
Kevin hanya mampu terdiam menatap lurus ke arah Kinan. Kinan menyembunyikan rasa malunya dengan memberi senyuman tipis pada Kevin, menggigit bibirnya lalu menundukan pandangannya.
"Om Kevin aku sudah menemukan calon Tanteku." teriakan Els membangunkan Kevin dari lamunan indahnya. Dia menggandeng tangan Kevin dan berlari untuk mendekati tempat Kinan berdiri.
"Anak hebat." Kevin memberikan jempol untuk Els. Dan kembali menatap wanita yang sudah membuatnya hampir gila selama ini.
Kinan mengangkat kepalanya dan bertanya, "Ja-di Els i-tu keponakanmu?"
"Iya dia keponakanku. Kenapa?"
"Oh, huuufff, huuufff." Kinan memalingkan muka dan mengerutkan dahinya.
"Kevin?" teriak Wina dengan berlari mendekatinya.
"Wina, apa kabar? Wah kamu semakin cantik saja sekarang."
"Aaaahhhkk aku mau oleng nih,"
"Eh, Aku tangkep nih."
Kinan hanya cemberut melihat tingkah Wina dan Kevin yang seolah-olah tidak mengganggapnya. Kevin hanya melirik pada Kinan seolah-olah ingin membuatnya bertambah marah.
Wina yang mengetahui reaksi Kinan langsung mengalihkan pembicaraan. Dan mengajak Els berkeliling melihat kue-kue ulang tahun yang lain. Kevin pun mulai mengajak bicara Kinan yang daritadi menekuk mukanya.
"Ini toko kue milik mu sendiri?"
"I-iya."
"Hebat sekali kamu,"
"Heh, kita ngobrolnya jangan disini ya? Di pojok sana saja."
"Jadi kamu langsung mengajakku mojok gitu. Oke ayo!"
"Eh, bukan begitu." Kevin terkekeh melihat Kinan yang salah tingkah.
"Ya sudah, ayo kesana!" Kevin menggandeng tangan Kinan. "Dingin banget tangan kamu." Kinan hanya tersenyum kecil.
Mereka duduk berhadapan. Menunduk, terdiam seperti kehilangan keberanian dalam diri Kinan. Kevin sering kali memiringkan kepala, tersenyum mempesona dengan mengangkat sebelah alisnya seperti memberi isyarat menunggu Kinan yang tak kunjung mulai berbicara.
"Wina cantik ya?" Kinan akhirnya memulai pembicaraan.
"Heem, cantik banget dia. Kenapa dulu aku tidak naksir sama dia."
__ADS_1
"Oh sekarang kamu menyukainya?" Kinan mulai melihat mata Kevin, seakan tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. "Lalu bagaimana denganku?"
Kevin berdiri mendekatan bibirnya ke telinga Kinan dan membisikkan, "Kamu tidak berubah dari dulu selalu cantik." Kinan melepaskan senyumannya dengan wajah memerah. Kevin kembali duduk di kursinya lagi dan memandangi Kinan.
"Vin,"
"Hem." Kevin memiringkan kepalanya lagi, wajahnya semakin mendekat dan terus menatapnya tajam.
"Aku minta maaf ya sama kamu, aku belum bisa membayar hutangku," ucap Kinan menunduk dengan polosnya.
"Kenapa? Kan sekarang kamu sudah sukses."
"Jadi gini Lo Vin, Aku itu buka cabang disini itu, aduh gimana ya ngomongnya. Em, aku itu ...."
"Kenapa?" Kevin semakin penasaran.
"Aku ngutang." jawabnya lirih.
"Ha, ha, ha." Ekspresi wajah Kinan seperti kesal melihat Kevin tertawa.
"Sudah ku duga. Kinan, Kinan kan aku sudah memberikan penawaran padamu dulu. Menikahlah denganku dan aku akan membebaskanmu untuk melakukan hal yang kamu sukai. Apa menurutmu dengan berhutang itu membuat dirimu lebih sukses dari orang-orang sekelilingmu dan orang akan memujimu dengan kesuksesanmu ini?"
"Kok kamu gitu Vin, sebenarnya aku itu bukan haus pujian tapi,"
"Tapi aku sudah bisa beli rumah kok dari hasil kerja kerasku kali ini tidak ngutang beneran ya walaupun tidak semewah rumahmu."
"Ha, ha, ha. Iya wah hebat banget, diusiamu yang masih muda bisa sukses seperti ini."
