
Bola mata Areta bergerak ke kanan dan ke kiri secara teratur saat membaca isi kertas tersebut. Wanita itu mengelengkan kepalanya karena nyaris tak percaya dengan tulisan yang tertera di sana.
"Bill karaoke The One? Lima juta rupiah, atas nama Andrias? Jadi semalam dia karaokean terus mabuk, tapi ini tagihannya kenapa bisa banyak banget. Sedangkan pegangan dia cuma lima ratus ribu buat sebulan, ada yang nggak beres ini kayaknya." Monolog Areta pada dirinya sendiri setelah membaca kertas pertama kemudian berlanjut pada kertas kedua.
"Hah? Slip gaji mas Andrias bulan ini? Manager keuangan, sepuluh juta rupiah. Jadi selama ini diam-diam dia naik jabatan dan naik gaji. Keterlaluan!!!" Geram Areta hampir saja merobek kertas yang berada di tangannya namun urung ia lakukan.
"Ternyata kamu memang nggak bisa dipercaya dan nggak berubah, tega sama anak istri. Cuma mentingin kesenangan kamu sendiri. Awas kamu, Mas." Gunam Areta sembari memasukan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci kemudian menyapu dan mengepel lantai rumahnya agar pekerjaannya lebih cepat selesai.
"Ini rumahku, mereka yang numpang tapi kenapa malah aku yang jadi seperti pembantu di sini. Bersihin rumah, mana ini nyuciin baju mereka juga." Areta terus mengoceh sambil mengepel lantai sampai terdengar bunyi mesin cuci yang telah berhenti berputar.
Dengan langkah lebar wanita itu menuju ke tempat mesin cuci berada kemudian menjemur pakaian yang telah selesai di cuci satu persatu.
"Alhamdulillah selesai juga." Ucap Areta setelah semua pekerjaan rumahnya selesai.
"Oeeekkk.... Oeeekkk....." Baru saja wanita itu ingin beristirahat sejenak, namun babby Bian kembali menangis. Areta segera melangkah lebar ke kamarnya, ternyata popok dan baju bayinya basah hingga membuat malaikat mungil itu merasa tak nyaman dan terbangun dari tidur siangnya.
"Ya ampun, anak mama pipisnya banyak banget sampai basah semua begini. Ganti baju sama popok dulu ya sayang biar nggak masuk angin." Cicit Areta seolah mengajak berbicara babby Bian yang sejatinya belum mengerti hal apapun.
Setelah selesai menggantikan baju dan popok yang Bian kenakan, Areta membawa bayinya untuk duduk di teras menikmati udara siang itu yang tak terlalu panas namun cenderung sejuk. Sampai sebuah sepeda motor matic yang dikendarai oleh sahabatnya berhenti tepat di depannya.
"Hallo sayangnya Onty Raisya." Sorak Raisya cukup keras hingga membuat Bian kembali menangis karena kaget.
Taakk!
"Aww, sakit Areta. Main sentil aja." Jerit Raisya karena dahinya disentil cukup keras oleh sahabatnya.
"Lagian kamu udah tua juga teriak-teriak kenceng banget, kan jadi nangis ini si Bian. Mau nyaingin bu Lastri yang suka teriak kenceng-kenceng. Untung suaramu nggak cempreng." Kesal Areta yang sedang menimang bayinya agar berhenti menangis namun tak kunjung berhasil.
__ADS_1
"Iya, maaf-maaf. Nih, aku bawain makanan buat kamu. Nasi padang lauk rendang plus ayam goreng." Ucap Raisya menunjukan sebuah kantong kresek yang dibawa olehnya.
"Pas banget aku lagi laper. Tapi gimana makannya, Raisya. Ini Bian masih nangis begini gara-gara kamu." Keluh Areta yang memang sudah merasakan lapar.
"Biar aku yang gendong babbynya, kamu makan aja ya. Ayo masuk." Ujar Raisya memberikan solusi yang lansung disetujui oleh sahabatnya.
Areta dapat menikmati makanannya dengan tenang, sedangkan Bian telah tertidur di dalam gendongan Raisya.
"Ta, Bian udah bobok. Boleh aku taruh di box bayi nggak?" Izin Raisya pada sahabatnya yang tengah asyik menguyah.
"Boleh donk Raisya, makasih ya." Balas Areta dengan mulut penuh makanan.
Raisya melangkahkan kakinya ke kamar Areta dan segera kembali setelah memastikan Bian benar-benar telah tertidur pulas. Saat sampai di ruang makan, nampak Areta yang baru saja selesai mencuci piring bekas makannya. Raisya tersenyum kemudian mendekat ke arah sahabatnya itu.
