Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 47. End


__ADS_3

Dokter tersebut menghela napas panjang, menatap bu Lastri dan Andrias secara bergantian.


"Kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain," ucap dokter kemudian menunduk.


"Nggak, ini nggak mungkin, Dokter. Putriku pasti masih hidup, dia anak yang kuat. Nggak mungkin dia pergi secepat ini," histeris bu Lastri, tubuhnya merosot ke lantai menangis meraung meratapi kepergian putrinya.


Tubuh Andrias ikut merosot ke bawah bersamaan dengan air mata yang meleleh dari netra lelaki itu, "Zevanya, maafkan Mas yang tidak bisa menjaga kamu."


Sejurus kemudian, jenazah Zevanya di dorong oleh beberapa perawat untuk dibawa ke kamar jenazah. Andrias dan bu Lastri bangkit untuk mendekat ke arah brankar itu.


"Zevanya, maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa menjaga kamu dengan baik," lirih bu Lastri memeluk jasad putrinya


"Vanya, maafin Mas Andrias. Mas terlalu egois selama ini," ucap Andrias di sela-sela tangisnya.


Setelah jasad Zevanya di bawa ke ruang jenazah, bu Lastri kembali histeris karena belum bisa menerima kepergian putrinya. Andrias berinisiatif menghubungi Areta untuk meminta tolong menenangkan ibunya.


Sementara itu Areta baru saja masuk ke rumahnya saat mendengar bunyi telepon pintar miliknya, segera Areta merogoh tasnya. Alis wanita itu bertaut melihat siapa yang telah mebeleponnya.


"Ngapain Mas Andrias telepon," gunam Areta kemudian menggeser icon berwarna hijau.


"Hallo ..."


"Hallo, Areta. Apa kamu sedang sibuk?" tanya Andrias dengan suara yang terdengar serak di telinga Areta.


"Aku baru aja pulang dari kantor, ada apa?"


"Aku mau minta tolong sama kamu buat temanin Ibu, dari tadi ibu nangis dan pingsan berkali-kali."


"Lhoh, memangnya Ibu kenapa?"


"Zevanya meninggal Areta, dan Ibu sepertinya belum bisa menerima kepergiannya."


Areta membekap mulutnya mendengar cerita Andrias.


""Ba, baik, aku akan segera ke sana," ucap Areta kemudian mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Bergegas Areta membersihkan diri kemudian keluar dari kamarnya untuk menemui Bu Esti yang sedang bermain bersama Bian di ruang tengah.


"Bu Esti," panggil Areta pada wanita paruh baya itu.


"Iya Mbak Areta, loh kok sudah rapi lagi. Memangnya mau pergi ke mana?" heran bu Esti melihat penampilan Areta.


"Mantan adik ipar saya meninggal, jadi saya mau ke sana. Saya minta tolong titip Bian ya, Bu."


"Innalillahi, Iya Mbak. Saya akan jaga Bian. Mbak Areta juga hati-hati ya?" pesan bu Esti pada majikanya.


Areta mengangguk kemudian mengambil kunci mobilnya, wanita itu terlebih dulu melajukan mobilnya untuk menjemput Raisya yang telah ia hubungi sebelumnya. Saat tiba di kediaman sahabatnya, ternyata Raisya telah menunggu di teras dan segera masuk ke dalam mobil milik Areta.


"Kok Zevanya bisa tiba-tiba meninggal. Emangnya kenapa, sakit atau Kenapa sih?" tanya Raisya penasaran.


"Aku juga nggak tahu, belum sempat nanya sama Andrias. Nanti ajalah kita tanya pas udah nyampe di sana," jawab Areta dengan pandangan yang masih fokus pada jalanan di depannya.


Tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua hingga tiba di depan rumah kontrakan Andrias yang telah ramai oleh para pelayat. Keduanya disambut oleh Andrias yang segera menyalami Areta dan juga Raisya, setelah itu Areta dan Raisya menghampiri Bu Lastri yang masih menangis tersedu di hadapan jenazah Zevanya.


"Ibu," lirih Areta memanggil mantan Ibu mertuanya.


