
"Biar aku antar ya!" ucap Kevin.
Kinan berpamitan pada Tantenya, Els dan seluruh orang yang ada disitu. Dan mereka berdua masuk mobil menuju toko kue Kinan.
"Bagaimana aku hebat kan bisa langsung menemukan Tantemu?" ucap Kevin melirik ke arah Kinan dan tangannya masih memegang kemudi mobil itu.
Kinan hanya tersenyum kecil, "Eh, itu hanya kebetulan."
"Tidak ada kebetulan bagiku. Tuhan sudah merestui kita tinggal di kamunya saja maunya kapan?"
"Kata siapa? Kamu belum membantu mencari solusi hutang piutangku." Kinan memalingkan mukanya.
"Itu gampang, kamu kan sudah disini nah kamu jual saja semua aset-aset di tempat tinggalmu disana! Rumah, cabang toko kue jual semua buat menutup hutang-hutangmu!"
Ekspresi wajah Kinan mengeras, "Loh kok gitu? Salah satunya akan ku berikan pada Tante Ina."
"Oh, terserah jika kamu masih keras kepala. Silahkan saja kamu bermain-main dengan hutang. Bayangkan saja kamu sekarang berhutang pada rentenir yang akan menikahimu paksa itu! Mungkin sekarang kamu sudah menjadi istrinya karena telat bayar seperti ini. Untung saja hutangmu dengan Bank. Yang ada Bank akan memenjarakanmu bukan menikahimu."
Kinan berpikir panjang tentang ucapan Kevin. Dia hanya terdiam dan melamun. Sesekali Kevin meliriknya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesampainya di toko kue, Kinan langsung berlari meninggalkan Kevin. Membantu sahabatnya yang sedang kerepotan melayani pembeli.
"Maaf ya Win lama, tadi aku sudah bertemu Tanteku."
"Haaa," mulut Wina menganga lebar, matanya melotot tajam ke arah Kinan. Kinan langsung menutup mulut Wina dan melayani pembeli satu persatu.
"Nanti aku ceritakan," bisik Kinan.
Tiba-tiba Kevin datang, "Ada yang bisa dibantu tidak?"
"Tidak usah, kamu duduk saja!"
Setelah mulai sepi Kevin menghampiri Kinan.
"Seperti kamu harus menambah karyawan lagi."
"Tau tuh Kinan," ucap Wina dengan memalingkan mukanya.
"Iya, iya." jawab Kinan cemberut.
"Win, aku mau ngajak Kinan jalan bolehkan?" tanya Kevin tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.
"Eh, memangnya aku ini emaknya? Mau jalan, mau pacaran, mau nikah ya terserah kalian berdua."
"Pintar kamu Win, ya sudah restuin kita berdua ya!" Kevin menggandeng tangan Kinan berlari ke arah luar masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kamu mau mengajakku kemana lagi?" tanya Kinan yang masih menekuk mukanya.
"Aku sudah memenuhi semua persyaratan yang kamu minta. Sekarang aku menagih semua janjimu." Kevin mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan dan tangannya sibuk meraih sabuk pengaman.
Itu terlalu dekat, badan Kinan terasa kaku tidak bisa digerakkan, jantungnya berdegup kencang, dia menutup matanya dengan erat. Hampir tidak bisa bernapas. Dan Kevin masih terus menatapnya tajam.
Klik
Sabuk pengaman itu sudah terpasang di badan Kinan. Kevin menjauh dan mulai mengemudikan mobilnya.
"Huuufff," Kinan melirik Kevin.
"Kenapa lihat-lihat? Awas ya kalau kamu mengingkari kesepakatan kita!" ancam Kevin.
"Apa kamu tidak bisa mengajak wanita menikah dengan lebih romantis! Ini namanya pemaksaan." Kinan membuang mukanya.
"Kamu tidak bisa di ajak romantis-romantisan yang ada malah penyakit traumanya kambuh. Ujung-ujungnya nangis-nangis lagi."
"Ya sudah ngapain ngajak nikah orang trauma kayak aku?" Kevin hanya melirik tajam ke arah Kinan tanpa menjawab nya. Dan menambah kecepatan mobilnya.
Wuuuuusss
Tak lama kemudian Kevin membuka pintu mobil untuk Kinan. "Kamu ingat kan kita pernah kesini?" Kinan hanya tersenyum.
Kinan membalikkan badannya, "Kevin maukah kamu bermain air dengan ku?" teriaknya.
