Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 31


__ADS_3

Setelah berlarian mereka duduk dan melepas lelah bersama. Kevin tidak peduli dengan keindahan matahari yang akan tenggelam itu. Karena di depan matanya ada keindahan yang lebih indah dari itu semua. Siapa lagi kalau bukan Kinan. Dia menatapnya dan terus menatapnya.


"Jangan melihatku seperti itu! Jadi mengingatkanku saat kita pertama bertemu." ucap Kinan.


"Apa begitu menakutkannya aku saat itu?" tanya Kevin.


"Ya tentu."


"Apa sekarang masih menakutkan?"


"Tidak."


"Ha, ha, ha, pasti kamu beruntung bertemu aku."


"Ya aku beruntung bertemu kamu." Kinan tersenyum lebar padanya.


Kevin menatap tajam matanya lagi. Mendekatkan wajahnya semakin dekat dan dekat dengan wajah Kinan. Jantungnya berdetak semakin kencang. Rasanya sudah tidak sabar untuk mencium bibirnya yang indah itu. Tapi dia sadar ini hanya akan membuat Kinan takut dan menjauhinya.


"Kinan, apa kriteria suamimu? aku ingin memantaskan diri," bisik Kevin di telinga Kinan.


"Ha, ha, ha, pertanyaan apa itu? Aku tidak punya kriteria khusus, aku juga tidak ingin menikah." Kinan mendorong badan Kevin menjauh darinya.


"Apa kamu takut aku menyakitimu seperti pacarmu dulu? Atau kamu masih mencintainya tapi takut untuk kembali padanya?" topik pembicaraan mereka menjadi terlihat serius.


"Kalaupun laki-laki di dunia ini habis dan hanya tinggal dia seorang, aku tidak akan mau padanya apalagi menikah dengan laki-laki seperti itu. Kejadian itu membuat hidupku sangat hancur. Aku hampir mati dibuatnya," ucap Kinan sambil tertunduk dan tak terasa meneteskan air matanya.


Kevin memeluk Kinan yang sedang menunduk menangis. Mengelus-elus kepalanya.


"Maafkan aku Kinan! Aku tidak bermaksud membuatmu ingat masa lalu itu. Jika aku bertemu mantan pacarmu itu, pasti akan aku bunuh dia."


Kinan mendorong Kevin lagi, "Tidak akan aku biarkan kamu membunuhnya, yang ada sisa hidupmu kamu habiskan dipenjara."


"Aku tidak peduli dengan itu semua, laki-laki itu benar-benar membuatku geram. Masih saja kamu bisa membelanya?"


Hari semakin gelap, matahari benar-benar sudah tenggelam. Kevin mengantarkan Kinan pulang di toko kue itu. Terlihat gelap toko kue itu, pasti Stela sudah menguncinya dari siang tadi. Sehingga Kinan tidak bisa masuk ke dalamnya.


"Bagaimana apa bisa di buka?" tanya Kevin. Dia membantu Kinan membuka tapi tetap tidak bisa.


"Kamu malam ini tidur di rumahku saja ya!" ajak Kevin terlihat tak tega melihat Kinan.


"Tidak," bentak Kinan.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyentuhmu," ucap Kevin dengan nada tinggi.


"Aku tetap tidak mau, Aku ke rumah temanku saja. Aku tadi lupa mau bertemu Ibu kosnya."


Mereka berjalan menuju mobil dan melanjutkan perjalanan ke kos Wina.


Tok tok tok.


"Win, ini aku Kinan."


"Hooaaam Iya Kinan sebentar, aku lagi bangun tidur." ucap Wina. Dengan muka lusuh dan rambut berantakan saat tidur dia membuka pintu kamarnya.


"Astaga," teriak Wina mengagetkan Kinan dan Kevin yang saat itu berada di depan kamarnya. Seketika Wina menutup pintu kamarnya dan kebingungan mencuci muka dan mencari sisir rambut.


"Win, kamu kenapa?" tanya Kinan dan Kevin kebingungan.


"Sebentar Kinan, aku akan buka pintu lima menit lagi. Tunggu disitu!" teriak Wina dari balik pintu.


Kinan dan Kevin menunggunya di luar. Dengan cepat Wina mencuci mukanya, menyisir rambutnya, mengganti bajunya yang lusuh dan tidak lupa menyemprotkan parfum di seluruh bajunya.


