Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 49


__ADS_3

Pagi sekali mereka sudah bangun. Kevin mengeluh dengan sakit di badannya karena tidur di kursi semalam. Kinan tidak tega melihat suaminya, dia tau suaminya tidak terbiasa hidup seperti ini. Tanpa berpikir-pikir panjang akhirnya Kinan memutuskan untuk pulang hari ini juga.


Kevin berjanji pada wanita tua itu untuk menyuruh orang merenovasi rumahnya dan membiayai kebutuhannya setiap bulan.


"Kami pamit pulang dulu. Maaf telah merepotkan. Aku sangat berterimakasih padamu Nek!" ucap Kevin kemudian dia memeluk erat wanita tua itu.


"Hati-hati ya Nak! Nenek akan selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua," pesan wanita tua itu.


Mereka berdua berjalan menuju mobil. Tampak jelas raut wajah kesedihan diantara mereka bertiga. Kinan memandangi rumah dan wanita tua yang melambai-lambaikan tangannya sebelum masuk dalam mobil. Kevin mengelus-elus pundaknya, untuk menyudahi kesedihan itu.


"Kapan-kapan kita kesini lagi ya!" ucapnya yang membuat hati istrinya sedikit lebih lega. Dia membalas dengan senyuman dan mereka melakukan perjalanan pulang.


"Kita langsung pulang ya? Tulang-tulangku mau rontok rasanya gara-gara tidur di kursi semalam," ucap Kevin yang masih sibuk mengendalikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kinan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


...****************...


Sesampainya di rumah, Kevin langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Kinan berusaha berbicara padanya ingin menemui Tantenya.


"Sayang aku boleh ke menemui Tante Ina? Aku bosan di rumah. Nanti aku akan naik taksi saja. Kamu terlihat lelah tidurlah!" ucap Kinan. Kevin membuka sedikit matanya.


"Ya sudah, Aku suruh sopirku saja menjemputmu. Kamu jangan naik taksi sendirian. Aku tidak bisa tidur nanti." Tangannya sibuk meraba-raba saku celananya dengan mata yang menahan kantuk dan mengambil ponselnya.


Terdengar dia menelepon supirnya. Kinan menunggu di samping suaminya yang sudah memejamkan matanya. Tak selang beberapa lama kemudian.


Tin tin tin


Suara klakson mobil terdengar dari arah luar. Kinan berdiri dan siap untuk keluar. Namun tiba-tiba Kevin menarik tangannya dan Kinan jatuh di atasnya.


"Eh," teriaknya.

__ADS_1


"Cium aku dulu!" seru Kevin yang masih memejamkan matanya. Tangannya masih mengunci badan istrinya yang berada di atasnya itu.


Cuuuuup


Ciuman mesra mendarat di pipi suaminya. "Uuuhhk," teriak Kevin sambil tangan kirinya memegangi pipi yang sudah dicium istrinya itu.


"Lebay, lebay, lebay." Kinan mengambil bantal dan menutup muka suaminya yang tertawa dengan mata yang masih terpejam itu. "Ya sudah aku berangkat dulu." Dia bergegas merapikan bajunya dan keluar meninggalkan suaminya yang melanjutkan tidurnya.


...****************...


"Els," teriak Kinan sesampainya di rumah keluarga Kevin. Dia berlari menghampiri anak kecil yang sedang bermain di taman rumahnya itu bersama Tantenya.


Dengan mulut ternganga dan mata membulat, Els berlari menyambutnya dan memeluk Kinan. "Tante, Els senang sekali Tante main kesini," ucap anak itu.


Tante Ina ikut menghampirinya. "Kinan, kamu kesini sendiri?" matanya melihat-lihat ke arah mobil yang ditumpangi keponakannya itu.


"Iya, Om Kevin kemana Tante?" tanya Els.


Tangan kanan Tante Ina mengelus-elus kepalanya, "Ya sudah tidak apa-apa. Ayo kita masuk!


