
"Apa masih sakit?" tanya Kevin saat mobilnya berhenti karena lampu berwarna merah. Dia memegang perut Kinan dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya mengelus-elus kepalanya. Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Boleh aku menciummu?" Mata Kinan membulat mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Kevin ini di jalanan, sebaiknya kamu fokus mengendalikan mobilmu," ucapnya. Dia menundukan pandangannya dan meremas-remas tangannya. Pikirannya sudah tidak jernih lagi, dia takut suaminya akan memintanya lagi di dalam mobil.
Kevin terkekeh pelan mendengarnya, "Aku cuma menciummu, tidak akan minta lebih dari itu."
"I-ya." Kinan menundukan lagi pandangannya. Dan merasa belum nyaman dengan permintaan suaminya.
Cuuuuup
Tin tin tin
Lampu sudah berwarna hijau tapi Kevin belum menjalankan mobil. Dia melihat kebelakang dan mengerutkan dahinya. "Ayo jalan!" seru Kinan. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
Lima belas menit kemudian, "Apa ini masih jauh?" tanya Kevin.
"Tidak, rumahnya diujung sana." Kinan menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Oke," ucap Kevin mempercepat lajunya.
Tak selang beberapa lama mereka akhirnya sampai juga. Kevin membukakan pintu untuk istrinya itu. Mereka masuk dan mengetuk rumah wanita tua itu.
Tok tok tok
"Nenek, ini Kinan." Tidak ada jawaban sama sekali.
"Apa benar ini rumahnya?" tanya Kevin yang masih ragu-ragu. Kinan menganggukan kepalanya.
Dia melihat suaminya yang keheranan memperhatikan keadaan rumah itu, "Kenapa? Lebih besar dan bagus dari kamar mandimu kan?" tanya Kinan dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak juga, masih besar rumah ini." Kevin melihat atap rumah yang banyak terdapat lubang. Dahinya mengkerut, "Kenapa banyak lubang di atapnya? Bagaimana kalau hujan?" Kinan hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Kevin.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 WIB. Mereka masih duduk berdua di depan rumah wanita tua itu. Tak lama kemudian terlihat dari jauh orang yang mereka cari sedang menggendong sesuatu dipundaknya.
__ADS_1
Kinan langsung berdiri dan menghampirinya. "Nenek, Kinan pulang," ucapnya dengan wajah yang berbinar-binar. Dia memeluk erat wanita tua itu. Tak terasa air mata mengalir dipipinya. Kevin berdiri dan tersenyum pada wanita tua itu.
Wanita tua itu memegang wajah Kinan, "Kinan, sekarang kamu tambah cantik sekali Nak! Bagaimana kabarmu? Ayo masuk!" Wanita tua itu mengandeng Kinan masuk rumahnya. Dia baru melihat ada laki-laki disana. "Ini siapa Kinan?" tanyanya lirih.
Kevin langsung mencium tangan wanita tua itu. "Di-a suami Kinan Nek, namanya Kevin," ucap Kinan lirih.
"Su-ami? Kamu sudah menikah Nak? Tampan sekali," ucapnya merdu dengan memegang wajah Kevin. "Syukurlah ada laki-laki yang mencintaimu apa adanya. Ayo Kita masuk kedalam!" Wanita tua itu membuka pintu rumahnya dan mempersilakan mereka berdua masuk.
Pengalaman pertama Kevin masuk rumah seperti ini. Bola matanya sibuk berkeliling memutari seluruh sudut rumah. Hanya terlihat ada kursi tamu dari kayu yang sudah sangat tua dan sebuah meja di ujung sana. Dengan atap yang sama dengan atap di depan rumah yang terdapat lubang. Dia selalu membayangkan jika terjadi hujan. Bagaimana bisa tidur tenang?
Kinan tertawa kecil, melihat tingkah Kevin yang keheranan. "Kenapa? Kamu masih mau nekat tinggal disini?"
"I-yalah. Kita akan tinggal disini beberapa hari," jawab Kevin masih dengan bola mata yang berkeliling penasaran.
"Kalian sudah makan?" tanya Nenek itu. Mereka kompak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nenek hanya punya lauk tempe dan oseng daun pepaya. Ayo kita makan dulu."
"Oseng daun pepaya?" Kevin masih bertanya-tanya dengan dirinya, bagaimana rasa dari makanan itu. Kinan hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Dia membantu Neneknya mengeluarkan makanan dari dapur untuk di makan bersama di kursi tamu tua itu.
