Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 45


__ADS_3

Ada sedikit perlawanan dari Kinan, dia berusaha menghentikan tangan suaminya dan mendorong-dorong dada yang menindih tubuhnya. Namun itu semua membuat Kevin tambah bergairah untuk melanjutkannya.


Kekuatan di tubuhnya tidak bisa menghentikan keinginan suaminya itu. Beberapa kali Kevin menciumi bibirnya yang membuatnya susah untuk bernapas. Kinan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Vin aku takut," ucapnya lirih. Matanya menutup seolah-olah menginginkan ini hanya sebuah mimpi buruk. Tak lama kemudian terlihat air mata menetes dari ujung matanya.


Kevin menghentikan gerakannya, dia menatap dan memegang kedua pipi istrinya. "Bukalah matamu Kinan!" perlahan-lahan Kinan membuka matanya. Kevin mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Kinan tataplah mataku! Ini aku suamimu bukan laki-laki kejam itu, aku tidak akan menyakitimu. Aku janji itu." Terlihat tatapan sendu dari arah mata Kevin yang membuat Kinan lebih tenang.


"Tanganmu dingin sekali, kamu tidak apa-apa?" tanya Kevin lirih.


Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku mau pakai selimut!" Kevin mengambilkannya dan menutupi tubuh mereka berdua.


"Kamu ingin lampunya dimatikan?" tanya Kevin yang masih menatapnya.


"Tidak, itu hanya akan menakutiku dan membuatku mengingatnya lagi." Kevin kembali di posisinya. Dan kembali menciumi bibir dan lehernya. Mendekat ke arah telinga Kinan dan berbisik, "Tenanglah sayang ini aku! Aku mohon terimalah! Aku sudah menahannya dari awal bertemu denganmu dulu. Apa kamu tidak kasihan padaku?"


Bisikan itu membuat tubuhnya merinding. Dia kembali menciumi bibir Kinan dan dengan cepat tangannya membuka baju yang dikenakan istrinya saat ini. Dia menarik punggung Kinan dan melepaskan kaitan tali branya.


Beberapa kali mencoba dia tidak bisa, "Kenapa susah sekali?" dahinya mengkerut.


"Maukah kamu membukakannya untukku?" bisik lirih di telinga istrinya. Kinan hanya menganggukan kepalanya dan tangannya meraba kaitan tali branya. "Nyangkut," ucapnya lirih tapi belum mampu membukanya.


"Aah kelamaan," Kevin mengajak istrinya duduk dan mengeceknya. Akhirnya dia menemukan sumber masalah yang sebenarnya kecil tapi menurutnya sangat mengganggu konsentrasinya kali ini. Setelah berhasil menangani masalah kecil itu, dia membuka perlahan-lahan dan nampak jelas di matanya sebuah pemandangan yang sangat indah.


Kinan menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Namun Kevin memaksa kedua tangan itu untuk pergi. Dia mulai mendidih dengan tubuhnya lagi dan menciumi apa yang ada di depan matanya.


Tangannya meraba ke area sensitif istrinya, "Aaaahhhkk, apa yang kamu lakukan?" teriak Kinan yang membuatnya terkekeh.


"Kamu bisa menikmatinya?" Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya dan membuang mukanya. "Hei jangan bohong! Ini sudah basah, tidak akan sakit percayalah!" wajahnya berubah merah seketika.


Dengan cepat Kevin melanjutkan pergerakannya. Entah mengapa rintihan istrinya itu membuat semakin menggila.


"Aaaahhhkk sakit," teriak Kinan dengan mengigit bibir bawahnya dan mata yang tertutup yang membuat Kevin semakin bergairah.

__ADS_1


"Hei bukalah matamu! Kalau kamu tutup terus kamu akan mengingatnya lagi. Lihatlah aku! Jangan dibayangkan sakitnya ya!" ucap Kevin dengan lirih. Kinan menelan salivanya dan mengangguk kepalanya.


Tanpa selang waktu beberapa lama, dia menyemburkan cairan cintanya. "Maaf Aku kali ini tidak bisa menahannya terlalu lama sayang. Nanti Kita lanjutkan lagi ya!"


Cup cup


Kevin menciumi kening Istrinya. Tapi Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan memunguti baju yang dilepaskan suaminya tadi dari tubuhnya. Dengan cepat dia memakainya kembali dan berlari menuju kamar mandi.


