Bukan Wanita Bodoh

Bukan Wanita Bodoh
Bab 7.


__ADS_3

Areta menangis tanpa suara sembari memeluk tubuh Raisya yang sedang memboncengnya.


"Areta, kamu nangis?" Tanya Raisya yang masih fokus melajukan sepeda motornya. Hening, tak ada jawaban namun Raisya merasakan baju bagian belakangnya basah karena air mata Areta. Tanpa terasa mereka telah sampai di kantor, Areta dengan buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya. Raisya mendengus kesal kemudian menoleh ke arah sahabatnya.


"Apa lagi yang dilakuin sama suami sialanmu itu?" Tanya Raisya berkacak pinggang di depan Areta.


"Udah telat, kita ada meeting. Ceritanya ntar pulang kerja aja sekalian anterin aku ke dokter kandungan ya." Ujar Areta dengan wajah sembabnya, Raisya hanya mengangguk kemudian keduanya segera masuk ke gedung perkantoran itu.


...****************...


Andrias mengacak rambutnya frustasi, menyesali kebodohan yang telah ia lakukan semalam.


"Sial, kenapa bisa sampe teler segala sih. Bodoh banget gue." Maki Andrias pada dirinya sendiri. Lelaki itu segera membersihkan bekas muntahannya sendiri lalu bergegas mandi karena harus pergi ke kantor.


Tiiinnn.... Tiiinnn..... Tiinnn.....


Terdengar bunyi klakson panjang sepeda motor di depan rumahnya, membuat Andrias melangkah lebar ke arah pintu karena mengira Aretalah yang kembali pulang ke rumah.


Cekleeekkk.....


Seketika Andrias kecewa karena ternyata bukan Areta yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ngapain elu pagi-pagi ke sini?" Ketus Andrias pada sahabatnya.


"Yaelah galak amat, Bro. Gue kesini mau ajakin elu berangkat kerja bareng sekalian anterin sepeda motor yang kemarin ditinggal di kontrakan gue." Jelas Samsul membuat Andrias makin kesal.


"Jadi elu yang nganterin gue pulang semalem?" Tanya Andrias dengan mata molotot ke arah Samsul.


"Ya gue lah, emang elu pikir siapa? Mau elu dianterin pulang sama Viola?" Jawab Samsul mulai kesal.


"Eh Samsul, harusnya elu nggak usah anterin gue pulang. Jadi perang gue sama Areta gara-gara ketahuan mabok." Bentak Andrias membuat sahabatnya menggaruk kepala yang tak gatal.


"Yaudah maaf-maaf. Yok, berangkat ke kantor, bisa telat ntar." Ajak Samsul yang diangguki oleh Andrias.

__ADS_1


Kring.... Kring.... Kring....


Andrias mengurungkan niatnya untuk naik ke boncengan Samsul. Dahinya berkerut saat mengetahui siapa si penelepon.


"Hallo!" Sapa Andrias pada si penelepon.


"Hallo Andrias hari ini kamu nggak ada lembur kan? Ibu mau bicara penting sama kamu dan Areta." Tanya Bu Lastri di ujung telepon.


"Nggak ada." Jawab Andrias singkat.


"Yaudah nanti sore Ibu sama Zevanya mau ke rumah kamu." Balas Bu Lastri kemudian memutuskan panggilan itu.


Andrias mendengus kesal kemudian naik ke boncengan Samsul.


...****************...


Jam pulang kerja telah tiba, Areta dan Raisya berboncengan ke tempat praktek dokter kandungan Areta. Beruntung sore itu tak terlalu banyak pasien yang datang sehingga mereka tak perlu menunggu lama.


"Ibu Areta Yuliana, silahkan masuk ke dalam ruangan." Titah seorang perawat memanggil nama Areta, wanita itu masuk dengan ditemani oleh Raisya.


"Nah, ini keliatan ya, Bu. Janinnya sehat tapi belum kelihatan jenis kelaminnya karena usia kandungan Ibu baru jalan dua belas minggu." Jelas sang dokter dengan mata fokus pada layar USG.


"Iya dok." Jawab Areta yang menyunggingkan senyum bahagia di bibirnya.


"Jangan terlalu lelah dan jangan stress ya, Bu. Nanti akan saya resepkan beberapa vitamin penguat kandungan." Pesan Dokter Miranda yang diangguki oleh Areta dengan seulas senyuman.


Setelah menebus vitamin untuk sahabatnya, Raisya kembali melajukan sepeda motornya.


"Mau langsung pulang apa kemana dulu nih?" Tanya Raisya menatap Areta dari spion sepeda motornya.


