
Kinan keluar dari mobil Kevin dengan wajah yang ditekuk. Wina yang melihatnya langsung menghampirinya. Kinan menceritakan semua yang dialami hari ini. Bagaimana bisa bertemu Tantenya dan juga rencana Kevin untuk segera menikahinya.
Kinan yang akan menikah tapi Wina yang terlihat sangat antusias. "Mau diajak nikah kenapa mukamu kayak orang ditagih hutang? Harusnya penuh dengan bunga-bunga." sindir Wina.
"Memang mukaku ini kebun penuh dengan bunga?" Kinan memalingkan mukanya dari Wina. "Aku seneng tapi aku juga takut Win." Kinan menundukan kepalanya.
"Kenapa takut ditagih hutang?"
"Bisa tidak usah nyindir kayak gitu?" ucap Kinan dan dia hanya duduk terdiam. Kinan tidak ingin sahabatnya itu tau jika selama ini dia trauma terhadap laki-laki.
...****************...
Pagi itu Kevin langsung menjemputnya. Berdiri di depan pintu tokonya dan matanya berkeliling mencari wanita yang sudah membuatnya menjadi tidak bisa tidur semalaman.
Dilihatnya wanita itu masih sangat sibuk mempersiapkan kue-kuenya. Dia tersenyum dan berjalan menuju wanita yang tidak mengetahui kedatangannya kali ini.
"Kinan, kamu sudah siap?" sapanya dengan lembut dan senyum lebar di wajahnya. Kinan hanya terdiam dan tertegun melihat senyuman Kevin.
"Kevin, ini kan masih pagi. Bagaimana bisa kalian meninggalkan toko begitu saja?" tanya Wina dengan wajah cemberut. Belum mendapatkan karyawan tambahan membuat Wina kelelahan untuk mengerjakan semua tanpa ada Kinan.
"Ya sudah, akan aku borong semua kue disini. Nanti biar anak buahku yang mengambilnya." Kevin terlihat mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Nah itu baru cocok. Terimakasih ya Vin. Bisa jalan-jalan aku hari ini. Sering-seringlah seperti ini!" Wina tersenyum lebar dan berjalan kembali ke dalam meninggalkan mereka berdua.
"Eh, ya tidak harus begitu juga." ucap Kinan.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan memesan kue di Stela saja kalau tidak boleh dibeli." Kevin menatap mata Kinan dan mengangkat alisnya.
Kinan menghela nafasnya "Huuufff ya sudah-sudah iya."
Kevin dan Kinan meninggalkan toko kue itu dan masuk ke mobilnya. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah.
Kevin menggandeng tangan Kinan dan berjalan pelan-pelan masuk dalam rumahnya. Dia mencari-cari dan ingin berbicara pada Bu Ina.
__ADS_1
"Bu Ina, bolehkah kita berbicara sebentar." Mereka bertiga berjalan menuju ruang tamu. Kevin mempersilakan duduk dan berkata, "Saya meminta izin untuk menikahi Kinan?"
"Apa?" matanya membulat mendengar perkataan itu.
Dia sangat tidak enak hati, status sosial yang berbeda dan masa lalu Kinan juga menjadi pertimbangannya, "Pak Kevin tidak salah? Kinan kamu jangan memaksa Pak Kevin untuk menikahi mu!" Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bu Ina seperti yang sudah Saya ceritakan kemarin. Saya sudah lama mencintai Kinan."
"Tapi Pak, Kinan kan,"
"Bu Ina, Saya tidak peduli dengan masa lalu Kinan. Saya hanya ingin menikahinya. Dan Saya berencana Minggu depan untuk menikahinya.
"Hah, apa ini tidak terlalu terburu-buru. Apa kamu tidak memberi tahu Papa mu tentang ini." Wajah Kinan terlihat kesal.
"Nanti aku akan meneleponnya."
"Kamu tidak mengundangnya?"
