
Sudah sekitar sepuluh menit Kinan menangis di pelukan Kevin. Kevin melihat jam yang berada di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Dia mencoba berbicara pada Kinan untuk menyudahi menangisi laki-laki yang menyakitinya itu.
"Kinan, hei Kinan." tidak ada jawaban sama sekali. Kevin melihat ke arah wajah Kinan. Dan ternyata Kinan tertidur pulas dipelukan hangatnya. Sepertinya Kevin tidak ingin mengganggu tidurnya tapi waktu sudah larut malam.
"Kamu sementara tidur di rumahku dulu saja ya." Kevin membopongnya pelan-pelan masuk ke dalam mobil. Dan sesegera mungkin dia mengendarai mobil untuk cepat sampai rumah.
Sesampainya di rumah, Kevin membopongnya lagi menaiki anak tangganya satu persatu untuk menuju kamarnya. Meletakkan Kinan pelan-pelan diatas tempat tidurnya. Dia terus saja memandangi kecantikan Kinan. Sesekali dia mengelus-elus pipi mulus Kinan dengan jari telunjuknya. Terlihat rasanya sudah tidak sabar untuk menjadikannya istri.
Seperti ada magnet di dalam tubuh Kinan, Kevin bukannya menjauh malah mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan. Kebiasaan buruknya dengan wanita-wanita malam dulu rasanya sudah tidak pernah dia lakukan semenjak mengenal Kinan.
Wajah Kevin mendekati wajah Kinan, memejamkan matanya, tak sadar sudah mencium bibir indah milik seseorang yang sedang tertidur pulas itu.
"Aaaahhhkk." dia mengusap-usap wajahnya. Seperti menyesal telah memperlakukan Kinan seperti itu, benar-benar terlihat seperti pencuri yang memanfaatkan kesempatan ditengah lengahnya sang pemilik bibir.
Setelah kejadian itu, dia terlihat tidak tenang mondar-mandir sambil menggigiti jari tangannya. Tak selang beberapa lama di masuk ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan, sekitar setengah jam dia berada di dalam sana. Lalu dia keluar dan mencoba membaringkan badannya di kursi sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya Kinan.
...****************...
Saat pagi telah tiba, Kinan bangun tercium jelas bau parfum laki-laki yang sangat dia kenali, mungkin karena jaket Kevin yang masih menempel dibadannya. Ada senyum kecil diwajahnya ada pula sinar di matanya. Sepertinya dia sudah tau sedang berada dimana. Dia mencoba membuka jaket itu dan turun dari atas tempat tidur Kevin. Matanya mengelilingi seluruh ruang kamar mewah itu, mencari sosok laki-laki yang memberinya kekuatan atas kejadian tadi malam tapi tidak dia temukan.
Kinan mencoba mencari keluar kamar, "Kevin, Kevin Kamu dimana?" teriak Kinan suaranya menggema di seluruh sudut ruangan.
"Kenapa dia meninggalkanku sendirian." gumamnya.
Tiba-tiba ada seorang perempuan separuh baya menyapa dan berbicara padanya, "Nyonya Tuan Kevin sudah berangkat ke kantor, tadi Tuan juga berpesan agar Nyonya segera makan. Dimeja sudah Saya siapkan sarapannya."
"Kamu siapa?" tanya Kinan.
"Saya salah satu asisten rumah Tuan Kevin Nyonya."
"Tapi mengapa Saya tidak pernah melihat Kamu?"
"Iya setelah Saya membersihkan rumah ini, Saya langsung kembali. Karena Tuan Kevin jarang menempati rumah ini juga."
__ADS_1
"Oh iya ini ada baju, Tuan Kevin memesannya untuk Nyonya pakai." Kinan menerima baju itu dan pergi ke kamar Kevin lagi.
Ditempat lain terlihat Rey datang ke kantor Kevin. Melihat Kevin hanya diam melamun.
"Kamu itu kenapa Vin? Gelisah banget habis merenggut anak orang?"
"Iya." jawab Kevin dengan wajah datar.
"Aku kira ketemu Kinan sudah tobat, eh ternyata tidak kuat juga."
"Rey Aku sudah mencium bibir Kinan semalam."
"Ya terus, cuma cium bibir kan?"
