
"Duduk!" perintah Kevin setelah sampai di ruangannya.
"Iya Pak, Pak Saya minta maaf Pak! Saya tidak akan mengulangi lagi. Tolong jangan pecat Saya Pak." Edo memohon-mohon kepada Kevin.
"Siapa juga yang mau mecat Kamu?" teriak Kevin.
"Mana ponselmu?"
"Ma-u diapakan Pak? Ponsel Sa-ya di meja Saya." Edo terlihat gugup dan cemas, karena itu ponsel baru dibelinya.
"Mau dilempar. Cepat bawa kesini!" teriak Kevin.
Edo berlari menuju meja dan menggambil hpnya. "Ini Pak. Tapi jangan keras-keras nglemparnya Pak! Nanti semoga masih bisa servis soalnya belum lunas ponsel itu Pak," Edo berharap cemas.
"Ha, ha, ini yang aku suka dari kamu Do. Polos banget. Sekarang mana tunjukkan yang kamu lihat tadi!"
"Ini Pak." Edo menunjukan koleksi nya kepada Kevin.
"Ya sudah sana pergi! Lanjutkan kerjamu!" perintah Kevin.
Edo kembali ke mejanya dengan perasaan was-was. Raut mukanya menunjukkan kecemasan, membuat teman-temannya khawatir.
"Do kamu kenapa? Tidak dipecatkan?" tanya salah satu teman yang menghampirinya berjalan.
"Pak Kevin katanya tidak mecat aku, tapi ponsel ku. Ah ponsel ku mau dilempar. Mana belum lunas lagi," ucap Edo kesal.
"Sabar Do, kamu juga sudah tau Pak Kevin sifatnya seperti itu nekat mainan ponsel dijam kerja."
"Mau gimana lagi, temanku kirim video nya saat itu juga. Sebagai laki-laki normal jiwaku otomatis meronta-ronta tidak sabar untuk melihatnya."
"Ada-ada saja kamu, sudah ayo kerja!"
Waktu jam pulang pun akan tiba. Semua karyawan bersiap kecuali Edo. Dia masih menunggu ponselnya dikembalikan Kevin. Kebetulan saat itu Kevin kedatangan teman kuliahnya dulu bernama Rey.
__ADS_1
Sejak kuliah sampai sekarang mereka sering keluar dan main bersama. Tapi semenjak Kevin di beri tugas menjaga Els mereka jarang keluar. Dan sekarang Kevin berencana mengajak Rey untuk keluar malam seperti yang mereka lakukan dulu.
"Habis ini ada acara apa? Kita keluar ya malam ini!" bisik Kevin.
"Eh tumben baby sister ganteng ini keluar malam lagi, terus babynya mau diajak gitu?" goda Rey.
"Enak aja. Mumpung Els sudah ada pengasuhnya. Jadi sebentar bisa lah Aku tinggal cari hiburan malam," bisik Kevin.
"Aku gak bisa nemenin sampai pagi ya? Soalnya besok kedatangan tamu penting di kantorku."
Tok tok tok,
suara ketukan pintu mengganggu perbincangan mereka. Kevin marah-marah lagi. "Masuk! Apalagi tau tidak aku masih ada tamu?" bentak Kevin.
"Maaf Pak saya mau pulang," pamit Edo.
"Ya sudah sana pulang, sejak kapan Aku nyuruh karyawan ku kalau mau pulang salim dulu?"
"Bukan mau salim Pak Kevin, sa-ya ma-u ambil ponsel yang sudah Bapak lempar tadi, apa masih bisa saya servis," jawab Edo gugup berharap ponselnya tidak dilempar keluar dan masih bisa diperbaiki.
"Kayak guru saja kamu Vin, main sita-sita ponsel karyawan segala," ejek Rey.
"Masak dia nonton begituan pas waktu kerja. Kan emosi Aku ingin lihat juga. Ha, ha, ha. Sudah berabad-abad rasanya kejombloan ini menyiksaku. Aku tidak mau tau nanti malam kamu harus temani aku."