Mereka bertiga berjalan ke dalam rumah. Menghabiskan waktu seharian untuk memasak, dan bermain bersama. Tante Ina masih tetap ingin mengasuh dan menjaga Els walaupun Kevin sudah melarangnya dan berniat mencari penggantinya. Tidak dikaruniai keturunan di pernikahannya terdahulu membuatnya sayang dan menganggap Els sebagai anak kandungnya sendiri.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Kevin datang dengan mobilnya. Diam-diam dia mengagetkan istrinya yang tengah sibuk sendirian menata bunga di taman belakang rumah itu.


Dengan sigap Kevin memeluk istrinya dari belakang yang sontak membuatnya kaget. "Kevin lepaskan! Malu nanti ada yang melihat kita." Mata Kinan berkeliling melihat sekitar. Kinan langsung membalikkan badannya dan mencubit keras perut suaminya itu.


"Aaaahhhkk, sakit tau," teriaknya yang tidak sengaja di dengar oleh Tantenya.


Tante Ina tiba-tiba muncul di depan mereka, "Kinan ada apa? Kamu tidak boleh kasar seperti itu dengan suamimu!" Kinan hanya menunduk malu.

__ADS_1


"Tuh dengerin!" matanya melotot tajam ke arah Kevin yang terlihat sedang menahan tawanya. Tante Ina langsung berjalan meninggalkan mereka berdua lagi.


Dari arah dalam rumah terdengar suara anak kecil yang memanggil-manggil namanya dan berlari ke arah nya, "Om Kevin, Om Kevin!" Kevin langsung menyambutnya dengan pelukan.


Cuuuuup cuuuuup


Ciuman Els mendarat di kedua pipinya, "Uuuuhhk, hari ini kayak hari keberuntungan Om Kevin. Di cium dua cewek sekaligus," ucap Kevin yang masih dengan tangan menggendong keponakannya itu.


Kinan hanya menyembunyikan tawa dengan membuang mukanya. "Nanti malam aku tidur sini ya! Sama Tante Ina dan Els juga." Ucapan Kinan seketika membuat wajah Kevin menjadi cemberut dan dia menurunkan Els dari gendongannya.


"Nanti Tante tidur sini? Hore, hore," sorak Els kegirangan sambil memutar tubuhnya dan meloncat-loncat.


Kevin yang mendengar itu semua langsung menatap tajam ke arah istrinya. "Sengaja," dahinya mengkerut seketika.


Kinan menutupi mukanya karena tidak kuat menahan tawa, apalagi teringat kejadian di rumah Nenek kemarin.


"Begini Els, Tante sama Om malam ini tidak bisa tidur disini dulu. Eem, besok atau lusa saja ya kita tidur disini. Soalnya di rumah Om Kevin kalau malam itu selalu ada tikus nakal yang keluar cari makan. Nanti kalau Om dan Tante tinggal, tikusnya bisa-bisa menghabiskan semua makanan. Nanti malam Om akan tangkap tikus itu dulu ya!" ucap Kevin matanya melirik tajam Kinan yang tak henti-hentinya menahan tawa dengan menutupi mulutnya.


"Haa, tikus. Els geli sama tikus Om. Ya sudah ditangkap dulu tikusnya. Els mau melanjutkan main boneka dulu ya Om." Anak itu berlari menuju kamarnya lagi.


Dia berjalan ke arah Kinan, dahinya mengkerut seketika, bola matanya melirik kiri kanan memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Kinan dan berbisik, "Jadi kamu kesini itu sengaja mau menghindariku? Aku bilangin Nenek atau akpu langsung cerita ke Tantemu sebenarnya, mau?" ancam Kevin.


Kinan merinding dengan bisikan suaminya itu. Napasnya benar-benar terdengar jelas di telinganya. Dia mendorong pelan suaminya. "Tidak. Kenapa kamu selalu berpikiran buruk seperti itu? Ya sudah ayo pulang." Kevin tersenyum dengan penuh kemenangan.


Mereka berdua berpamitan pada Tante Ina dan Els. Dengan cepat dia mengendarai mobilnya.


"Biasa saja lah nginjak gasnya itu!" seru Kinan.


"Sudah tidak bisa dianggap biasa lagi, sudah di pucuk ini rasanya."

__ADS_1


"Pfffttt, Apanya?" tanya Kinan memegangi perutnya yang mengeras karena menahan tawa.


__ADS_2