Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 15.


__ADS_3

Suara gebrakan meja yang dibuat oleh Andrias membuat ketiga wanita itu mengatupkan bibir mereka.


"Zevanya dan ibu sudah lupa dengan janji kalian, hah? Areta lagi hamil besar dan harus istirahat total." Bentak Andrias pada ibu dan adiknya.


"I...iya, Mas. Biar Zevanya yang beresin." Ucap Zevanya terbata kemudian memulai untuk membereskan bekas makan mereka.


"Areta, aku mau istirahat bentar di kamar. Kamu mau ikut?" Tawar Andrias yang mulai merasakan kepalanya berdenyut.


"Nggak, Mas." Jawab Areta singkat kemudian sang suami berlalu ke kamarnya.


Bu Lastri menatap nyalang Areta, membuat wanita itu merasa tak nyaman.


"Ada apa ya, Bu?" Tanya Areta pada mertuanya.


"Mentang-mentang saya numpang di rumah kamu, bukan berarti kamu bisa seenaknya ya sama saya dan anak saya." Ketus bu Lastri membuat Areta memutar bola matanya kesal.


Praank!!!


"Ibuuu!!!" Terdengar suara piring yang terjatuh ke lantai diiringi suara pekikan Zevanya.


"Awas kamu kalau sampai anak saya kenapa-kenapa!!" Ancam bu Lastri, wanita paruh baya itu tergopoh berlari ke arah dapur. Areta dengan malas mengekor di belakang ibu mertuanya.


"Zevanya, kenapa bisa berantakan begini?" Tanya Areta dengan kedua alis bertaut saat melihat pecahan piring berserakan di lantai.


"Piringnya licin, Mbak. Jadi jatuh pas Vanya pegang." Bohong Zevanya yang sebenarnya dengan sengaja menjatuhkan piring tersebut.


"Sekarang kamu ambil sapu sama pengki. Bersihkan ini semua." Titah Areta pada adik iparnya.


"Enak aja, bisa terluka kaki anak saya nanti. Kamu aja yang bersihkan sendiri!! Ayo Vanya, kita ke kamar!" Ujar bu Lastri dengan nada tinggi, wanita itu segera menggandeng putrinya untuk meninggalkan Areta yang hanya bisa geleng-geleng kepala karena kelakuan mereka.


Demgan hati-hati Areta membersihkan pecahan piring itu kemudian melanjutkan untuk mencuci piring yang telah ditinggalkan oleh Zevanya tadi.


Sejenak pikiran Areta berkelana, apa yang akan terjadi setelah kehadiran mertua dan adik iparnya di rumah ini.


"Mbakkk!!!" Suara panggilan Zevanya menyadarkan Areta dari lamunan dan dengan reflek menoleh.


Dahi Areta berkerut melihat penampilan adik iparnya, atasan crop top warna putih yang memperlihatkan pusarnya dipadu dengan rok mini warna hitam. Tak lupa make up tebal yang terpoles sempurna di wajah gadis belasan tahun itu.


"Mau kemana kamu?" Tanya Areta setelah memindai penampilan adik iparnyanya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Mau jalan sama temen, pinjem kunci motor sama minta uang jajan donk." Pinta gadis itu dengan menengadahkan telapak tangannya.


"Kunci ada di kamar, Mbak juga lagi nggak pegang uang cash. Kamu minta aja sama Mas Andrias sekalian ambil kunci motor." Titah Areta pada Zevanya.


Areta pikir gadis remaja itu tak akan berani menemui kakaknya dengan penampilan seprti itu, namun Areta salah. Dengan santainya Zevanya berjalan melenggak-lenggokan pinggulnya menuju kamar tempat Andrias sedang beristirahat. Areta mendengus kemudian menuju sofa untuk beristirahat.


Tanpa terduga, Zevanya keluar dari kamar Andrias dengan memainkan kunci sepeda motor di jari tangan kirinya dan selembar uang merah di tangan kanannya.


"Mbak Areta, aku pinjem kunci motor Mbak dulu ya." Ucap Zevanya memandang Areta dengan tatapan remeh.


"Kamu naik motor dengan pakaian seperti itu, nggak mau pake jaket? Nggak malu tubuhmu ditonton banyak orang?" Sindir Areta pada adik iparnya.


"Ya malah bagus donk, Mbak. Vanya capek-capek dandan gini kan biar jadi perhatian orang. Biar orang tau kalau Vanya ini cantik dan modis." Ujar Zevanya sembari mengeluarkan sepeda motor kakak iparnya. Areta menuju kamarnya, tak ingin lagi menanggapi ucapan Zevanya.


...****************...


"Mas!!" Panggil Areta pada sang suami yang sepertinya baru saja bangun dari tidur siangnya.


"Iya, ada apa Areta?" Tanya Andrias sembari merenggangkan otot tubuhnya.


