
"Halo, apa Anda mengenal Saya?" tangannya melambai-lambaikan ke mata Kevin yang melebar dan hanya diam membisu menatapnya.
"Maaf Saya buru-buru, Anda bisa menelepon jika ada kerusakan." Rivan melihat ada seseorang yang akan keluar dari pintu toko kue itu. Rasa takut itu terlukis jelas di wajahnya dan dia berlari menuju dalam mobilnya.
"Rivan? Nama yang sama seperti yang disebut-sebut dalam mimpi Kinan dulu. Ah mungkin cuma kebetulan, nama Rivan kan banyak. Coba nanti aku tanyakan Kinan."
Kevin terlihat masuk kembali ke dalam toko kue itu. Dan memasukkan kartu nama yang diberikan Rivan ke dalam dompet. Matanya berkeliling mencari sesuatu. Stela yang berdiri disana seperti tidak sabar untuk menyapanya.
"Tidak ada Rivan, laki-laki tampan itu pun jadi." gumamnya. Dia terlihat membenahi rambutnya, bajunya dan tidak lupa melihat wajahnya di kaca.
"Halo Tuan, ada yang bisa di bantu? Apa mau memborong kue-kue disini lagi?" tanya Stela dengan wajah berseri-seri, matanya berkedip-kedip dengan centil ke arah Kevin.
"Boleh, asal kamu izinkan semua karyawanmu pulang seperti kemarin."
"Aaaahhhkk pasti, mau bertemu Kinan? Boleh kok Kinan pulang duluan. He, he, he."
"Dimana dia?" tanya Kevin. Bola matanya lagi-lagi bergerak kesana-kemari mencari Kinan.
"Oh ada dibelakang, sebentar ya!"
"Kinan, Kinan," teriak Stela.
"Wina panggil Kinan cepat!" perintah Stela. Wina terlihat berlari ke belakang mencari Kinan.
"Ah itu dia, Kinan kamu dipanggil Bu Stela. Oh iya diluar ada pangeran itu lagi. Hi, hi, hi."
"Ada perlu apalagi dia?" tanya Kinan. Dia mengerutkan keningnya.
"Kamu itu kenapa? Sana keluar temui dia!" seru Wina. Mereka keluar dari dapun dan berjalan menemui Kevin.
Ditempat lain Rivan sedang disebuah restoran terdekat. Setelah kejadian tadi Rivan berniat untuk mencari makan siang. Tak selang beberapa lama kemudian, dia melihat Rey jalan berpelukan mesra dengan seorang wanita masuk ke dalam restoran itu juga.
__ADS_1
Rivan yang mengira Rey adalah pacar Kinan membuatnya tidak bisa menahan amarah. Seperti tidak terima jika Kinan diperlakukan seperti ini.
"Benar-benar kurang ajar laki-laki itu, apa dia kira Kinan polos makanya diselingkuhi." Wajahnya berubah merah, pembuluh darah tampak tegang dilehernya. Dia tidak bisa menahan gejolak jiwanya dan langsung berjalan menuju Rey dan wanita itu.
Buuuk buuuuk
Terdengar jelas suara pukulan itu. Rivan tidak tanggung-tanggung tiga kali memukul perut Rey dengan tangan kosongnya.
"Rasakan ini, berani-beraninya kamu berselingkuh dari Kinan. Aku tidak akan membiarkan laki-laki sepertimu menyakitinya," ucap Rivan yang masih berlanjut terus memukulinya. Seolah-olah tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihatnya saat itu.
Braaakkk
Rey terlihat terjatuh di lantai menabrak salah satu kursi di restoran itu. Mata Rey terlihat menyala, mengerutkan keningnya, mengepalkan tangannya, dan berusaha bangkit dari jatuhnya.
Braaak braaak
Rey memukul wajah Rivan dua kali. Membuat Rivan terjatuh dan meja kursi disana terdorong dengan tubuh Rivan.
"Berani-beraninya kamu memukulku? Bahkan aku tidak mengenalmu," ucap Rey dengan nada tinggi.
