
Areta tengah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Raisya, wanita itu tak henti menyeka air mata yang menganak sungai sembari menatap Bian terlelap di pangkuannya.
"Areta, kamu baik-baik saja?" tanya Raisya mengalihkan pandangan untuk menatap sahabatnya.
Areta membalas tatapan Raisya keemudian tersenyum. "Aku nggak apa-apa, langsung ke rumahku ya. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan hari ini juga."
"Areta, apa kamu tidak ingin mendengar penjelasan dari Andrias terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan? Kalian punya Bian!" Ucap Raisya dengan pandangan fokus menatap jalanan di depannya.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan oleh Andrias, jelas-jelas dia tidak membela diri ketika wanita itu mengatakan jika Andrias mengaku masih single. Kamu tahu itu apa artinya?" balas Areta menatap Raisya dengan pandangan serius.
Raisya hanya menggelengkan kepalanya perlahan karena tak mengerti apa maksut sahabatnya itu.
"Itu artinya dia mengakui semua yang diucapkan wanita tadi, Andrias tidak pernah menganggap aku dan Bian itu ada," tegas Areta kemudian.
Tak ada lagi percakapan di antara kedua wanita itu, Raisya fokus mengemudikan mobilnya sedangkan Areta larut dalam kesedihannya. Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di halaman rumah Areta.
"Ra, tolong bantuin dorong stroler babby twins ya, "Pinta Areta pada sahabatnya. Raisya dengan sigap melakukan apa yang diminta oleh Areta.
Wanita itu memasuki rumah dengan dengan aura dingin yang menusuk, menghampiri bu Lastri dan Zevanya yang tengah asyik menonton sinetron drama ikan terbang disusul Raisya yang mendorong stroler Bian di belakangnya.
"Aduh, habis pulang pacaran kok wajahnya cemberut gitu?" Ejek Zevanya menatap kakak iparnya dengan pandangan remeh.
Areta mendekat ke arah keduanya dan tersenyum miring. "Silahkan kemasi barang-barang kalian lalu pergi dari rumah ini."
Bu Lastri dan Zevanya saling pandang mendengar ucapan Areta yang pelan namun penuh penekanan. Dengan segera bu Lastri berdiri dan berkacak pinggang membalas tatapan sengit dari menantunya.
"Berani kamu ngusir saya? Awas ya, saya akan aduin kelakuan kamu ini sama Andrias," Ancam bu Lastri dengan percaya diri.
"Oh, Ibu tidak perlu khawatir. Andrias pasti sudah tahu semuanya, karena Andrias juga akan ikut kalian untuk pergi dari rumah ini," balas Areta santai.
__ADS_1
Bu Lastri dan Zevanya semakin terkejut dengan apa yang terlontar dari mulut Areta. Tanda tanya besar bersarang di pikiran sepasang ibu dan anak itu.
"Sebaiknya kalian segera bereskan barang kalian, atau saya yang akan lempar barang-barang kalian keluar dari rumah ini," Ancam Raisya pada keduanya.
Zevanya segera menggandeng tangan bu Lastri menuju ke kamar.
"Aduh Vanya, kok kamu malah narik Ibu ke sini sih," Keluh bu Lastri yang tak terima dengan perlakuan anaknya.
Zevanya menghela napas panjang kemudian menatap sang ibu dengan pandangan tajam, "sebaiknya kita ikuti dulu aja perintah mbak Areta sembari nunggu mas Andrias datang, Bu. Percuma kalau kita ngelawan dua mak lampir itu."
Bu Lastri menurut, mereka berdua segera memasukan barang-barang mereka ke dalam koper. Bersamaan dengan selesainya pekerjaan mereka, terdengar suara motor Andrias berhenti di depan rumah.
"Nah, itu mas Andrias. Ayo kita keluar, Bu." Sorak Zevanya menggandeng tangan bu Lastri keluar dari kamar itu dengan menggeret koper mereka.
"Lhoh, kok kalian bawa koper. Mau pergi ke mana?" tanya Andrias menatap keduanya dengan alis bertaut.
"Apa?"
