Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 35.


__ADS_3

Areta benar-benar menikmati hidupnya pasca bercerai dari Andrias. Seperti pagi ini, Areta tengah mendorong stroler Bian untuk berjalan-jalan di taman sekaligus membeli sarapan karena selama seminggu ini ia hampir tak pernah memasak sarapannya. Wanita itu lebih suka membeli sarapan di luar sembari berjalan-jalan pagi bersama Bian


Pagi ini pilihan Areta jatuh pada bubur ayam di sebelah taman, setelah membeli satu bungkus bubur ayam. Areta kembali berjalan pulang ke rumahnya. Saat tiba di rumah, Areta di kejutkan demgan keberadaan sesosok lelaki yang tengah duduk menunggu kedatangannya di teras rumah.


"Kok Pak Rivan bisa ada di sini?" tanya Areta bingung melihat kehadiran mantan Bosnya.


"Areta, bisa nggak kamu panggil pakai nama saya aja tanpa embel-embel Bapak. Saya belum setua itu," pinta Rivan pada wanita di hadapannya.


Areta tersenyum tipis mendengar permintaan Rivan, "Nggak enak kalau panggil nama, Bapak kan emang lebih tua dari saya."


"Yaudah, kalau gitu panggil saya Mas Rivan. Pas kan?" ujar Rivan menaik turunkan sebelah alisnya.


"Mas Rivan, datang ke sini pagi-pagi ada perlu apa?" tanya Areta dengan senyum mengejek.


"Ekspresi kamu biasa aja, mumpung hari minggu nih. Aku bawain bubur buat sarapan kamu, sekalian mau ajak kamu dan Bian jalan-jalan," ujar Rivan mengulurkan sebuah kantong kresek.


Areta kembali tersenyum kemudian menunjukan sebuah kantong kresek di tangannya, "Aku habis beli bubur sambil momong Bian, gimana kalau makan bareng aja?"


"Boleh deh, daripada mubadjir."


Areta mengambil mangkok dan sendok, keduanya sama-sama menikmati sarapan pagi itu tanpa bersuara hingga bubur di mangkok masing-masing tandas.


"Jadi gimana? Mau nggak kalau kita jalan-jalan?" Rivan mengulangi tawarannya tadi.


"Raisya nggak diajak, Mas?" tanya Areta polos.


Lelaki itu menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar, "Saya itu mau ngajak kamu sama Bian aja, kenapa malah nanyain Raisya sih?"


"Oalah, ceritanya Mas Rivan mau ngajak saya nge-date? Kencan gitu?" Ucapan Areta berhasil membuat muka Rivan memerah karena menahan malu.


"Emang mau ngajak jalan-jalan ke mana sih?" tanya Areta kemudian.


Rivan tersenyum mendengar pertanyaan Areta, "Gimana kalau ke taman kota aja? Pasti Bian seneng.*

__ADS_1


"Boleh, aku siap-siap dulu. Tolong titip jagain Bian bentar ya," ucap Areta kemudian masuk ke kamarnya.


Lima belas menit kemudian, Areta keluar dengan setelan kaos warna hitam dan rok jeans selutut serta sandal jepit. Polesan make up natural tetap menjadi pilihan untuk mempercantik penampilannya. Sejenak Rivan terpana melihat penampilan Areta.


"Mas, ngapain ngeliatin aku kayak gitu?"


"Kamu cantik dan imut banget, kayak anak SMA." Rivan mengucapkan kalimat itu tanpa sadar.


"Eh nggak, maksud aku ngapain kamu dandan kayak anak SMA gitu," ralat lelaki itu setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan.


"Halah nggak usah ngelak, udah ayuk berangkat," ajak Areta yang mengambil tas selempangnya. Sedang Rivan memdorong stroler babby Bian.


Ceklek ....


Mata Rivan dan Areta membola saat melihat Andrias tengah berdiri di depan pintu dan menatap nyalang keduanya.


"Bagus ya, baru juga seminggu jadi janda udah udah berani masukin laki-laki ke rumah ini," ucap Andrias yang menatap Areta dengan pandangan remeh.


Wanita itu maju selangkah lebih dekat dengan Andrias, "Memangnya apa yang salah kalau aku bawa laki-laki ke rumah ini? Ini rumahku dan aku sudah tidak punya suami."


