Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 6


__ADS_3

Rencana Dino kali ini memang gila. Kinan yang tidak tau apa-apa bakal menjadi sasarannya juga. Dino setiap hari membujuk Rivan untuk melakukan hubungan terlarang. Ale dan Tio membantu Dino, mereka berdua selalu mengirim foto-foto dan film-film dewasa kepada Rivan.


Lambat laun Rivan semakin tergoda, dia juga tidak mau dianggap cupu oleh Dino, Ale dan Tio hanya karena tidak pernah berciuman.


Rivan ingin sekali bertemu Kinan dan mengajaknya berkencan. Malam itu sesudah mereka berkencan di dalam mobil Rivan menarik tangan Kinan yang akan keluar dari mobilnya.


"Tunggu dulu, aku mau bicara."


"Apa yang? ini sudah malam." tanya Kinan.


"Bolehkah aku mencium bibirmu sebentar saja?" Rivan ragu tapi dia memberanikan dirinya sambil memegang tangan Kinan.


Kinan menampis tangan Rivan, "Kamu apa-apaan? Sudah malam aku ngantuk mau tidur."


Kinan keluar begitu saja dari mobilnya. Rivan kecewa dan marah. Berhari-hari dia tidak menghubungi Kinan.


Lagi-lagi Dino dan teman-temannya meledek Rivan. "Jadi bagaimana sudah kamu rasakan belum bibirnya atau malah merasakan yang lebih dari itu. Ha, ha."


"Dia tidak mau." jawab ketus Rivan.


"Cewek seperti itu masih kamu pertahananin. Ha, ha."


Ledekan Dino benar-benar membuat Rivan malu. Dia terlihat seperti orang cupu. Rivan benar-benar berniat untuk mengajak Kinan ciuman. Apapun itu walaupun Kinan tidak mau dia akan memaksanya.


...****************...


Rivan sudah benar-benar dipengaruhi oleh Dino. Hampir setiap hari dia menonton film dewasa. Sampai akhirnya Rivan sudah tidak tahan, dia selalu membayangkan nikmatnya bercinta dengan kekasihnya.


Kali ini dia menjebak Kinan di kamar kosnya. Rivan pura-pura sakit dan ingin bertemu Kinan. Diberilah alamat Kos Rivan ke Kinan. Tak lama kemudian.


Tok tok tok.


Rivan berpura-pura tidur di tempat tidurnya sambil menjawab, "Masuk yang tidak dikunci pintunya!"


Kreeeek

__ADS_1


Kinan masuk, "Apa Ibu kosmu tidak marah jika ada wanita masuk kamar kosnya yang?"


Rivan langsung berdiri, berjalan ke arahnya dan menggandeng Kinan masuk tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya.


Cekleeek


"Eh kenapa dikunci segala?" tanya Kinan yang kebingungan.


"Takut Bu kos marah." bisik Rivan


"Ya sudah kalau begitu Kita bicara di luar kamar saja. Aku tidak enak."


"Ha, ha, ha. Tenang saja Bu kos lagi keluar. Disini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua.


Tatapan Rivan kepada Kinan seperti singa kelaparan yang akan memakan mangsanya yang di depan mata. Kinan berusaha mengalihkan tatapan Rivan namun Rivan tidak memperdulikannya.


"Rivan katanya kamu sakit, tapi aku lihat kamu sepertinya baik-baik saja." tanya Kinan ketakutan.


"Aku memang sakit, hatiku yang sakit. Kamu harus menyembuhkannya, karena kamu yang menyakitiku." Rivan perlahan-lahan mendekatkan tubuhnya ke Kinan.


"Kamu tidak tulus mencintaiku Kinan."


Sontak membuat Kinan kaget "Maksudmu apa?"


"Aku hanya ingin ciuman pertamamu, kenapa kamu menolaknya. Jadi untuk siapa kamu berikan? Apa ada laki-laki lain?" bentak Rivan dengan nada tinggi yang membuat Kinan menangis.


"Sekarang aku minta ciuman itu." bentak Rivan.


"Aku tidak mau. Kenapa kamu jadi kasar seperti ini?" jawab Kinan sambil menangis.


Bukannya kasihan Rivan malah semakin marah. Dia mendorong Kinan di tempat tidurnya. Kinan berusaha kabur dan melawan. Rivan semakin menjadi-jadi. Bahkan dia menampar pipi lembut Kinan.


Plaak..


Kinan terjatuh di tempat tidurnya sambil menangis.

__ADS_1


"Tanpa aku paksa harusnya kamu memberikan ciuman dan kesucianmu kepadaku, jika kamu benar-benar mencintaiku. Tapi kenyataannya apa? Kamu tidak mau kan iya kan?"


Dari mulai meminta ciuman sekarang malah minta kesucian. Kinan semakin menangis kesakitan karena tangan Rivan saat itu juga menjambak rambutnya. Rivan membanting tubuh Kinan lagi karena berusaha kabur di tempat tidurnya.


Rok yang dipakai Kinan saat itu sedikit tertarik keatas tidak sengaja memperlihatkan pahanya. Rivan semakin menjadi-jadi. Dia menindih Kinan dengan tubuhnya. Kinan tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menangis. Dan Rivan sesuka hati menikmati bibir indahnya.


Tak sampai disitu Rivan merobek baju Kinan dan seketika Kinan harus menyerahkan kesucian yang dia jaga selama ini kepada Rivan.


Menangis dan terus menangis hanya itu yang Kinan bisa lakukan. Rivan yang setelah kejadian itu langsung pulas tertidur. Kinan cepat-cepat memakai bajunya dan kabur dari Rivan.


Sesampainya di rumah Kinan mengurung dirinya terus di kamar. Tante Ina sangat mengkhawatirkan nya.


"Kinan kenapa kamu tidak keluar kamar dari semalam? Apa kamu sakit?" tanya Tante Ina cemas.


"Tidak, Tante tidak usah khawatir Aku baik-baik saja."


Di kos Rivan terbangun, dia melihat bercak darah sedikit di sprei nya. Rivan tersenyum puas, akhirnya apa yang dia inginkan terwujud. Dan dia akan pamerkan ini semua ke Dino dan teman-temannya.


...****************...


Sudah dua Minggu Kinan dan Rivan tidak bertemu. Kinan masih trauma dengan kejadian itu bagaimana bisa orang yang dia percaya dan dia cintai bisa setega itu terhadapnya.


Dan Rivan dia semakin sibuk bermain dengan Dino dan teman-temannya. Rivan sudah benar-benar dipengaruhi oleh Dino. Bahkan dia sekarang sering mabuk-mabukan bersama Dino.


Clara yang berusaha berbicara kepadanya pun juga tidak pernah dia dengarkan. Dino semakin suka dengan keadaan seperti ini.


Tiga bulan telah berlalu, Rivan sudah benar-benar melupakan Kinan. Hubungan mereka sudah seperti berhenti saat kejadian itu. Kinan tak seceria dulu.


Tidak sampai disitu Dino merasa belum puas. Dia ingin Rivan benar-benar hancur.


"Apa rencanamu selanjutnya Din? Kapan kita meninggalkan Rivan. Aku sudah bosan pura-pura manis dengannya." tanya Ale.


"Sebentar lagi kali ini dia belum hancur, dia masih bisa merebut Claraku. Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Kita harus menyusun rencana. Ini rencana besar?" ucap Dino sambil mengepalkan tangannya.


"Kita siap membantu. Ha, ha." mereka tertawa lepas bersama.

__ADS_1


__ADS_2