Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 37


__ADS_3

"Jadi Areta beneran pacaran sama lelaki itu?" tanya Andrias pada adik perempuannya.


Zevanya tersenyum miring mendengar pertanyaan dari kakaknya, "Dari yang aku lihat sih gitu, Mas. Mana mesra banget lagi, padahal di tempat umum."


"Sudahlah, biarin aja Areta mau pacaran sama siapa juga. Kamu kalau udah nggak diterima sama Areta ya tinggal cari perempuan lain aja," sahut bu Lastri yang baru saja masuk ke kamar itu.


"iya Ibu benar, tapi siapa perempuannya, Bu?" tanya Andrias pada ibunya.


"Perempuan yang kepergok Areta jalan sama kamu di mall waktu itu siapa namanya?" Bu Lastri teringat sosok perempuan yang membuat Areta menggugat cerai putranya.


Andrias tersenyum mengingat sosok gadis berkulit hitam manis itu, "Namanya Wulan, Bu. Dia karyawan baru di kantor Andrias."


"Kenapa kamu nggak dekati dia aja, tapi kalau kamu mau dekati dia sebaiknya kamu hilangkan dulu kebiasaan mabukmu itu," ucap bu Lastri memberi saran untuk putranya.


"Maksud Ibu apa?" tanya Andrias dengan kedua alis bertaut.


"Kamu lihat sendiri kan sekarang, Areta yang sabarnya seperti malaikat saja meninggalkan kamu. Apalagi orang lain, pasti nggak akan mau kalau tahu kebiasaan burukmu itu," ujar bu Lastri ketus.


"Halah ... malas lah, Bu kalau harus berubah gitu. Andrias juga perlu bersenang-senang, lagian harusnya Ibu seneng kan kalau Andrias jomblo. Jatah bulanan Ibu makin banyak," balas Andrias merebahkan tubuhnya di kasur.


Bu lastri segera menarik tangan Zevanya untuk keluar dari kamar itu, menatap wajah Zevanya yang tampak lebih berseri dari biasanya membuat jiwa kepo bu Lastri meronta.


"Kamu kayaknya lagi seneng banget, ada apa?" tanya bu Lastri pada putrinya.


"Ya seneng lah, Bu. Ibu lihat kan tadi aku diantar pulang sama siapa. Sama Devan, dan itu artinya aku punya tambang uang lagi, Bu. Nggak perlu bingung sekolah naik apa juga karena udah pasti setiap hari akan diantar jemput sama Devan," ucap Zevanya dengan bangga.


Bu Lastri terduduk di lantai, menyesali sikapnya yang telah salah mendidik Zevanya dan Andrias. Zevanya mengernyit melihat raut kesedihan di wajah sang ibu.


"Ibu kenapa kelihatan sedih gitu? Ibu nggak suka aku pacaran sama Devan lagi? Bukannya waktu itu Ibu sendiri yang nyuruh aku balikan sama dia," oceh Zevanya yang kini ikut duduk di samping bu Lastri.

__ADS_1


"Maafkan Ibu, Vanya. Ibu sudah salah mendidik kamu dan Andrias. Kondisi kita sekarang membuat ibu sadar, ibu juga punya dosa besar karena sudah semena-mena sama Areta dulu," sesal bu Lastru mengenang masa lalunya.


"Aduh Ibu, udah deh nggak usah ngadi-ngadi. Zevanya mau mandi terus jalan sama Devan," balas Zevanya berlalu ke kamar mandi.


Bu Lastri termenung, menyesali apa yang telah ia lakukan pada mantan menantunya.


"Lebih baik aku ke rumah Areta untuk minta maaf sekalian ketemu cucuku, dulu meskipun aku jahat tapi Areta selalu perhatian padaku. Sekarang setelah nggak ada Areta, udah nggak ada lagi yang perhatian sama aku," monolog bu Lastri yang segera mengambil tas dan dompetnya di kamar.


Wanita paruh baya itu pergi diam-diam tanpa pamit pada kedua anaknya. Bu Lastri memutuskan untuk pergi ke rumah Areta dengan naik angkot agar bisa menghemat ongkos. Menjelang maghribh, barulah wanita paruh baya itu tiba di rumah mantan menantunya.


