
"Apa yang terjadi padanya? Apa wajahku terlalu menakutkan?"
"Tidak Pak bos, Anda mungkin terlalu tampan jadi dia sampai keheranan dan pingsan," ucap salah satu Anak buahnya.
"Iya kau benar."
Mereka berempat segera mendekati tubuh Kinan yang sudah tidak berdaya. Dibalik keseraman wajah dan tubuh mereka, setidaknya mereka masih mempunyai hati. Mereka berusaha dan terus berusaha membangunkan Kinan. Tapi sama sekali tidak ada respon darinya. Jeki rentenir itu membopong tubuh Kinan dan berusaha secepat mungkin membawanya ke rumah sakit.
"Hei apa yang kalian lakukan terhadap cucu ku?" Nenek berteriak kencang. Dilemparlah keranjang tempat menaruh rempeyek-rempeyek itu ke arah Jeki dan Anak buahnya. Untung saja barang dagangannya habis sehingga tidak ada yang hancur rempeyek-rempeyeknya. Raut wajah yang menyimpan kemarahan.
"Jangan salah paham dulu Nek! Kita ingin menolong nya. Dia pingsan begitu membuka pintu."
"Jangan bohong! Kalian kira aku ini tidak tau maksud tujuan kalian," ucap Nenek yang masih dikuasai amarah. Raut mukanya memerah. Tangannya sudah tidak sabar untuk memukuli Jeki dan anak buahnya.
"Nek kami tidak bohong. Percayalah!"
"Pergi kalian dari sini. Jangan membuat keadaan ini menjadi lebih buruk." bentak Nenek.
Jeki dan Anak buahnya lari cepat menjauh meninggalkan mereka berdua. Bagaimana bisa seorang rentenir kejam bisa takut hanya dengan bentakan wanita tua sepertinya.
Ternyata dahulu dia mempunyai Nenek yang sangat galak. Nenek itulah yang merawatnya dari bayi walaupun dia sudah meninggal tapi dia mewariskan semua hartanya untuk Jeki. Bentakan Nenek Nikmah tidak sengaja mengingatkan sosok Nenek yang telah merawatnya. Anak buahnya pun terheran-heran mengapa yang awalnya ingin menagih hutang malah ketakutan tidak jelas seperti ini.
Setelah mereka lari terbirit-birit dan pergi menjauh dari rumahnya dengan cepat dia berusaha membangunkan Kinan. Diambilnya minyak kayu putih. Digosok-gosokannya, dipijat tubuh Kinan. Di dekat kan minyak kayu putih itu di hidungnya.
Sedikit demi sedikit dia sudah mulai membuka matanya. Tangannya memegangi kepalanya yang berat. Dia mulai menoleh kiri kanan dan mendudukkan badannya.
__ADS_1
"Apa ada yang terluka? Apa mereka menyakitimu? Apa mereka menggodamu? Atau mereka memaksamu?" smSeribu pertanyaan yang ada di kepalanya dilontarkan semua dengan wajah penuh kecemasan. Dia memeriksa semua tangan, kaki, kepala Kinan seolah-olah takut kejadian yang buruk itu menimpa Kinan lagi.
"Aku tidak ingat Nek," jawab Kinan dengan lirih.
Kinan hanya mengingat ada empat orang laki-laki berwajah seram, bertubuh kekar sedang memandanginya dengan penuh kenafsuan. Tiba-tiba mengingatkan kejadian kelamnya di masa lalu. Tubuhnya gemetaran. Wajahnya memucat. Mulutnya tidak bisa mengungkapkan kata-kata. Kepalanya terasa berat. Pandangan matanya semakin gelap dan dia tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
"Jika mereka menyentuhmu bilang sama Nenek, Nenek tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Kinan menganggukan kepalanya "Mereka siapa Nek? Ada perlu apa mereka kemari? Sepertinya mereka bukan orang baik-baik."
"Tidak, mereka hanya tetangga mungkin kesini ingin membeli rempeyek-rempeyek buatan Nenek."
Si Nenek takut bercerita sebenarnya, jika dia mempunyai hutang kepada Jeki. Dia berpikir panjang jika Kinan tau pasti akan menambah berat beban hidupnya. Dia tau sepandai apapun dia menyembunyikannya suatu saat akan ketahuan juga. Tapi setidaknya jangan untuk saat ini.
