Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 19


__ADS_3

"Ck, siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini!" Kesal bu Lastri melangkah ke depan bersama Zevanya yang akan berangkat sekolah.


"Wa'alaikumsallam." Sahut bu Lastri saat membuka pintu.


"Selamat pagi, Tante. Areta ada?" Sapa Raisya yang datang bersama Rivan.


"Eh Raisya, ada kog. Ini siapa? Calon suami kamu?" Tanya bu Lastri pada Raisya.


"Bukan kok, Tan. Ini bosnya Raisya, mantan bosnya Areta juga." Terang Raisya membuat wanita paruh baya itu mengangguk.


"Mari, silahkan masuk. Areta ada di kamar, lagi mandiin bayinya." Titah bu Lastri pada kedua tamunya.


Saat akan masuk ke dalam rumah, Rivan berpapasan dengan Zevanya yang akan berangkat sekolah. Tanpa sengaja pandangan mereka saling bertemu, namun dengan cepat Rivan membuang pandangannya dan menyusul Raisya tanpa berkata apa-apa.


"Jadi dia mantan bosnya mbak Areta." Gunam Zevanya yang segera melajukan sepeda motornya ke sekolah.


"Areta!!" Sorak Raisya saat masuk ke dalam kamar Areta yang sedang memakaikan baju untuk babby Bian.


"Hai tante Raisya!" Balas Areta dengan wajah berbinar saat melihat wajah sahabat yang begitu ia rindukan. Berbeda dengan Raisya yang malah mengernyitkan dahinya saat melihat penampilan sang sahabat. Wajah pucat tanpa make up dengan lingkaran hitam yang nampak jelas di bawah mata, daster lusuh dan rambut yang diikat asal-asalan. Sejurus kemudian Raisya menyadari jika hal berat tengah dijalani oleh sahabatnya itu. Raisya menghambur ke pelukan Areta, memeluk tubuh sahabatnya yang kini semakin kurus.


"Ehm!" Rivan berdehem membuat kedua wanita itu melepaskan pelukan mereka.


"Ya ampun, aku sampai lupa kalau aku dateng ke sini sama pak Rivan." Celetuk Raisya merasa bersalah pada bosnya.


"Silahkan masuk, Pak! Maaf berantakan begini." Titah Areta pada mantan bosnya yang masih berdiri di ambang pintu. Lelaki itu segera masuk kemudian mengulas senyum.


"Bu Areta, ini hadiah untuk bayi Ibu." Ujar Rivan menyerahkan sebuah kotak hadiah pada Areta.


"Terima kasih, Pak. Malah merepotkan Bapak ini ceritanya." Balas Areta basa-basi.


Kriing kriing kriing....


Tiba-tiba handphone Rivan berbunyi, lelaki itu meminta izin keluar dari kamar Areta untuk mengangkat telepon. Beberapa menit kemudian, lelaki itu kembali dengan langkah terburu-buru.

__ADS_1


"Bu Areta, Bu Raisya. Mohon maaf sepertinya saya harus pamit terlebih dahulu karena ada urusan penting." Pamit Rivan kemudian.


"Silahkyan, Pak!" Jawab kedua wanita itu secara serentak.


"Bu Raisya nggakpapa nanti pulang sendiri?" Tanya Rivan pada Raisya.


"Nggakpapa, Pak. Nanti saya biar naik taksi online aja." Balas Raisya tersenyum.


"Saya pamit dulu kalau begitu, permisi semuanya." Ujar Rivan kemudian berjalan keluar dari rumah itu dengan diantar oleh Raisya.


Bu Lastri muncul dari dapur membawa dua cangkir teh hangat untuk tamunya.


"Lho, bos kamu mana Raisya?" Tanya bu Lastri celingukan mencari keberadaan sosok Rivan.


"Barusan pulang, Tante. Ada urusan penting katanya." Jawab Raisya seadanya.


"Padahal Tante udah bikinin minum, yaudah nih teh buat kamu." Ujar bu Lastri menyerahkan cangkir berisi teh hangat pada Raisya.


Nampak Areta yang sedang meletakkan babby Bian ke dalam box bayi. Raisya menutup dan mengunci kamar sahabatnya agar lebih leluasa mengobrol.


"Areta, siapa namanya babby ganteng ini?" Tanya Raisya mengelus pipi malaikat kecil yang tengah tenggelam dalam buaian mimpi.


"Namanya Febriyan Wiratama, Onty. Tapi dipanggil Bian. Ayo duduk, aku kangen banget sama kamu." Ajak Areta menggandeng tangan sahabatnya untuk duduk di tepi ranjang miliknya.


"Areta, sebarat apa beban yang kamu alami setelah kamu berhenti bekerja dan menjadi seorang ibu?" Tanya Raisya menatap dalam manik mata sahabatnya. Areta tak bergeming, air matanya luruh begitu saja tanpa bisa ditahan. Raisya merengkuh tubuh Areta yang sedang tergugu ke dalam pelukannya.