"Tidak, dia pasti sibuk dengan urusannya sendiri." Kevin terlihat menyimpan rasa kecewa di dalam dirinya.
...****************...
Hari pernikahan pun telah tiba, Kevin bersepakat dengan Kinan untuk menikah di salah satu masjid yang ada di daerah yang mereka tinggali saat ini. Terlihat hanya ada Rey, Tante Ina, Els, Wina, wali hakim, dan beberapa saksi disana.
Kinan datang dengan riasan wajah sederhana dan baju kebaya putih nan cantik membuat siapa pun tersenyum kagum bagi yang melihatnya.
Kevin yang saat itu sudah menunggunya, dengan terlihat mengenakam setelan jas hitam yang tampak bidang dan maskulin.
Mereka duduk bersama di depan wali hakim dan penghulu. Dan mereka sudah siap melaksanakan pernikahan ini. Ijab Kabul pun di ucap oleh wali hakim.
Tanpa ada halangan apapun mereka sudah sah menjadi suami istri. Semua orang yang berada disitu memberikan ucapan selamat pada mereka tak terkecuali Rey.
"Akhirnya ya Vin kamu berhasil juga." bisik Rey ditelinga Kevin.
__ADS_1
"Siapa dulu, kamu kapan nyusul? Asal jangan nikah sama Mak Lampir Selena saja!"
Buuuk
Rey memukul ringan perut Kevin dan melihat orang-orang sekitar. Kevin terkekeh melihat reaksi Rey.
Kevin berencana memboyong Kinan untuk tinggal di rumah pribadinya. Kevin mengendalikan mobilnya sendirian tanpa sopir menuju rumahnya bersama Kinan.
"Kinan, apa kamu bahagia sekarang?" Kevin memiringkan kepalanya dan mengangkat alisnya menunggu jawaban Kinan mengangguk dengan senyuman manisnya.
"Ya sudah, aku pakaikan sabuk pengamanmu. kita pulang ke rumah kita ya?" Kevin memegang tangan Kinan dan menciumnya.
Wuuuuusss
Tak selang lama mereka sampai. Entah mengapa Kinan terlihat gugup memasuki rumah itu. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Kinan naiklah ke kamar dulu! Nanti aku akan segera menyusul." Kinan hanya menganggukan kepalanya.
Suasana dingin dari AC kamarnya membuat seperti susah untuk bernapas. Kinan duduk pelan-pelan di tepi tempat tidur yang sudah dihias dengan bunga mawar yang cantik itu. Tak lupa dia mengurai rambut indahnya.
Cekleek
Kevin masuk ke kamar. Mata Kinan membulat melihatnya. Tangannya tak berhenti untuk meremas-remas menghilangkan kedinginan dan rasa takut yang ada dalam dirinya.
"Kinan, aku mandi dulu ya? Kamu mau mandi juga?" Kinan menelan salivanya dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lima menit kemudian Kevin terlihat keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya. Dia mendekati Kinan yang masih duduk di tepi tempat tidurnya yang tangannya memegangi erat kerah bajunya.
Kevin mulai menyampingkan rambut Kinan yang cantik terurai dengan belaian tangannya. Dia memulai dengan menciumi pipi, leher Kinan dari belakang tubuh Kinan. Tangannya kirinya memegang perut Kinan dan tangan kanannya seperti tidak sabar untuk melepaskan satu persatu kancing bajunya.
Kinan terlihat sangat tidak nyaman dengan itu semua. Sering kali dia menolak perlakuan tangan suaminya.
Tangan menghentikan tangan Kevin yang sudah mulai aktif, "Vin jangan seperti ini! Aku belum siap," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Kinan aku kan sudah menjadi suamimu. Jangan malu-malu!" Kevin masih saja menciumi leher dan memberi tanda merah disana, dengan tangan yang masih meraba-raba seluruh tubuhnya.
Jangan lupa like, coment, dan votenya!