
"Kinan, Kinan bangun, aku mohon bangun Kinan!" Rivan berusaha membangunkan Kinan tapi tidak ada respon sama sekali dari kekasihnya itu.
"Maafkan aku Kinan, maafkan aku." ucapnya sambil memeluk tubuh Kinan.
"Kalian ini bagaimana, kenapa bisa seperti ini. Kalian tidak harus membunuhnya. Aku harus cepat-cepat membawanya ke rumah sakit." ucap Rivan melihat menutupi tubuh Kinan dengan jaketnya dan hendak akan menggendongnya.
"Eh Rivan kamu gila apa? Dia sudah jelas-jelas mati, mau membawanya ke rumah sakit juga percuma yang ada malah kita yang ditangkap polisi. Aku tidak mau tau, jika kita bertiga ditangkap polisi kamu juga harus ikut. Karena kamu dalang dari semua ini." ucap Dino marah-marah.
Rivan sangat kebingungan. "Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dalam hati.
"Eh Van, kamu jangan malah melamun! Ayo kita kubur pacarmu di belakang rumah ini saja." ucap Dino.
Rivan seperti tidak rela jenazah Kinan dikuburkan sembarangan seperti itu. "Jangan Din, Aku tidak mau. Apa disini tidak ada tempat pemakaman?"
"Gila kamu Van, kamu pikir semudah itu menguburkan mayat ditempat pemakaman umum. Yang ada malah kita yang ketangkap karena membunuh pacarmu." kata Tio emosi.
"Tapi jika dikuburkan di belakang rumah, lama-kelamaan pasti akan ketahuan juga Din. Seperti di berita-berita itu yang ada ini kan rumahmu pasti kamu yang pertama dicurigai." ucap Ale.
"Benar juga, begini saja kita buang dia di hutan sana. Disana jarang ada orang masuk hutan itu karena jauh dari rumah penduduk juga. Sudah ayo cepat-cepat! Rivan angkat pacarmu masukan kedalam mobil, belum juga puas sudah mati duluan rugi besar aku."
Tangan Rivan gemetaran, pengalaman buruk pertama ikut serta terlibat kasus pembunuhan. Setelah masuk di dalam mobil Rivan, Dino, Ale dan Tio bergegas menuju hutan itu. mereka masuk ke dalam hutan dan membuang tubuh Kinan begitu saja.
__ADS_1
Dino, Ale dan Tio bergegas untuk menjauh pergi. Tapi Rivan masih menatap Kinan sambil meneteskan air matanya.
"Rivan kamu mau menemani dia disini, atau ikut pulang. Cepat nanti ada orang tau keberadaan Kita, Kita bisa-bisa tertangkap!" Dino marah-marah.
Sambil memandangi wajah Kinan dan menghapus sisa air matanya, Ale mengandeng paksa tangan Rivan untuk segera pergi lari. Setelah sampai di dalam mobil, mereka langsung kembali ke tempat mobil Rivan parkir dan menurunkan Rivan begitu saja dengan kasar.
"Turun! Kita mulai sekarang tidak mau lagi berurusan denganmu ya. Dan jangan pernah dekati Clara lagi atau nasibmu sama seperti pacarmu!" ucap Dino marah-marah dan mengancam Rivan. Dia meluapkan semua rencana busuknya kepada Rivan selama ini. Dan mereka pergi begitu saja meninggalkan Rivan.
Rivan kaget dan tidak menyangka, ternyata Dino selama ini tidak tulus berteman dengannya. "Clara benar kata Clara mereka jahat. Aahhkk aaahhhkk." teriaknya.
"Semua sudah terlambat, Kinan, Kinan sudah mati. Aku-aku sungguh jahat sekali." Rivan menyesali semua perbuatannya.
Dia membuka kamar kos nya. Melihat isi kamar kos nya. Matanya tertuju pada tempat tidurnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia teringat bagaimana kasarnya memperlakukan Kinan dulu.
"Aku memang jahat Kinan, aku sangat jahat. Bagaimana aku harus hidup tenang dengan penyesalan seperti ini?" tangisan Rivan membuat matanya lelah dan tertidur pulas.
Tok tok tok.
Rivan terbangun karena ada yang mengetuk pintu. Dia berjalan segera membuka pintunya. Orangtuanya datang, sontak membuat Rivan kaget.
"Mama Papa? Ada apa datang kesini?" tanya Rivan.
__ADS_1
"Memang kami tidak boleh melihat kamu Van?" ucap Mama keheranan melihat sikap aneh Anaknya.
"Boleh kok Ma, silahkan masuk!" jawab Rivan gugup.
"Bagaimana kamu nyaman tinggal di kos ini?" Rivan hanya terdiam tanpa menjawabnya. "Rivan kenapa kamu melamun saja?" tanya Mama.
"Eh iya Ma, eh tapi aku mau pulang saja Ma. Bolehkan aku ingin tinggal bersama Mama dan Papa lagi. Lagi pula kan sudah ada mobil jadi perjalanan agak jauh dari kampus dan rumah tidak apa-apa." ucap Rivan karena sebenarnya Rivan ingin melupakan perlakuan buruknya kepada Kinan. Tinggal di kamar kos ini hanya akan menghantui hari-hari Rivan.
"Kamu itu bagaimana Van, bukannya mobil itu sudah dari masuk kuliah Papa belikan. Tapi kamu yang ngeyel ingin kos sendiri. Sekarang ingin balik ke rumah." ucap Papa Rivan kebingungan dengan tingkah Anaknya.
"Sudahlah Pa lagian bagus kan dia mau berkumpul dengan kita lagi. Ya sudah Mama tunggu Kamu pulang ke rumah ya nak. Mama dan Papa pulang dulu."
Setelah orangtuanya pergi Rivan membereskan semua baju-baju dan barang-barangnya. Memasukan satu persatu ke dalam kopernya. Saat membersihkan mejanya dia melihat foto dibingkai yang berdiri di depannya. Dia menangis sambil meraba-raba foto itu. Foto itu adalah foto kenangan waktu SMA dengan Kinan.
"Aku tidak boleh hanyut dalam perasaan ini terus-menerus, Aku harus buru-buru meninggalkan tempat ini." dia meletakkan foto mereka di kopernya. Setelah selesai berkemas dia langsung pamit Ibu kos dan pergi meninggalkan tempat itu.
Perasaannya sedikit lega sesampainya di rumah. Dia menempati kamar tidurnya lagi. Dia menyimpan baik-baik foto dia bersama Kinan di lemari terdalamnya. Dia ingin berusaha melupakan Kinan.
Hari terus berganti bukannya lupa dia malah selalu dirundung rasa bersalah. "Apa yang bisa aku lakukan? Aku minta maaf Kinan, Aku minta maaf Anakku. Apa yang bisa aku tebus dari dosa sebesar ini."
"Aku bertobat, Aku ingin berubah." Rivan menangisi semua perbuatannya. Dia berjanji kepada dirinya sendiri akan berubah menjadi lebih baik walaupun sudah terlambat.
__ADS_1