"Hai Kinan, he,he,he," sapa Wina. Wajahnya terlihat berseri-seri.


"Kamu kenapa Win?" ucap Kinan keheranan. Wina hanya tersenyum-senyum tidak jelas.


"Ya sudah Kinan Aku pulang dulu ya, Wina terimakasih Kinan sudah boleh tidur disini," ucap Kevin. Setelah itu dia berjalan menuju mobilnya dan pulang.


"Kinan, kenapa kamu tidak ngomong kalau mau ke kos dengan pangeran itu?" Wina terlihat geram.


"Kamu itu kenapa Win?"


"Coba ceritakan tadi kamu sudah melakukan apa saja dengan pangeran itu?" Wina terlihat tidak sabar ingin mendengar pengakuan Kinan.


"Tadi aku pergi ke istananya, lalu masak bersamanya, habis itu kita menikmati indahnya matahari tenggelam di pantai terus ...."


"Aaaahhhkk ya ampun Kinan, kamu tidak lagi bohong kan? Huuufff, huuufff. Aku seperti kehabisan oksigen."


"Coba ceritakan lagi bagaimana kamu bisa bertemu dia? Bagaimana kamu bisa berpacaran dengan dia?" terlihat Wina masih sangat penasaran.


"Aku tidak berpacaran dengannya. Kita hanya berteman. Kalau pertama bertemu dengannya itu sangat tidak layak untuk diceritakan. Sudahlah aku malam ini numpang tidur disini."


"Tapi dia sepertinya mencintaimu Kinan. Tampan, kaya, baik benar-benar pangeran impian para wanita," ucap Wina sambil membayangkan menjadi seorang putri.

__ADS_1


"Kamu belum mengenalnya Win, dia itu suka mesum, gonta-ganti cewek. Yang ada kalau punya pacar seperti dia bakal makan hati setiap hari. Kamu mau ya sana ambil! Aku males."


"Jangan begitu Kinan nanti kamu menyesal, menyia-nyiakan laki-laki tampan seperti itu!"


Mereka terlihat masuk di kamar berdua. Wina terlihat masih terus saja penasaran dengan hubungan Kinan dan Kevin. Seribu pertanyaan dibenaknya seperti diacuhkan oleh Kinan.


...****************...


Keesokan harinya Kinan memberanikan diri berbicara pada Stela. Ibu kos Wina telah mengizinkan Kinan tinggal di salah satu kamar yang kosong itu.


"Bu Stela, Saya sudah dapat tempat kos. Jadi sekarang Saya tidak tidur disini lagi. Terimakasih banyak atas semua kebaikan Bu Stela selama ini terhadap Saya," ucap Kinan.


"Apa kamu tidak mau tidur disini lagi?"


"Iya Bu." jawab Kinan.


"Waduh bagaimana menjelaskan pada Rivan ini?" bisik dalam hati Stela. Dia terlihat kebingungan.


"Apa ada masalah Bu?"


"Oh tidak, ya terserah Kamu saja."


Stela terlihat mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Tak selang beberapa lama Rivan datang ke toko kue Stela. Dia masih bersembunyi dibalik pintu, sedang mengamati Kinan dari luar.


Keasyikan mengamati Kinan sampai membuatnya tidak tahu jika ada seseorang di belakangnya, Rivan langsung membalikkan badannya begitu saja.


Praak


Dia tidak sengaja menjatuhkan ponsel orang yang ada dibelakangnya. Karena takut ketahuan Kinan dia buru-buru meminta maaf dan membantu orang tersebut. Dan ternyata orang dibelakangnya yang dia tabrak itu Kevin.


"Maaf Pak, maaf Saya tidak melihat," ucap Rivan sambil memunguti pecahan ponsel yang berserakan di depan pintu itu.


"Sudahlah tidak apa-apa ini hanya sebuah ponsel."


"Tapi ponsel ini mahal, jika rusak Saya akan bertanggung jawab menggantinya Pak," ucap Rivan.


"Oke nanti Saya cek dulu."


"Nama Saya Rivan, dan ini kartu nama disitu juga ada nomor telepon Saya. Anda bisa menghubungi Saya. Maaf Saya sedang buru-buru Pak."


"Tunggu! Rivan? Namamu Rivan?"

__ADS_1


"Iya, Anda mengenal Saya?"


__ADS_2