"Menangislah, Areta. Menangislah sampai kamu merasa lega, ada aku yang akan memelukmu di sini." Lirih Raisya di telinga sahabatnya.


Areta mengurai pelukan itu setelah tangisnya mereda.


"Terima kasih Raisya, aku nggak tahu harus gimana lagi kalau nggak ada kamu." Ujar Areta kemudian.


"Sekarang ceritakan apa yang terjadi, kenapa kamu makin kurus begini? Apa nggak dikasih makan sama Andrias? Penampilan kamu juga berantakan sekali, seperti bukan Areta yang aku kenal." Raisya menatap wajah sahabatnya yang nampak begitu memprihatinkan di matanya.

__ADS_1


"Aku sudah seperti pembantu di rumahku sendiri Raisya, ibu menyuruhku melakukan semua pekerjaan rumah. Semenjak melahirkan aku hanya boleh makan tahu dan sawi dengan alasan agar ASi lancar. Dan setiap malam aku begadang sendiri saat bayiku rewel." Cerita Areta yang kembali terisak.


"Memangnya Andrias nggak ada bantuin kamu ngurus anakmu?" Selidik Raisya menyipitkan matanya. Areta hanya menggelengkan kepalanya.


"Mas Andrias nggak tahu kalau aku yang ngerjain semua pekerjaan rumah, termasuk nyuciin baju ibu dan Zevanya. Kalau soal makanan dia minta aku nurut apa kata ibu, karena menurut dia mertuaku udah berpengalaman." Raisya menghembuskan napas kasar mendengar cerita sahabatnya.


"Sekarang kamu mandi, dandan. Aku ajak kamu jalan-jalan." Titah Raisya pada wanita yang masih sibuk menghapus jejak air mata di pipinya itu.


"Tapi kalau ibu marah terus ngaduin ke mas Andrias gimana?" Tanya Areta menatap sahabatnya dengan wajah ketakutan.


"Aku yang tanggung jawab udah, kamu buruan mandi. Aku pesen taksi online, kamu juga perlu membahagiakan dirimu." Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Areta menuruti perintah sahabatnya.


Beberapa menit kemudian, kedua sahabat itu keluar dari kamar dengan mendorong babby Bian di dalam stroler.


"Lhoh, lhoh, mau kemana kamu Areta?" Tanya bu Lastri saat melihat menantunya keluar dari kamar.


"Areta mau saya ajakin keluar sebentar, Te. Nanti aku bawain makanan kesukaan Tante deh, boleh ya?" Rayu Raisya pada bu Lastri.


"Yaudah boleh, tapi pulangnya jangan sore-sore! Beliin tante iga bakar ya!" Pesan bu Lastri yang langsung memberikan izin setelah diiming-iming makanan oleh Raisya.


"Siap, Tante." Balas Raisya meletakkan empat jarinya di kening seolah memberi hormat, kemudian menuju taksi online yang sudah menunggu di depan pagar.


Setelah hampir tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Sebuah mall terbesar di kota itu. Raisya membelikan beberapa baju untuk Areta dan babby Bian kemudian menuju sebuah resto dimana Raisya memesan banyak makanan untuk sahabatnya.


"Makan dulu, Reta. Ibu menyusui itu harus makan yang bergizi biar ASI lancar. Mulai besok tiap jam makan siang aku akan beliin makanan dan anterin langsung ke rumah kamu." Ujar Raisya panjang lebar membuat Areta terkekeh dan hampir tersedak makanannya.


"Ra, aku bukan gembel yang semuanya harus kamu bayarin. Aku masih ada tabungan dan uang pesangon dari pak Rivan. Tapi aku sengaja nggak ngasih tahu masalah uang itu ke suami dan mertuaku. Biarkan mereka bilang aku pengangguran yang nggak punya apa-apa." Ocehan Areta membuat sahabatnya berhenti mengunyah kemudian menatap wajah Areta dan tersenyum tipis.


"Kamu benar, Areta. Jangan sampai mereka tahu soal uang itu, dan saranku. Jika kamu sudah lelah dan sabarmu sudah mencapai batas, berhentilah. Lepaskan Andrias jika kamu tak lagi bahagia, kamu cantik dan kamu berharga." Pesan Raisya menggenggam erat tangan sahabatnya.


Setelah menghabiskan makanan dan mengobrol tentang banyak hal, Keduanya memutuskan untuk pulang. Tak lupa membawakan makanan untuk bu Lastri. Namun ketika akan keluar dari resto tersebut, mata Areta menangkap pemandangan sosok laki-laki dan perempuan yang nampak mesra dengan saling menyuapkan makanan pada pasangannya.


"Lhoh, Raisya. Itu kan..."

__ADS_1


__ADS_2