"Enak aja langsung pulang, ya cari makan dulu donk. Aku lagi nggak mau masak, males banget sama kelakuannya Mas Andrias." Balas Areta setengah berteriak karena kondisi jalanan yang bising oleh deru suara kendaraan bermotor. Raisya membalas dengan mengacungakan sebelah jempol tangannya. Tanpa meminta persetujuan Areta, wanita itu membelokan motornya ke sebuah depot sate ayam kesukaan mereka berdua.


"Wah.... Raisya emang terbaik, paling tahu apa yang aku mau." Celetuk Areta setelah turun dari boncengan motor Raisya. Kedua wanita itu memesan dua porsi sate lengkap dengan nasi dan es jeruk kemudian melahapnya tanpa bicara hingga semua isi piring berpindah ke dalam perut mereka.

__ADS_1


"Mau pulang sekarang apa nongkrong dulu disini?" Tanya Raisya sembari menyeruput es jeruk yang masih sisa setengah di gelasnya.


"Nongkrong dululah, Masih ngunyah ini." Balas Areta yang masih menikmati sisa sate di piringnya.


"Reta, kamu tadi pagi kenapa nangis?" Pertanyaan raisya membuat Areta berhenti mengunyah.


"Seperti yang kamu dengar tadi pagi, Mas Andrias pulang dianterin Samsul dalam keadaan mabuk berat. Padahal kemaren dia nolak nganterin aku ke dokter kandungan dengan alasan harus lembur di kantor." Jelas Areta kemudian kembali mengunyah sate miliknya.


"Bener-bener kurang ajar ya suami kamu Areta, kelakuan kayak gitu pake nyuruh kamu berhenti kerja segala. Mau dikasih makan apa anakmu nanti?" Kesal Raisya setelah mendengar cerita sahabatnya.


"Tapi kemaren aku udah berhasil mencoba jadi wanita kuat seperti yang kamu ajarin lho, Ra!" Ujar Areta sambil nyengir membuat kedua alis Raisya bertaut.


"Hah? Emang apa yang udah kamu lakuin?" Tanya Raisya penasara.


"Aku kemaren kesel banget sama Mas Andrias sampai nggak bisa tidur, yudah aku ambil air segayung terus keluar dari rumah dan aku siramin air itu ke Mas Andrias. Makanya pas kamu dateng tadi dia udah basah kuyup gitu." Terang Areta dengan wajah polosnya.


"Hahaha, awal yang bagus Areta. Itu baru sahabat aku yang pinter, jangan mau dibodohin sama Andrias terus. Kamu juga harus bisa tegas sama ibu mertua dan adik iparmu yang luar biasa itu." Tawa Raisya pecah setelah mendengar cerita dari Areta. Keduanya memutuskan untuk pulang setelah puas bercerita.


...****************...


Raisya melajukan motornya dengan kecepatan sedang sampai memasuki pekarangan rumah Areta, dahi Raisya berkerut kala matanya mendapati Andrias sedang duduk di teras bersama Bu Lastri dan Zevanya.


"Reta, Reta!! Itu mertuamu mau apalagi ke rumahmu?" Ujar Raisya membuat Areta memutar bola matanya jengah.


"Paling mau ikut makan malam kayak biasanya, bodo amat lah, Ra. Gue nggak masak dan juga nggak bawa makanan ini." Balas Areta datar. Raisya menghentikan motornya di dekat teras kemudian Areta turun dari boncengannya.


"Heh Areta!!! Bagus ya kamu jam segini baru pulang, habis keluyuran darimana aja hah? Suami udah pulang dari tadi kamu nggak ada, istri macam apa kamu ini??" Cerocos Bu Lastri dengan suara menggelegar dan jari telunjuk mengarah ke wajah Areta membuat Raisya buru-buru turun dari sepeda motornya.


"Bu, Areta itu baru aja pulang periksa dari dokter kandungan karena putra ibu ini nggak mau nganter istrinya ke dokter kandungan dengan alasan lembur, padahal kenyataannya malah mabok sampai teler." Bela Raisya pada sahabatnya, Bu Lastri hanya mencebikkan mulutnya menanggapi ucapan Raisya.


"Udah Ra, kamu pulang aja ya! Daripada ntar perang lagi." Titah Areta pada sahabatnya yang menurut untuk segera pergi dari rumahnya.


"Kamu boros banget sih, pake periksa kandungan ke dokter spesialis segala. Kan mahal, mending periksa ke puskesmas atau ke bidan aja biar nggak boros. Kasian Andrias harus kerja keras buat biaya periksa kandungan kamu." Ujar Bu Lastri menatap tajam Areta yang mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan tajam mertuanya.

__ADS_1


"Saya periksa kandungan pakai uang saya sendiri!!" Balas Areta dengan nada suara ditekan kemudian meninggalkan ketiga manusia di hadapannya itu.


"Areta, saya mau bicara penting!" Teriak Bu Lastri membuat langkah Areta terhenti.


__ADS_2