"Ha, ha, ha, siapa suruh kamu jomblo. Cewek banyak tinggal pilih jadikan pacar beres. Siapa juga yang berani nolak kamu Vin. Kamunya saja yang jual mahal."
"Bukannya jual mahal, tapi Els sama siapa kalau aku tinggal pacaran? Mana ada cewek yang mau jalan bertiga sama anak kecil. Sudah jangan meledek terus, yuk cabut!"
Di tempat hiburan malam itu Kevin dan Rey bersenang-senang menghabiskan waktunya. Tiba-tiba saja terdengar suara wanita cantik menyapa mereka.
"Hai ganteng." wanita itu cantik, tubuhnya bak gitar spanyol, tersenyum manis kepada Kevin. Godaan ini membuat Kevin tidak bisa menahan lagi berlama-lama untuk mengajaknya bersenang-senang.
"Halo cantik, siapa namamu? Duduk sini dong!" rayu Kevin dengan mengulurkan tangannya ke wanita itu. Rey yang saat itu melihat hanya geleng-geleng kepala. Malam ini mereka bersenang-senang sampai lupa waktu pulang. Rey yang saat itu jadi obat nyamuk mengajak Kevin untuk segera pulang. Tapi Kevin menolaknya.
__ADS_1
"Sudahlah Rey, kamu pilih saja wanita yang kamu mau nanti aku bayarin. Tumben dingin banget apa sudah insyaf?" tanya Kevin yang saat itu masih duduk bercumbu rayu dengan wanita yang menghampirinya.
"Aku sudah punya pacar, nanti kalau pacarku tau bisa besar urusannya. Yuk buruan pulang! Els dirumah gimana kabarnya juga kamu biarin begitu saja. Memang betul Kakakmu menitipkan Els ke kamu biar tobat dari dunia malam," jawab ketus Rey.
"Ngomong apa kamu itu? Pacaran paling lama tujuh hari juga putus," ucap Kevin dengan ketus.
"Masih mending lah kamu tiga hari putus," sindir Rey.
"Aku pulang dulu ya canti," pamit Kevin kepada wanita yang menggodanya. Kevin mencium pipinya dan masih memegangi tangannya.
"Buruan! Aku tinggal juga lama-lama. Atau perlu ku telepon Els?" Rey berdiri dan mulai berjalan keluar meninggalkan Kevin dan wanita itu.
"Da, da cantik aku pulang dulu ya," tangannya berulang kali memberikan ciuman jauh kepada wanita itu, rasanya Kevin berat meninggalkan tempat itu. Dia berpikir Els nyaman dengan pengasuhnya yang sekarang jadi bisa berlama-lama. Tapi ocehan Rey membuatnya risih.
Rey menunggu di mobil. Dia melotot ke arah Kevin sambil memanyunkan bibirnya. "Tau ini jam berapa? Dibilangin besok Aku harus berangkat pagi ada meeting kedatangan tamu penting." Dia menunjukkan jam di tangannya kirinya kepada Kevin dengan kesal.
"Tau gitu aku berangkat sendiri."
"Maka dari itu, buruan cari pacar. Atau wanita tadi saja kamu jadikan pacar! Ha, ha, ha," sindir Rey
"Senakal-nakalnya aku kalau cari pacar juga tidak wanita penghibur juga kali. Apa lagi kalau mau dijadikan istri tetep milih yang sholehah."
"Ha, ha, ha. Sholehah? Masalahnya kamu itu sholeh tidak?"
Rey mengantar Kevin pulang. Setelah sampai rumah Kevin tak lupa melihat keponakan kesayangannya Els sudah tidur apa belum.
Kleeek
Suara gagang pintu dibuka. Tante Ina kaget.
"Eh sudah pulang Pak, maaf Saya ketiduran di kamar Els."
"Tidak apa-apa Bu, tadi bagaimana apa Els baik-baik saja? Sudah makan kan dia?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Sudah Pak, Els baik-baik saja Saya selalu menemaninya bermain kok Pak."
Dia tersenyum lega, "Ya sudah terima kasih ya Bu Ina."