"Apa kamu nggak kasihan sama Bian kalau kamu kamu tinggal pacaran begini?" Tanya Andrias pada mantan istrinya.


"Siapa bilang kita ninggalin Bian buat pacaran, ini kita bawa Bian juga kok. Lagian kamu ngapain sih datang ke sini?" Rivan menatap Andrias dengan pandangan sengit, sedangkan Bian yang berada di dalam stroler malah tersenyum dan mengoceh dengan bahasa bayi melihat ekspresi Rivan.


"Aku ke sini cuma mau mau ketemu sama anakku, bukan buat ketemu kamu, Areta," ujar Andrias berusaha mengambil Bian dari dalam stroler.


Bayi itu malah menangis saat digendong oleh Andrias, Rivan buru-buru memgambil bayi itu dari gendongan ayahnya. Dan aneh ya, Bian langsung terdiam saat digendong oleh Rivan.


"Lihat Areta, ini semua gara-gara kamu. Aku gendong aja Bian nggak mau, jangan-jangan kamu sengaja menjauhkan aku dari Bian." Andrias meluapkan kelesalannya dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Areta.


Areta tersenyum kecut mendengar kalimat yang terlontar dari mulut mantan suaminya, "Bukan aku yang menjauhkan kamu dari Bian, tapi kalian memang tidak ada ikatan batin karena dari awal kamu tidak pernah mau ngurus dia."


Areta segera mengunci pintu rumahnya dan menggendong Bian masuk ke dalam mobil Rivan. Andrias hendak menyusul namun urung karena Rivan yang menghalanginya.

__ADS_1


"Jangan ganggu dia lagi, kalian sudah selesai," tegas Rivan yang segera masuk ke kursi kemudi setelah terlebih dulu memasukan stroler Bian ke dalam bagasi.


Areta hanya diam sepanjang perjalanan, wajah yang tadinya berseri kini kembali meredup. Tak habis pikir kenapa Andrias seolah tak ingin pergi dari hidupnya dan terus membuat hatinya nyeri. Wanita itu terus larut dalam pikirannya hingga tak menyadari jika mobil Rivan telah berhenti di parkiran taman kota.


"Sampai kapan mau ngelamun gitu?" Suara Rivan menyadarkan Areta dari lamunannya.


Wanita itu segera mengamati keadaan sekitarnya, "Ya ampun, maaf Mas. Aku sampai nggak tau kalau kita udah di sini."


Rivan segera turun membukakan pintu mobil untuk Areta kemudian meletakkan Bian ke dalam stroler.


"Biar aku yang dorong, kamu beli jajanan aja. Makan yang banyak biar nggak kepikiran mantan suami kamu itu," ujar rivan mulai berjalan sembari mendorong Bian.


Areta berhenti di beberapa kedai jajanan, telur gulung, sosis bakar, jagung keju, sempol dan dua cup es boba telah berada di tangannya. Keduanya memutuskan untuk duduk di sebuah bangku panjang yamg berada di tengah-tengah taman.


Mata Rivan menyipit melihat apa yanh telah dibeli oleh Areta, "Ini kamu bisa habisin semuanya?"


"Kan makannya sama Mas Rivan juga, nih aku beliin es boba. Satu buat aku, dan ini satu lagi buat Mas Rivan." Areta menyodorkan satu cup es boba pada Rivan.


Lelaki itu menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Areta, "Saya nggak pernah makan jajanan begini, Areta. Bisa sakit perut saya."


"Aduh, Mas belum tau aja rasanya gimana. Udah cobain dulu aja, nih coba makan telur gulung." Areta menyodorkan satu tusuk telur gulung ke mulut Rivan.


Dengan ragu-ragu Rivan menggigit makanan itu kemudian mengunyahnya, matanya nampak berbinar kemudian mengambil satu tusuk lagi untuk dilahapnya.


"Gimana? Enak kan, Mas nggak bakal mati cuma gara-gara makan jajan ginian." Goda Areta kemudian menyeruput es boba miliknya.


Mereka terus makan sembari mengobrol, ternyata sosok Rivan begitu menyenangkan. Jauh berbeda dengan apa yang biasa ia lihat saat di kantor dulu.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Areta hingga reflek menoleh.


Plaakk, satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Areta.


"Dasar Wanita murahan!"

__ADS_1


__ADS_2