"Jangan jalanan panas, lagi pula kamu kan masih sakit Nenek takut kamu kelelahan."
"Aku bosan dirumah Nek, aku ingin jalan-jalan. Aku tidak apa-apa kok."
Wanita tua itu menatapnya tajam, "Ya sudah kamu boleh ikut."
...****************...
Keesokan harinya setelah selesai mengemas rempeyek-rempeyek, mereka bergegas untuk keliling kampung menjualnya. Mereka tawarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Tapi hanya satu dua orang saja yang membeli itu pun karena kasihan dengan si Nenek.
"Nek matahari sudah di atas kepala kita, dan kita sudah berkeliling kampung tapi mengapa hanya sedikit yang membeli rempeyek-rempeyek kita. Dimana kemarin-kemarin Nenek menjual nya sampai habis?" tanya Kinan sambil mengelap keringat yang mengalir di dahinya, siang itu terasa panas sekali, tenggorokan pun mulai kering. Dan dia mencari tempat teduh dibawah pohon itu untuk meluruskan kakinya yang sudah kelelahan.
__ADS_1
"Sebenarnya kemarin-kemarin itu rempeyek-rempeyek Nenek juga jarang pembelinya."
"Lalu bagaimana bisa habis Nek?" tanya Kinan keheranan
"Sisa rempeyek-rempeyek yang tidak laku itu Nenek berikan pada pemulung-pemulung disana."
Kinan memandangi wanita tua itu, betapa tulus nya menolong orang lain bahkan saat dirinya juga sebenarnya perlu pertolongan. Semangat hidup wanita tua itu membuat Kinan menjadi malu. Dan mendorong nya untuk selalu berpikiran bahwa Tuhan mempunyai rencana indah untuknya.
Kinan memutuskan untuk membeli salah satu rempeyek-rempeyek yang paling laku keras di warung. Dia membandingkan rasa nya dengan rempeyek buatan si Nenek.
Ternyata memang berbeda jauh, rempeyek yang dia beli jauh lebih enak dari rempeyek-rempeyek buatan Nenek. Dia berlari menuju warung terdekat dibelinya bahan-bahan berkualitas.
Dia mulai menyiapkan semua bahan ada tepung beras, santan, telur, kacang tanah, teri, bawang, ketumbar, dan bahan-bahan lainnya. Nenek pun terheran-heran.
"Buat apa kamu membeli bahan-bahan ini Kinan? Nenek sudah menyiapkan tepung beras buatan Nenek sendiri. Mengapa harus beli yang bermerk pasti itu mahal?"
"Nek kalau kita ingin makanan yang kita jual berkualitas dan laku keras di pasaran kita juga harus membuat nya dengan bahan-bahan yang berkualitas," jawab Kinan sambil memasukkan satu persatu bahan dan mengaduknya. Tak lupa pula dia mengambil daun jeruk purut untuk menambah aroma sari rempeyek-rempeyek buatannya.
Nenek mencium aroma wangi dari daun jeruk purut dan gurih dari campuran bahan-bahan yang Kinan buat. Dia mulai mencoba rempeyek buatan Kinan yang sudah sebagian digoreng.
"Kamu pintar sekali masak, rempeyek-rempeyek buatanmu gurih dan renyah beda dengan rempeyek buatan Nenek. Besok coba kita jual rempeyek-rempeyek ini pasti orang-orang akan suka dan membelinya."
Kinan sangat merindukan Tante Ina, bereksperimen membuat kue dan menjualnya bersama. Rasanya ingin sekali membantu Nenek mencari uang, menjual kue-kue yang Tante Ina ajarkan dulu, tapi dia melihat disekelilingnya tidak ada peralatan yang lengkap. Hanya ada panci, penggorengan dan kompor dari tanah liat yang dia saja kesusahan untuk menyalakan api.
Rempeyek-rempeyek Kinan memang laku keras. Tapi Kinan melihat diwajah si Nenek masih menyimpan beban. Apa uang dari penjualannya rempeyek-rempeyeknya masih kurang untuk makan sehari-hari? Atau ada masalah lain yang sedang dia sembunyikan?
__ADS_1