Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 10


__ADS_3

Rutinitas kembali seperti biasa. Rivan lebih fokus dengan kuliahnya. Dia benar-benar menjauhi Dino dan teman-temannya. Mereka seolah-olah seperti orang yang tidak kenal.


Tapi tidak dengan Clara. Clara melihat Rivan sangat berbeda. Dia sudah curiga ada terjadi sesuatu diantara Rivan dan Dino. Clara selalu berusaha mendekati Rivan tapi Rivan selalu menghindar.


"Rivan, Rivan tunggu! Aku mau bicara kepadamu." ucap Clara sambil berlari mengejar Rivan.


Rivan memperhatikan langkahnya, dia harus tegas kali ini.


"Clara maafkan aku, aku tidak bisa berteman denganmu lagi. Aku tau ini bukan salahmu. Tapi aku tidak mau ada hal-hal buruk terjadi kepada orang-orang yang ku sayangi. Jadi Aku mohon jauhi aku!"


"Apa yang Dino lakukan terhadapmu? Apa kamu terluka?" Clara cemas dia berpikir Dino memukuli Rivan seperti yang dia lakukan kepada teman-teman laki-laki Clara yang mendekatinya.


Rivan tidak mendengarkan perkataan Clara. Dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Clara. Clara saat itu sangat emosi. Dia berusaha mencari tau apa yang telah Dino lakukan kepada Rivan.


Di tempat biasa mereka berkumpul Clara melihat Dino tertawa lepas disana. Tanpa berpikir panjang Clara menghampiri Dino.


"Dino apa yang sudah kamu lakukan terhadap Rivan?" tanya Clara geram, matanya tak berhenti melihat mata Dino dengan penuh emosi. Tangannya sudah tidak bisa menahan.


Plaakkk


Clara menampar Dino.


"Aku sudah sangat lelah dengan kelakuanmu ya. Sepertinya aku harus pergi sejauh mungkin, agar kamu tidak melukai orang-orang di dekatku."


"Maksud kamu apa Clara? Aku mencintaimu, kamu tau itu kan. Jadi aku akan selalu ada disampingmu sampai kapan pun. Kemana pun k!amu lari, aku akan tetap mengejarmu." ucap Dino sambil tersenyum dan mengelus pipi Clara.


Clara pergi menjauh dari Dino. Rasanya percuma berbicara dengan dia. Saat itu juga dia memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Clara berusaha untuk berbicara dan pamit kepada Rivan. Tapi Rivan susah sekali diajak berbicara. Jangankan berbicara melihat Clara di depan saja dia berbalik arah mencoba menjauh. Clara benar-benar merasa bersalah.


...****************...


Tante Ina sangat mengkhawatirkan Kinan. Sudah beberapa hari tidak pulang. Dia juga tidak mempunyai nomor telepon dan alamat rumah Rivan. Tapi Tante Ina baru ingat Kinan pernah bercerita dimana kampus Rivan kuliah.


Dengan berani Tante Ina mencarinya di kampus itu. Di depan pintu gerbang Tante Ina bertanya kepada semua mahasiswa yang lewat. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Clara dan bertanya padanya.


"Maaf mbak kenal yang namanya Rivan, dia tinggi, putih, tampan dia kuliah di kampus ini?" tanya Tante Ina.

__ADS_1


"Iya itu teman Saya, ada perlu apa ya Bu?" jawab Clara keheranan.


"Saya ingin cari keponakan Saya, dia terakhir pamit akan bertemu Rivan tapi sampai sekarang dia belum pulang. Saya ingin bertanya kepada Rivan apa dia tau?"


"Apa? Maksud Ibu Kinan?" tanya Kinan.


"Iya Kinan, mbak tau dimana Kinan?"


"Saya tidak tau Bu, coba Saya cari Rivan dulu. Ibu tunggu disini ya!" sambil berlari Clara mencari Rivan. Kesana kemari tidak menemukannya.


Tante Ina sudah lama menunggu, Clara tidak kunjung tiba. Sampai akhirnya Rivan berjalan di depan Tante Ina.


"Rivan, Rivan."


"Tante Ina." Rivan terlihat gugup.


