
"Bangun! Ayo bangun Nak! Dunia tak mengizinkanmu untuk meninggalkannya. Akan ada kebahagiaan yang akan dunia berikan kepadamu." Wanita tua itu memandanginya yang belum sadarkan diri dengan penuh harap. Memegang tangannya dan ikut merasakan berat cobaan hidupnya.
Tak lama kemudian jari tangannya bergerak, matanya perlahan-lahan terbuka. "Kamu sudah bangun Nak!" tanya wanita tua itu dengan tersenyum menatap wanita yang pandangan matanya masih terlihat kosong.
"Dimana aku? Tolong selamatkan aku!" Raut muka ketakutan itu membuat Nenek bergegas memanggil perawat.
"Dia sudah sadar suster, tolong dia!" teriak si Nenek.
"Baik, Nenek tunggu di luar sebentar ya. Dokter akan memeriksanya."
Beberapa menit kemudian keluarlah dokter dengan wajah yang sepertinya turut merasakan kesedihan.
"Keadaan tubuhnya mulai membaik Nek kemungkinan dua tiga hari ini akan bisa pulang, tapi wanita itu mengalami trauma mendalam atas semua kejadian yang dia alami, kejiwaannya sedikit terganggu jadi Nenek sedikit bersabar ya untuk menghadapinya."
"Apa dia mengingat keluarganya dok?" ucap Nenek dengan wajah berharap.
"Tidak Nek, dia belum bisa menjawabnya."
Wanita tua itu berjalan pelan mendekati nya, tersenyum dan memegang tangannya seolah-olah memberikan kekuatan untuknya.
"Jangan takut Nak! Kamu tidak sendirian ada nenek disini."
...****************...
Hari ini dokter mengizinkan pulang. Semua biaya rumah sakit telah terbayar lunas berkat pinjaman rentenir itu. Mereka berdua berjalan pelan-pelan menuju rumah.
Tatapan mata kosong yang terkadang mengeluarkan air matanya, raut muka yang tak mempunyai semangat hidup, tubuh lemas seperti tidak bisa lagi melangkah kaki di dunia ini yang membuat si Nenek bersedih setiap kali melihatnya.
"Namamu siapa Nak?" tanya Nenek sambil mengelus tangannya.
Hanya air mata dan lamunan wanita itu jawaban yang Nenek dapatkan. Si Nenek mengelus rambutnya yang panjang terurai. Menghapus air mata yang sesekali mengalir di pipinya.
__ADS_1
Hari demi hari, Minggu demi Minggu keadaan itu belum bisa berubah. Luka mendalam yang sangat menyakitkan itu benar-benar membuat hidupnya hancur. Satu kali dua kali dia mencoba untuk bunuh diri. Tuhan mengizinkan Nenek mengetahui dan mencegah nya dan itu membuat nya tidak berani meninggalkan rumah.
Tok tok tok.
Tiga laki-laki bertubuh kekar dipenuhi tato, berkulit sawo matang, dengan rambut yang sedikit panjang berada di depan pintu rumahnya. Raut muka yang sangat kejam membuat wanita tua itu ketakutan.
"Ka-kalian siapa? Ma-u a-pa datang kesini?" tanya si Nenek gugup.
"Kita kesini ditugaskan Pak Jeki untuk menagih hutangmu wanita tua. Jangan berlama-lama ini sudah jatuh tempo. Mana uang dan bunganya! Kita tidak punya waktu lama."
"Uang, iya aku lupa harus membayarnya. Tapi hari ini aku tidak mempunyai uang. Aku belum bisa keluar rumah. Maafkan Pak! Pasti aku akan segera membayarnya."
"Haduh kamu itu bagaimana, sudah tau hidup tinggal sebentar berani-beraninya hutang begitu banyak kepada Pak Jeki. Apa kamu ingin kita-kita ini seperti setrikaan bolak-balik nagih hutangmu. Yang sudah terlihat jelas tidak akan sanggup kamu membayarnya."
"Percuma bicara dengan orang pikun sepertimu. Biar Pak bos langsung saja yang menagihmu."
Dengan wajah yang menunjukkan kekesal ketiga laki-laki itu mengangkatkan kakinya dari rumah wanita tua itu.
