Bukan Wanita Sempurna

Bukan Wanita Sempurna
episode 26


__ADS_3

Langkah kakinya semakin dipercepat. Tak terasa jarak Rey dari mobilnya semakin jauh. Sesekali dia menengok kebelakang melihat mobilnya. Tapi Rey masih terus mengikuti Kinan kemana pun dia berjalan.


Langkah kaki Kinan pun berhenti, memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya dalam dan menengok ke belakang, "Mau kalian apa sebenarnya? Sudah aku bilang ke Kevin akan ku bayar hutang-hutangku padanya. Beri Aku waktu, aku akan mencari pekerjaan," ucap Kinan matanya berkaca-kaca. Tidak bisa menahan luapan amarahnya, seolah-olah tidak tahan lagi dengan mereka berdua.


"Kevin tidak pernah memintamu untuk mengembalikannya Kinan. Dia hanya khawatir keadaanmu?"


"Kamu kira aku begitu saja percaya dengan buaya seperti kalian berdua." Kinan melanjutkan langkahnya tapi tiba-tiba saja langit sangat gelap, kepala berputar-putar, tubuh terasa berat.


Bruukk.


Dia pingsan lagi di jalanan. Rey berusaha menepuk-nepuk pipinya tapi usahanya tidak berhasil. Hari begitu panas sekali kemeja Rey basah penuh dengan keringat. Tak peduli orang yang melihatnya Rey dengan sigap membopongnya menuju mobil yang jaraknya jauh dari situ.


Sesampainya di mobil. Terlihat Rivan masih saja memandangi mereka berdua. Keadaan Kinan yang tidak baik-baik saja menambah gejolak hatinya tidak bisa menahan ingin membantu. Tapi langkah kakinya terasa berat karena dia sadar ini tidak akan membantu tapi hanya akan menambah masalah baru.


Mengetahui Rey dan Kinan masuk ke dalam mobil. Rivan berusaha membuntuti mereka, dia menaiki taksi yang tak sengaja lewat di depan matanya. Karena mobilnya masih berada di rumah sakit dari kemarin malam.


Di dalam mobil Rey sesekali memandangi wajah Kinan. Wajah yang putih memucat itu membuatnya semakin cepat menambah kecepatan mobilnya.


"Sungguh rumit sekali, kenapa bisa Kevin jatuh cinta padamu? Sebaiknya ku bawa ke rumah sakit dimana Kevin dirawat saja. Bertahanlah Kinan!"


Lima belas menit sudah perjalanan mereka menuju rumah sakit. Rey membopong Kinan dan mengantarkannya untuk diperiksa dokter.


Karena menunggu terlalu lama, Rey memutuskan untuk menemui Kevin sementara. Ruang perawatan Kevin tidak jauh dari ruang perawatan Kinan.


Cekleek.


Suara pintu terbuka, tampak jelas wajah lesu itu, matanya tajam melihat Kevin yang sedang asyik bermain game.


"Rey, kenapa kamu?" tanya Kevin. Dia masih asyik dengan game yang dia permainankan.


"Aku sudah menemukan Kinan, jadi tugasku sudah selesai. Cukup sampai disini aku membantumu. Benar-benar menguras energi dan otak."

__ADS_1


Mendengar ucapan Rey, Kevin menghentikan bermain gamenya seketika dan menaruh ponselnya di meja. Wajahnya sumringah "Benarkah kau sudah menemukannya? Kau benar-benar hebat Rey. Terimakasih ya! Sekarang dia dimana?"


"Di kamar sebelah." ucap Rey dengan geram.


"Apa maksudmu dia sedang tidak baik-baik saja?" Kevin kaget, meninggikan nada suara nya memastikan bahwa ucapan Rey hanya bercanda.


"Dia pingsan tadi sebelum ku bawa kesini. Ada kenyataan pahit yang kamu harus tau."


"Apa?"


"Dia marah terhadap kita, Risa memberitahu semua padanya. Kalau sebelum kamu memesannya kemarin Kita pernah berebut siapa dulu yang bisa mendapatkan Kinan. Dan satu kenyataan yang dia lontarkan padaku yang belum Aku ketahui kenapa Risa memberikan begitu saja Kinan padamu, karena kamu membayar lebih dari harga yang Risa berikan kan? Menyebalkan." Rey tak bisa menahan kekesalannya.


