Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 32.


__ADS_3

Areta menghentikan tangisnya karena mendengar bunyi pintu rumahnya yang diketuk oleh seseorang, wanita itu bangkit dan melangkah. Membiarkan kakinya menginjak pecahan kaca di lantai. Darah mengucur, namun tak ia hiraukan. Rasa perih tak ia rasakan, Areta terus melangkah untuk membuka pintu rumahnya.


Ceklek ....


Mata Areta menyipit saat melihat sosok yang berdiri di depannya, sosok lelaki yang telah membantunya tadi siang. Mata Rivan melebar, menelisik penampilan Areta yang terlihat begitu memprihatinkan hingga menyadari jika langkah kaki Areta meninggalkan jejak darah di lantai.


"Ya Tuhan Areta, darah apa itu?" Rivan meneliti tubuh wanita di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Saya nggak apa-apa, hanya melampiaskan kesedihan saya saja," balas Areta dengan pandangan kosong.


"Kamu sudah gila ya, ayo masuk! Biar saya obati kaki kamu." Lelaki itu menarik tubuh Areta kembali masuk ke dalam rumah dan mendudukannya di sofa.


Rivan berlari ke kamar Areta untuk mencari kotak P3K, kembali ia dikejutkan dengan kondisi kamar Areta. Pecahan kaca di mana-mana ditambah dengan jejak darah yang keluar dari kaki Areta. Lelaki itu kembali menghampiri Areta di sofa dengan wajah kesalnya.


Hening ... Tak ada yang bersuara di antara mereka, Rivan fokus mengobati luka di kaki Areta. Sedangkan wanita itu hanya diam dengan pandangan kosong, menatap lurus ke depan.


"Saya tahu kamu lagi patah hati, tapi kamu nggak perlu sampai jadi gila begini juga," celetuk Rivan yang tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh Areta.


Wanita itu mentap tajam ke arah Rivan, "saya sudah bilang kan, saya ini nggak gila."


"Kalau kamu masih waras, nggak mungkin kelakuan kamu seperti ini. Ingat Areta, kamu masih punya Bian. Apa kamu rela kalau Bian diurus sama Andrias seandainya kamu mati karena kegilaan kamu ini?" kesal Rivan yang baru saja selesai mengobati luka di kaki Areta.


Areta hanya menggeleng pelan menanggapi ucapan Rivan. Lelaki itu merogoh gawai dari saku celana dan mencari kontak seseorang.


"Hallo, Raisya tolong kamu datang ke rumah Areta sekarang," ucap Rivan yang segera menutup panggilan telepon secara sepihak.


"Bapak barusan telepon Raisya?" tanya Areta setelah lelaki itu menyimpan gawainya kembali.

__ADS_1


"Iya, sepertinya malam ini kamu butuh teman biar nggak makin gila." Ucapan Rivan membuat mata Areta kembali menatap tajam ke arahnya.


"Kamu duduk di sini, saya ada bawa makanan buat kamu. Kamu bisa makan dulu, saya mau bersihkan kekacauan di kamar kamu," titah Rivan yang kembali masuk ke dalam kamar Areta tanpa permisi.


Mata Areta kembali nanar, menatap ke arah pintu dan menunggu kedatangan sahabatnya. Tak berapa lama, Rivan telah selesai membereskan kekacauan di kamar Areta, bersamaan dengan Raisya yang masuk ke rumah itu. Rivan sengaja membiarkan pintu rumah itu terbuka untuk menunggu kedatangan Raisya.


"Areta!!! Kaki kamu kenapa?" panik Raisya saat melihat kondisi kaki sahabatnya di balut perban, yang ditanya hanya di menundukan kepalanya tanpa bersuara.


"Raisya, teman kamu lagi gila. Dia melukai dirinya sendiri, untung ketahuan sama saya. Kalau nggak mungkin dia udah mati bunuh diri," tutur Rivan dengan ekor mata melirik ke arah Areta.


"Ya Tuhan, makasih ya , Pak. Lagi-lagi Bapak nolongin Areta, malam ini saya akan tidur di sini untuk nemanin Areta," ujar Raisya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Rivan mengangguk kemudian tersenyum tipis, "itu ada makanan buat kalian, saya harus pamit sekarang karena urusan lain."


