
Hari terus berganti, kandungan Areta telah memasuki usia lima bulan. Selama itu pula Andrias mampu membuktikan bahwa Areta dan bayinya adalah prioritas utama baginya. Meskipun selalu ada drama yang dibuat oleh bu Lastri dan juga Zevanya.
"Sayang, kamu nanti kerjanya hati-hati ya. Kalau bisa kamu segera resign aja dari kantor. Hari ini aku gajian, jadi kamu nggak usah masak. Kita beli makanan dari luar aja." Ujar Andrias setelah mengecup kening sang istri.
"Iya, Mas. Terima kasih ya." Balas Areta merangsek masuk ke dalam pelukan Andrias.
"Terima kasih untuk apa Areta?" Tanya Andrias membalas pelukan sang istri.
"Terima kasih karena kamu sudah benar-benar menepati janji." Jawab Areta, kemudian keduanya berangkat dengan berboncengan. Ya, kini Andrias mulai bisa menunjukan rasa sayangnya dengan mengantar jemput kemanapun Areta pergi. Termasuk ke kantor dan ke dokter kandungan.
Andrias melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang karena terlalu khawatir dengan kehamilan istrinya yang mulai besar. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di kantor Areta. Wanita itu segera melambaikan tangannya kemudian masuk ke area gedung sedang Andrias kembali melajukan sepeda motornya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tersenyum miring melihat kemesraan pasangan suami istri itu.
"Cieee, wajahnya sekarang merona terus." Goda Raisya yang melihat wajah sahabatnya nampak berseri pagi ini.
"Alhamdulillah ya, Ra. Mas Andrias bener-bener berubah sekarang. Aku bahagia banget." Balas Areta dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
"Aku ikut bahagia, Areta. Tapi kamu jangan buru-buru berhenti kerja, ya! Nanti aku kesepian." Pinta Raisya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Insyaallah Raisya, doakan aku dan bayiku sehat terus ya. Biar tetap bisa kerja walaupun perut udah segede keranjang." Canda Areta kemudian keduanya mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan masing-masing.
...****************...
Jam pulang kantor telah tiba, Andrias sudah menunggu sang istri di depan gedung perkantorannya. Dengan terburu-buru Areta menghampiri sang suami.
"Jalannya pelan-pelan, Bu Areta. Kan lagi hamil besar itu." Celetuk Rivan yang sedang duduk di lobby saat Areta berlari kecil di hadapannya.
"Eh, iya Pak Rivan. Permisi, suami saya sudah menunggu." Balas Areta sedikit kikuk, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Mas, udah lama nunggunya?" Sapa Areta yang langsung naik ke boncengan Andrias.
"Nggak kog, kamu mau makan apa? Mau makan di luar atau makan di rumah aja?" Tanya Andrias yang perlahan mulai melajukan sepeda motornya.
"Beli lauk aja, Mas. Makan di rumah, tadi pagi aku ada masak nasi." Jawab Areta mengeratkan pelukannya di pinggang Andrias, lelaki itu tersenyum menggenggam sejenak tangan sang istri lalu kembali fokus ke jalanan di depannya.
__ADS_1
"Mau beli lauk apa sayang?" Tanya Andrias menatap wajah Areta melalui kaca spion.
"Mau bebek goreng boleh nggak?" Tanya balik Areta pada suaminya.
"Boleh donk, beli bebek goreng sama gurame bakar kesukaan kamu." Jawab Andrias membelokan Sepeda motornya ke arah sebuah warung tenda langganan Areta.
"Mas, bebek goreng dua bagian paha sama gurame bakar dua. Semua tanpa nasi ya." Ujar Andrias pada pemilik kedai tersebut yang dibalas dengan acungan jempol. Keduanya kembali berboncengan setelah mendapatkan pesanannya.
"Areta, kamu mandi dulu. Biar Mas yang siapin makanannya ya." Titah Andrias setelah sampai di rumah.
"Siap Bos!" Balas Areta kemudian melangkah ke kamar mandi. Bergantian dengan Andrias untuk membersihkan diri.
Kini mereka telah duduk berhadapan di meja makan. Bersiap untuk menikmati makan malam.
Tokk..... Toook.... toookkk!!!