"Tidak, aku kesini bukan mengajakmu untuk bermain-main." ucap Kevin, wajah Kinan seketika berubah menjadi cemberut.
"Ya sudah pulang saja."
Kevin menahan Kinan yang berada disampingnya dengan memegangi perutnya, "Kevin geli lepaskan! Aku tidak suka kamu bersikap seperti ini."
"Kinan aku mau bicara serius denganmu, apa kamu selalu berpikir aku mengajakmu menikah itu bercanda?" bentak Kevin.
"Aku tidak tau Vin, aku tidak bisa menjawab." Kinan berjalan membelakangi Kevin.
"Kelamaan," Kevin membuang mukanya. "Sudah besok aku akan bilang Bu Ina akan menikahimu."
"Aku hanya tidak mau kamu menyesal menikah dengan wanita sepertiku. Aku tidak akan bisa membahagiakanmu. Mana ada laki-laki yang betah pada wanita yang tidak memiliki nafsu sepertiku. Seperti wanita menopause." Kinan menundukan pandangannya.
"Hai, kamu masih muda mana ada menopause di usiamu." Kevin membalikkan badan Kinan dan menatapnya tajam, memulai pembicaraan dengan serius, "Berdamailah dengan masa lalumu! Anggaplah itu bekal untuk masa depanmu! Aku tau ini tidak mudah, aku akan membantumu, menerimamu dengan semua cinta yang ada dihatiku."
"Apa selamanya kamu akan seperti ini? Apa kamu tidak ingin mempunyai Anak yang kelak akan mendoakanmu saat tua nanti? Kinan aku yakin kamu bisa."
Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kevin menyapu air mata yang mengalir di pipi Kinan.
__ADS_1
"Tenanglah, aku sudah bahagia hanya bisa memilikimu dan itu sudah menjadi impianku dari dulu." Kevin membuka tangannya lebar, "Kemarilah! Peluklah aku!"
Kinan menatapnya dan langsung memeluknya. Detak jantung itu sangat jelas terdengar ditelinganya dan Kinan terlihat sangat menikmati itu dengan memejamkan matanya.
Kevin melepaskan pelukannya dan memegang kepala Kinan, "Aku akan menikahimu, besok aku akan minta izin pada Bu Ina."
"Untuk kesekian kalinya aku bertanya lagi, Maukah kamu menikah denganku?" Kevin memiringkan kepalanya dan mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban dari wanita yang berada di depannya.
Kinan hanya menganggukan kepalanya. "Aku mau mendengar kamu menjawabnya dengan mulutmu."
"Iya."
"Benarkah?" matanya terlihat berbinar-binar. Kinan menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada Kevin. Kevin kembali memeluknya erat.
"Kinan, aku sangat bahagia hari ini."
"Aku juga, terimakasih banyak ya Vin." Mereka berpelukan kembali.
"Eh, bagaimana kalau aku tadi menolakmu?" tanya Kinan.
"Tidak apa-apa, aku besok akan menikahi Wina."
Kinan melebarkan matanya dan mencubit perut Kevin, "Aaaaaaahkk sakit," teriak Kevin menjauhkan perutnya dari tangan Kinan.
"Kamu mau membuatku cemburu seumur hidup?"
"Itu hukuman yang tepat untuk orang yang membanggakan gengsinya, ha, ha, ha."
Matahari sudah tidak tampak lagi, mereka menuju mobil dan Kevin mengantarkan Kinan kembali ke toko kuenya. Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya tersenyum melihat satu sama lain.
Setelah sampai depan toko kuenya, "Besok aku akan menjemputmu," ucap Kevin dengan memegang tangan dan merapikan rambut Kinan.
"Iya, aku masuk dulu."
"Tunggu! Kamu tidak membekaliku begitu?"
"Kamu lapar? Aku ambilkan kue ya!"
Kevin terlihat gemas menggenggamkan tangannya dan memegang dahinya, "Maksudku kamu tidak memeluk atau menciumku untuk bekal tidurku nanti malam? Kamu mau nanti malam aku tidak bisa tidur?"
Kinan hanya terdiam dengan permintaan Kevin dan itu mengingatkannya pada Rivan dulu. Kevin yang melihat reaksi Kinan tidak ingin melanjutkan permintaan konyolnya.
"He, he, he, lupakan aku cuma bercanda! Masuklah!"
__ADS_1