
Sesampainya di rumahnya, Kevin langsung menggandeng tangan Kinan masuk ke dalam rumah. Dengan cepat Kevin menaiki anak tangganya untuk menuju kamar.
"Ini masih sore," teriak Kinan.
"Memang kenapa?"
"Aku mau mandi." Kinan berjalan meninggalkannya.
Kevin langsung menangkap perut istrinya dari belakang dan menciumi bahunya, "Tidak usah mandi, aku suka bau badanmu seperti ini." Kinan beberapa kali mencoba melepaskan tangan suaminya tapi tidak bisa.
Ting tong
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Kevin berhenti menggoda istrinya. Memejamkan matanya dan mengerutkan dahinya. Seketika itu juga dia melepaskan tangannya yang memegang perut langsing istrinya.
Dengan cepat Kinan langsung lari ke kamar mandi. Dia turun membukakan pintu dengan penuh emosi.
Cekleek
"Pengantin baru," teriak Rey.
Kevin langsung memegang dahinya, meremas-remas tangannya rasanya tidak tahan untuk mengarahkan kepalan tangannya ke wajah Rey.
"Woi," teriak Rey. Matanya membulat, tangannya kanannya menahan kepalan tangan yang akan mendarat di wajahnya. Rey kaget melihat reaksi sahabatnya itu.
"Rey, kamu tau waktu tidak? Kamu datang membuyarkan semuanya," teriak Kevin.
"Yang tidak tau waktu itu kamu apa aku? Ini masih sore woi!" teriak Rey mendekatkan mulutnya ke telinga Kevin.
"Pengantin baru tidak peduli pagi, siang, sore, malam mengerti? Mau apa kesini? Masuklah cepat!" Kevin membanting pintunya. Rey berjalan ke arah ke arah meja makan. Di ikuti Kevin dari belakang yang masih menatapnya tajam.
"Tidak ada makanan apa-apa ini?" tanya Rey dengan mengangkat sebelah alisnya.
Kevin mengerutkan dahinya dan mulai mengepalkan tangannya lagi.
Rey menahan tawanya, "Pfffttt, iya-iya maaf."
"Langsung saja jadi ada perlu apa kamu kesini?" tanya Kevin dengan wajah datar.
"Mengajakmu main layangan."
__ADS_1
"Sudah gila kamu Rey. Demi apa, rasanya aku sudah tidak tahan ingin memukul kepalamu." Kevin siap mengarahkan tangannya ke kepala sahabatnya yang sedari tadi menggodanya.
Kinan yang mendengar keributan itu langsung keluar kamar dan menuruni anak tangganya dengan cepat. Dia melihat suaminya seperti sedang menahan emosinya pada Rey.
"Rey, ternyata kamu tamunya."
Rey langsung menoleh ke arah Kinan. "Apa aku mengganggumu Kinan?" tanyanya.
"Tentu saja tidak," mata Kevin membulat mendengar ucapan Kinan dan Rey dia masih menahan tawanya.
"Aku masak makan malam dulu ya! Kamu belum makan juga kan Rey?" Kinan menuju dapur dan mempersiapkan semuanya dengan cepat.
"Ya belum lah, memang disini tidak ada asisten rumah tangganya. Kasian banget pengantin baru masak sendiri," goda Rey.
"Sengaja biar kita bisa bebas melakukan di kamar, di dapur, di meja makan, di halaman tanpa ada yang melihat, termasuk kamu," ucap Kevin yang masih dipenuhi dengan emosi. Rey masih menahan perutnya yang mengeras karena ucapan Kevin.
Setelah makan malam, Rey langsung pamit pulang. "Oke, aku kenyang sekarang aku mau pamit pulang dulu," ucap Rey yang membuat Kevin masih emosi.
"Jadi kesini kamu cuma minta makan?"
"Aku cuma mengetes kalian saja. Kinan kamu pintar masak, aku akan sering-sering kesini untuk memakan masakanmu," Kinan hanya tersenyum.
"Kenapa daritadi tidak ngomong?"
Rey masih tersenyum menggodanya dan langsung pamit pergi dari rumah mereka. Terlihat Kevin yang mengusap-usap mukanya dan pergi begitu saja dari meja makan. Kinan cepat-cepat membereskan semua dan menyusul suaminya ke dalam kamar.