"Kinan, ambilkan suamimu makanan!" Dengan cepat dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk sederhana itu. Memberikannya pada Kevin.
"Maaf ya Nak Kevin, Nenek punyanya cuma lauk itu," ucap wanita tua itu.
"Tidak apa-apa Nek. Aku akan memakannya." Dia ambil satu sendok, segera memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
Seketika dia mengerutkan dahinya. Kinan tertawa lebar melihat suaminya. "Kenapa? Tidak suka kan?" tanya Kinan dengan mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa pahit sekali?" tanyanya dengan penuh keheranan.
"Kamu belum terbiasa makan seperti ini Nak? Kinan ayo belikan suamimu makanan lain di warung sana! Kasihan dia tidak bisa memakannya," ucapan wanita tua itu.
"Tidak usah Nek, aku bisa memakannya kok," ucapnya dengan sangat yakin. Kevin terus memasukan makanannya ke dalam mulutnya. Rasa laparnya mengizinkan makanan itu masuk ke dalam perutnya.
Setelah makan, wanita tua itu menyuruh mereka berdua beristirahat di dalam kamar yang dulu Kinan tempati.
Masih sama seperti dulu hanya ada satu almari dan kasur dari kapuk yang sudah mengeras dengan dipan dari kayu yang sudah tua.
__ADS_1
Kinan berjalan membelakangi Kevin ke arah jendela kamar itu, "Kita tidur disini. Ya kalau kamu tidak nyaman, ada hotel kecil di daerah sini jaraknya sekitar 4km dari rumah ini. Kamu bisa menginap disana. Aku tau kamu tidak akan tidur nyenyak di kamar ini," ucap Kinan.
Kevin langsung memeluknya dari belakang. Menciumi bahu Kinan, menghirup dalam-dalam aroma vanila yang menyebar ditubuhnya dan berbisik ditelinga kirinya, "Aku akan tidur nyenyak dimana pun asalkan bersamamu."
Kinan menggeliat dengan tingkah suaminya dan berusaha melepaskan pelukannya. Suara napas Kevin benar-benar terdengar jelas di telinganya.
"Lepaskan Vin! Aku mau tidur," ucap Kinan dengan tangan yang berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.
Kevin terkekeh pelan melihat tingkah Kinan, dan berbisik lagi ditelinganya, "Aku ikut." Kevin melepaskan tangannya. Dan Kinan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang keras itu. Dia mengikutinya, dan tidur disamping istrinya itu.
Kretek kretek
Bunyi dari dipan kayu tua itu. Pergerakan Kevin membuat dipan itu seperti ingin runtuh. Dia duduk keheranan. "Apa ini akan aman untuk ditiduri?" Dia duduk dan mengecek dipan tua itu. Kinan menutupi mulutnya dan menahan tawanya.
Dia duduk dan berkata pada Kevin, "Kan sudah aku bilang, kamu tidak akan bisa tidur disini." Kevin masih sibuk mengecek dipan tua itu.
"Gampang nanti aku akan beli yang baru, sementara kamu harus kokoh dulu." Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kembali membaringkan tubuhnya.
Kevin berjalan ke arah pintu dan berusaha ingin mengunci pintunya. Dia berusaha mencari-cari, dan berusaha menutupnya tapi tetap saja masih terbuka. " Bagaimana mengunci pintu ini?" tanya Kevin pada istrinya yang sedang memperhatikannya dari tadi.
"Pintunya rusak, tidak bisa dikunci."
"Apa? Lalu bagaimana aku harus ...." Kevin menghela napas tanpa melanjutkan pertanyaannya. Untuk kali ini Kinan tersenyum penuh kemenangan dan melanjutkan tidurnya siangnya lagi.
Mata Kevin berkeliling di seluruh kamar kecil itu mencari cara, dia melihat ada kursi tidak terpakai di sudut kamar itu. Dia berjalan mengambilnya dan mengganjal pintu itu dengan kursi.
"Mungkin sementara ini saja dulu," ucapnya dengan sedikit senyum. Dia melihat Kinan sudah memejamkan matanya.
Kevin berjalan dan tidur lagi disamping istrinya. Melihat bibir Kinan yang indah membuat tidak sabar ingin menciuminya. Tanpa pikir panjang dia langsung bergerak dan menciumi bibir dan pipinya.
Kretek kretek
Pergerakan itu lagi-lagi menimbulkan bunyi. Kinan tertawa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dan Kevin tertawa bersembunyi di atas dada Kinan.
"Kok gini banget ya pengantin baru."
__ADS_1
Jangan lupa Like, coment, dan votenya kak!