allah, masih diberi keselamatan. Maafin Bunda ya sayang, hampir bikin kamu celaka." Monolog Areta mengelus perutnya yang mulai membuncit kemudian melajukan kembali sepeda motornya ke arah kantor.
Setibanya di parkiran kantor, wanita itu dengan terburu-buru masuk ke dalam gedung. Nampak Raisya yang telah menunggunya di lobby.
"Hash hash hash." Napas Areta yang memburu membuat Raisya mengerutkan dahinya.
"Areta, kamu kenapa ngos-ngosan begitu? Kamu habis lari?" Tanya Raisya pada sahabatnya.
"Aku tadi hampir ditabrak mobil di jalan, terus karena buru-buru aku jalan cepet-cepet dari parkiran ke sini." Jelas Areta meneguk air mineral yang tersedia di meja.
"Ya ampun!!! Kamu nggakpapa? Ada yang luka nggak?" Panik Raisya membolak-balikan tubuh sahabatnya.
"Alhamdulillah Allah masih kasih keselamatan, aku masih bisa ngerem tadi. Jadi nggak sampai jatuh ke aspal." Balas Areta yang telah menghabiskan air mineralnya.
"Syukurlah, hati-hati Areta. Kamu lagi hamil muda, atau kalau mulai besok aku anter jemput kamu aja gimana?" Tawar Raisya yang dibalas Areta dengan sebuah gelengan kepala.
"Nggak usah Raisya, aku masih bisa sendiri kog. Tadi itu mobilnya nerobos lampu merah makanya aku bisa sampai hampir ketabrak." Tolak Raisya dengan halus.
"Yaudah kalau gitu, udah belum istirahatnya? Kalau udah kita ke ruang meeting sekarang yuk!" Ajak Raisya, Areta mengangguk kemudian berjalan mengekori Raisya menuju ke ruang meeting.
...****************...
Nampak beberapa karyawan telah duduk di sana, sedangkan di meja depan telah duduk dua lelaki berbeda usia yang akan melaksanakan serah terima jabatan. Pandangan Areta tertuju pada seorang pria seumuran Andrias yang wajahnya seolah tak asing bagi Areta. Pada saat bersamaan, tanpa sengaja pandangan lelaki itu juga tertuju pada Areta. Wanita itu buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Baik, karena semuanya sudah berkumpul di sini maka mulai saat ini jabatan saya sebagai direktur utama akan saya serahkan pada putra saya." Ujar seorang pria paruh baya yang duduk di meja depan membuat seorang lelaki muda di sebelahnya berdiri.
"Perkenalkan, nama saya Rivan Narindra Bumi. Bisa kalian panggil saya Rivan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik untuk memajukan perusahaan ini." Ucap lelaki yang bernama Rivan itu membuat mata para karyawan perempuannya berbinar karena terpesona dengan ketampanannya, kecuali Areta yang bersikap biasa saja.
Setelah rapat serah terima jabatam selesai, mereka menikmati makan siang yang telah disediakan untuk merayakan acara serah terima jabatan tersebut. Areta dan Raisya duduk berhadapan di sebuah meja untuk menikmati makanan mereka.
__ADS_1
"Ya ampun Areta, Mas Dirut kita yang baru ganteng banget mirip pangeran dari negeri dongeng." Celetuk Raisya dengan pipi yang bersemu merah dan mata berbinar.
"Biasa aja Raisya, jangan sampe ngebayangin yang nggak-nggak lho." Balas Areta sambil mengunyah makanannya.
"Biasa aja gimana? Orang ganteng banget gitu, aku nggak bakalan nolak kalau dijadiin istrinya." Cicit Raisya yang masih terpesona dengan ketampanan Rivan.
"Eh, Ra! Tapi wajahnya Pak Rivan itu nggak asing lho, kayaknya aku pernah ketemu dimana gitu!" Ujar Areta sembari berusaha mengingat sesuatu.
"Yang bener, Reta? Ketemu dimana coba? Dia katanya baru pulang dari luar negeri lho." Balas Raisya tak percaya.
"Eh iya, baru inget. Beberapa hari yang lalu aku pesen puding buah di gofood, nah drivernya itu mirip banget sama Pak Rivan." Ucapan Areta membuat Raisya hampir saja menyemburkan air minum yang sedang ia tenggak.
