
Tanpa berpikir-pikir panjang lagi. Rey berlari menuju mobilnya. Dengan cepatnya dia mengejar mobil tadi. Tapi usahanya seperti sia-sia, dia kehilangan jejak. Rasa kecewanya di lampiaskan dengan memukul-mukul setir mobilnya.
"Apa yang harus ku katakan pada Kevin?" ucap Rey sambil memegang dahinya.
Rey menyerah dan ingin menceritakan semua yang terjadi pada Kevin. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Rey berpikir akan percuma jika dia ke rumah Risa, pasti Risa tidak akan mau melepaskan Kinan begitu saja.
Dua laki-laki berotot itu tiba di rumah Risa membawa Kinan. Kinan berusaha memberontak dan melepaskan tangannya dari dua laki-laki itu tapi tetap sia-sia. Dua laki-laki itu melempar tubuh Kinan tepat dibawah kaki Risa.
"Mau apalagi Kamu Risa? Bukankah 100 juta itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua hutangku?" tanya Kinan.
"Itu belum cukup! Aku sudah menjadikanmu model, banyak laki-laki yang mengagumkanmu dan ingin memilikimu. Tapi apa? Kamu malah berani-beraninya berusaha kabur dariku," ucap Risa dengan nada tinggi. Tangannya menjambak rambut Kinan dan melemparkannya ke lantai lagi. Kinan hanya bisa menangis kesakitan.
"Diam disini! Jangan berusaha kabur dariku lagi! Nanti malam ada tamu besar yang harus kamu layani," ucap Risa sambil pergi meninggalkan rumahnya.
Kinan yang saat itu sendirian di dalam rumah, melihat sebuah telepon rumah. Dengan segera dia ingin menelepon Kevin. Dia tidak peduli perkataan Rey untuk sementara tidak boleh menghubungi Kevin, karena dalam otaknya hanya mengingat nomor Kevin bukan nomor telepon Rey. Tangannya gemetar memencet satu persatu tombol telepon itu. Sesekali dia melihat keluar memastikan tidak ada yang melihatnya.
Tut tut tut,
Napasnya sedikit lega mendengar suara itu. Dia menggenggam tangan kanannya yang dingin dan gemetar. Menarik nafasnya dan matanya tetap memastikan tidak ada orang yang datang.
"Halo?" suara Kevin terdengar lirih. Terlihat raut wajah gembira saat mendengarnya.
"Kevin, Kevin tolong aku!" ucap Kinan dengan terburu-buru.
__ADS_1
Tanpa melihat di luar, Risa datang dan meminta paksa telepon yang Kinan genggam. Dengan cepat wanita jahat itu menutup telepon rumahnya dan mendorong Kinan jatuh ke lantai.
"Bagus jadi seperti ini caramu? Kamu pikir pangeran mu akan menolongmu lagi? Ha, ha, ha." Risa tertawa lepas melihat tingkah laku Kinan dan berusaha menakutinya.
"Dia pasti akan menolongku dan membawaku pergi darimu," ucap Kinan dengan yakin.
"Ha, ha, ha. Laki-laki seperti Kevin kamu masih percayai. Wanita mana yang belum pernah dia cicipi. Hei wanita kampung dia membayarmu hanya satu malam. Dan asal kamu tau dia berebutan dengan Rey untuk tidur denganmu," ucap Risa dengan nada suara tinggi.
Mata Kinan menatap tajam mulut wanita itu. Napasnya seperti berat saat mendengar ucapan wanita. Raut muka antara bingung dan kecewa nampak sekali di muka Kinan. Bagaimana bisa dua laki-laki yang melindunginya ternyata sama saja dengan laki-laki lain. Rasanya ingin memutar jarum jam ke kiri dan mencabut semua omongan Kinan pada Kevin yang menjadikannya peran protagonis dalam cerita hidupnya.
"Terima saja nasibmu seperti ini, jangan berharap banyak dari dua pangeran tampan itu! Mereka tidak mungkin menolongmu. Persiapankan dirimu untuk nanti malam!"
