
"Pak lepaskan aku Pak! teriak Kinan sambil memukul-mukul dada laki-laki itu.
Setelah sampai di kamar, laki-laki itu menurunkan Kinan di atas tempat tidurnya. Kinan berusaha kabur tapi laki-laki itu memegang tangannya dan menarik tubuhnya hingga jatuh di atas tempat tidur. Langsung saja dia menindih tubuh Kinan dengan tubuhnya yang atletis itu. Laki-laki itu menatap mata Kinan yang penuh dengan ketakutan.
"Mau kemana kamu? Pijat kaki ku sekarang! Atau kamu mau ku makan malam ini?"
Matanya membulat, dia seperti kesusahan melenelan salivanya, "I-ya," jawab Kinan dengan gugup.
"Masih berani mau kabur lagi?" ancam laki-laki itu sambil mendekat kan bibirnya ke bibir Kinan.
"Tidak. Lepaskan aku Pak! Ini sakit, aku susah untuk bernapas."
Laki-laki itu langsung berdiri. Kinan mengubah posisi nya, dia duduk sambil membenahi rambutnya yang berantakan. Laki-laki itu langsung membaringkan tubuhnya di dekat Kinan. Kinan membuang mukanya dan menutupi matanya tidak berani melihat laki-laki itu.
"Kenapa Bapak tidak mempunyai rasa malu sedikit pun? Hanya menggunakan sebuah handuk di depan wanita. Dengan posisi tidur seperti itu. Aku tidak bisa memijat jika Bapak tetap seperti itu."
Laki-laki itu langsung duduk dan memaksa Kinan untuk tidak membuang mukanya "Kenapa harus malu? Atau kamu ingin aku membukanya? Ayo sini lihat! Mana mukamu!"
"Aku mohon jangan Pak, aku tidak mau melihatnya jangan paksa aku! Atau aku akan berteriak," ancamnya.
"Ha, ha, ha, teriak saja sampai suaramu habis mana ada yang dengar rumah ini jauh dari rumah-rumah orang. Sudah sekarang pijat kakiku."
Laki-laki itu mengubah posisinya menjadi tengkurap, Kinan perlahan-lahan mulai memijat kakinya. Tak lama kemudian laki-laki itu tertidur dan dia selimuti tubuhnya. Perlahan-lahan Kinan menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Berjalan pelan-pelan berusaha sepelan mungkin agar dia bisa kabur dari kamar laki-laki itu.
Kinan turun ke bawah, mencari kamar yang bisa dibuat tidur dengan tenang. Pikiran dia tertuju pada kamar di dekat dapur. Dengan cepat dia berlari dan mengunci rapat pintu kamar itu. Merebahkan tubuhnya di kasur dan lama-kelamaan dia akhirnya tertidur.
__ADS_1
...****************...
Keesokan harinya Kinan segera menyiapkan makanan untuk laki-laki itu. Dengan sigapnya dia memasak, dia ingin sebelum laki-laki itu bangun sudah siap semua. Sehingga dia tidak perlu bertemu dengannya. Bertemu dengan laki-laki itu hanya akan menimbulkan masalah-masalah baru karena dia selalu menggodanya.
Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB semua sarapan sudah tertata rapi di meja makan. Saatnya dia pergi membersihkan halaman agar laki-laki itu tidak melihatnya.
Tak lama kemudian laki-laki itu keluar dari kamarnya, memakai kemeja putih, celana panjang hitam, dengan jas yang ditaruh di tangan kiri nya dan turun menuju meja makan. Dilihatnya di meja itu nasi goreng, telur mata sapi, komplit dengan krupuknya. Raut wajahnya sangat bahagia seperti tidak sabar untuk menyantapnya.
"Kinan, Kinan. Kemarilah cepat!" teriak laki-laki itu.
"Maaf Pak Aku sedang menyapu halaman," jawab Kinan sambil bersembunyi.
