
Pandangan matanya terlihat ada keraguan untuk menjawab. Mata wanita itu tidak ada ketulusan, senyumannya seperti menandakan ada maksud kebaikan yang berujung keburukan.
"Hai kenapa melamun?"
"Eh iya Bu." rasanya Kinan ingin segera pergi dari sana, wanita itu tidak dikenalnya. Tapi dia melihat di sekelilingnya. Dia sadar sedang di kota besar bukan di perkampungan. Banyak orang dengan kepribadian dan gaya hidupnya.
"Jangan takut dong! Kamu dari kampung? Mau mencari kerja. Aku butuh banyak pekerja. Tapi kalau kamu tidak mau ya terserah, aku tidak maksa." Wanita itu terlihat kecewa. Dia merogoh tasnya, mengambil dompetnya dan membayar makanan yang dia makan.
"Pak sekalian makanan dia biar aku yang bayar, kasian dari kampung pasti bekal uangnya sedikit."
"Tidak, tidak usah Bu aku bisa bayar sendiri kok, uangku masih cukup," ucap Kinan.
"Kamu tau ngekos disini paling murah itu 1 juta lebih. Disini kota besar jangan kamu samakan dikampung mu." Wanita itu menakutinya.
Wanita itu selalu menyebut kampung. Kinan semakin khawatir dengan keadaan Nenek Nikmah. Apa dia baik-baik saja? Apa Pak Jeki mengusirnya? Jika diusir dia akan tinggal dimana? Pikirannya tidak tenang. Seolah-olah dia ingin segera pulang dan membawa uang. Keputusan pun di tentukan.
"Bu aku benar-benar butuh pekerjaan. Jika Ibu membutuhkan karyawan aku mau melamar," jawab Kinan ragu-ragu.
"Nah gitu dong dari tadi kek. Ayo masuk mobilku! Tenang saja aku menyediakan kamar istirahat untuk semua pekerjaku. Dan kamu bisa tinggal disana."
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, "Bagaimana kamu bisa nekat ke kota sendirian?"
"Aku membutuhkan pekerjaan," jawab Kinan.
"Bukannya membutuhkan uang?" sahut wanita itu.
"Iya, aku butuh uang untuk membayar hutang rentenir."
"Berapa memang hutangmu?"
"20 juta. Jika aku tidak segera membayar maka Nenek akan diusir dari rumah," jawab Kinan sambil menundukan kepalanya.
"Hah banyak sekali. Oke begini saja kamu selesaikan urusanmu dikampung dulu baru kamu bisa mulai kerja. Soal uang itu gampang, aku akan meminjamkannya padamu. Nanti bisa potong gajimu bagaimana?"
__ADS_1
Kinan mengiyakan saja tawarannya. Wanita itu menyuruh sopir untuk mengantarkan Kinan pulang ke kampungnya dan membawa sejumlah uang yang harus dibayarkan kepada Jeki.
Tok tok tok.
"Kinan kamu pulang? Itu mobil siapa yang mengantarmu?"
"Nenek Kinan tidak bisa lama-lama, itu mobil bos Kinan. Nenek tidak usah khawatir, Kinan sudah dapat pekerjaan oh iya ini bos Kinan memberikan pinjaman. Nenek segera bayarkan hutang ke Pak Jeki ya. Tenang saja Kinan akan pulang. Jaga diri Nenek baik-baik ya!"
Tin tin tin.
Suara klakson mobil itu memberi isyarat untuk segera menyudahi pertemuan Kinan dan Nenek. Segeralah dia lari menuju mobil. Dilihatnya terus dari kaca pintu mobil, wanita tua yang sudah menyelamatkan nyawanya. Ingin sekali berlama-lama melihat nya tapi mobil itu melaju semakin kencang.
...****************...
Perjalanan panjang telah membuatnya sampai di kota lagi. Kehidupan baru akan dimulai nya dari rumah ini pikirnya. Rumah yang lumayan mewah. Dia berpikir mungkin akan jadi asisten rumah tangga atau babysitter. Entahlah dia pasrah saja.
"Bagaimana tadi lancar perjalanan nya?" tanya wanita itu dengan meliriknya tajam.
"Iya Bu terimakasih sudah diantarkan."
"Oh iya kamar kamu itu, jadi taruh saja barang-barangmu disitu. Kalau butuh apa-apa bilang aku, jangan sampai kamu keluar dari rumah ini," ucap Risa dengan senyum sengitnya.