"Tante Ina pasti kesini mencari Kinan. Apa yang harus aku jawab. Aku takut dia melaporkanku ke polisi jika aku berkata sebenarnya tapi jika aku,"


ucapnya lirih.


"Hai Rivan kenapa kamu melamun?" tanya Tante Ina.


"Kamu tau dimana Kinan, sudah beberapa hari ini dia tidak pulang. Sebelum pergi dia pamit Tante untuk menemuimu?"


"Apa yang harus ku katakan. Apa?" Rivan terlihat cemas, wajahnya pucat dan terlihat kebingungan.


Tante Ina pun mulai curiga, "Rivan kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku? Dimana Kinan?"


"Maaf Tante, Rivan tidak tau. Waktu itu Rivan belum bertemu Kinan sampai sekarang. Rivan pamit pulang dulu Tante." ucap Rivan.


Begitu saja Rivan meninggalkan Tante Ina. Rivan takut kegugupannya dicurigai. Tante Ina sudah putus asa mencari Kinan kesana kemari.


...****************...


Satu bulan, dua bulan telah berlalu. Tante Ina merasa sangat bersalah. Hidupnya hampa tanpa keponakannya itu. Sesekali dia menangis meminta maaf kepada Kakaknya karena tidak bisa menjaga Kinan dengan baik.

__ADS_1


Tok tok tok.


suara ketukan pintu berulang-ulang kali menyadarkannya dari kesedihan itu.


"Sebentar sabar!" Tante Ina berjalan membukakan pintu.


Sontak saja membuatnya kaget. Mantan suaminya datang tiba-tiba. "Mau apa kamu kesini? Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi." ucap Tante Ina dengan gugup. Tante Ina tau bahwa mantan suaminya itu bukan orang baik-baik bahkan sekarang dia sudah memiliki istri.


"Aku kesini mau minta uang? Rumah ini kan dulu kita beli dengan keringat ku. Dan kamu seenaknya tinggal disini tanpa memberikan ku uang sewa? Sudah cukup kamu tinggal disini. kamu pilih saja memberikan ku uang sewa atau pergi dari rumah ini? Ha, ha, ha."


Seketika Tante Ina meneteskan air matanya "Kinan belum ketemu sekarang aku diusir dari rumah ini."


"Cepat beri jawaban, dasar wanita mandul!" bentak mantan suaminya.


"Aku tidak punya uang, keponakan Ku hilang jadi beberapa bulan ini aku tidak fokus membuat kue. Aku mohon sama Kamu jangan usir aku. Aku tidak tau tinggal dimana?" jawab Tante Ina sambil menangis memohon-mohon.


"Aahk aku tidak peduli, besok kamu harus pergi dari rumah ini. Aku tidak mau tau itu apa alasanmu. Jika tidak akan ku lempar paksa barang-barangmu keluar rumah." ancam mantan suaminya.


...****************...


Pagi itu Tante Ina sudah bersiap pergi dari rumah. Tidak tau arah tujuan nya dia berjalan menelusuri pinggiran kota. Sesekali dia melihat uang di dompet nya yang hanya tinggal dua ratus ribu.


"Dimana aku akan tinggal?" sambil menangis melihat lalu lalang kendaraan lewat.


Tiba-tiba dia melihat anak kecil yang menangis sendirian. Tante Ina menghampirinya.


"Hai gadis kecil, kenapa menangis dimana orangtuamu?" tanya Tante Ina sambil mengelus kepala anak itu.


"Aku tidak tau, mereka tidak menjemputku? Aku lapar, aku ingin makan." jawab Anak itu.


Tanpa berpikir panjang Tante Ina membelikannya makanan. Sebenarnya Tante Ina juga bingung uangnya tinggal dua ratus ribu. Ini tidak akan cukup untuk beberapa hari.


Setelah Anak itu makan Tante Ina bertanya, "Siapa namamu Nak? Rumahmu dimana? Ibu antar pulang ya?"


"Namaku Els, rumahku disana jauh." jawab Anak itu sambil menunjuk arah rumahnya.

__ADS_1


"Ya sudah ayo Ibu antar ya. Kita naik angkot saja ya tidak apa-apa kan? Soalnya uang Ibu tinggal segini."


"Iya," Anak itu tersenyum.


__ADS_2