Mata Kevin membulat melihat tingkah istrinya. "Apa aku menyakitinya?" gumamnya.


Dia berusaha mengejarnya. Mengetuk-ngetuk pintu kamar mandinya beberapa kali.


Tok tok tok


"Kinan kamu tidak apa-apa kan?" Kevin mencoba mendobrak pintu kamar mandi yang telah dikunci dari dalam oleh istrinya itu dengan sekuat tenaganya.


Braaakkk


Kevin langsung duduk menghampirinya dan memeluknya. "Maafkan aku! Aku sudah kasar tadi." Tidak ada respon sama sekali dari istrinya.


Tangisannya semakin menjadi-jadi. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya lagi dengan membenahi rambut Kinan yang sedikit berantakan.


"Ra-sanya perutku sakit se-kali."


"Aku akan mengantarmu ke dokter." Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu apa yang harus ku lakukan?" kekhawatiran nampak jelas dimata Kevin.


"Kamu tidak tahu bagaimana aku dulu menahan sakitnya, Aku hampir mati dengan rasa sakit seperti ini," ucapnya lirih dengan tangan kiri yang masih memegang perutnya.


Kevin memeluknya lagi, "Maafkan aku, harusnya aku tidak memandang sebelah trauma yang kamu alami selama ini." Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo bangunlah! Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu agar bisa membuatmu lebih tenang."

__ADS_1


Kevin menuntut pelan istrinya kembali ke kamar lagi dan menidurkannya di atas tempat tidurnya. Dengan cepat dia berlari keluar kamar, menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Kinan.


"Minumlah!" Dia mendudukkan tubuh Kinan dan menyandarkan kepalanya di dadanya.


Setelah meminum teh hangat buatan suaminya, akhirnya perlahan-lahan dia tidur terlelap di dada Kevin. Dengan pelan Kevin menidurkannya lagi di bantalnya. Menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya. Dia pun berpindah tempat dan ikut tidur disampingnya dan memeluk erat istrinya.


...****************...


Pagi-pagi sekali Kevin sudah menyiapkan sarapan untuk istrinya. Dia membawakan segelas susu dan sepotong roti tawar dengan olesan selai coklat. Perlahan-lahan Kinan membuka matanya dan melihat suaminya duduk disampingnya.


"Kamu sudah bangun?" tanyanya lirih.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Ini aku bawakan sarapan untukmu?" Kevin mengelus-elus rambut istrinya.


"Kenapa jadi kamu yang membuat sarapan? Harusnya kan aku?" Kevin terkekeh mendengarnya.


"Tidak apa-apa, makanlah dulu!" tangannya sibuk menyuapi istrinya.


"Tiba-tiba aku ingin kerumah Nenek. Bolehkah aku kesana? Aku ingin melihat keadaannya. Sudah lama sekali aku tidak menemuinya. Bahkan nikah pun aku tidak memberitahunya." Kinan menundukan kepalanya.


"Ya sudah nanti kita kesana ya? Kita akan menginap disana, pasti akan seru," ucap Kevin yang masih sibuk menyuapi Kinan.


Kinan membulatkan matanya, "Kamu mau menginap disana?" tanya Kinan keheranan.


"Iya, kenapa?" Kevin mengerutkan dahinya. Mengangkat sebelah alisnya dan memiringkan kepalanya.


"Tapi disana tidak ada fasilitas apapun. Kamu tidak akan betah tinggal lama-lama. Bahkan kompornya pun dari kayu bakar. Rumahnya pun alasnya lebih halus alas kamar mandimu. Tidak ada AC, tidak ada TV, kasurnya keras, mandi pun harus menimba disumur dulu."


Kevin terkekeh mendengarnya. Dia belum bisa membayangkan ucapan Kinan, yang dia bayangkan suasana perkampungan yang sejuk dan damai. Dan dia bersikeras untuk tinggal disana beberapa hari untuk menikmatinya.


Mereka bergegas mengemasi beberapa baju dan kebutuhan yang akan dibawa. Mengunci rumahnya dan berjalan menuju arah rumah Nenek yang telah menyelamatkan nyawa istrinya itu.


Jangan lupa like, coment, dan votenya!

__ADS_1


__ADS_2