"Bagaimana aku harus bicara padanya? Bagaimana kalau ku tinggal dia akan melakukan percobaan bunuh diri lagi? Tapi aku harus benar-benar membayar semua hutangku." Dibalik pintu yang sedikit terbuka wanita tua itu memandangi nya. Berharap ada keajaiban datang bisa merubah wanita itu menjadi lebih baik.
"Mungkin aku harus mencobanya lagi."
Tok tok tok.
Dengan langkah penuh keraguan wanita tua itu menghampirinya, wajahnya terlihat seperti sedang menaruh harapan besar. Tangan tua itu mengelus lembut kepalanya. Tatapan mata penuh harap dia pancarkan kepada sosok wanita yang berdiri di depannya.
"Boleh Nenek bertanya lagi? Siapa namamu Nak?"
Wanita itu tiba menatap matanya, mata yang sepertinya sudah penuh dengan air mata yang akan menjatuhi pipinya.
"Kinan," jawabnya dengan suara lirih.
__ADS_1
"Kinan. Namamu Kinan?"
"Kinan, kamu bisa memanggil ku Nenek Nikmah." senyum bahagia wanita tua itu. Matanya berkaca-kaca menatap Kinan yang kini sudah mulai ada perubahan. Semakin menguatkannya bahwa akan ada harapan di kemudian hari.
Pertanyaan demi pertanyaan si Nenek lontarkan. Siapa nama orangtuamu? Dimana tempat tinggal mu? Tapi lagi-lagi hanya gelengan kepala dan air mata lagi yang dia dapatkan.
"Mungkin ini belum saatnya setidaknya aku sudah tau siapa namanya," ucap lirih si Nenek sambil mengusap air mata Kinan.
Si Nenek pergi membiarkan Kinan sendiri dahulu, lalu beranjak menuju dapur menyiapkan makan malam mereka.
...****************...
Semakin kesini keadaan Kinan semakin membaik. Sudah mau tersenyum, membantu pekerjaan rumah, dan sering kali mereka berdua menghabiskan waktu untuk mengobrol. Wanita tua itu tidak lagi menanyakan pertanyaan yang membuat Kinan kembali di masa lalunya yang bisa membuatnya bersedih.
"Nek bolehkah aku tinggal bersamamu lebih lama? Orangtuaku sudah meninggal. Selama ini aku tinggal bersama Tante ku, adik dari Ibu ku. Dia pasti sekarang mengkhawatirkan keadaan ku. Tapi aku tidak mempunyai banyak keberanian untuk kembali. Aku takut laki-laki itu akan membunuh ku." Air matanya lagi-lagi mengalir deras dipipinya.
"Ya kamu tinggal disini sama nenek. Kapan pun kamu akan bercerita tentang dirimu, dengan senang hati Nenek akan mendengar kan. Sekarang Nenek mau menjual rempeyek-rempeyek ini. Kamu baik-baik dirumah ya!" pesan wanita tua itu.
Tidak ada pilihan lain, sulitnya mencari pekerjaan karena kondisi yang sudah tua membuatnya berpikir untuk membuat rempeyek dan menjualnya keliling kampung. Panas terik pun tidak menjadi halangan untuk menawarkan ke setiap orang yang dia temui.
Tok tok tok.
Empat orang laki-laki berdiri di depan pintu rumahnya. Wajah mereka tidak terlihat ada kebaikan, matanya melotot tajam keheranan melihat Kinan dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Napasnya semakin cepat seperti singa kelaparan yang tidak sabar untuk memakannya mangsanya.
"Hai ada bidadari disini. Kenapa kalian diam saja, ada tidak memberitahu ku?" tanya laki-laki itu kepada anak-anak buahnya.
"Halo cantik mulai sejak kapan kamu tinggal di rumah wanita tua ini? Perkenalan namaku Jeki, orang terkaya di kampung ini," ucapnya dengan mengulurkan tangan berharap bisa menyentuh tangan lembutnya.
Kinan mencoba memundurkan kakinya berusaha menjauh dari laki-laki yang membuatnya teringat kejadian buruk yang menimpanya.
Braaak.
__ADS_1
Tiba-tiba Kinan pingsan dan kepalanya terbentur pintu yang berada disampingnya.