Sepuluh menit kemudian dia selesai sarapan, mengambil kunci mobilnya dan segera pergi dari rumahnya. Melihat kepergian laki-laki itu Kinan sedikit lega. Dia mulai masuk rumah. Menuju meja makan dan membereskan sisa sarapan laki-laki itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Kinan merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang dia tiduri semalam. Membersihkan halaman yang begitu luas sendirian membuat nya sangat kelelahan. Tiba-tiba dia bermimpi menikah dengan laki-laki itu. Pernikahan terpaksa dia lakukan untuk menebus hutangnya. Di dalam pernikahan itu tidak ada kebahagiaan untuk Kinan. Hanya ada nafsu laki-laki itu saja.
"Bangun-bangun!" tiba-tiba ada yang menepuk pipinya. Dibukanya perlahan-lahan matanya dan laki-laki itu ada di atasnya. Sontak membuat nya kaget dan menjerit.
"Jangan Pak! Jangan nikahi aku! Kinan menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dan tak lama kemudian dia menangis.
"Kamu itu bicara apa? Siapa yang mau menikahi mu? Apa begitu kejamnya aku sampai ada di mimpi burukmu?" Laki-laki itu berdiri dan pergi dari kamar yang Kinan tiduri.
Kinan menghela nafas dan mengelap keringat yang keluar di wajahnya. Melihat jam di dinding waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Aneh saja jika laki-laki itu sudah pulang kerja. Kinan segera menyusulnya keluar kamar.
"Pak, Pak, aku minta maaf." Kinan mengejarnya dan berjalan di belakang laki-laki itu sambil menunduk. Laki-laki itu terlihat seperti sedang ada masalah.
__ADS_1
"Apa kamu pikir semua laki-laki di dunia ini jahat?"
"Iya, eh tidak Pak."
"Apa kamu pikir semua laki-laki yang pernah kamu temui itu berperan antagonis semua di ceritamu?"
"Iya. Mungkin karena kesalahanku. Aku terlalu percaya sampai aku lupa jika manusia bisa berubah kapan saja," jawab Kinan menunduk dan menangis.
"Sudahlah aku tidak mau mengungkit masa lalumu, jarum jam tidak akan berputar ke kiri, jangan terus menerus kau sesali. Jika sudah berhenti menangis naik lah ke atas! Ingat orang miskin mentalnya kuat!"
Laki-laki itu berjalan meninggalkan Kinan dan menuju kamar nya. Dia mengambil sesuatu benda di lacinya. Kinan mengetuk pintu dan masuk di kamar laki-laki itu.
"Mengapa Bapak jam segini sudah pulang?" tanya Kinan dengan menunduk an kepalanya.
"Tadi Risa meneleponku."
"Apa? Bukankah urusan dengannya sudah selesai Pak?" tanya Kinan kebingungan.
"Kata siapa, aku bilang ke sopir Risa kalau aku meminjammu dua malam dan aku pun belum membayar yang satu malam. Dia berkali-kali meneleponku," jawab laki-laki itu dengan muka masam.
"Jadi Bapak harus membayar nya 100 juta lagi? Lalu jika aku disini satu Minggu saja harus membayar nya 700 juta. Bagaimana aku akan membayarnya?" seketika kaki Kinan lemas dan terjatuh di lantai.
"Aku sudah menawar pada Risa, jika kamu mau ku jadikan istri dan aku beli berapa pun yang dia minta. Tapi dia tetap ingin kamu. Karena kamu aset berharganya. Banyak bos-bos yang sudah mengantri ingin bersamamu."
"Ini ponsel ambillah! Di dalamnya hanya ada nomorku. Hpmu buang saja agar Risa tidak bisa menghubungi mu. Dan ingat jangan sampai keluar rumah. Aku tidak berjanji bisa melepaskanmu darinya atau tidak. Jadi siapkan mental mu!" Laki-laki itu pergi begitu saja meninggalkan Kinan yang menangis di kamarnya.
__ADS_1