Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 47


__ADS_3

"Kok gini banget ya pengantin baru. Apa jangan-jangan kamu sengaja mengajakku bulan madunya disini iya kan?" tanya Kevin tangannya membuka paksa tangan Kinan yang menutupi mukanya karena tertawa.


"Tidak, aku tidak terpikir ke arah sana."


Dia berpikir sejenak, "Ya sudah kalau begitu kita tidur saja," Dia tidur diatas dada Kinan. Dan kembali memejamkan matanya. Tangannya memegangi perut istrinya itu.


Kinan berusaha mendorong-dorong badan Kevin. "Tidurlah dibantal sana jangan di dadaku! Sesak sekali untuk bernapas."


"Tidak, disini empuk sekali."


"Iiiih, aku tidak bisa bernapas, kamu mau aku mati." Tangannya masih mendorong suaminya.


Kevin mengangkat kepalanya, "Ya sudah tapi ada satu syaratnya." Mata Kinan membulat mendengarnya. Suaminya bersembunyi lagi di dadanya dan dia memberikan tanda merah padanya disana. Melepaskan pelukannya dan tidur membelakangi istrinya yang sedang marah.


Kinan langsung melihat tanda itu, "Kevin," teriaknya. Raut wajah kesal nampak jelas. Dia duduk dan memukul-mukul bahu suaminya yang sedang membelakanginya tapi tidak direspon sama sekali. Dia kembali membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya.


Satu jam kemudian, setengah sadar Kevin meraba-raba istrinya yang tidur disampingnya tapi tidak ada. Dia membuka matanya dan memanggil-manggil istrinya, "Kinan," tidak ada jawaban. Dia bangun dan keluar dari kamar itu.


Bola matanya berkeliling mencari istrinya. Terdengar suara dari arah dapur. "Kinan, tolong ambilkan aku minum!" Dia langsung duduk di kursi tamu itu. Tak lama kemudian Kinan membawakan satu botol air mineral untuknya.


Wajahnya cemberut dan langsung memberikan minum itu pada suaminya. "Nih!" Dahinya mengkerut, matanya melirik tajam ke Kevin. Kevin pun membalas dengan tatapan tajam pula. Kinan langsung berjalan kembali ke dapur lagi meninggalkannya.


"Tunggu! Masakan aku makan malam yang enak! Apa tidak ada air dingin?" tanya Kevin, tangan kanannya memegang botol air mineral itu.


Kinan menghentikan langkahnya, memejamkan matanya, meremas-remas tangannya dan membalikkan badannya. "Kan aku sudah bilang disini tidak ada fasilitas apapun. Jadi jangan samakan disini dengan di rumahmu!"


Kevin langsung berdiri, dahinya mengkerut mendengar ucapan istrinya. "Apa kamu tidak bisa bicara pelan?"


"Ada apa ini? Pengantin baru sudah ribut-ribut," tanya wanita tua itu.


"Kevin tuh Nek, mengeluh saja daritadi. Kasur yang keras, dipan yang mau runtuh, pintu yang tidak bisa dikunci sekarang minum juga mintanya air kulkas, sukanya menyuruh terus. Memang rumah ini rumahnya."

__ADS_1


"Kinan, kamu tidak boleh bicara seperti itu! Dia kan suamimu," ucap wanita tua itu.


"Tuh dengerin!" saut Kevin.


Kinan dengan wajah menunduk akhirnya dipeluk dan diajak ke dapur lagi oleh wanita tua itu. Terlihat di dapur itu si Nenek menasehati dan mengelus-elus kepalanya.


Tak lama kemudian Kinan berdiri dan berjalan keluar rumah. "Mau kemana?" tanya Kevin yang masih duduk di kursi dengan memegang hpnya.


"Mau belanja," jawab Kinan dengan meliriknya.


"Ikut." Kinan mengerutkan dahinya. Dan langsung berjalan pergi begitu saja. Kevin memasukkan ponselnya di saku celana pendeknya dan berjalan mengikutinya dari belakang.


"Aku tidak tau ya bagaimana anak buahmu, karyawan-karyawanmu bisa menghadapi pimpinan menyebalkan sepertimu," gerutu Kinan yang masih berjalan cepat di depan Kevin.


"Mereka menurut semua buktinya dan sangat hormat padaku," ucap Kevin. "Bisa tidak jalanmu lebih pelan sedikit!"


Kinan menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, "Siapa yang menyuruhmu ikut?" tanyanya.