"Kok kamu kasih uang sama kunci motor ke Zevanya?" Balas Areta sembari memonyongkan bibirnya.


"Tapi kamu nasehatin dia juga donk, Mas. Pakai pakaian jangan terlalu seksi gitu. Mana nggak pakai jaket lagi, auratnya ditonton banyak orang di jalan." Ujar Areta mengeluarkan unek-uneknya.


"Namanya juga ABG (Anak Baru Gede), ya wajar donk kalau suka pakai pakaian yang modis seperti itu. Nanti kalau udah punya suami juga pakai pakaian tertutup kayak kamu." Bela Andrias membuat Areta mulai kesal.


"Terserahlah, aku mau masak buat makan malam nanti." Ketus Areta menyeret langkah kakinya untuk kembali ke dapur.


Wanita itu mengambil beberapa bahan, ia memutuskan untuk memasak sop jagung, ayam lada hitam dan tumis bayam. Hari telah sore saat Areta selesai dengan urusannya di dapur, wanita itu teringat dengan nominal seratus juta yang diberikan bosnya sebagai pesangon dan biaya lahiran.


"Sebaiknya aku simpan aja uang itu, Mas Andrias nggak perlu tahu dulu." Gunam Areta pada dirinya sendiri kemudian beranjak ke kamar untuk mandi dan beristirahat sejenak.


Di dalam kamar, nampak Andrias yang kembali terlelap. Wanita itu tak berniat membangunkan suaminya. Dengan segera ia membersihkan diri kemudian merebahkan diri di samping sang suami setelah melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu. Wanita itu baru terbangun dari tidurnya saat kumandang adzan maghribh sayup-sayup terdengar di telinganya. Areta membuka matanya perlahan, nampak Andrias yang belum juga bangun dari tidurnya.


"Mas, bangun. Udah maghribh ini." Kata Areta mengguncang bahu suaminya.


"Ehm... Iya, Mas bangun." Ujar Andrias mengucek kedua matanya. Areta bergegas ke kamar mandi kemudian menunaikan kewajiban tiga rokaatnya.


Usai membersihkan diri dan sholat maghribh, keduanya keluar dari kamar untuk makan malam bersama dengan bu lastri.

__ADS_1


"Bagus ya, tidur mulu. Ibu sampai kelaparan nungguin kalian bangun." Ketus bu Lastri yang sedang memainkan gawainya di ruang tengah.


"Maaf, Bu. Tadi kami sholat dulu." Jaab Areta lembut, namun tak mendapat tanggapan dari bu Lastri.


Ketiganya menuju ke meja makan dan menikmati makan malam mereka dalam keadaan hening seperti biasa.


"Areta, besok ibu mau dimasakin sup iga sapi donk." Pinta bu Lastri pada menantunya.


"Iya, besok Areta masakin buat ibu." Balas Areta dengan sebuah senyuman.


"Zevanya pulang jam berapa nanti, Bu?" Tanya Andrias pada sang ibu sementara Areta membereskan bekas makan mereka.


"Ah itu, nanti juga pulang kok. Dia jalan juga sama Devan, pasti amanlah." Jawab bu Lastri sedikit kikuk.


"Bilangin sama Vanya, Bu. Jangan terlalu terbuka pakaiannya." Timpal Areta yang baru saja selesai mencuci piring.


"Aduh Areta, kamu itu kuno sekali sih. Itu kan modis namanya." Balas bu Lastri ketus.


Mereka terus mengobrol hingga pukul sembilan malam baru memutuskan untuk beristirahat ke kamar masing-masing.


"Kok Zevanya udah malam gini belum pulang juga ya, Mas?" Ucap Areta pada sang suami yang merebahkan diri di sampingnya.


"Udah biarin aja, sekarang kita tidur dulu ya. Udah malam, kamu harus istirahat." Balas Andrias sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Areta.


...****************...


Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, Zevanya baru saja melepaskan pelukan seorang pria.


"Aku pulang dulu ya sayang, udah malam nih." Pamit Zevanya pada lelaki itu.


"Iya, kamu pulangnya hati-hati ya. Ini buat jajan kamu." Balas lelaki itu mengulurkan sepuluh lembar ratusan ribu.


"Wah banyak banget, makasih ya." Ujar Zevanya mengecup pipi lelaki itu sebelum berlalu pergi.


Zevanya melajukan sepeda motornya untuk pulang ke rumah. Saat sampai di depan pagar, dengan sengaja gadis itu mematikan mesin sepeda motor dan menuntunnya. Perlahan Zevanya mulai membuka pintu rumah yang tak terkunci.


"Udah gelap, berarti aman nih udah pada tidur." Gunam Zevanya sembari menutup kembali pintu rumah dan menguncinya.


Taakkk!

__ADS_1


Byaaarrrr! Tiba tiba lampu menyala.


__ADS_2