Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 24


__ADS_3

"Hei kamu mengenal ku?" tanya Rivan dengan nada suara lirih. Dia mencoba membantu mengangkat tubuh Kinan yang sedang jatuh tersungkur di jalan. Tangannya gemetar, napasnya tak beraturan dan perlahan-lahan merapikan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Bumi serasa berhenti berputar saat itu. Kini terlihat jelas dibalik rambut yang menutupi wajahnya itu ada mata yang sedikit terbuka penuh dengan kesedihan, pipinya merah seperti bekas tamparan, dahinya yang terluka akibat benturan, yang membuat laki-laki itu tak bisa menahan air matanya.


Langit mendung berujung hujan seperti untuk menjadi saksi pertemuan mereka. Petir yang menyambar seperti tanda ada hati yang hancur.


"Ki-Kinan, kamu masih hidup?"


Tangannya mencoba mengelus pipinya yang merah terkena air hujan. Air mata Rivan mulai berjatuhan tak sebanding dengan derasnya air hujan yang Tuhan turunkan saat itu. Pelukan penyesalan atas semua kesalahan yang mendalam dia berikan pada Kinan.


"Kinan maafkan aku!" teriaknya sambil terus menangis sambil memeluk tubuh Kinan. Tapi tak ada respon sama sekali dari Kinan. Rivan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kinan yang ternyata telah memejamkan matanya.


"Kinan, Kinan bangun! Kinan maafkan aku!" Tetapi tetap tidak ada respon darinya.


Diangkatnya tubuh Kinan yang basah kuyup ke dalam mobilnya. Dengan cepat dia mengendarai mobilnya memecah derasnya air hujan. Sesekali dia melihat disamping kirinya. Sosok wanita yang sudah dia hancurkan hidupnya. Wanita yang pernah dia perkosa. Wanita yang sudah mengandung anaknya. Wanita yang pernah menjadi bahan taruhannya. Wanita yang pernah di buangnya di dalam hutan begitu saja. Guratan penyesalan begitu terlihat.


"Kinan bertahanlah aku akan membawamu ke rumah sakit!"


Sampailah mereka di rumah sakit. Dengan sigapnya Rivan membopong tubuh Kinan yang terlihat semakin dingin, lemas dan pucat dibagian wajahnya.


"Dokter, dokter tolong!" teriak Rivan kebingungan dan masih membopongnya menuju ruang pemeriksaan.


Beberapa menit kemudian dokter keluar. Ada raut wajah tidak mengenakan di dokter itu. "Dokter bagaimana keadaannya?"


"Dia sepertinya sedang mengalami depresi, depresi disini penyakit kompleks yang tidak tau apa penyebabnya bisa faktor keturunan, trauma masa lalu, perubahan besar dalam fase hidupnya dan masih banyak lagi. Luka di wajahnya menandakan dia sedang mengalami kekerasan. Setelah dia sadar dan membaik bisa untuk menemui psikiater."


"Pasti itu karena perbuatanku," bisik Rivan dalam hati. Dokter pamit pergi meninggalkannya. Dia hanya terdiam menangis dan menyesali semua perbuatannya.


Dia berjalan masuk ke dalam ruang perawatan. Tidur menemani di sampingnya, dan memegang erat tangan Kinan seperti ingin semua penderitaan yang dialami karena perbuatannya agar berpindah padanya.

__ADS_1


...****************...


Masih di rumah sakit dengan kaki yang belum bisa digerakkan. Membuat Kevin menyesali dengan keadaannya. Siang tadi Rey sudah menceritakan apa yang terjadi pada Kinan. Seperti orang lemah tak berguna saat Kinan meneleponnya meminta bantuan tapi dia hanya bisa tidur terbaring lemah.


"Sial." teriak Kevin. Terlihat jelas raut wajah kecewa yang tak kunjung hilang.


"Sudah besok aku akan mencari cara untuk melepaskan Kinan. Tidurlah! Kamu butuh waktu istirahat yang banyak," ucap Rey.


"Tapi Rey, sekarang Risa pasti sudah menjual Kinan."


"Baru kali ini lihat kamu sama cewek gini banget. Kamu kan belum begitu mengenalnya. Kalian baru tiga hari bertemu?" ejek Rey.