"Ya aku kan tidak bisa jauh darimu," jawab Kevin dengan mengangkat sebelah alisnya, memiringkan kepalanya dan mendekatkan ke wajah Kinan.


Sesampainya di warung Kinan langsung memilih belanjaannya. Tak sengaja dia mendengar tiga Ibu-ibu sedang membicarakan suaminya dan mereka bertiga berjalan mendekatinya. "Orang baru disini ya? Dari kota ya?" tanya salah satu Ibu-ibu itu. Kevin hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Mulut Kinan menganga melihat suaminya dikelilingi Ibu-ibu itu. Dan berusaha secepat mungkin menyelesaikan belanjanya. Dia berhenti sebentar dan matanya melirik tajam ke arah Kevin, seolah-olah memberikan tanda bahwa dia tidak menyukai itu semua.


Dia terus berjalan cepat, sesekali dia menoleh kebelakang berharap Kevin mengejarnya. Tapi dia masih sibuk menanggapi Ibu-ibu yang menghampirinya. Wajah Kinan terlihat cemberut dan berjalan sambil meremas-remas tangannya.


Dia tidak fokus berjalan karena selalu menoleh ke belakang melihat suaminya itu hingga menabrak seorang laki-laki di depannya.


Bruukk


Dia terpental pelan dan matanya membulat melihat orang yang ditabraknya. "Kinan, ka-mu sekarang cantik sekali. Ka-mu kesini pasti ingin bertemu denganku kan? Ingin melanjutkan rencana pernikahan Kita dulu kan? Ha, ha," tanya laki-laki itu. Dia tertawa lepas bersama dua Anak buahnya.

__ADS_1


"Haah bang Jeki," ucap Kinan. Jantungnya berdegup kencang dengan pelan dia melangkahkan kakinya kebelakang. Namun Jeki terus mengejarnya. Sampai akhirnya Kevin tiba-tiba datang mendorong laki-laki yang membuat istrinya takut itu hingga terjatuh.


Kinan langsung bersembunyi dibelakang tubuh Kevin dan memegangi lengannya. "Apa yang akan kamu lakukan dengan istriku? Jika sekali saja kamu berani menyentuhnya, akan ku habisi nyawamu," ancamnya.


"Kinan, kamu sudah menikah? Tega sekali kamu, aku selama ini masih mencintaimu," ucap Jeki yang masih terjatuh di tanah dan di bantu oleh kedua Anak buahnya.


Kevin masih menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Mereka berdua berjalan meninggalkan Jeki dan dua Anak buahnya itu.


"Coba kalau kamu tidak aku temani, aku tidak bisa membayangkan nasibmu sekarang bagaimana?" ucap Kevin dengan membuang mukanya dari Kinan.


"Iya, aku minta maaf." Kinan menundukan kepalanya dan masih berjalan dibelakang suaminya.


"Maaf terus." Kevin mengerutkan mukanya.


"Salah siapa kamu malah lebih menanggapi Ibu-ibu tadi daripada aku."


Kevin membalikkan badannya, mencubit mesra hidung istrinya. "Kamu cemburu ya?" Kinan hanya menundukan kepalanya dan membuang sedikit senyumnya. Kevin langsung menggandeng tangan Kinan pulang menuju rumah.


Sesampainya di rumah, ada sebuah mobil mengantarkan tempat tidur pesanan Kevin. Dan memasukkannya ke dalam kamar.


"Kapan kamu membelinya?" tanya Kinan keheranan.


"Tadi aku beli ditoko online terdekat, aku suruh segera antar. Keburu roboh itu dipan tidak lucu juga kan," jawab Kevin dengan sibuk mengecek tempat tidur barunya. Kinan hanya menahan tertawa dengan membuang mukanya.


Dia melanjutkan tugas memasakan suaminya sebelum memakannya bersama-sama. Tidak ada hiburan membuat Kevin mondar-mandir tidak jelas. Akhirnya dia memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur barunya dan memainkan ponselnya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu," tanya Kinan yang tiba-tiba datang ke kamar.


Kevin tidak begitu memperdulikan istrinya berbicara dan terus melihat ponselnya. Kinan mengerutkan dahinya dan mengambil paksa ponsel suaminya.


"Eeh," teriak Kevin yang berusaha merebut ponselnya lagi. Mata Kinan membulat melihatnya.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" tanya Kinan.


Nanti like, coment sama votenya jangan lupa!


__ADS_2