"Gimana? Enak nggak makanannya?" Basa-basi Raisya pada Areta.
"Enak banget, makasih ya. Kamu lebih perhatian sama aku dibanding mas Andrias yang suami aku sendiri." Puji Areta tersenyum ke arah Raisya.
"Dih.... Aku masih normal Raisya, belum gesrek kayak Zevanya yang mau sama om-om macam pak Rivan." Elak Areta memonyongkan bibirnya.
"Becanda Areta, oh ya ngomong-ngomong soal Zevanya. Aku baru inget kok dari tadi aku nggak lihat ada mertuamu di rumah ini. Kemana dia?" Tanya Raisya celingukan seperti mencari seseorang.
"Orangnya lagi arisan, sekarang mas Andrias cuma kasih aku jatah bulanan lima ratus ribu buat beli pampers dan susu. Sisanya dikasih ke bu Lastri dengan alasan buat belanja keperlusn sehari-hari." Cerocos Areta menceritakan kelakuan Andrias pada Raisya.
"Nah kan, apa aku bilang. Suamimu nggak bisa benar-benar berubah intuk memprioritaskan anak dan istrinya, kamu harus tegas Areta. Inilah alasanku yang dari dulu nggak mau kalau sampai kamu berhenti kerja." Balas Raisya geleng-geleng kepala melihat nasib sahabatnya itu.
"Dan, satu lagi. Coba kamu baca ini!" Titah Areta memberikan kertas yang tadi ia temukan di saku celana suaminya.
__ADS_1
"Hah? Ini beneran Areta? Andrias ternyata udah naik jabatan jadi manager keuangan dengan gaji sepuluh juta tapi ngakunya cuma dapet gaji tiga juta dan karyawan biasa?" Kaget Raisya setelah membaca kertas tersebut.
"Iya, tega banget dia sama anak istrinya sendiri. Mana duit sebanyak itu malah dipakai mabok sama karaokean lagi." Kesal Areta yang mengambil kembali kertas itu dari tangan Raisya.
"Kamu harus pintar Areta, bikin dia pakai uang itu buat kepentingan kamu dan Bian." Saran Raisya menatap sahabatnya itu dengan pandangan serius.
"Haduh Raisya, gimana caranya? Kamu tahu sendiri kan dia itu pelitnya minta ampun kalau soal duit, sampai masalah jabatan dan gaji aja dia bohongin aku." Balas areta membuang napasnya kasar, Raisya kemudian mendekat dan membisikan suatu rencana pada sahabatnya itu.
"Gimana? Kamu setuju kan?" Tanya Raisya setelah selesai membisikan sebuah rencana yang sempurna menurut wanita itu.
"Aku akan coba, tapi aku nggak yakin kalau ini akan berhasil." Balas Areta pesimis.
"Pasti berhasil, Areta. Kamu harus optomis donk, kamu harus ikuti cara suamimu yang licik itu." Raisya terus berusaha untuk memberikan semangat pada sahabatnya itu.
"Iya Raisya, terima kasih ya. Aku beruntung banget punya sahabat seperti kamu." Ucap Areta tulus.
"Kalau gitu aku pamit balik ke kantor dulu ya, jam istirahat udah mau habis nih." Pamit Raisya, Areta mengantarkan sahabatnya itu sampai di depan pintu kemudian kembali masuk ke rumah setelah punggung Raisya menjauh dari pandangan matanya.
Areta termenung di ruang tamu untuk beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti rencana dari Raisya. Masalah berhasil atau tidak, itu urusan nanti.
'Orang licik memang harus dibalas licik.' Batin Areta dalam hati kemudian meremas kertas di tangannya dan melemparkannya ke tempat sampah. Batinnya bergejolak, ingin pergi dari Andrias. Namun sisi lainnya ingin tinggal karena selama ini Andrias tak pernah selingkuh ataupun melakukan kekerasan fisik padanya. Apalagi kini ada Bian di antara mereka berdua. Wanita itu tak mau egois untuk memilih berpisah dan membiarkan Bian tumbuh tanpa figur seorang ayah.
Ceklekk!
Pintu yang dibuka dari luar berhasil menyadarkan Areta dari lamunannya, bu Lastri datang dengan wajah kesal dan keringat yang mengucur deras dari dahinya. Dengan langkah lebar, wanita paruh baya itu menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum dan menenggaknya hingga tandas.
Cukup lama bu Lastri berada di dapur hinga tetdengar suara langah kaki mendekat ke arah Areta, namun tak dipedulikannya
__ADS_1
"Aretaa!!" Teriak bu Lastri memanggil nama menantunya.
Areta membuang napas kasar kemudian mengalihkan pandangan pada mertuanya itu.