"Memangnya apa yang terjadi sampai Zevanya seperti ini Bu?" tanya Raisya yang masih penasaran.


"Zevanya meninggal karena berusaha menggugurkan kandungannya," jawab bu Lastri dengan air mata yang terus mengucur dari netranya.


Bu Lastri terus memeluk Areta sampai proses pemakaman Zevanya selesai, beberapa kali bu Lastri sempat pingsan saat tubuh Zevanya akan dimasukan ke liang lahat.


"Areta," panggil bu Lastri yang baru saja sadar dari pingsannya.


Areta yang masih duduk di sisi ranjang kecil itu mengenggam jemari mantan ibu mertuanya, "Iya, Bu."


"Ibu mohon, kembalilah bersama Andrias, Nak. Ibu ingin kalian kembali bersatu."


Deg!


Areta sama sekali tak menyangka jika permintaan itu akan keluar dari mulut ibu mertua yang dulu begitu membencinya.

__ADS_1


"Areta minta maaf, Bu. Areta tidak bisa kembali dengan Andrias," balas Areta tanpa melepaskan genggaman tangannya pada bu Lastri.


"Apa kamu menolak permintaan Ibu karena Rivan sudah berhasil menggantikan posisiku di hati kamu?" sahut Andrias memandang Areta dengan tatapan sendu.


"Aku dan Rivan nggak lebih dari sekedar teman, aku hanya merasa lebih bahagia menjalani hidupku seperti sekarang ini," jelas Areta dengan sebuah senyuman.


Andrias memejamkan matanya sejenak, mencerna ucapan mantan istrinya baik-baik.


"Baiklah, aku nggak akan maksa kamu buat kembali sama aku. Tapi aku mohon Areta, maafkan segala kesalahanku di masa lalu."


Areta tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari bibir mantan suaminya, "Aku sudah memaafkanmu, dan seperti apa yang pernah aku katakan. Kamu bebas bertemu Bian kapanpun kamu mau, bahkan kamu bisa mengajak Bian sesekali menginap di sini."


"Terima kasih, Nak. Ibu akan sering-sering mengunjungi cucu Ibu." Senyum tipis terukir di sela tangis bu Lastri.


Hari yang semakin larut membuat Areta dan Raisya memutuskan untuk pamit dari rumah itu. Areta langsung mengemudikan kendaraannya menuju kediamannya karena Raisya memutuskan untuk menginap di sana.


Saat tiba di rumah ternyata Bian telah tidur bersama Bu Esti di kamar wanita paruh baya itu, keduanya memutuskan untuk langsung masuk ke kamar Areta karena takut membangunkan Bian dan membuatnya rewel.


"Nggak nyangka ya Reta, Zevanya akan pergi secepat ini," celetuk Raisya saat keduanya telah berbaring di ranjang.


"Ya, tak ada yang tahu sampai kapan kita hidup. Karena itu manfaatkanlah kehidupan kita untuk melakukan hal-hal yang baik," balas Areta mulai memejamkan matanya.


"Jangan tidur dulu, aku mau nanya sesuatu."


Areta kembali membuka matanya, "Mau nanya apa sih?"


"Kenapa kamu nolak Rivan tapi juga nggak mau balikan sama Andrias?"


"Karena aku tidak yakin kehidupanku dan Bian akan lebih bahagia jika aku bersama dengan salah satu di antara mereka."


Tidak akan pernah ada yang tahu jalan hidup manusia, hari ini bahagia dan esok penuh air mata. Selama Tuhan masih memberimu waktu untuk menikmati hidup ini, lakukanlah hal terbaik yang bisa kamu lakukan. Genggam kebahagiaanmu dan lepaskan yang membuatmu terluka.


Jangan biarkan orang lain mengendalikan hidupmu dan merusak kebahagiaanmu. Jangan pernah memaksakan diri menjalani sesuatu yang membuatmu tak bahagia. Jagan pernah memaksa bertahan jika hanya membuatmu terluka. Bahagia atau tidaknya hidupmu, tergantung bagaimana kamu menjalaninya.


TAMAT ....

__ADS_1


__ADS_2