"Kan aku sudah cerita sama kamu, dia itu trauma mendalam banget dengan masa lalunya. Baru ketemu aku saja dia sudah pingsan. Gimana kalau bertemu para hidung belang itu."


"Kamu cinta sama dia atau cuma kasihan. Kalau cuma kasihan kali ini aku tak akan membantumu," ucap Rey.


"Kan dokter sudah bilang, paling tidak 6 bulan kamu baru bisa jalan. Mau nekat pergi cari Kinan?"


"Ambilkan aku kursi roda!" perintah Kevin.


"Kamu lupa lagi sakit? Dengan seragam itu kamu kira bisa keluar rumah sakit tanpa izin? Haa.. Haa.. Sudahlah besok aku akan menemui Risa. Tidurlah!" ucap Rey. Setelah itu dia meninggalkan Kevin sendiri dan kembali ke rumahnya.


...****************...


Keesokan harinya pagi-pagi Rey memberanikan diri datang ke rumah Risa. Dia ingin memastikan Kinan dalam keadaan baik-baik saja.


"Mau apa lagi kamu kesini?" tanya Risa dengan nada suara tinggi.


"Aku hanya ingin tau keadaan Kinan." jawab Rey. Matanya bergerak kesana kemari mencari sosok wanita yang diinginkan sahabatnya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak lagi urusan dengannya, dia sudah ku buang di jalanan tadi malam. Wanita tidak tau diuntung, wanita gila," ucap Risa.


"Apa maksudmu? Dimana dia? Atau akan ku panggil polisi untuk menangkap wanita sepertimu?" ancam Rey. Matanya melotot, tangannya menggenggam keras sepertinya jika Risa laki-laki akan tak butuh pikir panjang untuk memukulnya.


"Dia sudah ku buang di jalanan, apa aku kurang keras berbicara. Dia sudah mau melakukan percobaan pembunuhan terhadap pak Leo. Kamu tau kan orang yang sudah lama menjadi langganan ku. Kepercayaannya hancur terhadap ku gara-gara wanita kampung itu." bentak Risa.


"Pergi dari rumah ku!" usir Risa dengan mendorong tubuh Rey.


"Awas kalau kamu sampai berbohong!" ancam Rey.


Rey pergi mengendarai mobilnya, dia bingung apa yang akan dia katakan kepada Kevin. Bagaimana reaksinya jika Kinan sudah hilang entah kemana. Karena dia tau baru kali ini sahabatnya itu begitu menyayangi wanita sampai seperti itu.


Setibanya di rumah sakit. Wajah Rey terlihat sangat tidak mengenakkan, ada kenyataan yang ingin dia sembunyikan. Tapi sahabat pasti tidak akan percaya.


"Ah sudahlah aku akan jujur saja."


"Bagaimana Kinan? Apa dia baik-baik saja? Belum ada laki-laki yang menyentuhnya kan? Apa kamu sudah membawanya kesini?" Seribu pertanyaan seperti ada di benak Kevin. Seperti melihat sesuatu apakah Kinan ada di belakang Rey atau di balik pintu.


"Risa sudah membuangnya di jalanan. Semalam dia hampir membunuh laki-laki itu," ucap Rey sambil menundukan kepalanya.


"Jadi dia bisa membela dirinya? Ha, ha, ha. Kerja bagus Kinan. Tidak sia-sia selama ini aku mengejeknya," ucap Kevin dengan gembira. Rey nampak kebingungan dengan sikap Kevin.


"Oke Rey sekarang aku minta bantuanmu cari dia! Aku yakin dia akan baik-baik saja."


"Darimana pikiranmu itu berasal. Bisa-bisa tertawa disaat seperti ini. Kamu sedang mengerjaiku atau gimana? Dia di buang Risa di jalanan, yang pasti Risa sudah menghajarnya terlebih dulu sebelum membuangnya."


"Perasaan ku mengatakan dia baik-baik saja Rey. Ini hanya masalah waktu. Aku sudah tidak sabar menjadikannya istri." ucap Kevin sambil tersenyum melamun membayangkan Kinan.


Di rumah sakit lain Kinan sudah menggerakkan tangannya dan mulai membuka matanya perlahan-lahan. Tapi tidak ada seseorang pun disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2