
"Kepalaku masih sakit aku ingin sendiri dulu. Pergilah jangan ganggu aku!" usir Kinan. Kevin menghela napasnya. Wajahnya terlihat lesu karena berjalan di saat posisi kaki yang sakit ke arah ruangan Kinan dirawat benar-benar melelahkan dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.
Dilihatnya Kinan masih memalingkan mukanya ke kiri. Saat itu Kinan seperti tidak tau kondisi kaki Kevin. Kevin pun berjalan perlahan dengan kursi rodanya pergi keluar meninggalkan Kinan.
Dari arah yang berlawanan terlihat ada seorang Anak kecil berlari menghampirinya. Wajah lesu itu berubah menjadi berseri-seri seketika.
"Om Kevin, Om." teriak Anak itu. Kevin menyambut hangat pelukan itu. Siapa lagi kalau bukan Els. Terlihat Els datang menjenguk Kevin bersama pengasuhnya Tante Ina .
"Sayang, Om Kevin kangen banget sama kamu." tangannya masih memeluk erat Els seolah-olah tak ingin melepaskannya.
"Om Kevin cepat sembuh! Ayo kita pulang Om!" ucap Els tak terasa air matanya menetes dipipi.
"Bentar lagi Om pasti pulang. Jangan nangis dong! Nanti cantiknya hilang." Tangannya menghapus air mata Els. Mengelus rambutnya dan mencubit manja hidung Els.
"Bu Ina bagaimana Els di rumah? Apa dia rewel?"
"Tidak Pak, tapi dia ingin menjenguk Anda terus."
"Ya sudah kalau begitu Kita ke kembali kamar!" ajak Kevin.
Mereka berjalan ke arah kamar rawat Kevin. Els terlihat begitu merindukan sosok Kevin. Sudah hampir dua Minggu tidak bermain bersama, selain karena kesibukan Kevin di kantor juga karena membantu Kinan.
Sekitar seharian penuh mereka melepas kerinduan. Tak terasa waktu sudah hampir malam, mereka pamit untuk pulang.
...****************...
Keesokan harinya Rivan kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kinan. Dia ingin membiayai semua biaya rumah sakit Kinan, tapi ternyata sudah ada yang menanggung. Tak ada dipikiran lainnya pasti laki-laki kemarin yang menemui Kinan.
__ADS_1
Dilihatnya dari balik pintu yang sedikit terbuka, terlihat Kinan yang duduk di atas tempat tidur dengan wajah murung. Masih ada pertanyaan besar di benaknya. Bagaimana Kinan bisa melewati semua ini setelah apa yang dia lakukan padanya.
Tak lama kemudian ada seorang dokter dan dua perawat akan masuk memeriksa Kinan. Mereka ingin masuk ke kamar perawatan Kinan tapi terhalang Rivan yang berada di depan pintu.
"Permisi, Saya mau memeriksa pasien di dalam." ucap dokter. Membuat Rivan kaget dan dia buru-buru pergi meninggalkan rumah sakit itu. Dokter itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Rivan dan segera masuk ke dalam.
Setelah diperiksa Kinan bersikeras untuk ingin segera boleh pulang walaupun di dalam hatinya juga bingung akan pulang kemana. Rasa kecewa terhadap Kevin dan Rey masih bersarang di dalam hatinya dan dia tidak ingin berlama-lama menikmati fasilitas yang mereka berikan. Dan berhubung kondisi fisiknya membaik Dokter mengizinkan dia untuk pulang.
Kevin berniat kembali menemui Kinan. Rasanya belum lega jika Kinan belum memaafkannya. Dia terlihat berusaha sendiri menuju ke kamar perawatan Kinan.
Saat akan masuk tiba-tiba Kinan berada di depan pintu dan akan keluar. Sontak membuat Kevin kaget.
"Kinan,' sapa Kevin dengan wajah berseri-seri tapi tidak terlihat sedikit pun ada senyum di wajah Kinan. Yang ada hanyalah tatapan penuh dengan amarah.
"Apa kamu menagih hutang?" tanya Kinan dengan mulut yang cemberut.
"Ya tentu saja," jawab Kevin dengan percaya dirinya.