"Masalahnya Aku cium dia itu pas lagi tidur."
"Ya sudah tidak berkurang juga kan bibirnya."
"Begini saja, minta maafnya pas dia sudah jadi istrimu. Ha, ha, ha." ucap Rey sambil memegang pundak Kevin.
"Rey Aku tidak sabar menjadikannya istri,"
"Bilang saja tidak sabar enam bulan lebih tanpa pelepasan, Ha, ha, ha." bisik Rey ditelinga Kevin.
Plaakkk
Kevin memukul pundak Rey. Akhirnya Kevin menceritakan semua kejadian semalam yang menimpa Kinan pada Rey. Mereka mempunyai rencana untuk membuat perhitungan pada Stela dan Rivan.
Siang itu Kevin dan Rey menaiki mobil berdua, mereka berjalan menuju arah toko kue Stela. Dari kejauhan dia mengamati hanya ada Stela sendiri tidak ada mantan Kinan disana. Hampir satu jam tidak ada perubahan. Kevin dan Rey memutuskan untuk pulang melihat Kinan.
Cekleek
Suara pintu terbuka, lagi-lagi tidak ada ketukan atau salam terlebih dulu membuat Kinan yang saat itu duduk termenung di meja makan sendiri menjadi kaget.
__ADS_1
"Apa Kamu bisa tidak selalu mengagetkanku seperti ini? Bisakan mengetuk pintu dulu sebelum masuk rumah!" tanya Kinan wajahnya cemberut.
"Maaf calon istriku, kebiasaan. He, he, he." jawab Kevin cengengesan.
"Kamu sudah makan siang?"
"Belum Aku menunggumu."
"Benarkah? Benar-benar istri yang Sholehah mau nungguin suaminya pulang baru makan. Ha, ha, ha." Kevin dan Rey tertawa lepas.
"Tadi asisten rumah tanggamu kan bilang Kamu mau pulang siang ini, makanya Aku tidak makan dulu." jawab Kinan dengan wajah yang masih cemberut.
"Ya sudah Kita makan diluar saja yuk!"
Kevin menarik tangan Kinan keluar rumah. Mereka bertiga masuk kedalam mobil dan terlihat menuju suatu restoran. Rey terlihat tidak setuju dengan pilihan restoran Kevin, karena mengingatkannya pada kejadian kemarin saat dia dipukuli dan dituduh berselingkuh dari Kinan. Tapi Kevin memaksanya untuk masuk dan melupakan kejadian itu.
Sesampainya di dalam restoran mereka duduk bertiga di meja paling pojok, menunggu pesanan datang. Saat itu Kevin berjalan menuju toilet sehingga hanya tinggal Rey dan Kinan di meja itu.
Dari arah luar terlihat Rivan dan Stela sedang memasuki restoran itu. Rivan terlihat sangat risih dengan tingkah Stela yang selalu ingin bergandengan dan berpelukan saat berjalan. Mata Rivan berkeliling melihat setiap sudut ruangan dan bola matanya terhenti pada meja pojok yang terdapat dua orang. Siapa lagi kalau bukan Kinan dan Rey.
Rivan langsung melepaskan tangan Stela yang daritadi membuatnya tidak nyaman. Dan langsung menghampiri Kinan dan Rey.
"Eh, eh Rivan Kamu mau kemana?" tanya Stela seolah-olah tidak rela diperlakukan seperti itu. Rivan berjalan cepat menuju meja mereka.
"Berani-beraninya Kamu masih mendekati Kinan?" tangan kiri Rivan memegang paksa kerah baju Rey, dan tangan kanannya siap untuk memukul wajahnya.
"Stop Rivan! Apa-apaan Kamu?" Kinan mencoba melepaskan tangan Rivan dan mendorong tubuh Rivan menjauh dari Rey.
"Kinan, Aku tau kesalahanku tidak pernah bisa Kamu maaafkan. Tapi kali ini dengarlah Aku! Laki-laki ini telah mengkhianatimu. Percayalah Kinan Aku tidak bohong!"
"Cukup! Kamu itu bicara apa?"
"Kinan, dia bukan laki-laki baik. Percayalah padaku!" Terlihat Kevin dari toilet akan berjalan menuju mejanya kembali.
__ADS_1