"Hei apa maksudmu? Dia pacarku mana ada wanita lain," tanya wanita itu sambil menunjuk-nunjuk dada Rivan.
"Rey jelaskan padaku, apa itu benar?" bentak wanita itu.
"Ti-tidak bohong, pacarku cuma kamu beb." Rey terlihat kebingungan melihat pacarnya sangat marah.
"Hei kamu itu apa-apaan, Kinan itu bukan pacarku." teriak Rey ke muka Rivan.
"Mana ada maling yang mau ngaku?"
Braaak
__ADS_1
Rivan memukul meja yang berada disampingnya. Dan pergi begitu saja meninggalkan Rey dan pacarnya yang sedang bersitegang dengan omongan Rivan.
Rey terlihat merayu-rayu pacarnya dan menjelaskan siapa Kinan, tapi omongan Rivan sudah membekas di benak wanita itu. Makan siang romantis pun gagal. Pacar Rey pergi begitu saja meninggalkan Rey. Rey berusaha mengejar-ngejar tapi tetap tidak bisa untuk meluluhkan hatinya.
"Apes banget baru pacaran dua hari sudah seperti ini lagi. Sial laki-laki itu. Aku harus menemui Kevin sekarang." Rey mengambil kunci mobil disakunya dan berjalan menuju mobilnya.
"Halo Vin, kamu dimana? Aku akan kesana," ucap Rey didalam telepon. Wajah Rey terlihat geram, mengingat kejadian tadi rasanya sudah tidak sabar untuk menceritakan semua pada Kevin.
Tin tin tin
Suara klakson mobil Rey mengalihkan pandangan semua karyawan di toko roti itu. Mereka yang awalnya memandang Kevin berubah kaget ketika Rey keluar dari mobil sedan merahnya.
"Oh Tuhan, pangeran mana lagi ini yang masuk toko kueku." ucap Stela dengan wajah berubah menjadi merah muda. Sudut mata Kevin berkerut menatap tingkah laku Stela.
"Rey, kamu kenapa? Wajahmu, kamu habis berantem? Siapa yang memukulimu?" tanya Kevin tangannya memegang pipi Rey yang lebam.
"Laki-laki gila tiba-tiba memukulku. Dia mengira aku pacar Kinan. Aku yang saat itu dengan pacar baruku, baru dua hari pacaran sudah putus lagi nih," ucap Rey memalingkan mukanya dari Kevin.
"Apa?" mata Kinan melebar. Kinan yang saat itu baru berjalan menuju tempat Kevin dan Stela berdiri, tidak sengaja mendengar pembicaraan Rey.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa dia mengiramu pacar Kinan?" tanya Kevin pada Rey.
"Kinan apa kamu sekarang dekat dengan laki-laki lain? Berharap semua cerita Rey tidak benar.
"Aku disini tidak mengenal laki-laki manapun kecuali kalian berdua."
"Ya sudah-sudah ayo kita pergi dulu, Kita omongkan masalah ini ditempat lain." mata Kevin tertuju ke arah mata Stela yang sepertinya berusaha mendengarkan semua pembicaraan mereka.
Kevin menggandeng tangan Kinan keluar dari toko kue itu. Kevin dan Rey keluar menuju mobil mereka masing-masing. Ada yang mengganjal di hati Kinan. Dia melihat Wina dan teman-teman lainnya masih sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Tunggu Vin!" ucap Kinan. Mereka berhenti tepat di depan mobil yang akan mereka tumpangi.
__ADS_1
"Aku tidak ikut kalian ya! Aku ada perlu dengan Wina juga. Lagi pula teman-temanku belum selesai pekerjaannya, aku tidak enak jika setiap hari pulang duluan seperti ini." Kevin menatap Kinan tajam. Terlihat ada sedikit kekecewaan di hatinya.
"Ya sudah, kamu kalau mau pulang hati-hati ya! Aku dan Rey pergi dulu." Kinan hanya mengangguk. Dan mereka berdua pergi dari toko kue itu. Kinan masuk kembali ke dalam, membantu teman-temannya. Stela memandangi Kinan yang tiba-tiba masuk lagi ke tokonya dengan memberikan setengah senyumnya.