"Ya, apa yang mereka katakan itu benar. Termasuk kamu juga harus pergi dari rumah ini, Andrias!" Sahut Areta melemparkan koper berisi barang-barang milik Andrias.
"Silahkan pergi sekarang, barang-barang kamu semuanya sudah ada di dalam koper itu," Tambahnya kemudian.
"Apa-apaan ini, Areta? Bercandamu nggak lucu!" Bentak Andrias menggoyangkan kedua bahu istrinya.
"Lepaskan tangan kotormu itu dari tubuhku." Maki Areta menghempaskan tangan lelaki yang masih berstatus suaminya.
"Asal kamu tahu, Andrias. Dari awal aku selalu bilang, aku bisa menerima semua kekuranganmu. Tapi aku tidak akan bisa memaafkan yang namanya perselingkuhan," Tutur Areta membuat Zevanya dan bu Lastri terkejut.
"Nggak mungkin Andrias selingkuh, pasti kamu sendiri yang selingkuh dan memfitnah anak saya," bela bu Lastri.
__ADS_1
Areta tertawa sumbang mendengar ucapan ibu mertuanya yang mungkin akan segera berubah menjadi mantan ibu mertua, "silahkan Ibu tanya pada anak Ibu sendiri kebenarannya."
"Aku memang dekat dengan Wulan, tapi itu baru beberapa hari ini dan kami juga belum menjalin hubungan spesial," cicit Andrias berusaha membela diri.
"Belum? Jadi kamu ada rencana menjalin hubungan spesial dengannya? Pantas aja kamu sampai nggak ngakuin keberadaan aku sama Bian." Balas Areta kemudian tersenyum kecut.
"Baiklah, aku ngaku salah. Tapi tolong kasih aku kesempatan kedua, Areta. Aku janji akan berubah, aku juga janji nggak akan coba-coba selingkuh lagi." mohon Andrias menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Maaf dan kesempatan kedua kamu bilang? Sudah ratusan kesempatan yang aku berikan ke kamu tapi kamu tidak pernah berubah, aku lelah! Sebaiknya kalian segera pergi dari rumah ini dan aku akan segera urus surat perceraian kita," pungkas Areta yang tak bisa lagi merubah keputusannya.
"Kalau memang itu maumu, aku akan pergi. Tapi aku akan bawa Bian karena dia anakku!" Ucapan Andrias membuat Areta tertawa terbahak.
"Apa kamu bilang? Anakmu? Apa aku nggak salah dengar, sembilan bulan aku mengandungnya. Apa pernah kamu perhatian sama dia? Bahkan pedulipun tidak," Areta menjeda kalimatnya agar emosinya tak semakin memuncak.
"Dan lagi, setelah dia lahir. Apa pernah sekali saja kamu bantu aku ngurusin dia? Nggak pernah, aku sendirian begadang ngurusin dia dan kamu hanya bisa menghina penampilanku," Teriak Areta tak mampu lagi menahan emosinya. Air mata telah membasahi kedua pipi mulusnya.
"Sebaiknya kalian pergi sekarang, kalian sudah terlalu sering melukai perasaan Areta," Ujar Raisya menatap tajam Andrias.
"Kamu jangan ikut campur, kamu cuma orang lain." Balas Andrias menatap Raisya dengan pandangan sengit.
Raisya mendengus kesal. "Cepat pergi atau aku panggil polisi buat usir kalian bertiga!"
Ucapan Raisya berhasil membuat nyali Andrias menciut, "kami akan pergi, tapi aku akan selalu datang ke sini untuk menemui anakku."
"Kamu bebas menemui anakku kapan saja, tapi tidak untuk membawanya pergi. Karena sampai matipun aku nggak akan izinkan, "ucap Areta lantang sebelum Andrias keluar dari rumah itu.
Lelaki itu menoleh dan menganggukan kepalanya perlahan, kemudian melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah itu. Areta berjalan ke arah pintu dan menguncinya rapat-rapat. Tiba-tiba tubuh wanita itu luruh ke lantai hingga pandangannya menggelap dan tak sadarkan diri.
"Aretaa!!" Raisya berlari menghampiri tubuh sahabatnya yang telah tergeletak di lantai.
__ADS_1