"Apa?"


"Apa, apa?" ejek Rey sambil memanyunkan mulutnya.


"Tapi Rey kamu sudah menjelaskan pada Kinan kan?"


"Bagaimana mau menjelaskan dia saja kabur terus, sekalinya berhenti malah pingsan. Lagian Aku juga bingung jelaskan apanya yang dijelaskan. Karena kita salah juga sudah bercanda tidak lucu seperti itu."


"Sangat."


"Lalu apa yang harus Aku lakukan Rey. Aku harus meminta maaf padanya."


"Percuma, sudahlah Vin. Lupakan saja Kinan! Lagian belum tentu juga dia menyukai laki-laki buaya sepertimu."


"Aku ini rajanya buaya. Sang raja sedang jatuh cinta jadi kamu harus dukung dong!


...****************...


Dilain tempat Rivan sedang terlihat kebingungan mencari Kinan. Melihat kiri, kanan, depan, belakang sepertinya dia ketinggalan jejak mereka. Dia berlari menuju receptionis. Untung saja petugas itu memberitahu dimana Kinan dirawat.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Rivan berjalan cepat menuju ruangan itu. Dilihatnya dari balik pintu lagi-lagi Kinan terbujur lemah. Dia hanya bisa memandangi dari jauh.


"Dimana laki-laki tadi? Kenapa dia membiarkan Kinan seorang diri." bisik Rivan dalam hati.


Sudah hampir dua puluh menit Rivan masih berdiri disitu. Sesekali dia melihat jam di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Semenjak semalam dia belum pulang pasti orangtuanya khawatir. Diambilnya ponselnya yang ada dalam saku celananya. Lima belas panggilan tidak terjawab dari Mamanya.


"Mungkin aku harus pulang dulu, yang penting sekarang aku tau Kinan disini. Besok aku akan kembali lagi," ucapnya sambil memasukkan ponsel di saku celananya kembali dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


Kevin saat itu bersama Rey dan masih belum selesai dengan perdebatan mereka.


"Rey ambilkan aku kursi roda itu!" Kevin menunjuk kursi roda yang berada dipojok ruangan.


"Mau kemana? Jangan bilang mau nekat bertemu Kinan! Aku capek mau pulang," ucap Rey dengan memalingkan mukanya dan berjalan mengambil kursi roda di pojok ruangan itu lalu mendekatkan di dekat tempat tidur Kevin.


"Pulanglah, aku bisa sendiri kesana." Kevin berusaha turun dan duduk di kursi roda itu.


Saat ada perawat yang lewat "Suster.. Suster tolong antar dia ke ruangan sebelah. Hati-hati kena goda karena dia rajanya buaya. Haa.. Haa.." goda Rey.


Bruukk


Tiba-tiba Kevin melemparkan bantal ke arah muka Rey. Dan perawat itu tersenyum malu melihat kelakuan mereka. Rey pergi meninggalkan Kevin. Dan perawat itu membantu Kevin mendorong kursi rodanya untuk bertemu Kinan.


"Suster sampai depan pintu saja. Terimakasih ya!" ucap Kevin sambil tersenyum memandang perawat itu.


"Sama-sama Pak." perawat itu malu-malu dan menundukan pandangannya. Pesona Kevin memang membuat wanita mudah bertekuk lutut padanya.


Kevin berjalan sendiri menggunakan kedua tangannya untuk mendorong roda kursi itu menuju tempat tidur Kinan. Dia memandangi wajah cantik dan polosnya Kinan saat belum sadarkan diri.


"Rivan.. Rivan." Kinan mengigau. Seketika membuat Kevin yang saat itu tersenyum memandangnya tiba-tiba merubah wajahnya menjadi bermuka masam. Telinga seperti di tusuk mendengar nama laki-laki itu. Dalam hatinya bertanya-tanya siapa Rivan?


Perlahan-lahan Kinan membuka matanya. Matanya tertuju pada seseorang yang duduk tertunduk berada di samping kanannya.

__ADS_1


"Kevin?" Kinan keheranan. Dia memalingkan mukanya ke kiri masih teringat jelas ucapan Risa di kepalanya.


"Kinan beri Aku kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman ini!" ucap Kevin.


__ADS_2