Kinan merasa bosan menghabiskan waktunya di kamar. Tidak ada kegiatan yang dilakukan. Dia juga bingung pekerjaannya itu apa. Sering kali dia bertanya kepada Risa tapi dia hanya disuruh berdiam di dalam kamar dulu.
Tok tok tok.
Tiba-tiba ada yang mengutuk pintunya. "Mami ingin hari ini kamu ikut Mami ke salon! dandananmu terlalu norak," ucap Risa.
Kinan mengiyakan perintah Risa. Mereka pergi diantar sopir menuju salon. Semua perawatan yang paling terbaik di berikan kepada Kinan. Mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Pakaian terbagus juga dia kenakan. Dress hitam panjang tanpa lengan, high heels hitam, dengan tatanan sederhana di rambut panjang membuat Risa bangga telah menemukannya.
"Wah kamu cantik sekali, benar sekali firasatku. Pasti tidak ada yang menolakmu. Pasti akan mahal bayaranmu. Ha, ha, ha." Mata Risa menatap dengan penuh kekaguman. Gadis kampung yang benar-benar akan merubah hidupnya.
Kinan sangat tidak nyaman dengan dress yang dia kenakan. Sering kali dia menutupi dadanya yang kelihatan. High heelsnya pun juga membuat dia tidak bisa seimbang dalam berjalan.
__ADS_1
"Mami sebenarnya kita mau kemana?" Kinan memberanikan diri untuk bertanya.
"Sudahlah ayo masuk dalam mobil!" perintah Risa.
Di dalam mobil, Kinan merasa sangat kedinginan. "Akan dibawa kemana aku? Mengapa aku harus berpakaian seperti ini? Apa sebenarnya pekerjaan buat ku? Apa jangan-jangan dia akan menjualku?" pertanyaan-pertanyaan itu yang menghantuinya.
Kring kring.
Telepon Risa berbunyi. Kinan menatap Risa dengan tatapan serius. Seperti tak ingin melewatkan sedikit pun mendengar percakapannya di telepon.
"Halo Pak. Iya siap. Sudah ada kok. Pasti kamu suka. Ini baru benar-benar baru. Oke Pak sudah perjalanan ini sabar. Da, da ...." ucap Risa ditelepon itu. Setelah menutup teleponnya Risa melihat Kinan sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Ma-mi di-a siapa?" tanya Kinan dengan gugup, tangan menjadi dingin, tubuhnya gemetaran, pikiran nya sudah tidak tenang. Apakah kejadian buruk di masa lalunya akan terulang lagi?
"Dia orang yang akan menyewamu, sudah diam nanti kamu harus menuruti perintahnya! Soalnya kamu kan dari kampung pasti belum punya pengalaman sama sekali." bentak Risa.
"Mami aku mendadak tidak enak badan aku ingin pulang saja!" Alasan Kinan untuk menghindari.
"Tidak enak badan bagaimana maksudmu? Sudah dandan capek-capek sekarang bilang tidak enak badan? Kamu tau tidak pertemuan ini penting."
Dia tiba-tiba menangis, "Hei kenapa kamu menangis? Hapus air matamu, nanti riasan diwajahmu luntur bisa-bisa dia membatalkan semuanya. Kalau dia sampai membatalkan semuanya aku minta kamu ganti rugi uang yang sudah kamu pinjam kepadaku!" ucap Risa dengan nada suara tinggi.
Mobil pun tiba-tiba berhenti disuatu tempat. Risa memaksa Kinan untuk turun dari mobilnya.
"Mami, Mami tolong jangan lakukan ini padaku! Aku akan membayarnya tapi jangan jual aku!" Kinan bersujud dikakinya.
"Kamu ini bicara apa? Cepat kesana! Pak sopir antarkan dia! Aku masih ada urusan sebentar. Ingat ya pesanku tadi!" ancam Risa yang membuat Kinan semakin ketakutan.
"Mana modelnya? Mana?" terdengar suara kemarahan dari arah sana.
"Ini Pak." sopir itu berlari sambil menggandeng tangan Kinan.
"Maaf Pak agak sedikit terlambat. Tadi jalanan sedikit macet."
__ADS_1
"Model?" seketika Kinan kaget dan kebingungan.