Perlahan bu Lastri mengetuk pintu rumah Areta hingga beberapa saat kemudian, mantan menantunya muncul dari balik pintu dengan ekspresi terkejut yang tak bisa ia sembunyikan.


"I ... Ibu ada apa ke sini?" tanya Areta yang masih kaget dengan kedatangan mantan ibu mertuanya itu.


"Boleh ibu masuk, Nak?" balas bu Lastri dengan wajah sendunya. Penampilannya kini lebih sederhana, rambut yang mulai memutih ia biarkan begitu saja. Tak lagi di cat dengan warna merah menyala seperti dulu.


"Mari masuk, Bu. Udah mau maghribh." Areta menggandeng tangan bu Lastri dan mendudukannya di sofa lalu Areta menuju ke dapur dan kembali dengan dua cangkir teh hangat serta toples berisi cemilan.


"Areta, ibu mau minta maaf," ujar bu Lastri tanpa berani menatap wajah Areta.


"Minta maaf untuk apa, Bu?" tanya Areta yang masih bingung.


obrolan itu terjeda karena Bian menangis kencang, Areta segera ke kamar untuk memberikan Bian susu. Tanpa disangka bu Lastri menyusul ke dalam kamar Areta.


"Boleh ibu gendong Bian, Nak?" pinta bu Lastri memandang cucunya dengan sayang.


"Oh, boleh Bu." Areta memberikan Bian pada neneknya, dan ajaib. Kali ini Bian tersenyum di gendongan bu Lastri.


"Hallo sayang, cucu nenek sekarang udah gede ya. Udah pinter, ganteng lagi."

__ADS_1


"Bu, Biannya taruh di stroller aja dulu. Kita makan sama-sama, tadi Areta masak sayur sop, perkedel sama ayam goreng," ajak Areta pada mertuanya. Bu lastri mengangguk kemudian mereka beriringan menuju ke meja makan.


Seperti dulu saat masih tinggal di rumah ini, keduanya makan dalam keadaan hening. Hanya suara dentingan sendok garpu beradu dengan piring ditambah dengan suara ocehan Bian yang sesekali terdengar. Namun ada yang berbeda kali ini, usai makan bu Lastri membantu Areta untuk membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor.


"Masakan kamu enak sekali Areta, Ibu suka," puji bu Lastri setelah mereka kembali duduk di sofa.


"Alhamdulillah kalau Ibu suka, masih ada kok. Nanti ibu bawa pulang ya," tawar Areta, bu Lastri mengangguk dengan senang hati.


"Tapi ini udah malem, atau ibu nginep di sini aja ya. Biar Areta telepon Andrias, pasti dia khawatir kalau ibu nggak pulang nanti," tambah Areta sedikit bingung.


"Kamu salah Areta, anak-anak Ibu tidak akan peduli meski Ibu nggak pulang sekalipun. Kamu nggak usah khawatir, nanti biar Ibu naik ojek online aja," balas bu Lastri yang sedang asyik bermain bersama Bian yang berada di pangkuannya.


Kedua wanita beda generasi itu asyik mengobrol sembari bermain dengan Bian yang kini sudah mulai aktif, hingga tiba-tiba terdengar suara pintu rumah Areta yang diketuk oleh seseorang.


"Nah, itu pasti Andrias yang datang nyariin Ibu. Biar Areta bukain dulu pintunya." Areta segera bergegas menuju ke depan disusul bu Lastri yang memgekor di belakang sembari menggendong Bian.


Alis Areta bertaut karena rmternyata bukan andrias yang berdiri di depan pintu, melainkan Rivan dengan membawa beberapa box makanan.


"Mas Rivan, ada apa?" tanya Areta pada lelaki di hadapannya.


"Saya cuma mau ngasih ini buat kamu makan malam," balas Rivan mengulurkan kantong kresek di tangannya.


"Terima kasih." Areta tersenyum tipis menerima bingkisan makanan dari Rivan.


Lelaki itu sedikit terkejut melihat keberadaan bu Lastri di sana.


"Eh lagi ada tamu ternyata, kalau gitu saya permisi dulu. Takut ganggu," pamit Rivan setelah menyalami tangan bu Lastri.


Areta hanya mengangguk, membiarkan Rivan kembali masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu kembali menutup pintu rumahnya setelah mobil Rivan keluar dari pekarangan rumahnya.

__ADS_1


"Areta ...."


__ADS_2