Suara ketukan di pintu membuat keduanya memunda aktifitas makan malam mereka.
Cekleek....
Pintu terbuka, nampak Bu Lastri dan Zevanya berdiri di depan pintu.
"Ibu, Zevanya." Sapa Andrias pada ibu dan adik iparnya.
"Iya, kenapa? Nggak suka liat Vanya sama Ibu dateng?" Sewot Bu Lastri menatap anak dan menantunya secara bergantian.
"Hah? Nggak kok, Bu? Mari masuk, Areta sama Mas Andrias lagi mau makan malam. Ibu sama Vanya mau makan di sini sekalian?" Tawar Areta pada ibu mertuanya.
"Mau donk, Mbak. Vanya lagi laper banget ini, Ibu di rumah juga nggak masak." Balas Zevanya yang langsung melenggang ke meja makan.
"Bu!! Ayo makan, ada makanan enak nih!" Sorak Zevanya yang membuat Bu Lastri langsung menerobos masuk ke ruang makan.
Andrias dan Areta hanya saling pandang kemudian ikut kembali ke meja makan. Nampak Bu Lastri dan Zevanya yang sedang menikmati gurame bakar kesukaan Areta.
__ADS_1
"Bagus ya, Andrias potong uang belanja buat saya terus kamu malah ngabisin duit buat makan enak seperti ini." Geram Bu Lastri menatap tajam menantunya.
"Andrias yang mau makan ini semua, Bu. Lagian kalaupun Areta yang mau, itu sudah kewajiban Andrias untuk memenuhinya. Areta istriku, Bu. Apalagi sekarang dia juga sedang mengandung." Bela Andrias pada istrinya.
"Udah, berani kamu sama Ibu? Mau jadi anak durhaka hah?" Bentak bu Lastri pada putranya.
"Andrias nggak akan jadi anak durhaka hanya karena membela istri yang selalu dihina oleh Ibu." Balas Andrias dengan berani.
"Ini semua gara-gara kamu, Areta. Dasar menantu kurang ajar, pasti kamu udah nyuci otak Andrias biar ngelawan saya kan? Ngaku kamu!" Teriak bu Lastri mendorong tubuh menantunya hingga terhuyung ke belakang, beruntung dengan sigap Andrias menangkap tubuh istrinya.
"Bu, Ibu benar-benar keterlaluan. Apa yang Ibu lakukan bisa membahayakan Areta dan calon cucu Ibu." Bentak Andrias menatap nyalang bu Lastri.
"Sudahlah, Andrias. Kamu nggak usah berlebihan, sekarang kasih jatah bulanan buat Ibu. Besok Ibu ada arisan sosialita." Pinta bu Lastri tanpa rasa bersalah sembari menengadahkan tangannya.
"Nih, buat Ibu. Sisanya buat tabungan biaya lahiran Areta." Balas Andrias meletakkan lima lembar uang merah di telapak tangan ibunya.
"Segini mana cukup sih Andrias. Ini semua gara-gara istri kurang ajar kamu ini. Areta, Areta, Areta terus yang ada di otak kamu." Teriak bu Lastri di depan wajah Andrias.
"Cukup, Bu!!! Kalau Ibu nggak mau biar Andrias ambil lagi uangnya. Jangan terus-terusan menyalahkan Areta." Ancam Andrias membuat bu Lastri mencebik kemudian menggandeng tangan Zevanya keluar dari rumah itu.
Setelah kepergian ibu dan adiknya, Andrias menuntun Areta untuk duduk di sofa.
"Aduh, Mas. Perutku sakit!" Pekik Areta yang merasakan nyeri di perut bagian bawahnya.
"Areta, kamu kenapa sayang?" Tanya Andrias panik.
"Nggak tahu, Mas. Tapi perut aku sakit banget rasanya." Lirih Areta yang merasakan ada cairan mengalir dari sela-sela kakinya.
"Ya ampun, Areta kamu berdarah. Aku panggil ambulance ya." Panik Andrias melihat darah segar mengalir, lelaki itu segera mengambil gawainya untuk menelepon ambulance.
Wajah Areta kian pias hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri di pelukan Andrias sebelum ambulance datang.
"Areta!!! Bangun Areta!!"
__ADS_1