"Areta, jangan ngawur deh! Masa iya ganteng-ganteng gitu kamu bilanh mirip driver ojol, lagian Pak Rivan kan tajir banget. Buat apa coba jadi driver ojol segala." Balas Raisya geleng-geleng kepala karena tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
"Ya mana aku tau, Ra. Kali aja waktu itu dia lagi gabut, terus jadi driver ojol deh." Celetuk Areta asal membuat sahabatnya terkikik geli.
"Yaelah si bumil ada-ada aja sih. Udah kenyang nih, mau langsung pulang atau nongkrong di sini dulu buat nikmatin pemandangan kesempurnaan ciptaan Tuhan?" Tanya Raisya dengan pandangan yang tak lepas dari sosok Rivan.
"Emang kemaren mertua kamu bikin ulah apa lagi?" Tanya Raisya memincingkan matanya.
"Pinjem uang sejuta, katanya buat biaya makan sehari-hari karena uang jatah dari Mas Andrias udah habis buat biaya arisan sosialitanya." Jawab Areta dengan malas.
"Terus kamu kasih pinjem? Nggak kan Areta? Jangan bilang kamu kasih pinjem?" Cecar Raisya penasaran.
"Nggak, tapi malah ngomel-ngomel. Akhirnya aku kasihin sisa gaji anaknya dan aku bilang nggak usah dikembalikan." Balas Areta membuat mata sahabatnya membola.
"Ya ampun, kenapa dikasih Areta?" Tanya Raisya yang tak suka dengan keputusan sahabatnya.
"Ya nggak ada pilihan, Bu Lastri Hadiningrat itu ngancem kalau aku nggak minjemin dia uang bakalan tiap hari numpang makan di rumahku." Terang Areta membuat Raisya membekap mulutnya sendiri.
"Itu mertua apa preman sih, Areta? Tega banget sama menantu sendiri, udah tahu menantunya lagi hamil pula." Oceh Raisya yang tak habis pikir dengan kelakuan Bu Lastri.
__ADS_1
"Embuhlah (entahlah), pusing kalau dipikirin. Yaudah yuk pulang, aku mau belanja sama masak buat makan malam nih." Ajak Areta yang mulai beranjak dari kursinya. Keduanya berjalan beriringan menuju ke parkiran.
Areta melajukan sepeda motornya menuju ke sebuah supermarket, setelah membeli beberapa keperluan dapur. Wanita itu segera pulang ke rumah.
...****************...
Sesampainya di rumah, Areta segera mengganti pakaian kerjanya dengan daster rumahan kemudian menata belanjaannya tadi ke dalam kulkas.
"Emb.... Hari ini masak makanan kesukaan Mas Andrias aja deh. Gizinya juga bagus buat ibu hamil." Monolog Areta yang mulai berkutat dengan peralatan masaknya.
Usai masak, wanita itu meneruskan kegiatannya dengan membersihkan seisi rumah.
"Huh... Akhirnya beres juga, mau mandi dulu lah terus dandan yang cantik nungguin Mas Andrias pulang dari kantor." Gunam Areta dengan senyum tersungging.
Tepat saat Areta selesai memoleskan make up tipis di wajah ayunya, terdengar suara sepeda motor yang berhenti di dekat pintu rumahnya.
Tokk... Tookk.... Tokkk.
Suara pintu yang diketuk membuat Areta melangkahkan kakinya ke pintu, tak lupa memasang senyuman manis untuk sang suami.
Cekleekkk.....
Senyum Areta memudar kala melihat sang suami yang datang bersama Bu Lastri dan Zevanya. Namun senyum itu segera kembali ketika mengingat apa yang telah ia masak hari ini untuk menu makan malam.
"Lhoh, ada Ibu dan Zevanya juga. Ayo masuk!" Sambut Areta ramah membuat Andrias tersenyum.
"Tadi aku ketemu Ibu sama Zevanya dijalan, jadi aku ajakin makan di sini aja mumpung kamu lagi masak." Terang Andrias membuat Areta tersenyum miring.
"Iya nggakpapa, ayo kita makan bareng-bareng." Ajak Areta pada ketiganya, Bu Lastri dan Zevanya segera melenggang ke meja makan tanpa menghiraukan sang pemilik rumah.
"Makasih ya, Sayang." Ujar Andrias mengecup kening Areta yang dibalas dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Aretaaa!!!!! Mantu kurang ajar!!!!" Suara cempreng Bu Lastri menggelegar dari arah meja makan membuat Andrias dan Areta saling melempar pandangan.