"Karena aku tau kamu pasti tidak mau mendengar penjelasanku, apalagi memaafkanku," ucap Kevin sambil menatap wajahnya dan menggodanya dengan senyuman manjanya, tapi Kinan malah memalingkan mukanya. Seolah-olah tidak akan tergoda sedikit pun dengan tingkah laku Kevin.
"Aku akan membayarnya tapi tidak sekarang." jawabnya ketus.
"Tapi aku inginkan kamu membayarnya sekarang!"
"Aku harus membayar pakai apa? Apa aku nanti malam harus menjual diriku demi membayar hutang padamu? Ya sudah mungkin ini nasibku." Kinan mencoba pergi dari hadapan Kevin.
"Tunggu! Kamu masih sakit Kinan mau kemana?" Kevin memegang tangan Kinan dengan erat. Seolah-olah tak ingin melepaskannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" bentak Kinan. Dia mencoba melepaskan cengkraman tangan Kevin dengan semua kekuatan yang dimilikinya. Karena tidak tega seketika Kevin melepaskan tangannya. Dan Kinan berjalan menjauhinya lagi.
Kevin berusaha mengejar, dengan kuat tangannya mendorong-dorong roda di kursinya dengan kedua tangannya, "Kinan dengarkan penjelasanku dulu! Aku dulu dan Rey hanya bercanda. Waktu itu kami terpesona dengan kecantikanmu. Kamu ramai dibicarakan waktu itu dan susah sekali untuk didapatkan karena Risa benar-benar jual mahal da ku mencoba merayu Risa begitu juga dengan Rey. Akhirnya dia memberikan harga 60juta kepada Rey. Aku menyerobotnya dengan 100juta. Lalu Risa memberikan langsung padaku. Maafkan aku Kinan! Aku dulu belum mengenalmu. Aku kira kamu sama seperti wanita-wanita malam lainnya."
Langkah kakinya berhenti, "Lalu kemana saja jamu saat aku diculik Risa? Kenapa kamu malah menyuruh Rey untuk ke rumah?" tanya Kinan dengan geram. Lalu melanjutkan berjalan lagi.
"Kinan apa kamu tidak melihatku? Lihatlah aku! Waktu perjalanan menuju kantor aku kecelakaan. Apa kamu daritadi tidak melihat kakiku yang sakit ini?" Kinan menoleh ke belakang. Bola matanya mengarah ke kaki Kevin. Wajahnya berubah sendu.
"Mengapa Rey bilang kamu lagi ada kerjaan di luar kota?" tanya Kinan kebingungan.
"Aku yang menyuruhnya agar kamu tidak khawatir padaku. Saat itu kamu dikejar-kejar Risa. Aku tidak mau menambah masalahmu."
"Sekarang aku mau kamu pulang ke rumah. Aku sendirian di rumah dengan kaki seperti ini apa sedikit pun kamu tidak merasa iba? Siapa yang akan merawatku?" tanya Kevin dengan wajah memelas. Tangannya memegangi kakinya yang patah. Seolah-olah mempertegas keinginannya.
"Aku bukan perawat, kamu bisa mencari perawat untuk merawatmu kenapa harus aku? Bagaimana Aku bisa membayar hutang jika terus menerus mengurungku di rumahmu."
"Kamu itu salah satu tulang rusukku yang hilang satu, berarti k**amu yang harus merawatku**!"
"Hei Kamu itu bicara apa?" wajahnya cemberut.
"Iya, ya maaf hanya bercanda." jawab Kevin cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku tidak mau kembali lagi ke rumahmu. Kita ini tidak ada ikatan apapun. Bagaimana bisa tinggal satu rumah? Yang ada kamu akan selalu mengerjaiku seperti sebelum-sebelumnya."
"Kakiku lagi sakit tidak mungkin aku berbuat yang aneh-aneh Kinan. Percayalah padaku!"
"Aku tidak percaya sama sekali dengan laki-laki mesum sepertimu." Kinan melanjutkan langkahnya meninggalkan Kevin begitu saja.
__ADS_1
Karena jarak terlalu jauh Kevin berteriak "Ya sudah kalau begitu kita menikah saja?"
Teriakan Kevin membuat orang-orang yang berlalu lalang lewat tercengang melihat mereka berdua. Memperlambat jalan mereka seolah-olah ingin menyaksikan bagaimana reaksi Kinan. Langkah Kinan berhenti, dahinya mengkerut, wajahnya memerah melihat orang-orang disekitarnya yang menatapnya.