"Jangan meledekku terus dong Vin! Aku tau salah. Aku kan belum berpengalaman. Otakku rasanya seperti diperas. Aku berpikir membuka cabang akan membuatku semakin mempercepat impianku dan bisa membayar hutangku padamu." Kinan menundukan pandangannya.
"Jadi kamu seperti ini cuma karena gengsi padaku. Ha, ha, ha. Hutang memang tak selamanya buruk, tapi prinsip hidupku itu jangan berhutang saat memulai usaha!"
"Ya kamu enak terlahir dari keluarga kaya, la aku?"
Kevin tersenyum dan melirik ke arah Kinan, "I-iya maaf. Begini saja aku akan bantuin kamu keluar dari masalah hutang piutang usahamu ini tapi ada syaratnya?"
Kinan memandang Kevin dengan mengerutkan dahinya, "Apa? Kamu mau minjami uang lagi begitu solusinya. Aku tidak mau."
Kevin terkekeh mendengar ucapan Kinan, "Ye siapa juga yang mau minjami kamu uang, yang dulu aja belum dibayar."
"Ya sudah apa solusinya kamu kan yang lebih berpengalaman."
"Berarti kamu mau ya menerima syaratnya apa saja."
__ADS_1
"I-ya apa."
"Kamu harus mau menikah denganku!"
"Oke aku terima tawaranmu, tapi aku juga punya syarat."
"Loh kok gitu."
"Ya terserah kamu mau apa tidak."
"Apa? Asal jangan suruh aku buatin 1000 candi saja," jawab Kevin sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Heh," Kinan tersenyum kecil, "Aku tidak mau menikah kalau tidak ada Tanteku. Kamu harus membantuku mencarinya!"
"Cuma itu saja. Oke seperti apa Tante mu dan mana fotonya?"
Belum selesai menjawab dari jauh Els terlihat memanggil-manggil Kevin. Dia seperti tidak sabar untuk membawa pulang kue ulangtahun yang dia pilih.
Kevin dan Kinan berjalan mendekatinya. Kue ulang tahun tingkat dua dengan lapisan fondant warna merah muda dan hiasan cantik sudah berada ditangannya. Kinan dan Wina terdengar mengucapkan selamat ulang tahun untuk Els.
"Calon Tanteku maukah kamu ikut merayakan ulang tahunku bersamaku?"
Kinan mengerutkan dahinya, "Memang kita mau ngerayain ulang tahunnya dimana?"
"Di rumahku, ayolah Tante!" Els merengek-rengek dengan menarik-narik tangan Kinan.
Wina menyuruh Kinan untuk mengabulkan permintaan keponakan Kevin itu. Mereka bertiga langsung pergi dari toko kuenya.
Hampir seperempat jam perjalanan mereka sampai di rumah. Terlihat seorang satpam membukakan pintu gerbang dan menundukan badannya.
Rumah ini memang lebih mewah dari rumah pribadi Kevin. Halaman yang luas dengan hiasan tanaman yang indah. Empat pilar nampak jelas menjulang tinggi juga menambah kesan mewah. Kevin mengitari mobilnya dan membuka pintu untuk Kinan dan Els. Ada dua asisten rumah tangganya yang membantu membawa kue ulang tahun itu.
Els berlari masuk kedalam rumah itu dan berteriak memanggil pengasuh kesayangannya. "Bu Ina, lihatlah aku pulang bawa kue ulang tahun!"
Kevin dan Kinan masih berjalan pelan menuju pintu rumah itu, "Jadi kamu punya Kakak?" tanya Kinan.
"Iya, tapi mereka sudah meninggal karena kecelakaan." jawab Kevin membuang mukanya untuk mengalihkan kesedihan yang dia rasakan.
"Oh maaf, jadi Els kamu yang me ...."
Kevin langsung memotong pertanyaan Kinan, "Ya aku yang merawatnya dari kecil, maafkan aku dulu tiba-tiba menghilang disaat kamu butuh aku, bukan maksudku menjauhimu tapi Els benar-benar juga membutuhkanku. Aku tau mungkin ini berat untukmu atau wanita mana pun untuk menerima kenyataan ini. Makanya aku tidak pernah berpacaran dengan wanita manapun."
"Tidak pernah berpacaran? Bukannya pacarmu banyak?" tanya Kinan dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Ha, ha, seharusnya pertanyaan itu kamu tunjukkan pada Rey bukan padaku. Ya aku memang dulu suka bergonta-ganti wanita tapi aku tidak memacari mereka. Aku tau mereka tidak akan mungkin menerima Els."