Seperti tersambar petir di siang hari. Hanya bisa diam, duduk termenung, pandangan mata terasa kosong, kenyataan pahit lagi yang dia alami. Keadilan itu seperti tidak ada dalam dirinya.
Malam pun tiba, Kinan terlihat sangat pasrah dengan keadaan. Risa yang berbicara sama sekali tidak di dengarnya. Sampai dia mendengar Risa berteriak, "Dasar wanita miskin."
Sesampainya di depan kamar hotel wanita itu berkata, "Kali ini tidak akan ada yang bisa menolong mu, dan ku pastikan kamu tidak akan bisa kabur. Aku akan menunggumu di luar disini. Jangan mempermalukan ku ingat itu!"
Kinan hanya diam dengan tatapan tajam melihat kearah Risa, tangannya menggenggam erat seperti ingin memberontak dan ******* mulut Risa yang terus-menerus memerintahnya.
Dipencet bel kamar hotel itu oleh Risa. Seorang laki-laki berumur sekitar 35 tahun, berbadan atletis, tinggi, berkulit sawo matang menyapa mereka dengan hangat. Matanya tertuju pada Kinan, senyumnya seperti memberi isyarat kepadanya. Kinan hanya menatap tajam penuh amarah dengan laki-laki itu.
"Silahkan masuk! Halo Kinan kenalkan Saya Leo." laki-laki itu ingin berjabat tangan dengannya. Tapi Kinan mengacuhkannya. Dia membuang mukanya begitu saja.
__ADS_1
"Kinan layanin Pak Leo dengan baik!" perintah Risa dengan perasaan kesal.
"Maaf Pak Kinan ini baru jadi dia agak malu-malu."
"Oh tidak apa-apa. Nanti sambil jalan saya bisa ajari dia. He, he, he. Iyakan Kinan?" goda laki-laki itu.
Risa mulai meninggalkan kamar itu, tinggal mereka berdua yang ada. Laki-laki itu seperti sudah tidak bisa menahan lagi. Dielus-elus lah rambut Kinan yang panjang. Kinan hanya diam, dia selalu teringat ucapan Kevin. Dilihatnya sebuah pisau di meja seperti bekas untuk mengupas apel. Dia ambil pisau itu dengan sigap dan dia ingin tusukan pisau itu ke muka laki-laki itu.
Mata laki-laki itu membulat, "Hei apa-apaan kamu?"
"Sekali lagi kamu berani menyentuhku, akan ku tusukan pisau ini ke tubuhmu!" ancam Kinan seperti orang yang hilang kendali.
Laki-laki itu langsung pergi keluar kamar sambil berlari, kebetulan di luar kamar ada Risa.
"Kenapa kamu memberi orang gila padaku? Kembalikan uangku sekarang juga!" tanya laki-laki itu dengan nada tinggi.
Risa kebingungan, dia melihat Kinan masih memegang pisau itu. Risa berlari langsung mengambil pisau itu dari tangan Kinan dan menampar wajahnya sehingga membuat tubuhnya terjatuh dan kepalanya terbentur meja. Seketika Kinan pingsan. Risa menyuruh sopirnya memasukkan Kinan ke dalam mobil.
"Dasar wanita gila, tidak ada untungnya sama sekali. Hentikan mobilnya!" Risa mengacak-ngacak rambut Kinan, dia membuka pintu mobilnya dan melempar begitu saja Kinan ke jalanan dan meninggalkannya begitu saja.
Tak disangka ada mobil berhenti lampunya menyorot ke arah Kinan yang sedang lemah terjatuh. Terlihat seorang laki-laki turun dari mobil itu dan lari untuk menghampirinya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.
__ADS_1
Mendengar suara itu Kinan mengangkat kepalanya, seperti tidak asing dengan suara itu. Dilihatnya dari balik rambut yang sebagian menutupi mata indahnya.
"Rivan," ucapnya dengan suara lirih.