Cekleek
Suara pintu dibuka. Kevin terlihat duduk di atas tempat tidurnya. Jari-jari tangannya dengan cepat menggeser-geser tabletnya. Matanya hanya melirik ke arah Kinan yang datang menghampirinya dan setelah itu kembali pada layar tabletnya.
"Apa ada masalah?" tanya Kinan yang duduk disampingnya.
"Sedikit, besok aku harus masuk dan juga aku pesan kue-kuemu ya untuk rapat penting! Nanti biar diambil salah satu karyawanku. Sekarang tidurlah!" Mata Kevin kembali ke layar tabletnya lagi.
Kinan kebingungan dengan tingkah suaminya. Dia pelan-pelan tidur disampingnya. Memandangi wajah suaminya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku minta maaf, seharusnya hari ini kamu bahagia dengan pernikahanmu. Tapi malah sebaliknya. Harusnya kamu tidak perlu menikahi wanita gila sepertiku." Kinan membuang mukanya.
Kevin menghentikan jari-jarinya. Dia menoleh ke arah istrinya. Kinan bangun dari tidurnya dan beranjak turun dari tempat tidur itu. Kevin memegangi tangannya. "Mengapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Nenek kemarin sudah banyak menasehatiku, tidak ada laki-laki yang betah bersama wanita sepertiku jika aku tidak mau merubahnya. Apalagi kamu terbiasa dengan wanita-wanita lentik diluar sana dulu, tiba-tiba dengan wanita kanebo kering seperti ku." Kinan lagi-lagi membuang mukanya menyembunyikan kesedihannya.
Kevin tersenyum tipis, meletakkan tabletnya di meja dan memeluknya. "Maafkan aku, tadi ada sedikit masalah dipekerjaan. Aku akan selesaikan besok. Jangan bicara seperti itu! Aku tidak ingin kehilanganmu sayang." Dia melepaskan pelukannya dan menatapnya tajam. Punggung tangannya mengelus-elus pipi istrinya. Membuat istrinya merinding.
"Bukankah tadi kamu menginginkannya?" tanya Kinan yang memandang dengan hangat.
"Apa kamu juga menginginkannya?" Kevin memiringkan kepalanya dan mengangkat sebelah alisnya.
"Aku akan mencobanya."
"Oh iya? Cium bibirku sekarang." pinta Kevin.
Cuuuuup cuuuuup
Dengan cepat Kevin langsung membalas ciuman itu. Membaringkan istrinya dan mulai menikmati malam yang telah ditunggunya. Tanpa ada penghalang sedikit pun seperti kejadian sebelumnya.
"Aku akan lakukan pelan, Kamu tidak perlu takut lagi. Aku begitu menyayangimu."
Cuuuuup cuuuuup
Dia menciumi bibir Kinan. Kinan merintih pelan, napasnya mendesah perlahan, entah kenapa semakin membuat Kevin menggila. Dan membuka semua pakaiannya.
"Katakan jika ini sakit! Aku tidak bisa menahannya pelan." Dia masih kembali menciumi bibir indah itu seolah-olah ingin memindahkan rasa sakit itu kesana.
Sekitar lima menit kemudian, "Aku ingin buang air kecil rasanya. Lepaskan dulu sebentar," pinta Kinan.
"Keluarkan saja disini! Sebenarnya kamu tidak lagi ingin buang air kecil," ucap Kevin yang semakin aktif bermain dengan dadanya.
"Tapi a-ku ...." Tubuh Kinan bergetar, tangannya mencakar lengan suaminya. Napasnya terengah-engah. Kevin tersenyum bahagia menatapnya.
Dengan cepat dia memacu tubuhnya dan beberapa kali dia merasakan kehangatan itu mengalir kembali dari istrinya. Kinan menggeleng-gelengkankan kepalanya seperti ingin menyudahi ini semua tubuhnya sudah lemas tak berdaya.
"Bentar lagi ya," bisik Kevin ditelinganya yang membuat tubuhnya merinding. Tak selang beberapa lama kemudian tubuhnya bergetar dan kepalanya jatuh lemas di dada istrinya.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang? Apa sakit lagi?" Kinan menggeleng-gelengkankan kepalanya dan tersenyum malu.
Cuuuuup
Kevin mencium keningnya. "Terimakasih ya, aku sangat bahagia malam ini. Apa kamu bahagia?" Kinan menganggukan kepalanya. Setelah itu mereka tertidur pulas dengan saling berpelukan.
__ADS_1