Raisya mengangguk, mengantarkan Rivan sampai ke depan pintu kemudian menutupnya kembali. Wanita itu menghampiri sahabatnya yang masih menekuk lutut di sofa dengan wajah sembabnya, marengkuh tubuh ringkih itu ke dalam pelukan.


Areta kembali terisak, tergugu di pelukan sahabatnya. Tangan Raisya mengepal melihat kondisi Areta yang begitu miris.


"Kamu kuat, sekarang menangislah sepuasnya. Tapi setelah ini kamu harus bangkit demi Bian, setelah kamu merasa tenang akan aku bantu buat urus surat perceraian kamu sama Andrias," Areta terdiam mendengar ucapan Raisya. Batinnya kembali bergejolak di antara dua pilihan.


Areta menegakkan posisi duduknya, menghela napas panjang sebelum berbicara. "Kalau aku cerai sama Mas Andrias terus Bian gimana? Aku nggak tega kalau dia hidup tanpa seorang ayah. Aku ingin dia bahagia, Raisya,"


"Areta, kebahagiaan Bian tidak berarti mengorbankan kebahagiaan kamu. Aku yakin dia akan tetap bahagia meskipun kalian berpisah, dibanding kalian bersama tapi kamu diperlakukan dengan tidak adil. Jangan korbankan diri kamu untuk tetap menerima Andrias dan keluarga toxicnya. Dan satu lagi, selingkuh itu soal watak. Bukan karena khilaf saja." Panjang lebar Raisya menasehati sahabatnya hingga terdengar suara tangis babby Bian yang terbangun karena haus.


Areta hendak berdiri dari duduknya, namun dicegah oleh Raisya, "Kamu di sini aja, bair aku bikinin susu formula buat Bian."


Areta hanya bisa menuruti perkataan sahabatnya itu, Raisya segera menuju ke kamar Bian. Menggendong bayi itu dan membuatkannya susu formula, seperti tebakan Raisya. Bayi itu kembali terlelap setelah menghabiskan susunya.

__ADS_1


Saat kembali ke ruang tamu, terlihat Areta yang masih termenung sembari menekuk lututnya. Raisya memilih berbalik menuju ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.


"Ayo makan, pasti dari tadi siang kamu belum makan kan?" Raisya membuka makanan yang dibawakan oleh Rivan dan menyodorkannya pada Areta.


"Aku nggak laper, Ra." Areta mendorong piring itu menjauh.


Raisya membuang napas kasar lalu menatap wajah sahabatnya dengan serius, "Apa kamu nggak sayang sama Bian? Kalau kamu nggak makan gimana kamu bisa nyusuin dia?"


Sejenak Areta terdiam memikirkan ucapan sahabatnya, perlahan diraihnya piring itu dan mulai menyuap makanannya. Raisya tersenyum kemudian ikut melahap jatah makanannya. Usai makan, Raisya membantu Areta berjalan ke kamarnya.


"Sekarang kamu istirahat ya, jangan biarkan masalah Andrias membuatmu rapuh. Laki-laki seperti dia tidak pantas untuk kamu tangisi." Raisya membantu menutupi tubuh Areta dengan selimut.


"Terima kasih Raisya, aku bersyukur sekali memiliki sahabat seperti kamu," balas Areta tersenyum tipis.


Raisya membalas genggaman tangan sahabatnya, "Aku udah ambil cuti buat tiga hari ke depan, aku mau nemenin kamu dan bantu kamu untuk bangkit."


"Lalu gimana dengan anak kamu?" tanya Areta pada sahabatnya.


"Sama neneknya, kebetulan mamah baru aja pulang dari Solo tadi," balas Raisya tersenyum.


Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, Areta kembali menatap nanar ke langit-lagit kamar.


Raisya mendengus kesal kemudian menjentikan jarinya di depan wajah Areta, "Berhenti melamun, kamu bukan wanita lemah. Hidupmu akan baik-baik saja tanpa Andrias."


"Ya, kamu benar. Semoga malam ini adalah tangis terakhirku, aku akan menjadi wanita kuat demi anakku."


Raisya tersenyum, kemudian memejamkan mata untuk melupakan segala masalah yang ada dan mengistirahatkan tubuh yang begitu letih karena ditempa masalah.

__ADS_1


__ADS_2